
Melihat bagaimana Brian bersikukuh untuk merebut hatinya, Valerie tentu saja merasa tidak tega. Lagi-lagi Brian akan kecewa jika Valerie menolaknya.
Bukan Valerie tidak suka dengan semua pemberian Brian, namun wanita itu tidak ingin di anggap sebagai wanita yang mudah menerima barang-barang mewah dari laki-laki yang bahkan tidak memiliki status hubungan yang jelas dengannya.
"Aku mohon, Valerie," pinta Brian. Ia meraih kedua tangan Valerie dan membuat wanita itu menggenggamnya.
"Baiklah," jawab Valerie lirih.
Brian tersenyum senang. Ia sama sekali tidak memiliki niat atau prasangka buruk terhadap Valerie. Ia hanya berniat untuk menyenangkan wanita itu dan menarik hatinya.
"Pikirkan dengan baik, aku tidak akan memaksa kau menerima cintaku. Tapi aku hanya berharap kau memberiku kesempatan, jangan terburu-buru untuk memberi jawaban," jelas Brian.
"Kenapa kau sangat menginginkanku, padahal ada banyak wanita yang pasti lebih baik dariku?" tanya Valerie.
"Cintaku tidak beralasan," jawab Brian singkat.
"Hmm." Valerie hanya bisa mendesah ringan. Laki-laki di sampingnya memang sulit ditebak.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka diam-diam. Seorang wanita yang sedang asik berkumpul bersama teman-temannya, merasa kesal melihat Brian duduk bersama Valerie. Namun, ia tidak cukup berani menghampiri Brian dan Valerie di tempat umum seperti saat ini.
Saat hari menjelang sore, Brian memutuskan untuk mengantar Valerie pulang ke rumah kosnya. Hari ini ia merasa sangat bahagia, terlebih ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya dalam berkencan.
"Besok kau akan ke rumahku?" tanya Brian. Mereka telah sampai di halaman depan rumah kos, dan Brian turun dari mobilnya untuk mengantar Valerie. Ia menurunkan semua hadiah yang sudah ia beli di mall untuk Valerie.
"Hmm." Valerie mengangguk.
"Bagaimana jika aku saja yang datang menjemputmu? Kau tidak perlu repot-repot ke rumahku."
"Aku bekerja padamu sesuai kontrak pekerjaan dan aku harus bersikap profesional. Bukankah tidak baik jika mencampuradukkan urusan hati dan pekerjaan?" Valerie balik bertanya. Ia tersenyum kecil.
"Hmm, sekarang pulanglah dan istirahat."
"Baik." Brian tersenyum kecut, padahal ia berharap Valerie memintanya untuk sekadar mampir sebentar lagi. Meskipun mereka sudah bersama sejak pagi, namun Brian masih merasa waktu mereka sangat kurang. Terlebih ia sudah menahan diri untuk tidak bertemu dengan Valerie selama dua hari, hal itu tentu sangat menyiksanya.
Selepas kepergian Brian, Valerie membawa masuk semua barang-barang yang telah Brian beli untuknya. Entah harus senang atau sedih, Valerie menatap setiap tas berisi gaun-gaun mahal di depan matanya.
__ADS_1
Semua gaun ini, nampak sangat mewah, akan sangat cocok jika dipakai dalam sebuah pesta atau acara makan malam yang romantis. Mengingat Valerie adalah wanita yang kemanapun harus mengendarai sepeda motor, rasanya tidak mungkin jika ia pergi dengan pakaian seperti ini.
Valerie merapikan gaun-gaun itu di dalam lemari, ia juga mengambil bingkisan kecil dari dalam tasnya.
Menatap kalung pemberian Brian, jantung Valerie berdegup kencang. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan.
...****************...
Keesokan paginya, Valerie dan Brian sampai di kantor pukul delapan pagi. Keduanya berjalan berdampingan memasuki gedung hingga membuat banyak pasang mata menatap mereka heran. Tidak biasanya Brian menebar senyum di pagi hari seperti ini, apa lagi pada setiap karyawan yang ia lewati. Hal itu membuat ketampanannya meningkat tajam hingga membuat karyawan wanita semakin terpesona padanya.
"Mereka semua melihatmu penuh kekaguman. Para wanita itu sangat mengidolakan mu," ujar Valerie saat mereka berada di lift.
Diam-diam, Valerie merasa kurang senang saat Brian bersikap seperti itu pada semua orang. Entah mengapa, hatinya seakan tidak terima melihat Brian tersenyum pada setiap wanita di sekitarnya.
"Benarkah? Baguslah. Artinya kau akan merasakan cemburu, dan saat itulah kau sadar bahwa kau juga mencintaiku," jawab Brian.
Valerie terdiam, benarkah apa yang laki-laki itu katakan?
__ADS_1
🖤🖤🖤