
Ungkapan perasaan tiba-tiba dari Noah membuat Valerie kebingungan. Entah mengapa ia tidak merasa senang sama sekali, padahal sejujurnya ia pun pernah jatuh cinta pada laki-laki itu.
"Maafkan aku. Mungkin aku terlambat menyadari perasaanku, tapi aku benar-benar mencintaimu, V," tegas Noah sekali lagi.
"Kau tidak mencintaiku, Noah. Kau hanya merasa nyaman karena kita berteman baik," tampil Valerie.
"Tidak, V. Aku mencintaimu. Kau adalah alasan kenapa aku mengakhiri hubunganku dengannya."
"Noah, jangan jadikan aku alasan kandasnya hubungan kalian. Kau membuatku bersalah, seolah aku adalah orang yang merusak hubungan kalian. Aku mohon, jangan seperti ini," pinta Valerie.
Noah terdiam, ia merasa kecewa dengan jawaban yang ia dapatkan dari wanita cantik di hadapannya.
Padahal, Noah sudah sangat percaya diri jika Valerie pun memiliki perasaan khusus padanya. Karena selama ini mereka berteman baik, dekat dan melakukan banyak hal bersama.
Namun nyatanya, apa yang ada dalam bayangan Noah tidak seperti kenyataannya. Penolakan tegas Valerie membuat Noah sangat kecewa.
"Maafkan aku, Noah," lirih Valerie. Ia menatap mata laki-laki di hadapannya. Tatapan mata itu, tidak bisa berbohong. Valerie paham apa yang Noah rasakan. Karena ia sendiri pernah merasa kecewa, saat jatuh cinta untuk yang pertama kalinya pada laki-laki yang sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Jika saja Noah mengatakan cinta padanya beberapa bulan yang lalu, mungkin Valerie akan bisa memberi kesempatan dan akan memikirkan sebuah jawaban.
Namun saat ini berbeda, ada nama lain di hati wanita itu. Ada cinta lain yang tengah bersemi secara perlahan.
"Apakah tidak ada harapan sedikitpun untukku?" tanya Noah. Valerie menggeleng pelan.
"Tidak bisakah kau memikirkannya terlebih dahulu? Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan jawaban padaku dengan cepat. Aku akan bersabar," bujuk Noah.
"Tidak, Noah. Maafkan aku."
Valerie hanya bisa menghela napas panjang. Noah belum bisa menerima jawabannya. Laki-laki itu tampak gigih dan memohon kesempatan berulang kali. Namun Valerie tetap berada pada pendiriannya, ia tidak ingin menerima Noah dalam sebuah hubungan yang lebih dari pertemanan.
Selang beberapa menit, pelayan datang membawa menu makanan yang mereka pesan. Akibat penolakan Valerie, Noah merasa kehilangan nafsu makannya, Valerie pun merasakan hal yang sama. Ia merasa tidak enak hati pada laki-laki itu.
Keduanya saling diam saat makan. Rasa lapar yang sebelumnya datang kini hilang bersamaan dengan kekecewaan yang Noah dapatkan. Namun bagaimanapun, ia tidak bisa memaksa. Karena hati punya hak untuk memilih.
Setelah makan malam bersama, Noah mengantar Valerie pulang ke rumah kosnya. Selama perjalanan, Valerie tidak banyak bicara, ia sudah merasa bersalah karena telah merusak suasana hati Noah.
__ADS_1
"Istirahatlah," ucap Noah. Ia membuka pintu mobil untuk Valerie dan mengantarnya hingga ke depan gerbang.
"Terima kasih." Valerie tersenyum kecil.
Saat Valerie berjalan beberapa langkah, Noah meraih pergelangan tangannya.
"Aku tidak akan ikut campur, tapi aku hanya ingin bertanya. Apakah ada laki-laki lain di hatimu?" tanya Noah.
"Jangan menanyakan sesuatu yang hanya akan membuatmu lebih kecewa," jawab Valerie.
"Aku akan mengalah jika memang dia lebih baik darimu. Tapi jika tidak, aku akan berusaha lebih keras untuk merebut hatimu."
Valerie terdiam. Ia hanya menanggapi perkataan Noah dengan senyum tipis.
"Apakah itu Brian?" tanya Noah.
🖤🖤🖤
__ADS_1