
Bagai disambar petir, kabar yang baru saja Adam sampaikan membuat kedua lutut Tiffani menjadi lemas. Tubuhnya yang ramping pun goyah, dan hampir saja ia terjatuh andai Mona tidak menahan tubuhnya tepat waktu.
Wajah Tiffani yang begitu pucat cukup untuk mengetahui bahwa keadaan Tiffani sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dengan tangan yang gemetar Tiffani meraih ponsel dan headset bluetooth dari tangan Adam. bercak darah di permukaan headset itu, yang diyakini sebagai darah Rama membuat tubuh Tiffani bergidik. Mendadak perutnya bergolak, dan kepalanya menjadi sangat sakit. Ia mulai menebak-nebak separah apa luka yang Rama alami, dan darah di headset itu berasal dari bagian tubuh Rama yang mana. Membayangkan itu semua membuat Tiffani merasa mual dan hendak pingsan.
"Bagaimana ini, Mon, dia menghilang. Suamiku menghilang," lirih Tiffani, yang mulai terisak hingga tubuhnya gemetar tak keruan.
Mona mengusap lengan Tiffani, lalu ia beralih memandang Adam yang merupakan suaminya. "Kita harus memberitahu semua ini pada Xavier," ujarnya. "Kita harus mencari keberadaan Rama secepat mungkin."
"Itu juga yang terpikirkan olehku. Aku akan menemui Xavier, apa dia ada?" tanya Adam pada Mona.
"Ya, dia ada di halaman belakang. Beberapa waktu lalu aku melihatnya sedang latihan menembak."
Setelah mendengar jawaban Mona, Adam segera berlari secepat yang ia bisa menuju halaman belakang, sementara Tiffani sibuk memelototi Rei dan bodyguard lainnya.
"Andai kalian menuruti permintaanku untuk menyusul Rama begitu kalian tiba di kantor, semua ini pasti tidak akan terjadi. Rama pasti masih ada di sini sekarang jika kalian membantunya tepat waktu. Kalian tega sekali, kalian kejam sekali, aku ... aku memecat kalian semua. Enyahlah. Eyahlah dari hadapanku!" teriak Tiffani.
Semua bodyguard yang ada di hadapan Tiffani tersentak, mereka terlihat begitu panik dan merasa bersalah. Namun, tidak dengan Mona. Mona tahu jika apa yang Tiffani ucapkan hanyalah karena emosi sesaat. Mana mungkin Tiffani memecat semua bodyguard yang ada di tim utama, toh sebagian besar anggota tim utama adalah bodyguard yang terlibat dalam misi penyelamatannya beberapa tahun lalu saat ia disekap di sebuah pulau bernama Love Island.
"Maafkan kami, Nyonya, maafkan kami. Kami akan ikut dalam misi menyelamatkan Rama, itu adalah misi terakhir kami, dan setelah itu kami akan pergi sesuai perintah Anda," ucap Rei, yang disambut dengan anggukan oleh anggota tim lainnya.
Tiffani menatap semua bodyguard dengan tatapan nanar, kemudian ia berteriak, "Terserah kalian!"
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Tiffani segera berbalik dan pergi meninggalkan Rei juga bodyguard lainnya.
Mona menatap kepergian Tiffani yang kini telah menghilang di belokan yang menuju ke teras. Sebelum ia menyusul Tiffani, Mona berujar pada Rei dan semua bodyguard. "Jangan kalian anggap serius. Tiffani tidak mungkin memecat kalian semua. Dia hanya sedang kalut saat ini. Pergilah istirahat, aku yakin kalian butuh tenaga sebelum misi penyelamatan Rama di mulai."
***
Dor! Dor!
Adam menutup telinga dengan kedua tangan saat ia tiba di halaman belakang. Ia langsung mengeluh begitu melihat Xavier yang asyik membuat keributan dengan senjata api.
__ADS_1
"Hai, Tuan Xavier yang terhormat, bisa minta waktunya sebentar, hah?" teriak Adam, saat Xavier sedang beristirahat untuk mengisi kembali pelurunya.
Mendengar teriakan Adam, Xavier menoleh ke belakang. Ia lantas segera melepas penutup telinga dan meletakan glock di atas meja yang ada di dekatnya, di mana ia meletakkan jaket ponsel, dan headset bluetooth miliknya juga.
"Hai, Gendut, ada apa?" Xavier balas berteriak.
Adam menghampiri Xavier sambil menggerutu saat ia mendengar teriakan Xavier yang lagi-lagi mengatai dirinya gendut.
"Pelaku body shaming dapat dipenjarakan," ucap Adam, begitu ia telah tiba di hadapan Xavier.
Xavier tertawa. "Jadi, kamu ingin memenjarakanku?"
"Tidak sekarang, tapi Kapan-kapan pasti akan kulakukan," ucap Adam dengan kesal, setelah itu ia melanjutkan. "Ada hal penting yang harus aku katakan padamu."
Xavier meninju perut Adam yang menyembul, kemudian ia bertanya, "Apa? Hal penting apa yang ingin kamu katakan padaku?"
"Xavier, Rama diculik, dan kita harus segera menyelamatkannya," ucap Adam.
Mendengar apa yang baru saja Adam katakan membuat wajah Xavier menegang. Dahinya mengernyit, bibirnya terkatup rapat, dan kedua matanya menyipit. Namun, ekspresi itu hanya bertahan sementara, tidak sampai dua menit bahkan, karena menit berikutnya Xavier malah tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu tertawa, hah?" tanya Adam. "Apa ada yang lucu?"
Xavier tidak langsung menjawab, ia mengusap sudut matanya yang berair terlebih dahulu sebelum menanggapi pertanyaan Adam.
"Kamu bercanda? Rama diculik adalah kabar yang paling mustahil untuk didengar. Dia jagoan, siapa yang bisa melumpuhkannya dan membawanya pergi begitu saja. Jangan membuat lelucon yang tidak berbobot, Adam, dan segeralah pergi, kamu mengganggu latihanku saja," titah Xavier, sambil menendang tulang kering Adam.
Adam meringis, lalu membalas tendangan dari Xavier. "Kamu tidak percaya? Tanya saja pada Tiffani kalau kamu tidak percaya padaku."
Xavier mengusap tulang keringnya yang terasa nyeri karena tendangan dari Adam, dan saat ia ingin membalas, suara seorang wanita menghentikannya.
"Xavier! Vier bantu aku, tolong bantu aku."
__ADS_1
Tiffani tiba di hadapan Xavier dengan wajah yang basah karena air mata. Kedua mata Tiffani terlihat merah dan bengkak, begitu juga dengan hidung mancungnya yang semerah tomat.
"Ada apa, Tiffani?"tanya Xavier, yang sekarang terlihat lebih serius daripada sebelumnya.
"Ini. Lihat ini." Tiffani menyerahkan headset bluetooth dan ponsel milik Rama ke Xavier. "Semua ini milik Rama, dan darah ini ... darah yang ada di headset ini pun adalah darah Rama. Dia menghilang, Vier. Dia menghilang."
Xavier menatap Adam dan Tiffani bergantian, lalu ia mengamati dua benda yang ada di tangannya. Ia tidak percaya jika Rama menghilang, karena hal itu sangat tidak mungkin. Ia masih berharap jika Adam hanya membuat lelucon. Namun, melihat tangisan Tiffani rasanya tidak mungkin jika semua yang ia dengar hanyalah lelucon semata.
"Kamu percaya padaku sekarang?" tanya Adam, sambil memelototi Xavier.
Xavier tidak menjawab. Ia masih sibuk memandangi headset dan ponsel di tangannya.
"Ceritakan padaku dengan lebih detail," pinta Xavier pada Adam dan Tiffani.
Tiffani mengangguk, lalu mengusap air matanya. "Ada seseorang yang menembak ruanganku pagi tadi. Kaca jendela pecah, tapi untunglah Rama dan aku tidak terkena peluru itu."
"Menembak ruanganmu? Mereka menembak dari luar?" Xavier bertanya.
Tiffani mengangguk. "Rama bilang padaku kalau yang menembak pastilah penembak runduk, dan Rama menebak kalau penembak runduk itu mengawasi kami dari gedung percetakan yang ada di dekat gedung perkantoranku."
"Lalu ... teruskan, Tiffani." Xavier mendesak, saat Tiffani berhenti menjelaskan dan malah menangis.
"Rama meminta Rei dan yang lainnya datang untuk melindungiku, sementara dia sendiri pergi ke gedung percetakan untuk mencari si penembak. Dan, saat tim menyusul Rama, hanya itu yang tersisa." Tiffani memandang ponsel dan headset milik Rama.
Setelah mendengar penjelasan Tiffani, Xavier langsung mengenakan kembali jaketnya, mengantongi ponsel, dan memasang headset di telinganya, kemudian ia berkata pada Adam, "Minta tim berkumpul di markas. Siapkan senjata, dan aku perlu seseorang untuk menyadap semua rekaman cctv di gedung percetakan itu, bahkan kamera cctv di jalan-jalan juga. Periksa juga semua tawanan kita semalam di gudang, apakah ada salah satu dari mereka yang berkomunikasi dengan orang lain di luar gudang, mungkin mereka memiliki sesuatu yang bisa mereka jadikan alat komunikasi, sejenis sandi morse atau apalah."
"Aku laksanakan!" seru Adam, lalu segera berlari menuju markas yang ada di halaman depan untuk mengumpulkan tim utama dan senjata mereka,
Xavier kemudian menatap Tiffani lekat-lekat. "Istirahatlah, aku akan minta Gracella menemanimu. Jangan lakukan apa pun tanpa mengabariku atau tanpa perintah dariku. Pokoknya diam saja di sini, biar aku yang mencari Rama dan menyelesaikan semua kekacauan ini."
Tiffani mengangguk. "Tolong selamatkan dia."
__ADS_1
"Pasti, Tiffani, pasti."
Bersambung.