My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Dialah Valerie


__ADS_3

Mendengar perkataan Brian, semua orang terkejut, begitu pula Valerie.


Kemarahan serta rasa kesal tidak bisa disembunyikan oleh orang tua Brian sekaligus orang tua Elena, mereka nampak sangat geram dengan sikap Brian yang dianggap tidak sopan.


"Brian, apa maksudmu? Jangan gila!" seru Rossa, Mama Brian.


"Jangan mempermalukan kami!" hardik Calvin.


"Tidak, Ma, Pa. Sudah aku katakan sejak awal jika aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun, aku akan memilih sendiri wanita yang aku cintai," jawab Brian tenang. Ia paham kedua orang tuanya marah, namun ia tidak mau menghabiskan seluruh hidupnya hanya demi kesenangan mereka.


Sebagai orang tertua, Theo berusaha memberi pengertian pada kedua orang tua Brian. Ia sendiri tidak akan memaksa jika Brian memang tidak bisa menerima perjodohan ini.


"Semua bisa dibicarakan baik-baik, Tuan Calvin. Mungkin Brian memang belum mengenal Elena, wajar jika ia menolak," ujar Theo berusaha menenangkan Calvin.


Sementara Elena sendiri, hanya bisa diam dengan wajah merah padam. Ia merasa di permalukan, ia kesal dan merasa tidak terima karena Brian menolaknya mentah-mentah.


"Kalian bisa berkencan beberapa kali sebelum memberi keputusan. Sepertinya itu akan membangun hubungan kalian agar bisa saling mengenal satu sama lain. Bukankah begitu, Elena?" wanita paruh baya di samping Elena berusaha bersikap tenang. Ia adalah Delia, mama Elena.


"Tentu saja," jawab Elena.

__ADS_1


"Benar, kalian harus pergi berkencan. Bahkan jika perlu, kami akan menyiapkan liburan untuk kalian ke luar negeri," sela Calvin.


"Tidak, Pa. Maafkan aku, aku mencintai wanita lain," tolak Brian. Ia kembali menegaskan bahwa hatinya telah berlabuh pada wanita lain yang tidak ia sebutkan namanya.


"Brian!" seru Calvin. Tamparan keras mendarat di pipi Brian.


Melihat hal itu, Valerie dan Max meringis. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.


"Silahkan keluar dari rumah ini." Damian berdiri, rasa sabarnya sudah habis. Ia merasa keluarga Brian hanya mempermalukan putrinya.


"Damian, tenangkan dirimu," tegur Theo. Sebagai orang tertua, ia sendiri tidak yakin dalam hal perjodohan. Karena setiap orang berhak menentukan pilihan.


"Papa," lirih Elena.


Brian mengamati situasi yang semakin buruk. Laki-laki itu dengan santai menanggapi setiap kalimat yang terlontar padanya.


"Kalau begitu saya pamit. Permisi," ucap Brian. Ia berjalan meninggalkan kursinya mendekati Max dan Valerie.


Semua orang di ruang makan hanya bisa melongo menatap kepergian Brian. Laki-laki itu memang tegas dalam bersikap dan berpendirian dalam mengambil tindakan. Namun dalam hal ini, Brian di anggap tidak sopan.

__ADS_1


Brian, Max dan Valerie keluar dari rumah itu bersama-sama. Tanpa di duga, kedua orang tua Brian menyusul mereka.


Calvin nampak sangat marah, sementara istrinya hanya bisa menangis melihat tingkah anak semata wayangnya.


Perjodohan ini sudah di rencanakan jauh-jauh hari. Kedua keluarga merupakan pengusaha besar serta jajaran orang-orang terkaya di negara ini. Pernikahan mereka akan sangat menguntungkan dari segala sisi. Namun bagi Brian, menikah adalah hidup dan mati bersama dengan orang yang ia cintai, bukan hidup dan mati demi keuntungan dan kekayaan.


"Brian, berhenti!" teriak Calvin. Ia setengah berlari menyusul putranya.


Brian berbalik, ia meminta Max untuk membawa Valerie masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


"Apa yang kau inginkan, Brian? Apa ini adalah balas budimu atas semua yang kami lakukan?" tanya Calvin.


"Papa, sudah aku tegaskan sejak awal. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan kalian, aku bekerja keras mengelola perusahaan demi kesuksesan keluarga kita. Apa itu belum cukup? Aku mohon jangan pernah memaksaku menikah dengan wanita manapun hanya demi keuntungan!"


"Siapa wanita itu, Brian?" tanya Rossa dengan suara tangis yang tertahan.


"Valerie, wanita itu bernama Valerie."


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2