My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Hari Pernikahan Telah Tiba


__ADS_3

Setelah sekian lama hidup tanpa identitas yang jelas dan selalu dipenuhi dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya, kini Valerie akhirnya bisa merasakan hidup dengan tenang dan bahagia.


Valerie bisa bertemu dengan sang kakek setiap hari, merasakan kehangatan keluarga dan kasih sayang sang kakek setia waktu. Meski usianya tidak lagi anak-anak, Theo pun selalu ingin memanjakan cucunya.


Kini, nampaknya Theo harus merelakan sang cucu untuk kembali hidup mandiri.


Dengan air mata yang berderai-derai, Theo menangis menatap Valerie dalam balutan gaun putih dengan mahkota bertahtakan berlian yang bertengger di atas kepalanya.


Ada perasaan bahagia juga sedih, melepas sang cucu untuk bersanding dengan laki-laki pujaan hatinya. Baru saja Theo merasakan kebahagiaan hidup bersama sang cucu, kini harus rela jika sang cucu akan segera melepas masa lajangnya dan mendampingi Brian, laki-laki yang akan segera menjadi suaminya.


Namun, itulah yang harus terjadi. Bagaimanapun Valerie telah dewasa, sudah sewajarnya ia memulai hidup bahagia dengan laki-laki pilihannya.


"Kakek, jangan menangis. Aku hanya menikah, Kek. Bukan pergi jauh meninggalkan Kakek," ucap Valerie. Ia merasa sangat sedih melihat sang kakek begitu berat melepasnya.


"Kakek hanya merasa haru, Cucu Kakek sudah besar, sudah dewasa. Kakek tidak percaya bahwa hari ini kau akan menikah," ujar Theo dengan suara lirih.

__ADS_1


Theo tidak bisa mengungkapkan kesedihannya yang teramat dalam, mengingat Valerie menikah tanpa di dampingi oleh kedua orang tuanya, membuat Theo merasa begitu terpukul.


"Aku menyayangimu, Kek. Meskipun aku menikah, bukan berarti aku akan pergi meninggalkan Kakek," ungkap Valerie. Wanita itu berusaha keras agar tidak menangis.Wajahnya kini sudah dirias dengan make up dan ia akan segera keluar dari ruangan untuk menemui para tamu undangan.


"Kau harus bahagia, Cucuku. Apapun yang terjadi berbahagialah," pinta Theo.


Kini Valerie memeluk Theo, meyakinkan laki-laki tua itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan banyak yang berubah meskipun nanti ia telah menikah.


Tepat pukul sembilan, suara lonceng telah berbunyi nyaring. Valerie membantu Theo mengusap air matanya dan meminta sang kakek untuk mengantarnya.


Theo mengangguk cepat. Ia tersenyum meski air mata tidak bisa ia bendung.


Saat pintu ruangan terbuka, Valerie berjalan di dampingi oleh Theo di atas sebuah karpet merah yang terbentang panjang menuju sebuah tempat di mana seorang laki-laki gagah berjas putih tengah menantinya


Dengan diiringi alunan musik serta taburan bunga dari para pengiring, Valerie berjalan dengan begitu anggun dan cantik.

__ADS_1


Semua tamu undangan menatap tak berkedip pada wanita itu. Gaun putih dengan ekor menjuntai panjang serta rambut pirang yang di gerai indah, membuat siapapun terpesona.


Dengan konsep pernikahan outdoor di taman halaman rumahnya sendiri, Valerie dan Brian akan melangsungkan prosesi pernikahannya.


Beberapa langkah sebelum Valerie sampai di tempat Brian berdiri, wanita itu hampir menangis. Inilah hari bahagia yang ia nanti-nantikan selama ini.


Brian tersenyum haru, menyambut uluran tangan calon istrinya yang di serahkan oleh Theo.


"Sepanjang usiaku, sampai hembusan napas terakhirku, aku akan terus mencintaimu." Sebuah janji suci yang Brian ucapkan di depan Valerie, di saksikan oleh puluhan tamu khusus yang telah datang.


"Segenap hatiku, seluas duniaku, hanya kaulah lelaki terakhir di hidupku."


Sorak ramai tepuk tangan terdengar mengiringi pelukan serta ciuman sepasang kekasih yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri. Kini, hanya maut yang dapat memisahkan mereka. Cinta yang sesungguhnya akan membawa kebahagiaan di setiap jalannya.


...🖤🖤🖤...

__ADS_1


__ADS_2