My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Pengunduran Diri


__ADS_3

Valerie terdiam, terpaku. Tubuhnya seakan membeku di dalam dekapan Brian. Wanita itu benar-benar terkejut hingga tidak bisa bergerak. Namun selang beberapa detik, Valerie tersadar.


"Kau sedang apa? Ayo lepaskan aku!" pinta Valerie dengan sedikit berbisik.


Ia tidak mungkin mendorong Brian dan menolak laki-laki itu di tempat umum seperti ini. Meski dalam keadaan terdesak, menolak Brian pasti melukai harga diri laki-laki itu karena kini mereka sedang menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kantin.


"Biarkan seperti ini sebentar saja," jawab Brian.


Valerie menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata perlahan. Dipeluk oleh seorang laki-laki merupakan hal yang sangat aneh bagi Valerie. Ia bahkan tidak pernah bermimpi melakukan hal seperti ini di tempat umum.


Di sisi lain, Max tidak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar tidak mengerti tentang apa yang terjadi dan apa yang sebenarnya Brian lakukan.


Max paham Brian sudah memiliki perasaan pada Valerie sejak awal, namun bukan begini caranya untuk mengumumkan hubungan mereka di depan banyak karyawan perusahaan.


"Kita sedang menjadi tontonan. Lepaskan aku," pinta Valerie.


Brian mengangguk, ia melepaskan tubuh Valerie dan menatap wajah wanita itu penuh makna.


"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Valerie.

__ADS_1


"Bos, ayo pergi!" seru Max. Ia menganggukkan kepalanya pada Brian untuk memberi isyarat agar mereka harus segera pergi dari tempat ini.


"Ayo ke ruanganku," ajak Brian. Ia menggenggam tangan Valerie dan menariknya pergi.


Mereka berdua berjalan meninggalkan kantin, sementara Max mengikuti di belakangnya.


Melihat raut wajah Brian serta sikap tidak biasa laki-laki itu, Valerie bisa menebak jika telah terjadi suatu masalah.


Ketika mereka bertiga sampai di ruangan, Brian langsung ke meja kerjanya dan merapikan laptop serta beberapa berkas. Ia memasukkannya ke dalam tas tanpa mengatakan apapun pada Max juga Valerie, membuat dua orang itu kebingungan.


"Kau, akan pulang, Bos?" tanya Max.


"A-apa, Bos? Surat pengunduran diri? Pengunduran diri apa?" tanya Max dengan terbata-bata. Ia tidak mengerti, surat pengunduran diri seperti apa yang dimaksud oleh Brian.


"Aku berhenti mengurus perusahaan ini. Aku akan menyerahkan kembali kekuasaan pada Papa," jelas Brian.


"Tapi, Bos. Bagaimana mungkin kau ...."


"Max, turuti saja perintahku!" tegas Brian.

__ADS_1


"Hei, ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Valerie memberanikan diri.


"Aku akan menjelaskannya nanti, Valerie," jawab Brian. Ia menatap Valerie dengan pandangan sendu. Karena wanita inilah, ia rela melakukan segala cara dan merelakan segalanya.


"Bos, tapi ...."


"Max! Berhenti bertanya dan lakukan saja!" seru Brian.


"Hmm, ada-ada saja." Max mendesah resah. Ia menggosok rambutnya dengan kasar. Antara kesal, bingung, dan tidak paham dengan jalan pikiran Brian.


"Ayo pergi!" ajak Brian sambil menarik pergelangan tangan Valerie.


"Kemana?" tanya wanita yang berjalan mengikuti langkah kaki laki-laki di hadapannya.


"Ikut saja!"


Sementara Max, hanya bisa melihat kepergian Brian dan Valerie dengan perasaan sedih. Ia ditinggalkan sendirian dengan setumpuk pekerjaan. Terlebih, ia akan menghadapi kemarahan Calvin atas keputusan Brian ini.


Sebagai bawahan Brian dan orang kepercayaan Brian, Max juga sering kali tidak mengerti dengan pemikiran Brian. Saling mengenal puluhan tahun tidak membuat Max bisa memahami segala keputusan Brian, terlebih kini laki-laki itu sedang dimabuk cinta, hingga sikapnya semakin membingungkan banyak orang.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2