
Semua yang ada di ruang baca tercengang begitu mendengar apa yang Dylan katakan. Tiffani saja sampai meneteskan air mata. Ia tidak menyangka jika Gracella harus merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan.
Dari penjelasan panjang lebar Dylan, dapat disimpulkan bahwa Dylan dan kedua orang tua Dylan menipu Gracella. Mereka semua membawa Gracella ke rumah sakit dengan alasan akan melakukan USG, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kedua orang tua Dylan malah meminta dokter untuk melakukan abortus pada kandungan Gracella, dan tentu saja semua itu dilakukan tanpa izin dan sepengetahuan Gracella. Gracella yang malang!
Refleks Tiffani menyentuh perutnya, dan seketika ia merasa sangat berdosa karena sempat memikirkan untuk melakukan abortus. Sekarang ia tahu jika ia tidak bisa melakukan hal itu. Baru mendengarnya saja ia sudah menangis, bagaimana bisa ia benar-benar melakukannya.
Melihat Tiffani yang terbawa emosi, Rama segera menghampiri Tiffani lalu merangkul bahu Tiffani dan mengusapnya dengan lembut. Ia ingin agar Tiffani merasa lebih tenang dan nyaman setelah mendengar penjelasan yang begitu keji dari bibir Dylan. Walaupun sebenarnya tangan Rama sendiri sangat gatal saat ini. Ingin rasanya ia menghajar pria kotor seperti Dylan, tetapi ia berusaha untuk mengendalikan emosinya, ia tidak ingin kehilangan kebijaksanaan di hadapan calon istrinya.
"Tenanglah," ucap Rama.
Tiffani menyeka air matanya, ia terlihat begitu marah sekarang. "Mana bisa aku tenang jika di depanku ada manusia keji yang begitu tega melakukan semua hal tidak manusiawi seperti itu." Tiffani berteriak, lalu segera menghampiri Dylan dan langsung mendaratkan kepalan tangannya di hidung Dylan yang runcing.
"Argh!" Dylan menjerit. Ia tidak menyangka jika Tiffani akan menyerangnya.
Melihat hidung Dylan yang mengeluarkan darah, bukannya berhenti, kemarahan Tiffani malah semakin menjadi. Tiffani kembali melayangkan tinjunya ke wajah Dylan, lagi, lagi, dan lagi hingga Dylan berteriak-teriak memohon ampun pada Tiffani.
"Aku mohon maafkan aku, Tiffani. Aku menyesal, aku sungguh sangat menyesal." Dylan memeluk kedua kaki Tiffani sambil memohon ampun, benar-benar terlihat seperti pecundang sejati.
Tiffani menjauhkan kakinya dari sentuhan Dylan, ia sangat tidak sudi jika tangan Dylan yang kotor itu menyentuhnya.
"Jika ingin minta maaf, minta maaflah pada Gracella, jangan padaku. Dasar Bang-sat."
Buk!
Tinju terakhir dari Tiffani membuat Dylan tidak sadarkan diri.
***
__ADS_1
Dua hari telah berlalu sejak kekacauan yang dilakukan oleh Emanuel dan juga Dylan . Hanya membutuhkan waktu sesingkat itu bagi Richard untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi di sekitar kedua putrinya.
Richard mengirim bodyguard-bodyguard andal untuk menghajar dan menghancurkan bisnis Emanuel dan juga karir Dylan. Ya, semudah itu. Hanya dalam sekejap keduanya pun menjadi gelandangan.
Sekarang Richard tengah duduk di taman bagian depan kediaman mewahnya, tepat di bawah rimbunnya pohon tabebuya. Panas matahari yang tidak terlalu terik dan juga angin yang berembus lembut membuat Richard ingin bersantai di sana dengan ditemani secangkir teh chamomile dan juga biskuit keju favoritnya.
"Di mana Tiffani dan Grace?" tanya Richard, pada Damar yang sejak tadi berdiri di belakang tempat duduknya.
"Aku rasa mereka sedang sibuk merancang pakaian pengantin yang pas untuk Tiffani di kamar Tiffani, Tuan." Damar menjawab sambil tersenyum, ia memang sempat melihat Gracella yang berlarian bersama dengan Mona dan Sela sembari membawa majalah desainer ternama beberapa saat lalu di lantai dua.
Senyum tersungging di bibir Richard begitu ia mendengar apa yang Damar katakan. "Mereka sudah mulai akur?"
Damar mengangguk. "Tentu, Tuan, aku rasa Gracella merasa sangat berterima kasih karena Tiffani telah menghajar Dylan hingga babak belur. Rasa sakit hati yang Tiffani rasakan atas penderitaan Gracella membuat Gracella luluh dan dia tidak lagi membenci Tiffani.Sedangkan Tiffani ... Anda tahu sendiri jika dia pasti akan melakukan apa yang Anda inginkan. Dia sangat menyayangi Anda, Tuan."
Richard mengangguk. "Mereka anak-anak yang baik. Aku tahu jika mereka akan berbaikan pada akhirnya. Aku sangat bersyukur memiliki mereka," ujar Richard. Ia lalu menyesap teh hangatnya dan kembali berkata, "Kalau begitu inilah saatnya. Panggil mereka berdua kemari."
"Tentu. Mau kapan lagi? Lihatlah cuaca hari ini, sejuk sekali. Sinar matahari tidak terik, angin tidak terlalu kencang, dan bunga-bunga bermekaran di sekelilingku. Mungkin aku tidak akan menemukan hari seindah ini lagi untuk menyampaikan pesan terakhir pada putriku. Asal kamu tahu saja, Damar, aku tidak ingin menyampaikan pesan terakhir di dalam ruang perawatan sebuah rumah sakit. Hal seperti itu sudah sangat biasa, dan sama sekali tidak keren." Richard berujar sambil mengedarkan pandangan, menatap setiap objek yang ada di depannya dengan seksama, karena ia tahu beberapa hari dari sekarang ia tidak akan lagi bisa memandang semua yang selama ini telah menjadi bagian dari hidupnya.
Damar merasakan kedua matanya mulai memanas, dan tanpa membuang waktu ia pun langsung berbalik dan melangkah dengan cepat menuju teras. Walau langkahnya terasa berat dan hatinya merasa sangat sedih sekarang, ia akan tetap menjalankan perintah Richard sebaik mungkin. Ya, sebaik mungkin hingga akhir.
Tok, tok, tok.
Damar mengetuk pintu kamar Tiffani yang ada di hadapannya, dan tidak lama kemudian pintu terbuka. Suara tawa dan canda dari dalam kamar Tiffani mulai terdengar menyapa gendang telinga Damar. Bibir Damar refleks menyunggingkan senyuman, ia senang karena keadaan membaik sebelum kepergian Richard. Tuhan mengizinkan hal yang paling ingin Richard lihat terjadi, yaitu keakraban kedua putri tercintanya.
"Ada apa Om Damar kemari?" tanya Sela yang membukakan pintu.
"Di mana Tiffani dan Gracella?" tanya Damar?
__ADS_1
"Mereka di dalam." Sela menjawab singkat, karena ia tahu dari kedua mata Damar yang berkaca-kaca bahwa sesuatu sedang atau akan terjadi.
"Minta mereka untuk datang ke taman depan. Tuan menunggu di sana," ujar Damar.
Sela mengangguk. "Baik."
***
Tujuh hari kemudian ....
Bukan hal yang mudah mempersiapkan dua pernikahan sekaligus dalam waktu singkat. Namun, tidak ada yang tidak mungkin jika Richard menginginkannya.
Tujuh hari setelah Richard mengakui semua rahasianya di hadapan Tiffani, Richard pun berusaha melakukan segalanya sebaik mungkin. Ia ingin agar tanggung jawabnya sebagai ayah dapat ia laksanakan sebaik-baiknya hingga embusan napasnya yang terakhir.
Tujuh hari lalu Tiffani dan Gracella menangis di dalam pelukan Richard, dan saat itu Richard berjanji jika ia tidak akan membuat Tiffani atau pun Gracella menangis lagi dalam keadaan apa pun. Untuk memastikan hal itu terjadi, ia hanya memiliki satu cara, yaitu menitipkan kedua putrinya pada pria yang tepat. Ia tidak ragu tentang Rama, tapi Xavier? Bukannya ia tidak percaya pada pria urakan itu, tapi untuk sebuah ikatan pernikahan ... jujur saya, ia masih ragu.
"Tuan, Xavier telah tiba."
Suara Damar mengejutkan Richard. Ia segera menegakan duduknya dan merapikan kerah kerjanya dengan tangan yang gemetar--semakin hari, ia semakin lemah.
"Minta dia masuk."
Damar mengangguk dan kembali melangkah menuju pintu kamar Richard yang sedikit terbuka.
Menit berikutnya, sosok Xavier yang gagah pun akhirnya berdiri di hadapan Richard. Jika biasanya Xavier terlihat penuh percaya diri, kali ini pria itu tidak terlihat demikian. Jelas sekali terlihat jika Xavier gugup setengah mati.
"Salah satu putriku ingin agar aku melamarmu untuknya."
__ADS_1
Bersambung.