My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
BAHAGIA DAN PENDERITAAN


__ADS_3

Deg!


Suasana di ruang keluarga menjadi sangat hening setelah Ara dengan penuh tekad mengutarakan apa yang diinginkannya sejak awal. Tidak ada yang bicara dan bergerak. Bahkan suara napas pun tidak terdeteksi sama sekali, seolah tidak ada seseorang pun di dalam ruangan itu.


Setelah berhasil mengatasi keterkejutannya, Tiffani segera mengusap dadanya sambil mengatur napas. Ia tahu jika ia tidak boleh begitu saja percaya pada ucapan Ara, ia juga harus bisa mengontrol emosinya dengan baik, karena apa pun yang sedang ia rasakan saat ini pasti dirasakan juga oleh janinnya.


"Apa maksudmu, Ara?" tanya Tiffani dengan tenang. Senyum manis bahkan mengembang di bibirnya yang mengilap.


Ara menatap Tiffani dengan tatapan menantang. "Aku ingin Rama jadi suamiku. Berikan dia padaku," ucapnya dengan lantang.


Tiffani tertawa, lalu ia mengigit bibir bawahnya. Ia masih belum mengerti. Bagaimana bisa Ara tiba-tiba meminta Rama darinya. Memangnya Rama itu barang atau apa?


Rama yang sebelumnya juga merasa terkejut sama seperti Tiffani segera menghampiri Ara begitu rasa terkejutnya mulai berkurang. Ia melangkah begitu dekat dengan Ara, hingga Ara mau tidak mau mundur selangkah demi selangkah untuk menjauh dari Rama.


Seharusnya Ara tidak menghindar. Apalagi kedatangan Ara ke rumah Tiffani memang untuk mengejar cinta Rama. Namun, tatapan Rama yang begitu menusuk dan wajah Rama yang terlihat sangat menakutkan membuat Ara memilih untuk menghindari Rama.


"Kenapa kamu menjauh? Bukankah kamu seharusnya mendekat jika memang kamu menginginkanku?" desis Rama, seringai jahat menghiasi wajahnya yang tampan. Kali ini Rama terlihat bangat berbeda, walau masih terlihat tampan, tetapi di saat bersamaan ia pun terlihat sangat kejam.


Ara menghentikan langkah saat tubuhnya menabrak dinding yang ada di belakangnya. Sekarang Ara terkurung. Ia tidak bisa menghindari Rama lagi.


Buk!


Rama meninju dinding yang ada di belakang Ara, membuat Ara terkejut, karena Ara pikir Rama akan memukulnya saat tangan pria itu terangkat ke atas dan kemudian melayang ke arahnya sambil mengepal.


"Apa maksudmu, Ara, kenapa kamu melakukan semua ini pada istriku?!" Rama berteriak, dan kali ini ia menyentuh kedua pipi Ara dan menekannya kuat-kuat.

__ADS_1


Tidak ada yang tidak terkejut di ruangan itu saat Rama berteriak. Suaranya yang berat dan sedikit serak menggema memenuhi ruangan.


Gracella, Mona, dan Sela kini berada di sekitar Tiffani sekarang. Tangan Gracella mengusap-usap punggung Tiffani agar Tiffani tidak merasa stres dan tetap rileks, walaupun Gracella tahu jika semua itu tidak mungkin. Mana ada istri yang tetap merasa rileks saat ada wanita lain yang meminta suaminya, apalagi wanita itu pernah berciuman dengan suaminya juga.


"Apa kamu ingin balas dendam, hah?" tebak Rama, saat Ara tidak kunjung mengatakan apa pun. "Kamu ingin membalas kematian ayahmu dengan cara murahan seperti ini? Kasihan sekali ayahmu karena memiliki putri sepertimu." Rama mencemooh, ia tidak peduli jika Ara merasa sakit hati pada ucapannya, toh Ara yang duluan.


Ara menggeleng, ia mulai menangis sekarang. Air mata sebening ktistal turun dari mata besarnya dan mengalir melewati pipinya yang tirus.


"Teganya kamu menuduhku seperti itu. Aku pikir kamu menyukaiku juga, karena beberapa malam yang lalu kita berciuman di halaman depan, dan saat itu--"


"Semua kejadian itu tidak disengaja. Apa kamu tidak ingat kalau saat itu kamu tersandung dan jatuh menimpaku, dan saat itulah bibirmu menabrak bibirku. Bagaiman bisa kecelakaan konyol seperti itu kamu anggap sebagai ciuman?!" Rama kembali berteriak di hadapan Ara. "Apa kamu tidak pernah berciuman sebelumnya?"


Ara baru saja hendak mendebat Rama, ketika tiba-tiba tubuh Tiffani ambruk dan seketika itu juga Tiffani tidak sadarkan diri. Kejadian itu tentu saja menjadi jeda bagi perdebatan Ara dan Rama.


"Tiffani, astaga, Tiffani bangunlah." Mona menjerit sambil memukul-mukul pelan pipi Tiffani ketika ia sudah berlutut di samping Tiffani.


"Tiffani. Bangun, Sayang. Bangun," lirih Rama, sambil mengusap kedua telapak tangan Tiffani agar Tiffani sadar.


Gracella yang beberapa saat lalu berlari ke sudut ruangan, di mana terdapat sebuah kotak P3K, kini telah kembali sambil membawa sebotol minyak kayu putih.


"Minggirlah, Rama," ujar Gracella, menjauhkan Rama dari hadapan Tiffani agar ia bisa mengoles hidung dan leher Tiffani dengan minyak kayu putih.


"Kita harus membawanya ke dokter, Grace. Tunggu di sini, biar aku siapkan mobil," ujar Rama, yang terlihat benar-benar cemas.


"Tidak usah, Rama, dia sudah sadar," ujar Gracella, saat ia melihat kedua mata Tiffani yang sedikit terbuka. "Aku rasa dia hanya terkejut. Reaksi ibu hamil memang sering seperti itu saat sedang merasakan tekanan."

__ADS_1


Dahi Rama mengernyit begitu ia mendengar ucapan Gracella, sementara Mona dan Sela langsung menghampiri Gracella dan ikut berlutut di samping kanan dan kiri Gracella, meminta penjelasan yang lebih terperinci.


"Kalian tidak ada yang tahu?" tanya Gracella dengan bingung sambil menatap Rama, Sela, dan Mona bergantian.


Ketiganya meggeleng serentak.


"Astaga, kalian ini kelewatan sekali. Masa kalian tidak tahu kalau Tiffani sekarang sedang mengandung," ujar Gracella sambil berkacak pinggang.


Mendengar itu, Mona dan Sela langsung bersorak. Keduanya bangkit berdiri dan berpelukan erat. Sementara Rama pun terlihat tidak kalah bahagianya.


Rama berlutut di samping Tiffani, kedua matanya yang berkaca-kaca menatap Tiffani lekat-lekat.


Tiffani yang telah sadarkan diri membalas tatapan Rama. Senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kamu tidak akan menikah lagi sementara aku sedang mengandung bayimu, 'kan? Kalau kamu lakukan itu, kamu akan jadi suami dan ayah yang paling jahat di dunia," gumam Tiffani, dengan suara yang begitu lemah.


Rama menggeleng. "Aku tidak akan menikah lagi dengang alasan apa pun, Tiffani. Aku sangat mencintaimu, bagaimana bisa aku menduakanmu. Ciuman itu ... ciuman yang Ara katakan adalah sebuah ketidaksengajaan."


Tiffani mengangguk. "Ya, aku tahu. Mana mungkin kamu mencium wanita lain, padahal kamu sangat tergila-gila padaku," ujar Tiffani dengan penuh percaya diri. Ia mengatakannya dengan suara keras yang ia keluarkan dengan susah payah.


Rama mengangguk sambil tertawa, lalu ia mengecup bibir Tiffani, kecupan mesra yang lembut.


Ara mendengus kesal. Hatinya sangat terluka saat ini. Perasaannya campur aduk. Ia merasa diinjak-injak oleh Tiffani dan Rama.


"Kalian semua merasa bahagia di hari aku merasa sangat hancur. Karena kalianlah, ayahku meninggal, dan sekarang kalian menunjukan kebahagiaan kalian di hadapanku," ujar Ara, membuat sorakan Mona dan Sela terhenti. Tiffani dan Rama pun mengakhiri ciumannya.


"Kalian harus kehilangan salah satu orang yang kalian sayangi barulah kalian dapat merasakan apa yang akun rasakan. Tunggu saja. Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan," tambahnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2