
Tiffani cukup terkejut saat Rama menyampaikan secara singkat apa yang sedang terjadi. Namun, Tiffani dapat mengatasi keterkejutannya dengan baik walaupun ia merasa sangat ketakutan sekarang. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin dan kedua kakinya gemetar.
Tiffani tahu persis siapa itu Andrew, Andrew selalu berusaha menyentuhnya dan bermain mata padanya setiap kali ada kesempatan. Hal itu selama ini sama sekali tidak mengganggu Tiffani, karena Rama selalu ada di dekatnya untuk menjaganya dari gangguan si cassanova yang mata keranjang, tetapi kali ini ia harus menghadapi pria itu seorang diri. Entah apa yang akan terjadi padanya.
"Tenang saja, Adam telah menghubungi Xavier dan tim bodyguard utama. Mereka sedang dalam perjalanan kemari, mereka semua juga akan melindungimu. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu dan bertindak kurang ajar padamu di sana," ujar Rama, seolah ia tahu apa yang ditakutkan oleh Tiffani saat ini.
Latar belakang Andrew sebagai seorang pria kurang ajar memang sudah bukan rahasia lagi, jadi sangat wajar jika Tiffani merasa ketakutan sekarang.
"Jangan khawatir, Nyonya, aku punya kabar bagus untuk Anda. Nyonya Gracella akan ikut serta. Baru saja dia mengabariku lewat telepon, dan dia berkata kalau dia akan mendampingi Anda kali ini," ujar Adam, menimpali kalimat penghiburan yang Rama berikan untuk Tiffani.
Tiffani mengembuskan napas lega. Setidaknya ada satu lagi wanita di dalam rombongan yang akan berangkat untuk menemui si pemimpin kartel narkoba yang terkenal mata keranjang itu..
"Apa Mona dan Sela juga akan ikut?" tanya Tiffani lagi.
Adam menggeleng. "Harus ada yang berjaga di rumah. Barangkali akan ada kabar baru yang dikirim ke rumah, bukannya ke kantor atau ke Anda langsung. Mona dan Sela tetap berada di rumah untuk menjaga kemungkinan itu."
Tiffani mengangguk. "Aku akan senang sekali jika mereka semua bisa ikut bersamaku. Tapi, benar apa yang kamu katakan, harus ada yang berjaga di rumah."
Rama menyentuh pipi Tiffani dengan kedua tangannya. "Semangatlah, kamu pasti bisa. Kamu istriku yang paling hebat," ujar Rama, memberi semangat pada Tiffani.
Tiffani mengangguk. "Kamu juga. Tolong hentikan tindakan Om Damar," pinta Tiffani.
Rama mendaratkan ciuman perpisahan di bibir Tiffani, kemudian mereka berdua keluar dari dalam ruangan dengan bergandengan tangan menuju elevator yang ada di ujung koridor.
Suasana kantor begitu ramai, apalagi hari masih terbilang cukup pagi dengan langit cerah tak berawan. Namun, hari yang cerah ini begitu suram bagi Tiffani dan juga Rama. Tidak ada kesan riang di hari yang cerah ini, bahkan keceriaan yang sempat mereka nikmati di taman beberapa jam yang lalu pun tidak lagi terasa. Hanya tersisa ketegangan di sekitar mereka.
Setibanya di lantai dasar, Tiffani dan Rama melepaskan tautan tangan mereka. Keduanya melangkah dengan cepat menyeberangi lobi menuju bagian depan kantor bersama dengan Adam. Kegelisahan yang terlihat jelas di wajah ketiganya tentu saja menjadi pusat perhatian karyawan yang ada di lobi. Dengan tidak segan-segan para karyawan mengikuti langkah Rama Dan Tiffani dengan tatapan mereka.
Dan begitu melewati pintu keluar, lima unit mobil sedan mewah melaju dari area parkir terbuka menuju tempat di mana Tiffani berdiri menunggu. Suara decit ban saling bersahutan membelah udara di luar gedung.
Sedan yang paling depan adalah sedan yang terlihat paling mewah, berwarna hitam mengilat dengan keseluruhan body dilapisi anti peluru. Pintu bagian belakang mobil terbuka otomatis, memperlihatkan bagian dalam mobil yang tidak kalah mewah dari tampilan luarnya.
Adam mengangguk ke Rama dan segera membuka pintu bagian depan untuk duduk di kursi penumpang.
"Aku pergi dulu," ujar Tiffani, sambil meremas tangan Rama dan segera masuk ke dalam mobil.
Kaca bagian depan mobil terturun sesaat sebelum mobil melaju, dan Xavier terlihat di dalamnya, duduk di balik kursi kemudi dengan kaca mata hitamnya seperti biasa.
"Sepuluh menit tersisa, Vier, bergegaslah," ujar Rama.
Xavier mengangguk, dan tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi ia segera menginjak pedal gas. Mobil yang Tiffani tumpangi melesat laju, diikuti oleh empat mobil lainnya.
Setelah rombongan Tiffani tidak lagi terlihat, Rama segera berlari menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman parkir, dan tanpa membuang waktu ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Distrik EL 33 yang berjarak kurang lebih dua jam perjalanan.
***
Distrik EL 33 ...
__ADS_1
Warga berkerumun, mengelilingi alat berat yang akan meratakan tempat tinggal yang telah mereka bangun dengan susah payah. Jeritan wanita tua hingga tangis anak-anak kecil memenuhi udara yang berdebu.
Akan tetapi, semua itu seolah tidak ada artinya. Permohonan mereka yang tidak berdaya tidak berarti apa-apa bagi petugas operator alat berat yang sedang melaksanakan tugas. Petugas-petugas itu tetap saja melakukan apa yang telah diperintahkan oleh atasan mereka, dan perintah itu jelas-jelas berbunyi 'Jangan pedulikan semua warga di sana, gilas saja sekalian jika ada yang melawan.'
Rumah sederhana yang keseluruhan bangunnya terbuat dari papan seketika hancur, kayunya yang rapuh berubah menjadi gumpalan debu yang beterbangan di udara, menempel pada objek yang berkerumun.
Seketika daerah pemukiman yang hijau itu berubah menjadi lautan cokelat dan abu-abu. Reruntuhan kayu dan tembok beton mengubah warna rumput dan pepohonan di sana menjadi demikian.
seiring dengan runtuhnya satu per satu bangunan, jeritan warga semakin keras terdengar.
seorang pria tua yang terlihat sakit-sakitan berlari menghampiri salah satu alat berat yang bergerak mendekati sebuah bangunan pertokoan. Pertokoan itu bukan milik si pria tua, tetapi mengingat rumahnya sendiri telah hancur dan ia tahu bagaimana rasa sakit yang tengah ia rasakan, ia tidak ingin orang lain merasakan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Jangan! Jangan lakukan! Bagaimana bisa kalian tega pada kami semua. Bangunan milik kami bahkan tidak mendapat ganti rugi dengan layak. Di mana hati nurani kalian?" teriak si pria tua. "Katakan siapa bos kalian. Siapa pemilik hotel yang akan dibangun di sini? Aku akan datang padanya dan berlutut jika perlu agar--"
"Berhentilah bicara dan menyingkirlah dari hadapan kami. Kami harus menyelesaikan tepat waktu!" salah seorang operator alat berat menghampiri si pria tua dan mendorong tubuh lemah itu hingga terjatuh.
Buk!
Sungguh sial. Pria tua itu jatuh di tempat yang tidak seharusnya. Kepalanya tepat mengenai runtuhan beton dan seketika itu juga darah segar mengucur dari bagian belakang kepalanya.
Suasana menjadi riuh, kesabaran warga mulai habis saat mereka melihat pria tua itu terluka, dan tanpa perlu aba-aba para warga berlarian menyerang semua petugas operator alat berat yang ada di sana.
Tidak ada pilihan lain bagi para operator selain menyelamatkan diri dari puluhan warga yang sedang mengamuk. Sementara itu, si pria tua tidak lagi bergerak. Ia tidak lagi bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya di desanya, ia tidak bisa melihat betapa marahnya warga atas kepergian dirinya. Ya, pria tua itu meregang nyawa detik itu juga.
***
"Ah." Ara meringis saat pisau buah yang ia gunakan untuk mengupas sebuah apel tiba-tiba mengenai jemarinya. Ia refleks memasukan jemarinya yang terluka ke dalam mulut dan menghisap darahnya sendiri hingga darah itu berhenti mengalir.
Ara hanya menggeleng. Ia sedang tidak mood untuk berbicara. Sejak tadi ia hanya duduk di teras sambil memikirkan langkah apa yang akan ia ambil sekarang setelah ia mengetahui bahwa ia sedang ditipu habis-habisan oleh Tiffani dan yang lainnya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Mona lagi, saat Ara tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Ara menghela napas, kemudian ia menatap Mona yang duduk di sebelahnya. "Ya, ada yang mengganggu pikiranku saat ini, tapi aku sedang tidak ingin membicarakannya dengan siapa pun," ujar Ara dengan sengit.
Mona yang memang mudah sekali bergaul tidak tersinggung sama sekali pada sikap Ara yang tidak bersahabat. Ia hanya tersenyum dan kembali melempar pandangan ke halaman depan yang sejuk dan cerah.
"Tidak masalah kalau tidak ingin bicara padaku. Setiap orang kan memang berhak memiliki sesuatu yang ingin disimpan untuk diri sendiri. Aku menghargai keputusanmu itu," ujar Mona.
Ara menghela napas panjang, dan kembali sibuk dengan buah apel di tangannya.
"Apa setiap hari selalu sesepi ini?" tanya Ara setelah beberapa saat.
Mona mengangguk. "Ya, selalu seperti ini semenjak Tuan Richard meninggal dunia. Biasanya kami semua selalu ada di rumah, aku dan Tiffani, sementara Tuan Richard yang bekerja seharian, terkadang bahkan sampai tidak pulang berhari-hari. Tapi sekarang tidak lagi demikian. Semuanya telah benar-benar berubah." Mona menjawab dengan tatapan menerawang, terlihat sekali jika ia merindukan Richard dan juga masa-masa lalu yang dulu pernah ia lewati bersama dengan Tiffani dan Richard.
Mona kemudian mengusap sudut matanya yang berair. Ia tertawa saat menyadari bahwa dirinya masih bisa menangisi masa lalu di usianya yang bisa dikatakan tidak lagi muda.
"Seharusnya aku mensyukuri hari ini, bukanya malah menangisi masa lalu," gumam Mona, agar rasa malunya sedikit berkurang.
Ara mengunyah apelnya sambil berkata, "Tidak masalah, terkadang aku pun menangisi masa lalu, tapi jika dipikirkan lagi masa sekarang yang aku lewati pun tidak terlalu membahagiakan juga, sehingga aku memiliki alasan yang lebih pantas untuk menangis dibandingkan dengan dirimu."
__ADS_1
Mona kembali menatap Ara. "Seburuk apa hari-harimu sekarang?" tanya Ara, yang berusaha menciptakan obrolan dengan Ara dan menjalin hubungan lebih dekat dengan wanita itu, ia merasa kasihan pada Ara yang nasib keluarganya menjadi tidak jelas karena perbuatan Damar yang tiba-tiba menjadi serakah hingga tidak terkendali.
"Buruk sekali. Ayahku sakit-sakitan, ibuku juga, dan kami miskin sekali. Aku bekerja jauh dari rumah untuk mendapatkan penghasilan, karena tidak banyak yang bisa dikerjakan di distrik tempatku tinggal. Satu-satunya harta yang kami miliki selain nyawa kami sendiri adalah sebuah rumah berukuran Kecil di EL 33, tapi rumah itu pun terancam punah dari muka bumi." Ara berhenti sejenak, ia mengatur napas sebelum melanjutkan, "Andai aku tahu siapa pemilik hotel yang akan dibangun di EL 33, aku pasti akan menghajar orang itu habis-habisan hingga nyawanya melayang," seru Ara.
Mona meneguk saliva mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Ara. Ara terdengar begitu kejam, tetapi jika ia berada di posisi Ara pun mungkin ia akan melakukan hal yang sama pada sekelompok orang yang aka menghancurkan rumah masa kecilnya.
Kegelisahan yang terlihat jelas di wajah Mona membuat ocehan Ara semakin menjadi. "Apa kamu sungguh tidak tahu siapa orang yang ada di balik semua ini? Jika kamu tahu, katakan saja padaku, aku pasti akan sangat berterima kasih."
Mona menggeleng dengan cepat, dan ia merasa lega ketika detik berikutnya ia mendengar dering ponsel Ara. Setidaknya ia tidak harus berbohong pada Ara terus-terusan.
"Tunggu sebentar," ujar Ara, sambil merogoh kantong tshirt yang ia kenakan. "Ini kakakku," ujar Ara lagi, pada Mona.
Kemurungan di wajah Ara menghilang saat ia menerima telepon dari saudara satu-satunya yang ia miliki.
"Halo, ada apa, Kak." Ara menjawab telepon dengan penuh semangat.
Akan tetapi, senyum di wajah Ara memudar secepat datangnya. Bahkan kini Ara menangis. Air matanya yang bening mengalir deras dari kedua matanya yang bulat. Detik berikutnya Ara mulai terisak tak keruan, ia tidak bisa mengendalikan diri. Sebelah tangannya yang bebas mulai memukuli dadanya berulang kali.
Melihat hal itu, Mona berusaha menahan tangan Ara.
"Ada apa?" tanya Mona yang terlihat khawatir sekali. Ia bingung, kabar apa yang disampaikan oleh kakak Ara, sampai-sampai Ara kehilangan kendali seperti ini.
Akan tetapi, Ara tidak menjawab. Ia masih menangis, meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan ayah dan ibunya.
"Kehilangan," gumam Mona, menebak apa yang terjadi. "Apa salah satu keluargamu ada yang mengalami ... mengalami ...." Mona tidak dapat meneruskan kalimatnya, ia takut jika apa yang ia katakan malah membuat Ara semakin sedih.
"Ayahku meninggal. Ayahku meninggal," raung Ara. "Seorang pekerja yang bertugas merobohkan rumah kami mendorong ayahku. Ayahku terjatuh dan langsung meninggal di tempat." Ara menambahkan.
Mona tentu saja tidak tinggal diam. Ia segera bangkit berdiri setelah mengatakan, "Tunggu di sini," kemudian menghilang dari pandangan Ara.
Mona terus berlari menyusuri koridor menuju halaman belakang, lalu mengetuk salah satu pintu yang berjejer di bagian belakang rumah besar itu.
"Sela, Sela keluarlah sebentar." Mona berteriak, memanggil-manggil Sela yang berada di dalam kamar.
Tidak lama kemudian pintu yang Mona ketuk berayun membuka dan Sela menjulurkan kepala dari balik pintu.
"Ada apa? Apa kamu ingin menjebol pintu kamarku?" tanya Sela, yang merasa kesal karena Mona mengetuk pintunya dengan begitu keras.
Akan tetapi, Mona tidak menghiraukan gerutuan Sela, ia segera menarik pergelangan tangan Sela sambil berkata, "Ayah Ara meninggal dunia. Salah satu pekerja yang bertugas menghancurkan bangunan di sana mendorong ayahnya hingg ayahnya jatuh dan meninggal."
Sela mendekap mulutnya sendiri dengan tangannya. "Ya, Tuhan. Apa kamu sudah mengabari Tiffani atau Rama?" tanya Sela.
Mona menggeleng. "Belum. Apa bijaksana mengabari mereka sekarang?"
"Mereka harus tahu secepatnya. Kirim saja pesan pada keduanya, sementara aku berganti pakaian sebelum kita menemani Ara kembali ke rumahnya."
Mona mengangguk, dan segera mengetik pesan pada ponselnya.
[Ini gawat. Ayah Ara meninggal. Salah seorang pekerja yang bertugas merobohkan rumah Ara dan rumah warga di EL 33, mendorong ayah Ara hingga ayah Ara terjatuh dan meninggal seketika. Apa yang harus kita lakukan sekarang?]
__ADS_1
Mona menambahkan penerima pesan, yaitu Rama dan Tiffani, kemudian ia menekan tombol send.
Bersambung.