
Rama tidak menolak saat Tiffani tiba-tiba saja menciumnya di hadapan Gracella. Ia senang, apalagi saat Tiffani mulai melingkarkan tangan di pinggangnya dan memeluknya dengan begitu erat. Rasanya sudah lama sekali ia dan Tiffani tidak melakukan kontak fisik, hingga Rama merasa sangat merindukan Tiffani.
Setelah berciuman selama beberapa menit, Tiffani pun akhirnya menjauhkan diri dari Rama dan langsung menatap Gracella yang ada di depannya.
"Aku membiarkan Rama pergi bersamamu, bukan berarti aku akan memberikannya padamu seperti saat aku memberikan Dylan padamu secara sukarela saat itu. Aku mengizinkan Rama pergi denganmu hanya karena pekerjaan, tidak lebih. Jadi, jangan berani macam-macam, apalagi sampai berani menggodanya. Kalau sampai aku melihat gelagat aneh di dirimu, aku tidak akan segan-segan untuk mene-mbak kepalamu. Aku serius!" Tiffani memberi peringatan keras pada Gracella agar Gracella tidak berani macam-macam pada Rama.
Setelah mengatakan hal itu pada Gracella, Tiffani beralih memandang Rama. Ia menyentuh wajah Rama dan kembali mendaratkan kecupan singkat di kedua pipi pria itu. "Selamat bekerja. Sampai jumpa," ujarnya, lalu melenggang pergi dari hadapan Rama dan Gracella dengan kedua pipi yang merona karena malu.
Sebenarnya Tiffani enggan melakukan hal kekanakan seperti yang baru saja ia lakukan. Namun, Tiffani merasa jika ia harus mengambil tindakan cepat dan pasti sebelum Gracella benar-benar merebut Rama darinya.
Rama menyentuh kedua pipinya sembari menatapnya punggung Tiffani yang bergerak menjauh. Bibirnya yang seksi tersenyum manis ketika ia kembali mengingat apa yang baru saja Tiffani lakukan padanya. Melihat senyum lebar di wajah Rama, Gracella menjadi kesal. Ia kesal karena lagi-lagi Tiffani memiliki sesuatu yang tidak bisa ia miliki.
"Kamu sungguh berpacaran dengannya?" tanya Gracella, setelah beberapa saat ia membiarkan Rama tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras.
Rama mengangguk. "Kami bahkan sudah merencanakan pernikahan."
Mendengar jawaban Rama yang sangat tidak terduga, Gracella menjadi sangat kecewa. Ia memang sudah menebak pasti ada sesuatu yang tidak biasa antara Tiffani dan Rama, tapi ia tidak menyangka jika hubungan keduanya seserius itu.
"Padahal dia bukan wanita yang baik untukmu." Gracella berkomentar, sambil mendelik ke Rama. Jelas sekali ia tidak suka pada kenyataan bahwa Rama adalah kekasih dan calon suami Tiffani.
Rama tersenyum. "Tidak ada manusia yang sempurna. Akan menjadi sangat sulit dan melelahkan jika ingin mencari pasangan yang benar-benar baik. Cinta adalah tentang memberi dan menerima, benar bukan?" ujar Rama, menanggapi perkataan Gracella tentang Tiffani.
"Entahlah. Bagiku cinta adalah tentang **** dan ****, hanya itu."
Rama terdiam, ia tidak menyangka jika Gracella akan seterus terang itu padanya.
***
Tiffani mondar-mandir di dalam perpustakaan bersama dengan Sela dan Mona, mereka berdua sedang sibuk berdiskusi tentang bagaimana caranya agar dapat membalas perbuatan Darren yang begitu kurang ajar.
Brak!
__ADS_1
Mona menggebrak meja yang ada di hadapannya sembari berseru. "Dasar kurang ajar. Tes DNA katanya! Bagaimana mungkin dia meminta dilakukan tes DNA pada bayi yang lahir saja belum. Apa dia meminta Tiffani untuk membelah perut agar dapat melakukan tes yang dia maksud itu! Dasar gig-olo sialan! Lihat saja, kalau sampai aku bertemu dengannya, aku pasti akan langsung menghantam wajahnya yang sok tampan itu dengan alat pemukul nyamuk!"
Jika Mona terlihat begitu emosi, tidak demikian dengan Sela. Sela terlihat lebih tenang, walaupun ia juga tidak terima karena apa yang Darren minta sama saja dengan menghina Tiffani, seolah Tiffani telah tidur dengan beberapa pria.
"Sebenarnya tes semacam itu memang ada di dunia medis," ujar Sela.
"Sungguh?" tanya Tiffani dan Mona berbarengan.
Sela mengangguk. "Ya."
"Aku belum pernah dengar, memangnya kamu tahu dari mana?" tanya Mona lagi, yang masih tidak percaya jika tes DNA dapat dilakukan oleh bayi yang belum lahir.
"Pengasuhku yang mengatakan padaku. Karena saat aku masih di dalam perut ibuku, ayahku pun sibuk ingin melakukan tes DNA."
"Hah, serius?" Tiffani dan Mona terlihat sangat terkejut.
"Suami macam apa yang meminta istrinya untuk melakukan tes DNA," ujar Tiffani yang masih tidak habis pikir.
"Apa ibumu pernah berselingkuh?" tanya Mona.
"Maafkan aku. Aku kan cuma menebak," gerutu Mona.
"Ayo kembali ke topik utama, nanti saja kita bahas masalah ayah Sela yang agak aneh itu." Tiffani menyela, kemudian menatap Sela lekat-lekat, berharap Sela dapat memberikan penjelasan agar ia mengerti.
Sela menegakkan duduknya, kemudian ia mulai menjelaskan pada Tiffani dan Mona yang terlihat sangat penasaran. "Tes DNA pada janin yang masih berada di dalam kandungan bisa dilakukan dengan tiga cara, pertama dengan cara tes paternitas prenatal noninvasif, lalu bisa juga dengan pengambilan sampel CVS, dan yang ketiga bisa dengan cara amniosentesis. Semuanya bisa dilakukan sejak kehamilan berusia sepuluh minggu, dan semuanya bisa dilakukan tanpa harus membelah perut di ibu hamil." Sela mengakhiri penjelasannya.
Tiffani dan Mona menatap Sela dengan mata membelalak dan mulut yang terbuka lebar. Mereka tidak mengerti sama sekali dengan setiap ucapan Sela. Semua istilah-ustilah asing yang Sela katakan sungguh membuat Tiffani dan Mona menjadi bingung.
"Apa kamu mengerti?" tanya Tiffani pada Mona.
Mona menggeleng. "Sama sekali tidak."
__ADS_1
"Bagus! Itu berarti bukan aku saja yang bodoh, tapi kamu juga." Tiffani mengusap kepalanya sendiri dengan lega. Tiffani pikir hanya ia yang tidak mengerti tapi ternyata Mona pun sama saja,
Sela mengusap wajahnya dengan kasar. "Percuma saja aku jelaskan pada kalian."
Tiffani nyengir. "Maafkan aku, karena aku tidak sepintar dirimu, yang penting sekarang kita tahu kalau Darren berusaha untuk mengusikku dengan hal yang tidak penting."
"Jadi apa rencanamu sekarang, Tiffani? Jelas-jelas dia menghinamu," tanya Sela.
Tiffani mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. "Aku akan memberi dia pelajaran. Aku akan--"
"Aku akan menghajarnya!"
Tiffani, Mona, dan Sela terkejut karena Rama tiba-tiba saja muncul di ambang pintu perpustakaan, dan langsung menyela obrolan mereka.
"Izinkan aku menghajarnya," ujar Rama lagi, sambil terus melangkah hingga tiba di hadapan Tiffani dan teman-temannya.
Tiffani diam sejenak, ia tidak langsung menyetujui keinginan Rama, karena ia tidak ingin membuat Rama berada dalam bahaya dan juga repot karena dirinya.
"Katakan saja padaku di mana dia sekarang? Aku bodyguardmu, Tiffani, dan aku memiliki tugas untuk menjagamu dari orang-orang yang berusaha mengusik atau menghinamu." Rama kembali mengajukan pertanyaan dan mendesak Tiffani agar memberitahu di mana keberadaan Darren.
Tiffani tersentak, dan di saat bersamaan ponsel Tiffani berdering. Pada layar benda pipih tersebut terlihat nomor ponsel Darren yang ia beri nama Anjing Gila.
"Darren," gumam Tiffani.
Rama merebut ponsel dari tangan Tiffani, lalu langsung menerima panggilan yang sedang berlangsung, dan mengaktifkan pengeras suara agar Tiffani juga bisa mendengar apa yang Darren katakan.
"Temui aku di rumah sakit Pelita kasih besok siang. Jika kamu tidak datang, aku yang akan datang menjemputmu dengan paksa," ujar Darren dari seberang panggilan.
Tiffani menatap Rama sebelum menjawab apa yang Darren katakan. Ketika Rama mengangguk barulah Tiffani menjawab, "Oke, aku akan datang."
Setelah Tiffani menyetujui permintaan Darren, Rama langsung mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"Ah, kenapa tiba-tiba waktu berjalan sangat lambat, aku sudah sangat tidak sabar ingin menghajar sampah sialan itu besok!"
Bersambung.