
Rama menutup pintu kamarnya dengan kasar begitu ia tiba di dalam kamar, membuat Adam yang baru saja hendak memasukan sepotong roti ke dalam mulut terkejut dan akhirnya roti di tangan Adam itu terjatuh.
Adam mendelik kesal.ke Rama. "Lihatlah. Semua ini gara-gara kamu!" seru Adam, sambil menunjuk rotinya yang tergeletak begitu saja di lantai.
Rama tidak menghiraukan keluhan Adam. Ia mendekat ke Adam dan langsung duduk di hadapan Adam yang masih terlihat cemberut.
"Aku tidak tahan, Adam. Aku tidak bisa berlagak sok di hadapan Tiffani. Apa kamu tidak lihat bagaimana wajahnya? Dia terlihat kesal sekali dan juga marah. Kasihan sekali dia," ucap Rama.
Adam menghela napas dan meraih sebungkus roti lagi yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya dan membukanya. "Tahan saja, toh tidak ada cara lain. Nona hanya akan kembali padamu saat nona merasa kesepian karena kamu mulai menjauh dari dia. Bukankah Pak Damar dan Tuan Richard pun mengatakan demikian. kita turuti saja apa yang dikatakan oleh Tuan Richard."
"Tapi, bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya? Bagaimana kalau bukannya kembali padaku, Tiffani malah semakin menjauh dan mendapat kekasih baru? Bisa saja, 'kan, Tiffani merasa kesepian dan tertekan akan tindakan-tindakanku, lalu kemudian dia mencari pasangan baru untuk berbagi suka dan duka. Bisa saja hal seperti itu terjadi."
Adam mengangkat kedua pundaknya. "Ya, kalau hal seperti itu yang terjadi, mau bagaimana lagi. Berarti begitulah jalan takdirmu. Percintaan kalian berarti sudah tidak dapat ditolong lagi, alias sudah tamat." Adam berujar dengan santai, sembari mulai mengunyah roti.
Rama meraih bantal dan melemparkan bantal tersebut ke Adam. "Ucapanmu itu keterlaluan sekali, Adam, bisa-bisanya kaku berkata seperti itu," ujar Rama.
Adam mengembuskan napas dengan kesal. "Ayolah, Rama, kamu itu seorang pria. Berhentilah merengek,dan mulailah lakukan sesuatu yang dapat membuat cintamu kembali padamu. Jangan hanya mengeluh di sini seperti seorang wanita," ucap Adam, kemudian bangkit berdiri. "Aku akan kembali ke rumah sakit untuk menemui tuan, bye." Adam keluar dari dalam kamarnya, meninggalkan Rama yang masih terlihat galau berat.
Beberapa jam lalu ....
Rama kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Richard, tepat saat Richard sedang menyantap makan siangnya. Melihat Richard yang duduk santai di atas ranjang sembari menyantap sushi dengan begitu lahap tentu saja membuat Rama senang sekaligus terkejut.
"Tuan, Anda sudah sadar?" tanya Rama, dengan napas yang terengah-engah, karena ia baru saja mengelilingi gedung rumah sakit untuk mencari keberadaan Tiffani.
Richard mengangguk. Ia terlihat tenang, tidak seperti Adam dan Damar yang terlihat masih sangat terkejut karena Rama tiba-tiba muncul dan melihat keadaan Richard yang sebenarnya tidak mengalami koma.
"Ya, aku sudah sadar. Seperti yang kamu lihat sekarang ini. Baru juga beberapa menit yang lalu. Benar, 'kan, Dokter Steve!" ujar Richard.
Dokter Steve mengangguk cepat. "Benar, Rama, baru beberapa menit yang lalu Pak Richard mendapatkan kesadarannya."
"Syukurlah, Tuan, aku sangat senang," ujar Rama lagi, walaupun ia merasa sedikit aneh, karena di hadapan Richard terdapat berbagai macam makanan yang sepertinya telah disiapkan beberapa jam lalu.
"Ada apa kamu mendadak kembali ke sini dan masuk tanpa mengetuk seperti tadi? Bikin kaget saja." Damar mengomel pada Rama.
"Tiffani tidak ada di rumah sakit ini. Aku sudah mencarinya ke mana pun, bahkan ke ruangan Dokter Stella sekali pun." Rama menjawab pertanyaan Damar dengan gugup, ia benar-benar terlihat khawatir.
"Mungkin dia ada di rumah," ujar Damar.
Rama menggeleng. "Tidak ada. Aku sudah menelepon ke rumah untuk memastikan keberadaan Tiffani, tetapi kepala pelayan bilang dia tidak ada di rumah, sedangkan ponsel Tiffani dan Mona juga tidak dapat dihubungi."
Suasana hening sejenak, kemudian Richard berkata, "Rasanya aneh saja kalau dia pergi tanpa mengatakan apa pun padamu, dan tanpa memintamu untuk ikut dengannya. Apa terjadi sesuatu di antara kalian berdua?" tanya Richard, yang berpura-pura tidak tahu-menahu tentang perdebatan antara Tiffani dan Rama semalam.
Rama terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Richard, tetapi kemudian ia mengangguk.
"Tiffani mengakhiri hubungan kami, Tuan, dia meminta diriku dan dirinya saling menjauh." Rama menjawab dengan suara yang begitu lirih, terdengar sedih dan putus asa.
Damar dan Adam saling pandang. Mereke berdua tidak pernah melihat seorang pria yang begitu putus asa dan sedih hanya karena putus cinta. Tampaknya Richard pun memikirkan hal yang sama. Ia tahu bagaimana kesedihan yang dirasakan Rama sekarang. Rama kecewa dan terpuruk.
"Dia pasti mengambil keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Anak itu memang selalu begitu," komentar Richard, ia lalu melanjutkan. "Kamu jangan sedih, Rama, aku tahu bagaimana sifat putriku. Apa mau aku bantu untuk membuatnya kembali padamu?" tanya Richard.
Rama yang sejak tadi menundukkan wajah dengan sedih, seketika mengangkat wajahnya. Kedua matanya berbinar. Ia terlihat senang. "Anda bersedia membantuku. Itu Berarti Anda benar-benar menyetujui hubungan kami?" pekik Rama.
__ADS_1
Richard terkekeh. "Tentu, Rama. Sejak awal aku sudah menyukaimu, tapi kan tidak mungkin jika aku yang menikah denganmu," ujar Richard, mencoba untuk membuat lelucon agar suasana tidak terlalu tegang.
Seisi ruangan tertawa mendengar ucapan Richard, tidak terkecuali Rama yang sejak semalam hatinya diselimuti oleh mendung.
"Tapi ini agak sulit dan membutuhkan waktu lama. Kamu kan tahu seberapa keras kepalanya Tiffani. Meski demikian aku menjamin Tiffani akan segera kembali padamu," ucap Richard lagi, ia terdengar begitu yakin. Richard lalu beralih menatap Damar. "Damar, di mana Gracella sekarang?" tanya Richard.
"Gracella ... maksud Anda Grace sepupu Tiffani?" Damar balik bertanya.
"Ya, tentu. Kamu pikir Gracella siapa lagi. Hanya dia Gracella yang kumiliki."
"Dia masih di Amsterdam, Tuan. Ada apa? Kenapa tiba-tiba Anda menanyakannya?"
"Minta dia untuk datang," titah Damar.
Damar menghela napas. "Dia pasti tidak akan mau, Tuan, Anda tahu sendiri kalau dia itu--"
"Katakan padanya, aku akan memberikan satu buah rumah dan mobil untuknya. Dia pasti akan datang," ujar Richard, lagi-lagi berkata dengan penuh percaya diri. Senyum mengembang di wajahnya yang keriput, ia tahu benar bagaimana sifat Gracella yang mata duitan. Mungkin Gracella masih marah padanya, tetapi dengan sejumlah harta yang ia tawarkan, keponakannya itu pasti akan datang tanpa banyak bertanya.
Damar ikut gersenyum. Ia tahu apa yang akan Richard lakukan. Ia tahu rencana yang akan Richard jalankan untuk Rama dan Tiffani. Ia kemudian mengangguk. "Baik, Tuan, aku akan memintan Gracella untuk kembali ke Indonesia secepat yang ia bisa." Setelah mengatakan hal itu, Damar beralih menatap Rama. "Untuk sementara jadilah pengawas Tiffani, aku akan memberi tahu yang lain tentang kenaikan jabatanmu ini. Dan setelah itu aku akan menjelaskan kepadamu secara rinci apa yang harus kamu lakukan. Intinya adalah, mulai sekarang bersikap tegas dan cueklah pada Tiffani,"
"Tegas dan cuek, tapi, Pak Damar, mana bisa aku melakukan hal itu," ucap Rama. Ia memang tidak mungkin bersikap demikian ke Tiffani.
"Kenapa tidak mungkin? Kamu harus bisa, Rama. Kita lihat apa yang akan terjadi, apalagi setelah Grace datang." Damar dan Richard saling menatap sembari tersenyum.
***
Tiffani berada di dalam kamarnya, sedang bersiap untuk kembali ke rumah sakit bersama dengan Mona. Tiffani terlihat sibuk berdandan, sembari memerintahkan Mona untuk mencari pakaian terbaik yabg ia miliki lengkap.dengqn sepatu dan juga tas tangan.
"Aku mai yang merah muda, yang waktu itu kita beli di Paris," ucap Tiffani, yang masih sibuk memoles lipstik di bibirnya.
"Kenapa tidak?"
Mona mendengkus kesal. Ia bingung pada sifat Tiffani yang tidak pernah berubah. Bagaimana bisa Tiffani tidak belajar dari kesalahan yang sudah-sudah, bahwa pakaian seksi hanya akan membuat masalah.
"Ingat aoa yang terjadi saat terakhir kali kamu mengenakan pakaian yang sangat minim kain? Aku tidak mau hal seperti itu terjadi kembali," ujar Mina, yang merujuk pada tindakan tidak senonoh yang Darren lakukan pada Tiffani.
Tiffani terdiam. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Mona ada benarnya, tetapi di saat bersamaan ia juga ingin membuat Rama terpesona padanya.
"Baiklah, yang lain daja kalau begitu," ujar Tiffani, setelah beberapa saat.
Mina mengangguk dan mulai memilihkan setelan yang pas untuk Tiffani. Setelah beberapa saat memilih, akhirnya pilihan Mona jatuh pada sebuah dress selututberwarna navy yang akan tampak bagus di kulit Tiffani yang seputih susu.
"Ini aku rasa akan sangat bagus kamu kenakan," ujar Mona, sambil menyerahkan dress tersebut ke Tiffani.
Tiffani mengangguk setuju, dan segera bangkit berdiri untuk berganti pakaian.
"Apa Rama sudah ada di luar kamarku?" tanya Tiffani.
Mona menggeleng. "Entahlah. Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak."
"Huh, dia itu sok sekali. Baru juga beberapa jam Pak Damar menaikkan statusnya, dia sudah mulai berlagak."
__ADS_1
"Jangan asal bicara. Dia jadi seperti itu karena kamu memutuskannya tanpa alasan. Pria mana pun pasti akan marah dan berubah sikap, Tiffani, apalagi Rama bukan tipe pria yang suka mengobral cinta. Dia begitu setia dan perhatian. Apa kamu yakin tidak menyesal dengan keputusan yang kamu ambil? Kalau ada gadis lain yang menyukainya, bagaimana perasaanmu?" tanya Mona.
Tiffani yang telah selesai berganti pakaian dan berdandan tidak menjawab. Ia hanga diam saja sembari melangkah ke pintu keluar.
"Kamu tidak bisa menjawab?"
"Diamlah, Mona, aku sedang tidak ingin membahasnya," ujar Tiffani, sam bil membuka pintu dan segera keluar dari kamarnya yang mewah.
Begitu berada di luar kamar, Tiffani tampak kecewa karena Rama ternyata tidak ada di luar kamarnya.
"Dia tidak ada," gumam Tiffani tanpa sadar.
"Kamu harus terbiasa. Kan kalian sudah putus," ucap Mona.
Tiffani tidak menyahut pernyataan Mona. Ia melanjutkan langkah menyusuri koridor. Di dalam perjalanan menuju lantai bawah, Tiffani berpapasan dengan beberapa pelayan yang sibuk mondar-mandir sembari membawa barang-barang berwarna merah muda menuju kamar tamu yang berada di koridor yang sama dengan kamar Tiffani.
Tiffani berhenti tepat di depan kamar tamu tersebut, dan memperhatikan para pelayan yang sedang mengganti satu set bedcover dan tirai kamar dengan tirai yang baru berwarna merah muda,warna kesukaan Tiffani.
"Kenapa kamar ini dibersihkan?" tanya Tiffani, pada seorang pelayan yang kebetulan melintas di hadapannya.
"Eh, Nona, Anda tidak seharusnya ada di sini, karena kammi sedang membersihkan kamar ini. Saluran napas Anda bisa terkontaminasi oleh debu nanti.
Tiffani menggeleng. "Jangan berlebih, Bik, hanya debu tidak akan membuatku mati mendadak," ucap Tiffani, "Katakan saja, kenapa kamar ini dirapikan?'
"Apa Nona belum tahu kalau kita akan kedatangan penghuni baru di rumah ini?" ucap si pelayan.
Tiffani terlihat bingung, begitu juga dengan Mona, karena ia belum mendengar kabar jika mereka akan kedatangan tamu.
"Penghuni baru? Siapa?" tanya Tiffani lagi, yang terlihat semakin penasaran.
"Nona Gracella. Sepupu Nona Tiffani yang sangat cantik dan pintar menari ballet itu akan datang ke sini. Mungkin besok, dan dia akan tinggal di sini bersama dengan Anda dan juga Tuan Richard." Si pelayan menjelaskan dengan singkat.
Mendengar akan adanya penghuni baru di rumahnya membuat Tiffani terkejut, tetapi saat mendengar bahwa Gracella yang akan datang, bukan hanya terkejut, tetapi rasanya Tiffani akan mati saat ini juga.
"Tiffani." Mona bergumam sambil menyentuh bahu Tiffani yang masih diam bagai patung. Mona tahu bahwa Tiffani dan Gracella tidak pernah akur. Saat bertemu, kedua saudara sepupu itu akan menjadi seperti kucing dan tikus, apalagi saat keduanya tinggal bersama nanti.
Tiffani yang telah berhasil mengatasi keterkejutan pun kembali mengajukan pertanyaan pada si pelayan. "Kenapa dia datang?" tanya Tiffani
Si pelayan menggeleng. "Entahlah, Nona, saya tidak tahu. Pak Damar hanya meminta kami.meraoikan kamar dan membuatnya menjadi serba merah muda seperti kamar Anda, karena Gracella akan datang. Hanya itu yang Pak Damar katakan."
Tiffani mengepalkan tangan, hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya.
"Om Damar," geramnya. Kenapa pria tua itu terus membuat masalah di dalam hidupku. Sial sekali!"
Setelah mengatakan hal itu, Tiffani langsung masuk ke dalam kamar tamu dan menarik tirai yang baru saja terpasang hingga terlepas. Ia juga menarik seprai, bedcover, penutup lampu tidur hingga semuanya menjadi berantakan.
Tidak ada satu pun pelayan yang ada di kamar itu berusaha untuk menghentikan tindakan barbar Tiffani. Mereka hanya menonton dengan wajah ketakutan, karena mereka jarang sekali melihat Tiffani mengamuk seperti saat ini.
Setelah semuanya menjadi berantakan, Tiffani berucap dengan suara yang cukup keras, "Jangan ada yang berani merapikan semua ini. Pokoknya jangan ada yang berani!" seru Tiffani, lalu segera keluar dari kamar, diikuti oleh Mona yang terlihat terkejut akan tindakan Tiffani.
"Kendalikan dirimu, Tiffani," pinta Mona.
__ADS_1
"Tidak bisa. Om Damar sudah keterlaluan. Untuk apa dia menyambut kedatangan Gracella. Aku akan tanya langsung padanya, atas alasan apa si Grace itu datang. Aku juga akan bilang kalau aku tidak akan mengizinkan Grace menginjakkan kaki di rumahku. Dia bisa tinggal di hotel kan, tidak harus di rumahku! Pokoknya aku akan keluar dari rumah kalau sampai Gracella tinggal di sini."
Bersambung.