
Tiffani menyusuri koridor di lantai satu menuju tangga yang akan membawanya ke lantai atas dibantu oleh Adam dan Mario yang masing-masing memegangi sebelah lengan Tiffani.
Begitu tiba di tangga, Mario tiba-tiba saja terjatuh. Tubuhnya terjengkang ke depan, dan tidak lama kemudian hal serupa terjadi juga pada Adam.
Tiffani terkejut karena tiba-tiba saja kedua bodyguard yang menyanggah tubuhnya terjatuh tanpa sebab. Tiffani pun seketika kehilangan keseimbangan, dan hampir saja ia terjatuh sama seperti Adam dan Mario. Namun, beruntung sekali Tiffani, karena Rama menahan tubuh Tiffani tepat waktu sehingga Tiffani tetap aman.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rama, pada Tiffani.
Tiffani tersenyum, lalu mengangguk ke Rama. "Ya, berkat dirimu aku tidak apa-apa."
"Tapi berkata dialah kami berdua jadi seperti ini," omel Adam, sambil berusaha untuk bangkit berdiri.
Mario ikut bangkit berdiri sambil bersungut-sungut. Ia mengomel dengan suara pelan karena merasa tidak enak pada Tiffani jika sampai Tiffani mendengarnya mengomel pada Rama. Bagaimana pun juga Rama adalah bodyguard kesayangan Tiffani. Walaupun ia sedang kesal pada Rama, ia tetap harus menahan diri, setidaknya sampai Tiffani tidak ada lagi di hadapannya dan juga di hadapan Rama.
Tiffani menyikut perut Rama, karena Rama diam saja, seolah tidak melakukan kesalahan apa pun pada Mario dan Adam. "Seharusnya kamu minta maaf pada mereka."
"Aku tidak salah, kenapa harus minta maaf," ucap Rama, dengan santainya.
"Kamu membuat mereka berdua jatuh."
"Itu karena mereka berdua menyentuhmu."
Bukan hanya Tiffani yang terkejut pada ucapan Rama, tapi Mario dan juga Adam pun ikut terkejut, keduanya bahkan menatap Rama dengan mata melotot dan mulut yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Serius kamu mendorong kami hanya karena kami memapah Nona kami?" tanya Adam, sambil memelototi Rama.
Rama mengangguk cepat. "Makanya jangan sentuh dia."
Mendengar ocehan Rama, Adam dan Mario menjadi semakin kesal, keduanya segera menghampiri Rama dengan tangan mengepal dan terangkat ke atas, bersiap untuk meninju Rama yang tiba-tiba saja berubah menjadi sosok pria yang cemburuan, dan parahnya lagi tipe cemburu Rama adalah cemburu buta, cemburu yang tidak beralasan dan tidak seharusnya.
Melihat Mario dan Adam yang akan menghajarnya, Rama pun segera berlari untuk menyelamatkan diri. Ketiga bodyguard macho itu seketika menjadi seperti anak-anak yang saling kejar-kejaran di sekitar tangga.
"Diam kamu Rama. Sini, biar aku hajar kamu!" teriak Mario.
"Ya, Kemarilah. Dasar pengecut. Bisa-bisanya kamu cemburu pada kami sampai mendorong kami. Dasar bucin!" Adam ikut berteriak.
Tiffani memijat pelipisnya. Ia berusaha menahan tawa melihat kelakuan Rama dan kedua temannya.
Tidak lama kemudian Mona muncul di ujung koridor. Ia terlihat sangat bahagia saat melihat Tiffani yang masih berdiri di anak tangga.
"Tiffani!" teriak Mona dari ujung koridor, lalu ia melanjutkan langkah menghampiri Tiffani dengan setengah berlari. "Astaga, Fan, aku khawatir sekali padamu. Syukurlah kamu selamat, aku sangat bersyukur karena kamu ditemukan. Aku pikir, aku tidak akan bertemu denganmu lagi." Mona memeluk Tiffani saat ia telah tiba dan hadapan Tiffani. Ia bahkan menangis hingga sesegukan di dalam pelukan Tiffani.
Tiffani tersenyum, ia mengusap punggung Mona dengan lembut. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Aku pulang sekarang, dan aku baik-baik saja, Mon. Jangan menangis lagi, karena aku masih hidup. Nanti saja menangisnya saat aku mati."
Mona melepaskan pelukannya dari Tiffani dan refleks memukul lengan Tiffani, hingga Tiffani meringis kesakitan. "Shut, Diamlah. Jangan bicarakan tentang kematian di hadapanku, Tiffani, aku ngeri memikirkannya. Memikirkan kematian ayahmu yang sudah semakin dekat saja sudah cukup membuatku begitu sedih, apalagi jika aku harus memikirkan tentang kematianmu juga. Aku tidak ingin mendengarnya, sama sekali tidak ingin."
Raut wajah Tiffani menjadi sedih begitu ia menyadari apa yang harus ia hadapi setelah ini. Kecelakaan dan penculikan bukanlah apa-apa bagi Tiffani jika dibandingkan tentang penyakit ayahnya dan juga kematian ayahnya yang semakin dekat.
__ADS_1
Tiffani menghela napas, dan langsung berpegangan pada jeruji yang ada di sekitar tangga. Kepalanya tiba-tiba menjadi sakit dan dadanya sesak begitu ia memikirkan tentang kesehatan sang ayah.
"Tiffani, kamu tidak apa-apa apa?" Mona memegangi lengan Tiffani agar Tiffani tidak terjatuh. "Bertahanlah biar aku panggil Rama," ujar Mona, sambil menatap ke aula yang terdapat di ujung koridor dekat tangga, di mana Rama masih saling kejar-kejaran bersama dengan Adam dan Mario.
"Tidak usah. Biarkan saja dia, biar dia merasakan rileks sedikit bersama dengan teman-temannya. Ayo, kita ke kamarku, ada yang ingin aku beritahu padamu."
Mona mengangguk. Ia pun mulai menuntun Tiffani menuju ke kamarnya. "Apa kamu tidak akan menemui ayahmu?" tanya Mona dalam perjalanan menuju lantai dua.
"Akan kutemui nanti. Lagi pula, Ayah pasti datang ke kamarku lebih dulu, begitu dia tahu kalau aku sudah tiba."
Mona menggeleng. "Aku meragukan hal itu, karena sejak beberapa jam lalu ayahmu pingsan dan belum juga sadarkan diri."
Tiffani menghentikan langkah, ia lalu menatap Mona dengan kesal. "Kenapa baru mengatakannya sekarang?!" seru Tiffani, yang segera berbalik dan mengubah tujuannya. Alih-alih pergi ke kamarnya dan beristirahat, Tiffani tentu saja lebih memilih untuk pergi ke kamar sang ayah.
"Bukan pingsan seperti kebanyakan orang pingsan. Ayahmu, tadinya tertidur, tetapi sampai sekarang dia belum juga bangun, hanya sesekali mengigau menyebut namanmu sambil menangis. Aku rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan," ujar Mona, sambil menahan pergelangan tangan Tiffani.
"Tetap saja aku harus berada di sisi ayahku sekarang, siapa lagi yang akan menemani ayah kalau bukan aku," ucap Tiffani, menepiskan tangan Mona dari pergelangan tangannya dengan kasar. Ia merasa kesal karena Mona menunda untuk memberitahunya keadaan sang ayah.
"Gracella menemani ayahmu sejak tadi. Dia tidak sekali pun beranjak dari sisi ayahmu, Tiffani. "
Tiffani mengernyitkan dahi. "Gracella menjaga ayahku? Serius?!"
"Ya, aku rasa dia mulai belajar untuk menerima kenyataan bahwa ayah Om Richard adalah ayahnya. Kita harus berdamai, Tiffani, dan kali ini kita harus sungguh-sungguh."
__ADS_1
Bersambung