
Rama membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dan kedatangannya yang sangat terlambat langsung disambut oleh pelukan hangat oleh Tiffani.
Tiffani menopangkan seluruh beban tubuhnya pada tubuh Rama yang kekar dan beraroma keringat. Aroma yang sangat Tiffani sukai.
"I miss you," ujar Tiffani, sembari mendaratkan kecupan di pipi Rama berulang kali, sementara tangannya memeluk erat pinggang Rama. Ia lega karena Rama kembali dengan selamat dan tanpa terluka sedikit pun.
Rama tersenyum, ia senang karena Tiffani selalu menyambut kedatangannya. Tidak peduli pukul berapa ia tiba, dan dalam keadaan bagaimana pun Tiffani tetap saja menempel padanya seperti lem perekat permanen yang sulit dilepaskan.
"I miss you to, Sayangku," balas Rama. "Tapi, bisakah kamu menjauh sebentar. Aku berkeringat," pinta Rama.
Tiffani menggeleng, dan malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Rama. "Aku suka aroma keringatmu. Kenapa malah memintaku menjauh."
Rama mengusap puncak kepala Tiffani dan mendaratkan kecupan berulang kali di sana. "Aku habis menghajar orang, Tiffani. Tubuhku penuh debu, dan percikan darah dari orang-orang itu. Aku harus membersihkan diri dulu, baru kamu bisa memelukku."
Tiffani menghela napas panjang, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya di pinggang Rama. "Duduklah dulu kalau begitu, biar aku buatkan cokelat panas. Lebih baik kamu beristirahat sebentar sebelum mandi. Lagi pula, aku belum menyiapkan air hangat untukmu. Aku akan mengisi bathtub dengan air panas dulu kalau begitu." Tiffani mengoceh, sambil menarik pergelangan tangan Rama menuju ke sofa yang ada di dalam kamar mereka.
Setelah Rama duduk dengan nyaman di Sofa, Tiffani segera mondar-mandir, ia mengisi bathtub dengan air hangat, lalu membuat kan cokelat panas yang semua bahanya telah ia sediakan di dalam kamar.
Semenjak menikah, Tiffani memang menyediakan bubuk cokelat, susu, kopi hingga roti gandum beserta selai di dalam kamarnya. Ia lebih suka menyediakan semua kebutuhan Rama dengan tangannya sendiri, daripada harus meminta pelayan untuk melakukannya. Kecuali memasak, Tiffani menyerah jika harus dihadapkan dengan urusan dapur, karena ia memang tidak pernah memasak sama sekali.
"Nah, ini cokelat panas spesial untuk Ramaku tercinta. Minumlah, aku akan memeriksa apakah airnya sudah penuh atau belum. Aku juga akan meneteskan cairan antiseptik di air mandimu," ucap Tiffani, sambil meletakkan secangkir cokelat panas di atas meja yang ada di depan sofa.
Saat Tiffani hendak pergi, Rama menarik tangan wanita itu, membuat Tiffani duduk di pangkuannya. "Santai saja, Tiffani, kenapa kamu sibuk sekali setiap aku datang. Apa kamu tidak lihat sudah pukul berapa sekarang? Sekarang sudah pukul tiga pagi, seharusnya kamu tidur, bukannya malah repot mengurusku seperti ini. Aku bisa mengurus diriku sendiri, Tiffani," ujar Rama.
Tiffani menyentuh wajah Rama yang tampan. "Tidak masalah. Aku suka melakukannya. Aku suka pada peran yang kujalankan. Aku suka mengurusmu sebagai suamiku. Aku akan melakukan yang terbaik selama salah satu dari kita masih bernapas, Rama."
Rama menatap wajah Tiffani lekat-lekat, ia tahu bagaimana perasaan Tiffani sekarang.
"Jangan bicara seperti itu, Tiffani," gumam Rama.
Tiffani kembali menghela napas, lalu ia berkata, "Apa kamu tahu kalau aku hidup dengan rasa khawatir setiap harinya. Aku menyesal karena harus menyeretmu ke dalam bisnis yang mengerikan ini. Aku menyesal karena kita tidak bisa terlepas dari semua ini. Semua ini peninggalan ayah, dan ayah ingin aku menjalankan bisnis ini sebaik saat ayah menjalankannya dulu. Ini terlalu berat untukku. Aku sadar jika keselamatanmu setiap hari berada di ambang ketidakjelasan. Bagaimana kalau ada yang mengincarmu, atau mengincar anak kita."
Tiffani mulai menangis, sejak dulu ia memang tidak pernah ingin terjun langsung ke dalam bisnis sang ayah yang sangat mengerikan; jual beli senjata api tanpa izin, jual beli bahan peledak, hingga bertukar dokumen penting yang seharusnya menjadi dokumen rahasia pun termasuk dalam pelayanan yang bisnis ayahnya jalankan.
Sejak dulu Tiffani menginginkan kehidupan yang sederhana, yang jauh dari hiruk-pikuk kabar tentang penyerangan, kematian, hingga pencurian. Namun, pesan terakhir sang ayah membuat Tiffani terjebak ke dalam dunia hitam yang selama ini berusaha Tiffani hindari, dan parahnya lagi kedudukan Tiffani sangat tinggi dalam bisnis gelap yang ayahnya tinggalkan.
__ADS_1
Tiffani adalah pemilik utama.
Tiffani adalah CEO.
Tiffani adalah ketua mafia.
Semua gelar itu menempel secara otomatis pada Tiffani. Semua berkas kepemilikan yang dulunya dimiliki Richard, semua berubah atas nama Tiffani, dan Tiffani tidak bisa menghindari hal itu. Karena alasan itulah Tiffani merasa terbebani setiap harinya. Ia takut jika apa yang menimpanya dan ibunya dulu akan menimpa keluarganya juga.
Rama mengecup pipi Tiffani yang kini basah karena air mata. "Jangan khawatirkan apa pun, Tiffani, selama masih ada aku, aku akan terus menjagamu dan juga anak kita sebaik yang bisa aku lakukan. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun. Tidak akan pernah."
Tiffani menatap Rama dengan kedua matanya yang berembun. "Jika kamu yang menjagaku dan anak kita, lantas siapa yang akan menjagamu?"
Rama tersenyum. "Doakan aku setiap saat. Doamu akan melindungiku."
***
Pagi hari adalah saat-saat yang paling penting bagi keluarga Raendra. Tiffani Raendra pagi ini harus menyelesaikan beberapa berkas yang Damar bawa dari kantor, berkas persetujuan pembangunan hotel yang rencananya akan di bangun bulan depan di sebuah lahan luas di pinggiran kota.
Jika Tiffani sibuk dengan berkas-berkas kantor, Rama justru sedang sibuk dengan Junior, putra kesayangannya yang baru berusia tiga tahun. Walaupun bukan darah dagingnya sendiri, tetapi Rama sangat menyayangi Junior, ia menganggap bahwa Junior adalah anaknya sendiri, ia tidak peduli pada fakta bahwa Junior adalah anak dari Darren Adiguna.
"Aku harus melihat lahannya terlebih dulu, Om, aku tidak bisa asal tanda tangan," ujar Tiffani.
"Aku melihatnya hanya sekilas."
"Sekilas saja sudah cukup, Nak," ujar Damar.
Keduanya memang sudah berdebat sejak tadi di ruang keluarga, sejak Damar mendesak Tiffani untuk membubuhkan tanda tangan di sebuah berkas penting.
Rama yang mendengar perdebatan itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Papa, kenapa mama dan kakek setiap hari terus berkelahi?" tanya Junior, dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
Rama diam sejenak. "Hem, kenapa, ya. Mungkin karena mereka membutuhkan satu kecupan dari Junior." Rama menjawab asal.
Junior yang sedang asyik bermain di atas playmate yang diletakan di ruang keluarga lantas bangkit berdiri, dan langsung menghampiri Tiffani dan Damar.
__ADS_1
"Akan kuberi satu ciuman. Menunduklah, Mama, Kakek," ucap Junior, begitu ia tiba di hadapan Tiffani dan Damar.
Tiffani dan Damar menghentikan perdebatan mereka, !dan keduanya menunduk sambil tersenyum sesuai permintaan junior.
Cup, Cup!
"Sudah. Jangan berkelahi lagi," ujar Junior, lalu kembali berlari menghampiri Rama dan memeluk Rama.
Rama tertawa melihat tingkah Junior. "Anak pintar. Sepertinya Juniornya papa sudah siap untuk diberi adik," ucap Rama, sambil mengusap rambut Junior yang berwarna kecokelatan.
Tiffani yang mendengar perkataan Rama langsung menyahut. "Aku siap, Sayang, mari kita lakukan setelah aku pulang dari kantor." Tiffani mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan genit.
"Sungguh? Kita bisa melakukannya di mobil," ucap Rama sambil terkekeh.
"Astaga kalian berdua ini, kenapa membicarakan hal seperti itu di depan anak kecil." Damar mencubit pipi Tiffani. "Cepat tanda tangani, kita terlambat untuk rapat, Tiffani." Damar kembali mendesak Tiffani.
Tiffani berdecak dan segera membutuhkan tanda tangannya di berkas yang Damar minta.
"Aku akan bersiap-siap," ujar Rama, yang langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil jas serta senjata api miliknya.
Setelah beberapa saat, Rama kembali berada di ruang keluarga, menghampiri Damar dan Tiffani yang masih sibuk merapikan berkas-berkas penting.
"Aku siap berangkat," ujar Rama.
Tiffani bangkit berdiri, ia tersenyum dan melangkah menghampiri Rama yang terlihat sangat tampan dan memesona.
"Bodyguardku yang seksi. Bagaimana aku bisa bekerja kalau kamu terus telihat seperti ini Rama."
Rama terlihat bingung. "Ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Rama.
Tiffani mengangguk. "Ya, kamu terlalu sempurna, melihatmu saja sudah langsung mengingatkanku pada ranjang."
Rama tersenyum. "Aku pun, aku ingin menarikmu ke kamar saat ini."
Damar menghampiri Tiffani dan Rama yang saling melontarkan kalimat godaan, lalu ia menarik telinga sepasang suami istri itu dengan keras. "Kenapa kalian berdua seperti ABG. Fokuslah bekerja dan berhentilah saling berbicara tentang hal yang sensual. Mengerti?!"
__ADS_1
Rama dan Tiffani merintih mendapat jeweran dari Damar yang sekarang telah mereka anggap seperti orang tua mereka sendiri.
Bersambung.