My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
TAMU TAk DIUNDANG


__ADS_3

Buk!


"Aaah," rintihan Gracella memecah keheningan pagi, ia yang tertidur dalam posisi duduk di belakang pintu semalaman kini tengah terbaring di lantai. Tubuhnya jelas telah mengajukan protes karena tidak diperlakukan dengan benar saat sedang tertidur.


Gracella mengusap kepalanya sambil berusaha untuk kembali duduk.


"Sial sekali," gumamnya.


Setelah kembali dalam posisi duduk Gracella menatap ke jendela yang tirainya tidak tertutup rapat, dan ia cukup terkejut saat menyadari hari sudah terang sekarang.


"Aku benar-benar tidur sambil duduk semalaman." Gracella kembali berujar, dan kemudian ia berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, karena kakinya mengalami kram, ia justru kembali terjatuh.


"Aaaah!" Rintihan Gracella kali ini terdengar hingga ke telinga Rama yang telah berdiri di depan pintu kamar Gracella sejak pukul 07.00.


Rama dengan sigap membuka pintu kamar Gracella yang tidak terkunci, dan ia sangat terkejut begitu mendapati Gracella yang sedang meringkuk di lantai.


"Grace, kamu tidak apa-apa?" tanya Rama, yang segera berlutut hadapan Gracella dan membantu Gracella untuk kembali duduk.


"Aku tidak baik-baik saja," gumam Gracella, dengan wajah menunduk, ia terlihat sedih dan tidak percaya diri. Sangat berbeda dengan Gracella yang Rama temui beberapa minggu lalu. Saat itu Gracella adalah gadis yang ceria, ramah, dan sangat percaya diri, tetapi sekarang tidak lagi. Seolah jadi diri Gracella menghilang dalam waktu semalam.


"Katakan padaku, Grace, ada apa? Apa telah terjadi hal buruk?" tanya Rama, yang berpura-pura tidak tahu mengenai pembicaraan Gracella dan Richard semalam.


Gracella mengangguk. "Ya, ada sesuatu yang terjadi, Rama, tapi aku tidak bisa mengatakan jika yang terjadi adalah hal buruk. Sebenarnya aku sendiri masih bingung, apakah yang sekarang sedang terjadi padaku adalah hal baik atau hal buruk. Aku benar-benar tidak tahu ." Gracella menjawab pertanyaan Rama dengan suara yang gemetar dan begitu lirih.


Rama memperhatikan pundak Gracella yang sekarang mulai berguncang tak keruan, dan seketika Rama tahu jika Gracella sedang menangis sekarang. "Jangan menangis," ujar Rama. "Katakan padaku, apa yang kamu butuhkan saat ini?"


Gracella mendongak,ia menatap kedua mata Rama yang begitu indah dan memikat. Mata yang telah menarik perhatiannya sejak awal, mata yang membuatnya merona saat kedua mata itu menatapnya, tapi sungguh sayang sekali, pemilik mata indah itu adalah kekasih Tiffani. Fakta tersebut membuat Rama menjadi sosok yang paling mustahil untuk ia gapai.


"Gracella, katakan padaku apa yang harus aku lakukan sekarang?" Rama kembali bertanya.


"Peluk aku." Gracella menjawab dengan cepat.


Rama bergeming. Ia terkejut pada permintaan Gracella, hingga ia tidak langsung melakukan apa yang Gracella minta, karena ia tidak ingin mengkhianati Tiffani.


"Jangan salah paham. Aku hanya butuh pelukan saat ini, hanya itu. Selama ini aku selalu menangis seorang diri di sudut kamar, terkadang aku menangis di keramaian, tapi belum pernah sekali pun aku menangis dalam pelukan seseorang. Aku pun membutuhkan hal semacam itu, sebuah kehangatan yang menenangkan dan dapat membuatku merasa nyaman," ujar Gracella. "Aku tidak berniat untuk menjadikanmu milikku, dan aku sama sekali tidak berniat untuk merebutmu dari Tiffani."

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Gracella, Rama pun mendekat, dan dengan sedikit keraguan ia memberanikan diri menarik tubuh Gracella ke dalam pelukannya.


"Terima kasih," lirih Gracella, yang segera membalas pelukan Rama dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan pria itu.


***


Tiffani duduk di teras, memperhatikan Sela dan Mona yang sedang sibuk berolahraga di halaman depan. Menurut Tiffani kedua temannya itu sangat berlebihan, bagaimana bisa keduanya berolahraga padahal hari sudah tidak terlalu pagi. Matahari sudah cukup tinggi sekarang, an sinarnya sangat terik. Menurut Tiffani saat cuaca seterik ini seharusnya mereka berada di dalam rumah, duduk santai di balkon kamarnya sambil menikmati es krim cokelat atau jus strawberry yang manis dan dingin, bukannya malah mencari keringat dengan cara berolahraga seperti yang Mona dan Sela lakukan.


Setelah beberapa saat memperhatikan Mona dan Sela, rasa bosan pun menghampiri Tiffani. Ia bangkit berdiri dari kursi dan segera meninggalkan teras untuk menghampiri Sela dan Mona yang sekarang sedang melakukan Skipping--lompat tali.


"Ada apa, Tiffani, apa kamu butuh sesuatu? Jika ya, katakan saja." Mona mengajukan pertanyaan sambil terus melompat begitu ia melihat Tiffani mendekat.


Tiffani menggeleng. "Aku tidak butuh apa pun saat ini."


"Kalau begitu kenapa kamu turun ke halaman? kembalilah ke teras, di sini panas sekali. Kamu bisa sakit kepala nanti," ujar Mona.


Akan tetapi, Tiffani tidak mengindahkan ucapan Mona, ia malah berjongkok sambil meletakkan telapak tangan di atas kepalanya untuk menghalau teriknya sinar matahari yang terasa sangat menyengat.


"Kapan kalian selesai? Sekarang sudah jam sembilan lewat, dan kalian sudah berolahraga sejak tiga jam lalu, apa kalian tidak lelah, hah?" tanya Tiffani pada Mona dan Sela.


Tiffani menghela napas. "Senang rasanya bisa mengalihkan pikiran untuk sejenak. Aku tidak bisa berolahraga sekarang ini karena aku sedang hamil."


Sela melirik Tiffani yang masih berjongkok tidak jauh darinya. "Kamu bisa berolahraga berdua dengan Rama untuk mengalihkan pikiranmu. Lakukanlah, temui Rama dan ajak dia berolahraga. Dia pasti tidak akan menolak."


"Olahraga apa yang aman untuk ibu hamil?" tanya Tiffani. "Setahuku hanya senam hamil yang bisa dilakukan oleh ibu hamil, dan senam hamil tidak bisa sembarang dilakukan, harus ada instruktur yang memandu."


Sela berdecak. "Senam hamil terlalu repot. yang aku maksud bukan senam hamil, Tiffani, tapi olahraga yang bisa dilakukan saat ini juga di rumah, dan yang pasti tidak membutuhkan instruktur,'" ujar Sela lagi.


"Memangnya ada olahraga yang sesimpel itu untuk ibu hamil?" tanya Mona dengan penasaran.


"Tentu ada."


"Apa?"


"****." Sela menjawab dengan santai.

__ADS_1


Mona menghentikan gerakan skipping-nya, dan langsung menghampiri Sela agar ia dapat mengetuk puncak kepala Sela yang suka asal bicara.


"Ah, apa yang kamu lakukan?" Sela meringis saat Mona mengetuk kepalanya dengan cukup keras. "Aku bisa geger otak dan pikiranku bisa kacau karena otakku yang kacau, Mon."


"Bukankah sekarang pun otakmu sudah kacau. Dasar mesum. Bisa-bisanya kamu menyarankan hal seperti itu pada Tiffani di saat situasi kita sedang berkabung seperti ini," omel Mona.


Sela tersenyum nakal. "Tapi yang aku katakan itu benar. **** adalah olahraga terbaik dan cara paling paling baik untuk mengalihkan pikiran dari kesedihan."


Mona berdecak, dan kembali ke tempatnya semula untuk melanjutkan olahraganya. "Jangan dengarkan dia," ujarnya sambil menatap Tiffani.


Tiffani mengangguk sambil sedikit tersenyum.


"Tapi ngomong-ngomong di mana Rama? Biasanya dia selalu menempel di sampingmu seperti lem," tanya Mona saat ia menyadari Rama tidak terlihat sejak tadi, padahal para bodyguard dan pelayan sejak pagi sudah berlalu-lalang di halaman depan.


"Dia di kamar Gracella," jawab Tiffani.


Jawaban Tiffani yang menyatakan bahwa Rama sedang berada di kamar Gracella sontak saja membuat Mona dan Sela menghentikan olahraga mereka dan segera menghampiri Tiffani.


"Apa katamu barusan?" tanya Sela.


"Apa yang Rama lakukan di sana?" Mona ikut bertanya.


"Kamu tidak masalah kalau Rama hanya berduaan dengan Gracella? Bagaimana kalau mereka melakukan sesuatu yang gila?" tanya Sela lagi.


Tiffani mendorong Mona dan Sela yang berjongkok di hadapannya kemudian ia bangkit berdiri. "Aku yang meminta Rama untuk datang ke kamar Grace, barangkali Grace butuh sesuatu. Lagi pula, sampai saat ini Rama masih bodyguard Grace. Setelah Rama mengundurkan diri nanti, barulah Rama akan terus berada di sampingku dan menempel padaku seperti lem," ujar Tiffani.


Mona tersenyum begitu Tiffani selesai menjelaskan. "Hatimu baik sekali. Tapi ngomong-ngomong kapan kamu akan menemui ayahmu, ayahmu pasti sudah menunggumu sejak tadi. "


Tiffani memang menghindari bertemu dengan Richard, karena ia yakin pasti ia akan menangis begitu melihat Richard.


"Aku belum siapa untuk bertemu dengan ayahku, nanti saat aku siap aku pasti akan ...." Tiffani menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara berisik yang tiba-tiba saja membuat telinganya sakit.


"Di mana Richard. Panggil dia! Aku ingin bertemu dengannya! Aku akan membun-buhnya jika dia tidak keluar untuk menemuiku."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2