My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
DUA JAM SEBELUM DAN SETELAHNYA


__ADS_3

Dua jam yang lalu.


Tiffani dan Gracella menapakkan kaki di atas karpet merah bertabur kelopak mawar putih yang terbentang dari bangunan utama menuju sebuah panggung sederhana yang ada di tengah halaman, tepat di bawah rimbunnya pepohonan tabebuya.


Keduanya terlihat begitu anggun dan memesona dalam balutan gaun pengantin berwarna putih yang sederhana. Namun, wajah cantik Tiffani dan Gracella belum bisa dilihat saat ini, karena wajah keduanya masih ditutupi oleh veil transparan, dan hanya pengantin prialah yang boleh menyingkap veil itu tepat sebelum mereka berciuman di atas pelaminan.



Richard Raendra mengusap sudut matanya berulang kali saat ia mendampingi kedua putrinya menyusuri jalan setapak menuju pelaminan, hingga Tiffani dan Gracella harus menghentikan langkah beberapa kali guna mengusap air mata yang menuruni pipi keriput sang ayah.


"Aku jadi merepotkan kalian," ujar Richard, saat untuk kesekian kalinya Tiffani dan Gracella mengusap tisu di wajah Richard.


"Jangan bicara begitu, Ayah. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru kamilah yang membuat Ayah repot. Ayah sudah lelah, tapi masih harus mengantar kami hingga ke pelaminan," ujar Tiffani, dengan suara tercekat. Perasaannya sangat tidak nyaman kali ini. Ia memiliki firasat buruk yang tidak bisa ditepis begitu saja sejak pagi tadi. Ia merasa jika sesuatu yang buruk akan terjadi. Maka, tidak terlalu mengherankan jika Tiffani terlihat murung walaupun hari ini adalah hari pernikahannya.


Gracella yang melihat Tiffani akan menangis segera mengambil alih. Ia meraih tisu di tangan Tiffani dan mengeringkan air mata di pipi Richard.


"Ayah, meskipun aku tidak menghabiskan banyak waktu denganmu, tapi ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu. Sehatlah demi diriku, Ayah. Gantilah hari-hari yang terlah terlewat, kebersamaan yang tidak pernah terjadi di antara aku dan Ayah, oke," pinta Gracella, yang berusaha terlihat lebih tegar. Sama halnya seperti Tiffani, ia pun merasakan kegelisahan yang tidak biasa, dan kegelisahan itu membuat senyum di wajahnya memudar sejak beberapa saat lalu.


Memang tidak dapat dipungkiri jika pagi ini Richard terlihat berbeda. Walaupun senyum mengembang di wajah keriputnya, tetapi tidak ada cahaya di mata pria itu. Tatapannya yang sendu seolah kosong, dan beberapa kali juga Tiffani serta Gracella mendapati Richard sedang mengernyit menahan sakit.


Richard mengangguk, ia kembali tersenyum begitu mendengar apa yang Gracella katakan. "Tenang saja, Nak, aku tidak akan sakit. Aku pasti akan sehat untuk kalian berdua. Aku akan melihat cucu-cucuku lahir dan tumbuh besar," ujarnya, lalu tertawa terbahak-bahak untuk menghilangkan kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah Tiffani dan Gracella.


Tiffani memeluk tubuh Richard dan ia pun menangis. Air matanya tumpah tanpa bisa dicegah, sulit sekali rasanya harus berusaha menahan tangis padahal hati sedang ingin menangis.


"Jangan begini, Tiffani. Ini kan hari pernikahanmu. Bagaimana bisa kamu terlihat cengeng di hari pernikahanmu," ujar Richard, sembari menepuk-nepuk punggung Tiffani dengan penuh kasih sayang. "Nah, ayo kita lanjutkan. Suami kalian pasti sudah menunggu di pelaminan sejak tadi. Apa kata mereka nanti kalau aku terlambat mengantar kalian tiba di sana."


Tiffani dan Gracella mengangguk, lalu keduanya kembali menyilangkan tangan di lengan sangat ayah, Tiffani di sisi kanan, dan Gracella di sisi kiri.


"Seharusnya EO membuat rute yang dekat, perjalanan dari rumah ke pelaminan lumayan jauh," gumam Tiffani, saat mereka mulai melanjutkan langkah.


"Ya, seharusnya begitu. Lihatlah Ayah saja mulai kelelahan." sahut Gracella.


Richard berdecak mendengar kedua putrinya menggerutu. "Jangan cerewet. Ayah tidak setua itu sampai harus merasa lelah. Ayah baik-baik saja, kok."


"Baik, Ayah, baik," Tiffani dan Gracella menyahut berbarengan.


Setelah beberapa saat menyusuri jalan setapak menuju pelaminan dengan diiringi oleh instrumental karya Kenny G--In the Rain--akhirnya mereka tiba di depan pelaminan.



Tubuh Richard mulai gemetar sekarang, dan keringat dingin membasahi wajah tuanya. Namun, ia berusaha untuk bertahan. Ia tetap berdiri tegak, menatap Rama dan Xavier yang terlihat gagah dan memesona dalam balitan tuxedo di atas pelaminan.


(Rama 👇)

__ADS_1



"Ayo, Nak," gumam Richard, lalu mulai melangkahkan kalinya yang gemetar.


(Xavier 👇)



Semua menyadari apa yang sedang terjadi pada Richard, walaupun Richard berusaha untuk menutupinya sebaik mungkin. Sehingga kini para bodyguard yang berjaga mulai siaga. Damar pun segera mengaktifkan headset bluetooth di telinganya untuk berjaga-jaga agar ia bisa menghubungi bodyguard yang berjaga di depan gerbang, di mana ia telah menyediakan sebuah ambulans di sana.


Setibanya di atas pelaminan, Richard segera menyerahkan Tiffani ke Rama sembari tersenyum. "Jaga dia untukku. Dia sangat berharga bagiku, Rama," gumamnya, dengan mata yang berembun.


(Tiffani 👇)



Rama membuang muka, ia tidak tahan melihat keadaan Richard sekarang. Ia masih ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Richard. Richard sangat berkharisma saat itu. Wajah Richard menakutkan, tetapi memiliki wibawa yang sangat luar biasa, sorot mata Richard begitu tajam dan menakutkan, tidak seperti sekarang.


"Ck, jangan jadi cengeng, atau aku akan menembakmu sekarang juga," ujar Richard, pada Rama.


Setelah itu, Richard beralih ke Xavier, dan segera menyerahkan Gracella ke Xavier. "Jangan sakiti dia apa pun alasannya, Vier, dia berharga untukku," ujar Richard.


(Gracella 👇)



Richard tertawa. " Ayolah, aku ini mertuamu, bagaimana bisa kamu memanggilku dengan sebutan tuan. Dasar menantu kurang ajar."


Gracella dan Tiffani tertawa mendengar ucapan sang ayah.


"Baiklah, sekarang semua tamu dimohon berdiri. Karena sepasang pengantin kita yang bahagia telah tiba, saatnya untuk membuat mereka berciuman," teriak pemandu acara yang mulai mengambil alih. "Mereka sah berciuman hari ini wahai bapak dan ibu sekalian, karena akad telah dilaksanakan kemarin. Hari ini adalah hari resepsi, hari untuk memamerkan betapa bahagianya sepasang pengantin kita!" Pemanduan acara kembali berseru untuk menghidupkan suasana.


Tamu yang hadir segera bertepuk tangan, mengingat betapa banyaknya tamu di acara pernikahan putri Richard, suasana tiba-tiba saja menjadi begitu riuh. Apalagi saat Sela dan Mona mulai bersorak meneriakan kalimat cium, cium, cium dengan begitu lantang, tamu undangan yang lain langsung mengikuti apa yang Sela dan Mona lakukan.


Rama menatap wajah Tiffani yang masih ditutupi veil transparan, lalu perlahan tangannya terulur untuk menyingkap veil itu. Namun, yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan.


Buk!


Tubuh Richard ambruk. Pria tua itu pingsan di tengah-tengah acara resepsi pernikahan kedua putrinya, tepat setelah ia mengantarkan sang putri menuju pelaminan.


"Ayah!" Tiffani menjerit, dan segera berlutut di samping Richard.


"Panggil ambulans!" Seru Rama.

__ADS_1


***


Dua jam kemudian.


(Rumah sakit tempat Richard dirawat 👇)



Dokter Steve keluar dari ruang gawat darurat, langkahnya cepat, dan wajahnya yang tidak ditutupi masker medis terlihat pucat.


Tiffani mengekor langkah Dokter Steve. Sesekali gaun panjangnya terinjak oleh kakinya sendiri dan hampir membuatnya terjatuh.


"Tiffani, kendalikan dirimu." Rama menahan tubuh Tiffani yang hampir saja terjatuh.


"Lepas, Rama, aku harus menanyakan bagaimana keadaan ayah pada dokter." Tiffani mendorong Rama menjauh darinya, tetapi Rama tidak lantas menjauh begitu saja. Rama memeluk Tiffani dan mulai mengusap punggung Tiffani dengan lembut.


"Biarkan Dokter Steve bekerja. Jika kamu begini, kamu akan menghambat pekerjaannya, Tenanglah, aku mohon," ucap Rama.


Tiffani kembali terisak. "Bagaimana aku bisa tenang. Ayahku, Rama, ayahku ada di dalam sana, dan sudah dua jam berlalu tapi aku belum tahu bagaimana keadaannya."


"Aku tahu, aku paham bagaimana perasaanmu. Tuan Richard juga ayahku sekarang, aku mengkhawatirkannya sama seperti dirimu, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain menunggu dan berdoa, Tiffani."


"Rama benar, Fan. Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain menunggu dengan tenang dan berdoa," ucap Mona, yang berdiri di samping Tiffani.


Tiffani mengangguk, tepat saat Dokter Steve melewatinya kembali ke dalam ruang IGD bersama dengan beberapa orang dokter spesialis lainnya dan juga perawat.


"Tuan akan baik-baik saja. Kalian semua harus tenang. Tuan sangat kuat, dia kuat, dia pasti bisa melewati ini semua!" Seru Damar, menyemangati Tiffani dan yang lainnya, walaupun ia sendiri terlihat begitu sedih dan terpukul.


Tiga puluh menit berlalu, dan dokter Steve pun keluar dari dalam ruang IGD. Wajahnya terlihat kelelahan dan lebih pucat daripada sebelumnya, kedua matanya yang bulat pun terlihat merah dan berair, sementara bibirnya gemetar.



Tiffani dan Gracella bangkit berdiri, lalu menghampiri Dokter Steve.


"Dok, bagaimana?" tanya Tiffani.


Dokter Steve diam, ia menatap Tiffani dan Gracella bergantian, lalu tatapannya menjelajah, menatap semua yang ada di sana, mulai dari Damar, Rama, Xavier, Mona, Sela, dan juga Adam.


"Katakan ada apa, Dok!" Tiffani berteriak, ia mulai kehilangan kendali. Ia tahu jika sesuatu yang buruk telah terjadi. Ia tahu jika Dokter Steve gagal menyelamatkan ayahnya. Ia tahu jika ayahnya telah tiada saat ini.


Semua dugaan Tiffani itu ditegaskan dengan gelengan kepala dari Dokter Steve. "Kami sudah berusaha," lirih Dokter Steve.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2