
Brian tidak terkejut, ia memahami kekesalan dan kemarahan kedua orang tuanya. Ia hilang tanpa kabar, mematikan alat komunikasi hingga tidak ada satupun orang bisa menghubunginya maupun melacak keberadaannya. Namun, Brian tidak menyangka jika kedua orang tuanya sampai datang ke rumah kos Valerie.
Dari dalam mobil, Valerie melihat kejadian itu. Tamparan itu memang mendarat di wajah Brian, namun Valerie turut merasakan sakitnya.
"Anak kurang ajar! Bagaimana bisa kau hilang tanpa kabar dan pergi dengan seorang wanita!" hardik Calvin.
"Papa, tenanglah," pinta Rossa.
"Ini, ini akibat karena kita terlalu memanjakannya, Ma. Dia semena-mena dan mengabaikan orang tuanya demi wanita murahan, wanita tidak jelas dan wanita rendahan sepertinya," ucap Calvin sambil menuding ke arah mobil Brian.
"Papa boleh marah padaku, Papa boleh memakiku bahkan memukulku. Tapi jangan sekali-kali menghina Valerie, Pa!" seru Brian. Tangannya mengepal erat, menahan emosi yang hampir memuncak.
"Memang kenyataannya begitu, Brian! Apa yang kau harapkan dari wanita sepertinya. Wanita-wanita seperti itu, hanya mendekatimu karena kau kaya, kau punya segalanya!"
"Berhenti mengatakan hal-hal buruk tentangnya, Pa. Jika tidak, Papa tidak akan pernah lagi melihatku!" ucap Brian.
__ADS_1
"Kau berani mengancam Papa? Papa ini orang tuamu!"
"Lalu Papa anggap apa aku ini? Aku ini anak Papa, anak kalian, Ma, Pa. Aku bukan robot yang bisa kalian atur sesuka hati kalian. Apa kalian pernah mengerti bahwa aku juga punya perasaan?" tanya Brian.
"Pa, cukup, Pa!" pinta Rossa. Namun Calvin seakan tidak peduli ia tetap bersitegang.
"Paman, kita sedang berada di tempat orang," sela Max sambil berbisik.
Keributan yang ditimbulkan oleh Calvin, mengundang perhatian orang-orang yang lewat, serta para tetangga yang mendengar suara keras laki-laki paruh baya itu. Max merasa cara ini sangat tidak pantas, seharusnya semua bisa dibicarakan baik-baik di tempat yang lebih pribadi.
"Untuk apa? Menikahi wanita yang tidak aku cintai? Aku tidak akan pernah melakukannya, Pa!" tegas Brian.
PLAK!!!
Sekali lagi, Calvin menampar Brian. Demi sebuah ambisi dan kekayaan, terkadang seorang ayah tega berbuat semena-mena dan mengabaikan harga diri anaknya. Seorang ayah yang seharusnya melindungi dan mengayomi, kadang dibutakan mata dan hatinya oleh gemerlapnya dunia.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya, Valerie tidak bisa menahan diri dan hanya menjadi penonton keributan di depan matanya. Wanita itu keluar dari mobil dan berjalan mendekat.
"Ini dia, ini. Wanita yang membuatmu gila!" seru Calvin sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Valerie.
"Papa!" sentak Brian.
"Apa kau akan rela kehilangan segalanya demi wanita ini, hah?" tanya Calvin.
Valerie terdiam. Hatinya memang teriris sakit saat orang tua dari orang yang ia cintai begitu membencinya karena perbedaan kasta. Namun demi menjaga perasaan Brian, Valerie tidak ingin berdebat dan membuat masalah menjadi semakin panas.
"Pulanglah," ucap Valerie sambil menggenggam tangan Brian.
"Hei, kau, wanita tidak tahu diri. Berani-beraninya kau mendekati anakku! Berapa uang yang kau butuhkan, hah? Aku akan membayarmu lebih banyak asal kau melepaskan anakku!" seru Calvin.
Lagi-lagi kalimat menyayat hati yang terlontar dari laki-laki paruh baya itu membuat Valerie sakit hati. Rossa hanya bisa menangis, ia tidak bisa menahan sang suami, namun juga tidak bisa membela anaknya ataupun Valerie.
__ADS_1
🖤🖤🖤