My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
BURHAN LUBIS KEMBALI


__ADS_3

Tahun-tahun memang telah berganti, seperti halnya detik yang berganti menit. Menit yang berganti jam, hingga jam yang berganti hari. Jarum jam terus berputar, berdetak pelan tetapi pasti, mengganti hari ini ini dengan hari yang baru saat tiba jarumnya melewati angka dua belas ketika matahari sedang bersembunyi.


Kebanyakan orang akan menyambut hari yang baru dengan penuh suka cita, melupakan hari kemarin atau menyimpan kenangan hari itu pada sisi lain kepala mereka. Namun, tidak semua orang melakukan hal itu. Ada beberapa orang yang tidak berusaha untuk melupakan kejadian yang telah lalu, terutama jika kejadian itu adalah kejadian yang melukai harga diri mereka. Orang-orang seperti itu membiarkan kenangan buruk mengambang di kepala mereka, menguasai pikiran mereka setiap detiknya hingga rasa sakit yang mereka rasakan dari kejadian tersebut semakin bertambah, bukannya berkurang apalagi menghilang.


Burhan Lubis, adalah salah satu dari sekumpulan orang yang membenci keluarga Raendra. Tidak peduli jika Richard Raendra telah berpulang menghadap Tuhan, dendam yang ia simpan toh masih bisa ia lampiaskan pada putri Richard, yaitu Tiffani.


Senyum licik tersinggung di bibir Burhan yang hitam dan tebal saat ia membaca jadwal bisnis Tiffani. Tangannya yang bengkok karena pernah dipatahkan oleh Rama bertahun-tahun lalu kini mengusap-ngusap selembar kertas putih yang ada di atas meja di hadapannya.


"Distrik EL 33," gumamnya, "Kartel narkoba terbesar ... Andrew ... Meksiko ... pelabuhan. Ck, dia melakukan semua ini seorang diri. Luar biasa, andai putriku sama bergunanya seperti dia." Burhan meludah ke samping, tepat mengenai sepatu seorang bodyguard bertubuh tinggi dengan tato yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.


"Tiffani juga memimpin penyelundupan senjata api jenis AK-103--"


"Buatan Rusia." Burhan memotong ucapan bodyguard-nya. "Bukankah senjata api jenis itu tidak terlalu elite, untuk apa Tiffani membuang-buang waktu mengurus permintaan yang aku rasa tidak terlalu menguntungkan baginya," lanjut Burhan.


Si bodyguard yang bernama Renand menjawab, "Permintaan tinggi, Tuan, dan Tiffani mendapat penawaran yang bagus dari segi harga."


Burhan tertawa. "Sialan! Dia pandai berbisnis seperti ayahnya." Burhan bangun dari singgasananya, lalu ia melangkah menuju jendela yang ada di sudut ruangan. Jendela berukuran besar dengan bingkai yang keropos karena termakan usia dan juga tidak terawat. "Atur pertemuanku dengan Andrew sekarang juga sebelum si Tiffani itu bertemu dengannya," titah Burhan.


Renand mengangguk patuh, dan segera keluar dari ruangan untuk menghubungi Andrew, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu yakin Andrew akan setuju untuk bertemu dengan Burhan. Memangnya siapa Burhan? Jika dibandingkan dengan Tiffani, jelas sekali jika Burhan hanyalah seekor kecoak sekarat di mata Andrew.


***


Rama menghentikan mobilnya di taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Dari taman tersebut Rama dan Tiffani bisa berjalan kaki sejauh beberapa blok untuk tiba di kantor.


Sebenarnya menghentikan mobil di taman bukanlah gagasan yang bagus, mengingat kejadian beberapa hari lalu Tiffani hampir kehilangan nyawa karena seorang penembak runduk yang kurang ajar, tetapi jika dipikirkan lagi, siapa pun yang sedang mengincar Tiffani tidak akan pernah memperhitungkan jika Tiffani menghabiskan waktu di taman sepagi ini, apalagi Tiffani adalah wanita karir yang super sibuk.


Rama membuka laci dashboard, meraih senjata api miliknya, memastikan pelurunya terisi penuh sebelum ia mengantongi senjata api itu, dan selanjutanya adalah sesi untuk membangunkan Tiffani. Bagian ini adalah bagian yang paling Rama suka.


Rama memiringkan kepalanya agar wajahnya dapat mencapai wajah Tiffani dengan mudah, ia lalu mendaratkan bibirnya di bibir Tiffani, memainkan indra perasanya di sana hingga Tiffani terbangun.


Rama tersenyum saat kedua mata Tiffani perlahan terbuka. Namun, Rama tidak menghentikan ciumannya, karena Tiffani sekarang ikut berpartisipasi. Tiffani menyentuh bagian belakang kepala Rama, menekan kepala Rama pada wajahnya sekeras yang ia mampu dan melu-mat bibir Rama dengan rakus hingga napas keduanya memburu.


Percikan api gairah mulai terasa, dan di saat itulah keduanya saling memisahkan diri, karena jika tidak bisa-bisa beberapa menit dari sekarang akan heboh pemberitaan di media sosial tentang mobil bergoyang di tempat umum.


Tiffani menyentuh dadanya sambil mengatur napas, berusaha untuk meredakan nafsu yang menggelantung di dalam dadanya dan mendesak untuk diakhiri dengan sempurna.

__ADS_1


"Seharusnya kita menyelesaikannya dengan sempurna," ujar Tiffani.


Rama tersenyum. "Di sini?"


Tiffani mengangguk. "Bisakah?" tanyanya penuh harap.


Rama tertawa, tangannya terulur menyentuh wajah Tiffani. "Tidak, Sayang. Banyak anak kecil yang melihat." Rama menunjuk keluar mobil, di mana banyak anak-anak yang bermain-main di tengah-tengah taman. Ada yang saling melempar bola, ada pula yang sekadar duduk-duduk sambil menyantap es krim. Ya, es krim di hari yang masih lumayan pagi.


Dahi Tiffani berkerut saat ia menyadari jika ia dan Rama tidak berada di parkiran kantor sekarang, tetapi di taman.


"Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Tiffani.


Rama tidak langsung menjawab, ia meraih tangan Tiffani dan mengecup punggung tangan wanita itu berulang kali.


"Aku rasa tidak ada salahnya jika kita bersantai sejenak. Dan menurutku merubah rute harianmu akan membuat keselamatanmu lebih terjamin. Tidak ada yang akan mengira kalau seorang Tiffani Raendra mampir ke taman sebelum berangkat ke kantor," ujar Rama.


Tiffani membalas senyum memesona di bibir Rama, lalu ia memeluk Rama. "Kamu memang yang terbaik. Ide ini bahkan tidak pernah terpikir olehku. Terima kasih."


Rama mengusap punggung Tiffani. "Sejujurnya ide itu hanyalah alasan, yang sebenarnya adalah aku ingin berduaan dengan majikanku pagi ini."


"Dasar bodyguard nakal," ujar Tiffani, mencubit kedua pipi Rama dengan gemas. "Ayo kita turun dan makan es krim," ujar Tiffani lagi, dan segera keluar dari mobil.


"Hah, es krim," gumam Rama.


Rama menghela napas sebelum menyusul sang istri yang terlihat antusias menghampiri seorang pedagang es krim di tepi taman.


Suasana taman saat ini begitu ramai. Orang-orang yang baru saja menyelesaikan lari pagi mereka memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, melainkan bersantai di taman sambil bercanda dengan sekelompok teman. Walaupun hari masih pagi, tetapi pedangang es krim sudah berjejer menawarkan dagangannya, seolah mereka semua sudah menebak bahwa es krim tetap diminati bahkan di pagi hari sekali pun.


"Sebenarnya aku tidak berniat untuk mentraktirmu makan es krim, Sayang, aku hanya ingin kita duduk-duduk saja di sini. Mana boleh kamu makan es krim pagi-pagi begini," bisik Rama di telinga Tiffani, saat ia telah berdiri di samping wanita itu.


Tiffani tidak memedulikan ucapan Rama, ia masih sibuk memperhatikan es krimnya yang sedang diolah. Beberapa saat kemudian es krim pesanan Tiffani telah siap. Tiffani menerima dua cup es krim berukuran besar sambil mengucapkan terima kasih.


"Dia yang bayar, Pak," ucap Tiffani pada si penjual sambil melirik ke Rama, setelah itu ia beranjak dari hadapan Rama yang tidak berdaya.


Rama mengeluarkan dompet dan membayar menggunakan uang pecahan seratus ribuan. "Ambil saja kembaliannya, Pak," ucap Rama, lalu segera menyusul Tiffani yang sudah duduk dengan nyaman di salah satu kursi taman.

__ADS_1


Tiffani baru saja akan menyuapkan satu sendok penuh es krim ke dalam mulutnya ketika Rama datang dan tiba-tiba merebut sendok es krim Tiffani dan memasukan es krim itu ke dalam mulutnya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan? Itu kan punyaku," gerutu Tiffani dengan wajah cemberut seperti seorang anak kecil.


Rama tidak langsung menjawab, ia bergidik menahan dingin yang menyerang gusinya. Setelah rasa dinginnya mulai mereda barulah ia menjawab protes yang diajukan Tiffani.



"Apa pun yang kamu makan, harus kucicipi terlebih dahulu," ujar Rama, singkat.


"Kenapa begitu? Bagaimana kalau ada racunnya?" protes Tiffani lagi.


"Itulah sebabnya aku harus mencicipinya terlebih dahulu. Karena kamu adalah prioritas." Rama menjawab.


Apa yang Rama katakan membuat Tiffani mengingat kejadian bertahun-tahun lalu saat Rama selalu mengatakan bahwa dirinya adalah prioritas. Saat itu semua yang Tiffani makan harus dicicipi oleh bodyguard yang menjaga Tiffani, seolah hanya nyawa dirinya sendiri yang penting, sedangkan nyawa para bodyguard tidak penting sama sekali, dan Tiffani sangat tidak menyukai konsep itu, konsep di mana dirinya adalah prioritas.


Tiffani menyentuh kedua pipi Rama, lalu menghadapkan wajah Rama ke wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rama, yang terlihat bingung.


Tiffani menatap Rama dengan wajah kesal, kemudian ia berkata, "Kembalikan es krimku! Aku tidak akan membuatmu keracunan seorang diri"


"Mana bisa, kan sudah aku telan," ujar Rama. "Makan saja yang ada di cup, sepertinya tidak ada racunnya."


Tiffani menggeleng. "Belum semua. Masih ada yang tersisa di sudut bibirmu."


Kedua mata Rama membelalak. Ia tahu maksud Tiffani.


"Jangan, Tiffani, di sini banyak ...." Rama tidak dapat menyelesaikan ucapannya, karena mendadak saja Tiffani mengecup bibirnya untuk waktu yang begitu lama. Rama bahkan dapat merasakan indra perasa Tiffani yang sedang membersihkan es krim di sudut bibirnya.


(Momen lagi di taman 😍)



__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2