My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
KERJA SAMA DAMAR DAN DION


__ADS_3

Dion bangkit berdiri ketika speed boat mulai bersandar di dermaga. Ombak yang cukup besar ditambah angin yang lumayan kencang membuat speed boat itu terombang-ambing bagai kertas di tepi dermaga. Bagian tepinya yang tersentuh langsung oleh tiang-tiang dermaga menimbulkan suara berisik yang terdengar cukup menakutkan.


Dion menyipitkan mata sambil meniupi kedua telapak tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Tidak lama kemudian seorang pria tua terlihat memanjat tangga yang mengarah ke dermaga. Pria tua itu melambaikan tangan ke Dion. Di wajahnya tersungging senyum semringah. Terlihat senang sekali karena dapat bertemu dengan Dion.


"Hai, Pak Damar si musuh dalam selimut," sapa Dion.


Damar mengerucutkan bibir. "Jangan ucapkan itu. Jujur saja, aku merasa tidak enak hati sekarang. Bagaimana kalau ada yang dengar?" ujar Damar setengah bercanda, karena ia tahu tidak akan ada yang mendengar perkataan Dion kecuali beberapa anak buah Dion yang ada di sekitar mereka.


Dion tertawa terbahak-bahak. "Aku ragu Anda masih memiliki hati sekarang? Bagaimana rasanya menjadi pengkhianat, hah?"


Damar menggeleng. "Tidak terlalu baik, tapi tidak terlalu buruk juga. Semua orang bisa melakukan hal seperti yang aku lakukan jika ingin, jadi aku rasa menjadi pengkhianat bukanlah hal yang terlalu mengejutkan," jawabnya, lalu menepuk pundak Dion sembari berkata, "Ayo kita selesaikan semua ini dengan cepat, karena aku harus segera pulang."


Dion mengangguk, lalu menunjuk sebuah tenda darurat yang telah dibangun beberapa waktu lalu untuk kepentingan transaksinya bersama dengan Damar.


"Mari kita ke sana," ajak Dion.


Damar tertawa keciplmelihat persiapan yang telah Dion lakukan, mulai dari pulau terpencil, dermaga dadakan, dan sekarang tenda darurat.


"Luar biasa. Kamu niat sekali sepertinya melakukan transaksi denganku." Damar berkomentar saat ia mulai melangkah masuk ke dalam tenda yang dilengkapi lampu yang menyala degan bantuan aki, sehingga suasana di dalam tenda sangat terang, tidak gelap sama sekali.


Di dalam tenda sendiri telah disiapkan dua buah kursi lipat yang menghadap ke sebuah meja bulat berukuran sedang, satu buah kamera, dan dua botol minuman bersoda.


Dari setiap barang yang ada di dalam tenda tersebut hanya kamera yang dapat mengambil alih perhatian Damar.


"Kamera? Untuk apa?" tanya Damar.


Dion melirik ke kamera yang ada di atas meja, kemudian ia memanggil salah satu anak buahnya untuk mengambil kamera itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Pak Damar. Kamera itu digunakan hanya untuk dokumentasi." Dion menjawab kebingungan di wajah Damar.


"Dokumentasi," gumam Damar.


Dion kembali mengangguk. "Ya. Transaksi yang kita lakukan hari ini bukan hanya sebuah persetujuan di atas kertas saja. Saat melakukan penandatanganan dan serah terima cek, aku ingin agar semua kegiatan itu direkam." Dion menjelaskan dengan singkat.


Dahi Damar mengernyit. "Apa kamu tidak percaya padaku?"


"Bukannya tidak percaya, Pak Damar, tapi itu memang gayaku. Aku melakukannya pada setiap transaksi bisnis. Aku memang seperti ini, jangan terlalu khawatir toh aku tidak akan menyebarkannya." Dion tersenyum untuk meyakinkan Damar.


Setelah beberapa saat berselang, Damar pun mengangguk dan menyatakan bahwa ia tidak keberatan dengan aktivitas rekam-merekam yang akan dilakukan oleh Dion.


"Oke, tidak masalah. Mari kita selesaikan."


***


Tiffani membuka kedua matanya perlahan, dan kembali menutupnya lagi setelah ia menatap wajah Rama sejenak. Berbaring di sisi Rama begitu nyaman, hingga rasanya enggan sekali ia beranjak dari atas ranjang dan meninggalkan kehangatan yang Rama tawarkan.


"Masih ingin tidur?" tanya Rama.


Tiffani tersentak. Ia kembali membuka kedua mata dan mendongak menatap Rama.


"Aku tidak tahu kalau kamu sudah bangun," gumam Tiffani.


"Ya, aku memang sudah bangun sejak tadi, aku memandangi wajah bidadari yang begitu cantik. Apa kamu tidak sadar?"


Tiffani mengerucutkan bibirnya. "Hem, dasar gombal," ujar Tiffani sambil mencubit pinggang Rama dengan keras, membuat suaminya itu meringis kesakitan.

__ADS_1


Tiffani kemudian bangkit untuk duduk dan segera meraih ponsel yang ada di atas nakas. "Sebenarnya aku memiliki beberapa agenda penting hari ini, tapi aku masih terlalu takut untuk datang ke kantor," ujar Tiffani. "Menurutmu bagaimana? Aku harus ke kantor atau tidak?"


Rama yang juga telah dalam posisi duduk kini memeluk Tiffani dari belakang. ia mengusap wajahnya pada bahu Tiffani berulang kali hingga Tiffani bergidik kegelian. "Tidak usah ke kantor hari ini, Tiffani, bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja dengan Junior?"


Tiffani menolehkan kepalanya ke samping, berusaha menatap Rama yang masih sibuk mengusap wajah pada bahunya seperti seekor kucing.


"Ide bagus. Sudah lama kita tidak berjalan-jalan. Tapi, apa kepalamu tidak sakit? Sebaiknya kita ke rumah sakit dan memeriksanya terlebih dahulu, Rama. Aku tidak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari karena luka itu, hem, misalnya amnesia. Aku tidak ingin kamu mengalami amnesia."


Rama tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak akan mengalami amnesia hanya karena luka sekecipl ini, Sayang."


"Ya, tapi tetap saja aku takut. Mana ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, 'kan? Pokoknya kalau sampai kamu melupakanku, aku akan menghajarmu habis-habisan." Tiffani mengancam Rama.


Rama menganguk. "Aku sama sekali tidak akan melupakanmu, bahkan ketika aku amnesia sekali pun."


Ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Rama membuat Tiffani merasa senang. Ia lalu berbalik dan memeluk Rama. "Terima kasih."


"Jangan berterima kasih, bukankah mengingatmu terus-menerus adalah kewajibanku, jadi kamu tidak harus berterima kasih."


"Baiklah-baiklah. Kalau begitu ayo kita mandi dan sarapan, setelah itu kita bicarakan akan pergi ke mana kita hari ini. Tapi, kita hanya akan pergi setelah Om Damar datang, oke," ujar Tiffani.


Mendengar nama Damar disebut, Rama tiba-tiba saja kembali mengingat pembicaraan para penjahat yang menawannya kemarin di gudang, ia yakin sekali jika sosok yang para penjahat itu bicarakan adalah Damar, tidak mungkin orang lain.


Rama menegakkan duduknya, dan kemudian bertanya pada Tiffani. "Om Damar tidak ada di sini?"


Tiffani mengangguk. "Tidak ada. Dia juga tidak pulang semalaman kurasa. Kita berpisah dengan Om Damar di lift kantor kemarin. Sejak saat itu aku tidak melihat Om Damar sekali pun."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2