
Selepas keluar dari restoran, Brian membawa Valerie menuju ke sebuah lokasi yang letaknya cukup jauh dari kota. Mobil melaju dengan kecepatan pelan melewati jalanan yang menanjak dan berliku, hal itu membuat Valerie semakin penasaran, ke mana tujuan mereka sebenarnya?
Namun saat bertanya, Brian terus mengatakan jika ini adalah kejutan. Maka Valerie tidak membantah, ia membiarkan laki-laki itu melakukan apa yang ia inginkan.
Setelah perjalanan hampir dua jam, mereka telah sampai di sebuah taman bunga yang begitu luas dan indah. Terletak di sebuah desa dan jauh dari kebisingan, taman bunga ini nampak sangat menakjubkan. Karena berlokasi di sebuah desa dan pegunungan, ada beberapa jenis bunga yang harus di tanam di dalam rumah kaca berukuran raksasa demi menjaga kesuburannya.
"Wow, dari mana kau tahu tempat seperti ini?" tanya Valerie. Ia turun dari mobil, mendapati sebuah pemandangan langka yang tidak ia temukan di kota.
"Aku punya villa tidak jauh dari sini. Ini adalah tempat terbaik yang harus kau kunjungi," jawab Brian.
Laki-laki itu menggandeng Valerie, mengajaknya berkeliling dan memetik beberapa bunga yang sedang tumbuh mekar dengan subur.
"Apakah ini sebuah tempat wisata?" tanya Valerie.
"Hanya di peruntukkan untuk anak sekolah dan penelitian, bukan tempat umum," jawab Brian. Pantas saja tempat ini sangat sepi, hanya ada mereka berdua dan beberapa pekerja yang bertugas merapikan tanaman.
"Lalu, bagaimana bisa kita datang kemari?" tanya Valerie. "Apa tidak apa-apa?"
"Secara teknis, taman ini dikelola oleh keluargaku."
__ADS_1
"Ah." Valerie mengangguk paham. Segalanya memang tampak mungkin bagi seorang Brian. Apa saja bisa mereka miliki, bahkan hal-hal yang tidak mungkin.
Di taman ini, ada banyak jenis bunga yang ditanam. Lahan seluas puluhan hektar ini berisi lebih dari lima puluh jenis bunga yang diimpor dari berbagai macam negara.
Valerie sangat senang, ini adalah hal yang menarik dan sangat ia sukai. Tempat yang sejuk, indah, dan jauh dari kebisingan kota.
Saat mereka beristirahat dan duduk di sebuah bangku yang dikelilingi berbagai jenis bunga mawar, seorang pekerja datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar.
Bunga mawar berwarna warni dengan tambahan beberapa tangkai bunga lily putih itu di serahkan Brian pada Valerie.
"Ini semua hasil taman ini, kau suka?" tanya Brian.
Brian duduk di samping wanita itu, lalu meraih tangannya.
"Kau memakai kalung pemberianku?" tanya Brian.
"Hmm." Valerie mengangguk dan meraba kalung di lehernya. Ia tidak sadar jika Brian terus memperhatikannya.
"Sebelumnya sudah aku katakan, kau bisa memakai kalung itu saat kau siap memberikan jawaban padaku atas perasaanmu. Apa kini kau sudah menyiapkan jawaban itu untukku?"
__ADS_1
"Bukankah sudah jelas?" Valerie balik bertanya. Ia merasa malu jika harus mengatakannya secara terus terang.
"Tidak, kau belum mengatakan apapun padaku."
"Kau bilang aku harus memakainya jika aku menerima cintamu. Sekarang aku memakainya."
"Katakan dengan jelas, Valerie. Katakan bahwa kau mencintaiku!" seru Brian.
Jantung Valerie berdetak kencang, dadanya berdebar. Keringat dingin keluar dari setiap pori-pori di kulitnya, membuat ia semakin gugup.
"Katakan dengan jelas bahwa kau juga mencintaiku!" pinta Brian.
"Aku ... Mencintaimu!" ungkap Valerie dengan sedikit berbisik. Entah mengapa, kalimat ini sangat asing di bibirnya. Mengungkapkan cinta pada seorang laki-laki, tentu bukan perkara mudah bagi Valerie.
Brian menatap wajah wanita yang tengah malu-malu di hadapannya. Pipi Valerie merona kemerahan, terlihat sangat jelas bahwa ia sedang gugup dan tidak nyaman.
Namun seketika, Brian memeluknya. Mendekap tubuh Valerie di depan dadanya.
"Aku tahu bahwa usahaku tidak akan pernah sia-sia. Aku tahu bahwa kau mencintaiku!"
__ADS_1
🖤🖤🖤