
Tiffani tidak dapat tidur, sejak tadi ia hanya duduk bagai patung di tengah ranjangnya sambil menatap ke luar jendela yang ia biarkan terbuka lebar. Hatinya gelisah. ia mulai bertanya-tanya, apakah Rama benar-benar akan mengundurkan diri sebagai bodyguard yang menjaganya, dan apakah Rama sudah mengatakan niat pengunduran diri tersebut pada ayahnya? jika sudah, itu berarti mulai besok ia tidak akan menghabiskan waktu dengan Rama lagi.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di dalam kepala Tiffani, membuat Tiffani penasaran dan akhirnya tidak dapat tidur.
"Ah, bodohnya aku! Bodohnya aku!" Tiffani memukul kepalanya berulang kali dengan gemas, lalu kemudian mengacak rambung panjangnya hingga berantakan. "Haruskah aku mengajak Rama untuk berbaikan? Ya, kami bisa berbaikan jika aku mau." Tiffani bergumam seorang diri sembari memijat pelipisnya.
Setelah puas memikirkan tindakan apa yang harus ia ambil agar Rama dapat kembali padanya, Tiffani pun memutuskan untuk bangkit berdiri. Ia perlahan turun dari ranjang dan melangkah menuju jendela yang langsung menghadap ke halaman depan. Dari jendela besar yang ada di kamarnya itu, ia bisa langsung menatap ke halaman depan, di mana biasanya ia memperhatikan Rama yang hilir-mudik ke markas para bodyguard yang ada di halaman depan. Dan saat ini ia berharap dapat melihat Rama.
"Ah, apa yang kulakukan. Mana mungkin Rama masih mondar-mandir di halaman jam segini," gumam Tiffani, lalu melirik jam yang menggantung di dinding. "Sudah jam sebelas. Dia sedang piket malam atau tidak, ya?" Tiffani kembali bergumam seorang diri, menebak-nebak di mana posisi Rama sekarang dan apa yang sedang pria itu lakukan.
Saat pikirannya sedang berkelana memikirkan Rama, sebuah mobil sedan yang baru saja memasuki halaman depan menarik perhatian Tiffani.
"Siapa yang datang di jam segini?" gumam Tiffani lagi.
Tiffani yang penasaran segera mengambil teropong yang ada di rak buku, lalu segera menempelkan teropong itu di matanya dan mengarahkannya ke halaman depan, tepat di tempat mobil sedan yang baru saja berhenti.
Tiffani menunggu hingga pintu bagian depan mobil terbuka, dan si pengemudi keluar dari dalam mobil.
"Rama! Dari mana dia." Tiffani bergumam, lalu kembali fokus memandang ke halaman.
Tidak lama kemudian pintu mobil kembali terbuka, dan seorang perempuan terlihat keluar dari dalam mobil tersebut.
Tangan Tiffani gemetar begitu ia melihat siapa perempuan itu. Tanpa pikir panjang ia langsung menurunkan teropongnya dan menutup jendela dengan keras hingga menimbulkan suara yang begitu berisik, Tiffani yakin, Rama pasti mendengar suara jendela yang baru saja Tiffani banting dengan keras hingga tertutup.
"Apa-apaan dia itu! Kenapa dia keluar bersama dengan Gracella!" seru Tiffani, yang segera berbaring di ranjang dan menutupi wajahnya dengan selimut, karena jika tidak begitu ia pasti akan menghampiri Gracella sekarang, lalu ia akan menjambak rambut panjang Gracella hingga Gracella menjadi botak.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiffani telah berdandan dengan sangat cantik. Ia bahkan menyemprotkan banyak parfum di pakaiannya, leher,dan pergelangan tangan, hingga kamar Tiffani begitu wangi sekarang.
Mona yang baru saja masuk ke dalam kamar Tiffani langsung terbatuk. Ia menutup hidung dengan tangan karena tidak tahan dengan aroma wewangian yang begitu menyengat.
"Apa kamu berencana untuk membuka toko parfum, hah?" tanya Mona, saat ia telah tiba di hadapan Tiffani yang masih sibuk di depan meja rias.
Tiffani tidak menghiraukan pertanyaan Mona. "Apa aku sudah cantik?" tanya Tiffani pada Mona.
Mona mengangguk. "Cantik, sih, tapi bukankah sudah sering kukatakan padamu kalau wajahmu itu sama sekali tidak cocok ketika dibuat terlalu merona. Hapus perona pipi dan juga lipstikmu. Sejak kapan kamu memakai lipstik dengan warna yang begitu mencolok, Tiffani."
"Kenapa memangnya? Menurutku bagus, kok. Mulai sekarang aku akan menggunakan lipstik warna merah, dan aku juga tidak akan menghapus perona wajahku. Aku harus terlihat dewasa, karena aku punya saingan berat sekarang," ujar Tiffani dengan tegas.
"Pesaing. Siapa yang kamu maksud?" tanya Mona, yang terlihat bingung.
Tiffani bangkit berdiri dan merapikan cardigan yang ia kenakan, kemudian ia berkata, "Gracella. Aku melihat dia tadi malam, dan apa kamu dengan siapa dia?" Tiffani bertanya pada Mona sambil memelototkan mata seolah semua yang terjadi adalah kesalahan Mona. Hal itu tentu saja membuat Mona menjadi ketakutan.
"Memangnya dengan siapa?" tanya Mona, sambil melangkah mundur, karena Tiffani terus maju menghampirinya.
Suasana kemudian hening. Tiffani hanya menarik napas, kemudian mengembuskannya dengan keras. Dramatis sekali.
Setelah beberapa saat hanya diam dan terus mengembuskan napas akhirnya Tiffani berseru di hadapan Mona,
"Rama! Aku melihat Gracella dan Rama keluar dari dalam mobil bersamaan tadi malam, padahal malam sudah larut tapi meraka masih berduaan. Entah dari mana mereka dan apa saja yang sudah mereka lakukan di jam segitu. Aku akan memberitahu ayah agar ayah memarahi mereka berdua! Keterlaluan sekali mereka!"
Mona mundur menjauh dari Tiffani, saat air liur Tiffani menyembur dari dalam mulut ketika Tiffani bicara.
"Astaga. Dia benar-benar kerasukan!" Mona bergidik, dan segera keluar dari dalam kamar Tiffani terlebih dahulu, ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Tiffani yang begitu berbahaya.
Begitu berhasil keluar dari kamar Tiffani, tanpa sengaja Mona menabrak seseorang yang ada di depan pintu kamar. Orang itu adalah Sela.
__ADS_1
"Ah, Mona, apa kamu sengaja terus menabrakku seperti ini." Sela merintih kesakitan. Ia mengusap bokongnya yang lumayan terasa sakit akibat terjatuh dan menghantam lantai marmer dengan keras.
Mona sendiri tidak sempat mengeluh, ia yang juga terjatuh segera bangkit berdiri sembari memegangi lengan Sela, agar Sela berdirijuga.
"Maafkan aku. Aku buru-buru. Tiffani sedang kerasukan di dalam. Dia mengamuk, dan kalau kita tidak segera pergi dari hadapannya, bisa-bisa kita yang menjadi sasaran. Ayo!" Mona menarik lengan Sela, agar Sela ikut pergi dengannya, tetapi Sela enggan beranjak dari sana sebelum memastikan bagaimana keadaan Tiffani.
"Kita tidak bisa pergi begitu saja. Kita harus terus menemani Tiffani. Dia pasti sedang terpukul sekali sekarang," ujar Sela.
Mona berdecak. "Jangan sok bijak, kamu tidak tahu apa yang terjadi, Sel."
"Aku tahu. Aku tahu apa yang sedang terjadi, yang terjadi kali ini memang sangat parah, dan bisa memancing kemarahan Tiffani hingga sampai di tingkat yang sangat membahayakan. Tadi malam aku tidak sengaja mendengar percakapan Adam dan beberapa bodyguard yang berjaga di depan pintu kamar Om Richard. Aku dengar kalau Rama sekarang ditugaskan untuk menjaga Gracella, bukan lagi Tiffani. Dan dari yang aku dengar juga, si Gracella ini sangat cantik, jago bermain biola, feminin, dan jago menari balet. Jadi, aku tahu benar kalau Tiffani sedang cemburu berat saat ini."
Mulut Mona terbuka lebar saat Sela selesai menjelaskan. "Jadi, Rama sekarang adalah bodyguard Grace? Aku malah baru mendengarnya darimu. Wah, apa yang dipikirkan Om Richard. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Pantas saja jika Tiffani mengamuk. Ini bukan hanya tentang rasa cemburu, tapi juga tentang dendam lama yang bersemi kembali!" seru Mona.
"Dendam! Dendam ap ... aaah!" Sela merintih, saat tiba-tiba saja Mona menendang tulang keringnya dengan keras. Sela hendak mengomeli Mona yang berani menendangnya, tetapi tidak jadi, karena Tiffani sekarang tengah melangkah ke arahnya dan juga Mona.
Mona dan Sela terdiam. Keduanya tidak lagi bersuara. Baik Mona maupun Sela hanya menatap Tiffani dengan gelisah.
"Ayo, kita harus turun untuk sarapan," ujar Tiffani, begitu ia tiba di hadapan Sela dan Mona. Tiffani berujar dengan begitu tenang, padahal beberapa menit yang lalu ia berteriak-teriak seperti orang gila.
Sela dan Mona mengangguk, kemudian mengekor langkah Tiffani menuju ruang makan
***
Gracella menopang wajah dengan kedua tangan. Ia sedang duduk di hadapan meja makan sekarang. Beragam macam menu sarapan tersaji di hadapannya, tetapi tidak ada satu pun yang tersentuh olehnya.
Bukannya ia tidak lapar, hanya saja ia tidak ingin makan seorang diri sementara Rama hanya berdiri memperhatikan.
"Duduklah dan mari makan bersamaku," pinta Gracella, sembari menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. Ia berharap Rama duduk di kursi itu dan menemaninya makan. Pasti akan lebih asyik jika ia makan berdua dengan Rama.
"Aku ingin kita sarapan bersama. Mana bisa aku makan sementara kamu berdiri di sana dan--"
Buk!
Gracella terkejut, saat tiba-tiba Tiffani muncul dan menendang kursi yang berada tepat di samping Gracella.
"Siapa bilang kamu akan makan sendirian. Apa kamu lupa kalau di rumah ini ada aku dan juga Mona. Oh, ya, sekarang ada Selajuga. Dia salah satu temanku. Teman setiaku!" Tiffani menekan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
Raut wajah Gracella yang lembut, seketika berubah saat Tiffani muncul dan membentaknya.
"Hai, Fan, hai, Mon, lama tidak berjumpa." Gracella menyapa Tiffani dan Mona, suaranya terdengar santai dan tulus, meski demikian tidak ada senyum di wajah Gracella.
"Akan lebih bagus jika lebih lama lagi," ujar Tiffani, lalu segera duduk di samping Gracella. "Aku sama sekali tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi."
Gracella menoleh ke Tiffani, kemudian ia berkata, "Aku akan lebih senang jika kamu menjaga jarak dariku, Fan."
"Dan aku akan lebih senang jika kamu tidak datang ke rumahku, Grace!" Tiffani menyahut, lalu mengunyah sepotong roti yang telah ia oles dengan mentega.
Gracella membuka mulut, ia hendak membalas ucapan Tiffani, tetapi Damar tiba-tiba muncul dan menghentikan aksi saling sindir keduanya.
"Berhentilah kalian berdua. Cepat selesaikan sarapan, setelah itu kalian berdua harus ikut denganku," ucap Damar, sambil terus melangkah hingga tiba di meja makan. Ia pun segera duduk di tempat biasanya Richard duduk, lalu tanpa ragu ia mengambil sepotong roti dari atas piring dan langsung melahapnya dengan cepat.
"Aku tidak mau ke mana pun kalau dia ikut!" seru Tiffani, sambil menunjuk Gracella dengan pisau roti yang ia pegang.
"Aku juga. Aku tidak mau pergi dengan Om Damar kalau Tiffani ikut." Gracella menimpali, sambil menunjuk Tiffani dengan pisau buah yang ada di tangannya.
Damar menghela napas dengan kasar sambil menggelengkan kepala. "Aku tahu ini akan sulit sekali," gumamnya, lalu kembali mengambil sepotong roti lagi dan melahapnya.
__ADS_1
Rama memperhatikan keletihan yang terpancar jelas di wajah Damar. Mengurus dua orang gadis yang saling bermusuhan memang bukanlah perkara mudah. Apalagi, Tiffani dan Gracella benar-benar terlihat saling membenci.
"Aku datang atas perintah Tuan Richard. Jadi, apa pun yang aku katakan, kalian harus menurutinya, suka atau tidak. Aku bahkan membawa rekaman suara Tuan Richard. Aku meminta rekaman ini agar kalian berdua tidak ada yang membantahku. Ingin dengar?" tanya Damar, sembari menunjukan ponselnya.
Tiffani dan Gracella tidak ada yang menjawab. Keduanya asyik mengunyah makanan sekarang.
"Karena kalian berdua diam saja, aku menganggap kalian setuju untuk ikut denganku, dengan catatan kalian tidak boleh berkelahi saat di hadapan Tuan Richard. Pokoknya kalian berdua tidak boleh berkelahi. Sangat tidak boleh. Pokoknya tidak boleh!"
" Haruskah Om menegaskan hal itu berulang kali," protes Gracella.
"Tentu harus, karena aku yakin sekali saat ini kalian berdua sedang membayangkan bagaimana rasanya saling menjambak, benar?" Damar menatap Tiffani dan Gracella bergantian.
Mendengar ucapan Damar. Tiffani pun tertawa terbahak-bahak. "Astaga, Om Damar, apa Om pikir aku ini masih anak-anak. Aku tidak mungkin menjambak si Grace sialan itu, jadi Om jangan khawatir kalau yang Om takutkan adalah jambakan, karena aku tidak akan menjambaknya!" seru Tiffani.
Damar mengusap dadanya. Ia sangat senang dan terlihat lega setelah mendengar ucapan Tiffani. "Sungguh. Ah, aku sangat lega mendengarnya. Ayahmu pun pasti akan senang, Tiffani."
"Ya, aku memang tidak akan menjambaknya, karena hal itu sangat kekanak-kanakan. Sebagai gantinya, aku akan menembaknya tepat di kepala," ucap Tiffani.
Damar tersedak roti yang baru saja ia telan. Melihat wajah Damar yang memerah, Rama langsung menghampiri Damar dan menuangkan segelas air untuk pria itu.
"Minum ini, Pak Damar," ujar Rama, lalu menepuk-nepuk punggung Damar.
"Terima kasih, Rama," ujar Damar.
Rama menatap Tiffani sekarang. "Aku ingin bicara."
"Aku tidak mau!" jawab Tiffani.
"Aku memaksa!" Rama menyentuh lengan Tiffani dan menarik Tiffani keluar dari ruang makan, menuju koridor yang menghubungkan antara ruang makan dan dapur.
Gracella menatap kepergian Rama dan Tiffani dengan bingung. Ia tidak suka melihat Rama yang menyentuh Tiffani, apalagi Rama dan Tiffani terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Apa mereka berdua memiliki hubungan spesial?" tanya Gracella pada Damar.
"Memangnya kenapa?" Mona yang menjawab. Nada bicara Mona begitu sinis. "Apa kamu terpikir untuk merebut pria itu juga kalau pria itu adalah kekasih Tiffani?"
"Aku tidak bertanya padamu!" seru Gracella.
Mona tertawa. "Aku refleks, karena aku hapal sekali pada perangaimu, Grace. Kamu suka sekali merebut apa pun milik Tiffani."
Gracella membuang muka. "Sejak dulu kamu memang tidak tahu diri, Mona. Seharusnya kamu sadar di mana posisimu sebelum kamu mulai ikut campur antara urusanku dengan Tiffani. Kamu itu pelayan, dan kedudukanmu sangat rendah di antara kami berdua."
"Cukup, Grace." Damar menyela. "Aku tidak ingin ada keributan di sini."
"Aku tidak lebih rendah dari seorang saudara yang tega merebut kekasih saudaranya sendiri, apalagi sampai hamil! Ngomong-ngomong di mana bayi itu sekarang?"
Tepat sasaran!
Perkataan Mona langsung mengenai kelemahan Gracella.
Gracella bangkit berdiri dan langsung menyiram wajah Mona dengan teh hangat yang ada di atas meja.
Mona merintih karena wajahnya kepanasan. Melihat apa yang baru saja Gracella lakukan, Sela pun menjadi kesal. Sela yang memang jago bela diri langsung memberikan tendangan di wajah Gracella, hingga Gracella tersungkur di lantai.
"Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?!" seru Damar, yang begitu bingung melihat perkelahian gadis-gadis di hadapannya.
Bersambung.
__ADS_1