
Valerie tidak membantah. Lagi pula argumen Brian memang hampir selalu benar, dan menyangkal kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu hanya akan menimbulkan perdebatan.
Di dalam lift, Brian berdiri sangat dekat dengan Valerie. Ia sengaja memposisikan tubuhnya menempel di samping Valerie dan membuat wanita itu gugup.
Secara perlahan, jari kelingking Brian berusaha meraih jemari Valerie. Namun Valerie merasa malu, ia menggeser tubuhnya dan menggenggam tangannya sendiri.
Brian hanya tersenyum tipis, ia tidak merasa kesal, namun justru merasa gemas setiap kali Valerie menolak sentuhannya.
Saat keluar dari lift, Brian dan Valerie dikejutkan dengan kehadiran tamu tak di undang. Ia adalah Elena, wanita yang akan dijodohkan dengan Brian namun di tolak mentah-mentah oleh laki-laki itu.
"Maaf, Bos. Dia memaksa masuk, dia mengancamku," ucap Max sambil berbisik.
"Tidak apa," jawab Brian. Ia tidak mungkin menyalahkan Max atas ketidaksopanan orang lain.
Rupanya, Elena sudah tiba di kantor Brian lebih dari setengah jam yang lalu. Wanita itu memaksa masuk ke dalam ruangan Brian dengan alasan ia adalah calon tunangan Brian. Sebagai seorang bawahan, Max tidak berani bertindak jauh, terlebih Elena adalah anak dari pemilik perusahaan besar yang bekerjasama dengan perusahaan Brian.
__ADS_1
Elena duduk dengan anggun di sofa panjang yang biasa ditempati oleh Valerie. Karena tidak ingin ikut campur, Valerie dan Max memilih untuk duduk di depan meja kerja Brian, sementara Brian berjalan ke arah sofa.
"Ada perlu apa kau datang ke kantorku sepagi ini? Seharusnya kau menghubungi Max terlebih dahulu untuk membuat janji temu denganku," ujar Brian. Ia duduk di sisi lain sofa.
"Kenapa aku harus melakukannya? Aku calon tunanganmu, dan akan menjadi istrimu," jawab Elena percaya diri.
"Bukankah sudah ku tegaskan bahwa aku menolak perjodohan itu? Kau tidak dengar?"
"Keluargaku dan keluargamu sudah sepakat. Apapun alasanmu menolak, kita tetap akan bertunangan dan menikah!" seru Elena.
"Ini bukan hanya keinginan keluargaku, aku menginginkanmu."
Brian tersenyum miring, jelas sekali di pikirannya bahwa Elena hanya tertarik dengan uang dan kekayaan. Wanita manapun tidak mungkin mau merendahkan harga dirinya di depan laki-laki yang sudah menolaknya mentah-mentah.
"Aku tidak akan menikah dengan wanita hanya demi sebuah kesepakatan keluarga atau keuntungan perusahaan. Jadi, visi dan misi kita jelas tidak sejalan," ungkap Brian.
__ADS_1
"Lalu, wanita apa yang ingin kau nikahi? Wanita sepertinya?" tanya Elena sambil mengayunkan dagu ke arah Valerie yang duduk bersama Max.
Brian menoleh, matanya menatap Elena dengan tajam. Ketidaksukaan Brian ditunjukkan dengan jelas saat Elena menarik Valerie dalam obrolan mereka.
"Jaga sikapmu!" seru Brian.
"Kenapa? Kau menolak wanita sepertiku hanya demi seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya? Dia bahkan hanya seorang instruktur senam," gerutu Elena.
Seketika Brian merasa naik darah. Rahang laki-laki itu mengeras. Jika saja Elena bukan seorang wanita, Brian benar-benar akan melayangkan pukulan keras ke mulut wanita tidak sopan itu.
"Karena dia jauh lebih baik darimu. Kau bahkan tidak pantas dibandingkan dengannya," ucap Brian.
"Lebih baik dariku?" Elena balik bertanya, ia mengerutkan kening.
"Apa kau tahu apa yang membuat seorang wanita menjadi sangat berharga dan istimewa?" tanya Brian. "Sikap dan ucapannya. Sedangkan kau, sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau adalah wanita yang pantas dihargai!" tegasnya.
__ADS_1
🖤🖤🖤