
Rama menyusuri koridor untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai satu. Emosinya masih belum stabil sejak ia mendengar bahwa Darren meminta Tiffani untuk melakukan tes DNA. Tangannya bahkan terasa begitu gatal ingin segera menghajar Darren hingga pria tidak tahu malu itu babak belur.
"Lihat saja, aku pasti akan membuatnya menyesal karena telah berani menghina Tiffani. Kali ini aku tidak akan memberi ampun seperti sebelumnya. Aku akan meninju, meninju, dan meninju sampai malaikat maut datang menjemputnya untuk pergi ke neraka," gumam Rama, sambil mengayunkan tangannya berulang kali ke udara, seolah sedang meninju seseorang.
Ocehan Rama baru berhenti ketika seseorang tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang.
"Ya, mengomel terus akan membuatmu menua dengan lebih cepat, Rama."
Rama memandang seseorang yang sekarang tengah berdiri di sebelahnya.
"Tuan memanggilmu," ujar seseorang itu lagi, yang tak lain dan tak bukan adalah Adam.
Rama mendorong Adam menjauh. "Lain kali jangan mengejutkanku. Aku bisa jantungan," ucap Rama.
Adam memang terlalu sering muncul tiba-tiba di samping Rama dan membuat pria itu terkejut.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku sudah memanggilmu sejak tadi di kejauhan, tapi kamu tidak sekali pun menoleh atau menyahut. Apa telingamu tuli? ujar Adam, sambil menarik sebelah telinga Rama.
Rama menepikan tangan Adam dari telinganya. "Ah, tidak. Aku tidak dengar sepertinya."
Adam mengangguk. "Ya, karena kamu sedang kesal. Terlihat jelas di wajahmu kalau kamu sedang ingin memakan orang saat ini. Ada apa? Katakan saja padaku, barangkali aku bisa membantumu."
Rama menghentikan langkah, kemudian ia langsung menceritakan secara singkat pada Adam apa yang sedang terjadi. Ia tidak ragu untuk bercerita pada Adam, karena Adam selama ini selalu mendampinginya di setiap misi rumit yang ia jalani. Lagi pula, ia membutuhkan pendapat seseorang saat ini, tentang bagaimana cara yang paling bagus untuk membalas hinaan Darren.
"... dia meminta tes DNA seolah Tiffani adalah gadis nakal yang bebas tidur dengan pria mana saja sampai mengandung, padahal karena dirinyalah Tiffani sampai harus mengalami semua hal tidak menyenangkan ini. Tiffani mengalami perubahn hormon, tergucang, hingga stress, semua karena Darren!" Rama mengakhiri penjelasannya sambil melayangkan tinju di dinding yang ada di sebelahnya.
Adam sendiri terlihat sangat marah, tidak jauh berbeda dengan Rama ketika Rama telah selesai menceritakan apa yang terjadi. "Sialan, seharusnya kita tidak melepaskannya saat itu. Seharusnya kita membuat semua tulang di tubuhnya patah saat kita menangkap dan menyiksanya," ujar Adam, kemudian melanjutkan, "Ayo kita temui Pak Damar dan kita ceritakan semuanya pada Pak Damar. Aku ingin dengar apa yang akan dia katakan. Aku harap dia punya ide bagus untuk membalas perbuatan Darren, karena aku rasa menyakiti fisiknya saja tidak akan seru, dan tidak akan membuatnya kapok."
"Haruskah kita menceritakan semua ini pada Pak Damar? Bukankah hanya akan menambah pikiran tuan kalau sampai Pak Damar mengadu ke tuan." Rama terlihat ragu untuk sejenak. Ia ingin mengatasi semuanya seorang diri agar tidak menambah beban pikiran Richard yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Pak Damar cukup bijak untuk menilai masalah mana yang harus dilaporkan pada tuan, dan yang tidak. Ayo, lagi pula Tuan Richard ingin bertemu denganmu. Kita bisa menemui tuan terlebih dahulu sebelum mengadu pada Pak Damar."
Rama mengangguk dan langsung mengekor langkah Adam menuju kamar Richard.
***
Richard sedang duduk di sebuah kursi goyang yang terletak di balkon kamarnya sambil menyeruput teh hangat yang ditemani sepiring cookies cokelat. Di depannya terdapat sebuah laptop yang menunjukan laporan-laporan bisnis yang telah lama tidak ia periksa karena kondisinya yang kurang sehat beberapa hari terakhir.
Kepala Richard mengangguk berulang kali, sementara bibirnya melengkung, membentuk senyuman di wajah keriputnya yang yang terlihat pucat.
"Ada kabar baik yang membuat Anda bahagia, Tuan?" tanya Damar, saat melihat senyum di wajah Richard.
"Ya, aku sedang memeriksa laporan dari pertemuan bisnis yang dipimpin Tiffani beberapa waktu lalu ketika aku sedang dirawat di rumah sakit. Dari laporan yang masuk dan banyaknya permintaan senjata, aku rasa pertemuan bisnis saat itu sukses besar," ujar Richard.
Damar ikut tersenyum dan mengangguk. "Ya, Tuan, pertemuan malam itu memang bisa dikatakan sangat sukses. Tiffani dan Rama adalah perpaduan yang sangat sempurna sebagai penerus bisnis Anda. Tiffani yang baru saja terjun ke dunia bisnis ini terlihat ragu-ragu di beberapa kesempatan, dia juga sering kebingungan saat mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar produk yang kita jual, tapi Rama dapat menutupi semua kebingungan Tiffani dengan sangat sempurna dan profesional. Dan akhirnya seperti yang Anda lihat sekarang, mereka berdua sukses memimpin rapat saat itu. Aku hanya sebagai pengawas yang tidak melakukan banyak hal saat pertemuan, karena Rama melakukan tugasnya dengan baik."
Senyum di bibir Richard semakin mengembang lebar saat Damar mengatakan semua itu, Kedua matanya pun turut berbinar bahagia. Ia telah menemukan siapa yang akan mendampingi Tiffani sebagai teman hidup putri kesayangannya itu dan juga sebagai rekan bisnis yang dapat memimpin perusahaan.
"Aku harap Tiffani dan Rama telah berbaikan, dan aku juga berharap agar Tiffani tidak keberatan untuk melanjutkan bisnis menguntungkan ini. Namun, jika Tiffani masih merasa keberatan, aku akan berhenti sampai di sini," ucap Richard.
Damar mengangguk. "Semua keputusan ada di tangan Tiffani, Tuan."
Richard menghela napas, kemudian berkata, "Jika waktuku telah habis dan saat kepergianku tiba, aku ingin kamu selalu ada untuk Tiffani dan Rama, temani mereka dan gantikanlah diriku jika mereka sedang membutuhkan sebuah nasehat atau apa pun itu. Aku yakin, walaupun mereka berdua terlihat tegar dan cerdas, tetapi sesekali mereka berdua masih membutuhkan sosok orang tua."
"Jangan ucapkan itu, Tuan. Anda akan baik-baik saja dan Anda akan sembuh. Anda akan memiliki usia yang panjang untuk melihat Tiffani memiliki seorang putra dan putri yang lucu dan--"
"Berhentilah membohongi diri sendiri, Damar, dan berhentilah berpura-pura kalau semuanya akan baik-baik saja. Kamu dan aku tahu jika waktuku tidak lama lagi. Beberapa bulan yang lalu Dokter Steve mengatakan jika waktuku hanya tersisa tiga bulan. Sekarang satu bulan telah berlalu, itu berarti waktuku hanya tersisa dua bulan. Aku tidak tahu apakah aku masih ada hingga saat itu, atau kematian akan datang lebih cepat dari perkiraan. Aku sama sekali tidak tahu. Aku ... aku takut." Richard memotong ucapan Damar, dan sekarang ia mulai menangis. Tubuh tuanya yang lemah berguncang, dan suara isaknya terdengar begitu memilukan.
"Tuan, apa maksud Anda?"
Richard dan Damar tersentak saat suara Rama terdengar tepat di belakang mereka.
__ADS_1
Damar menghela napas dengan kasar saat ia melihat Rama dan Adam berdiri di ambang pintu kaca yang memisahkan antara kamar utama dan balkon.
"Kenapa kalian masuk begitu saja tanpa mengetuk, hah?" tanya Damar.
"Kami mengetuk berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Karena merasa khawatir, takut jika terjadi sesuatu di dalam sini, maka kami memutuskan untuk langsung masuk saja. Maaf," ujar Adam.
"Sudah terlanjur, mau bagaimana lagi," ucap Damar, lalu ia menunjuk Rama. "Apa pun yang kamu dengar, rahasiakan semua itu dari Tiffani."
Rama tidak menjawab. ia masih bergeming. Mulutnya terkunci rapat sementara tatapannya tidak pernah lepas dari sosok tua yang duduk di atas sebuah kursi goyang.
"Rama." Adam menyikut perut Rama dengan keras.
Rama tersentak, ia yang telah berhasil mengatasi keterkejutannya untuk sementara sekarang beralih menatap Adam. Dan dahinya seketika mengernyit saat ia melihat Adam tidak menunjukan ekspresi apa pun selain tatapan mata yang terlihat begitu sedih. Adam tidak terkejut seperti dirinya.
"Kamu sudah tahu tentang semua ini?" tanya Rama.
Adam mengangguk. "Aku juga baru tahu saat tuan dirawat di rumah sakit. Sejak saat itu aku enggan meninggalkan kamar tuan. Aku memilih untuk menjaga tuan, bahkan ketika kamu meminta bantuan untuk melaksanakan misi di kediaman Burhan saat itu."
Rama mendorong Adam. "Dan kamu tidak mengatakan apa pun padaku?"
"Maafkan aku, tapi perintah yang aku terima memang seperti itu."
Rama mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana dan mengatakan apa saat ini. Ia masih tidak habis pikir jika hal menyedihkan lagi-lagi terjadi di depan matanya.
"Tuan. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rama pada Richard, sekarang Rama telah berdiri di hadapan Richard.
Richard menatap Rama dalam-dalam, kemudian ia berkata. "Aku menderita kanker darah stadium akhir. Dokter telah memvonis kalau hidupku tidak akan lama lagi."
Tes!
Rama tidak tahan lagi. Sekuat apa pun ia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, tetap juga ia menangis pada akhirnya.
"Ini mengerikan, Tuan. Bagaimana bisa orang sebaik Anda harus mengidap penyakit yang mematikan," ujar Rama dengan suara yang gemetar karena berusaha menahan tangis.
"Semua orang akan mati pada akhirnya. Sakit atau tidak." Richard berusaha untuk tersenyum.
"Ya, aku tahu."
"Tegarlah kalau begitu. Jika kamu tidak tegar, bagaimana aku bisa menitipkan Tiffani padamu."
Rama mengusap pipinya yang basah. "Berobatlah ke luar negeri, Tuan, Anda harus sembuh. Bagaimana pun caranya Anda harus sembuh. Anda tidak bisa pergi secepat ini. Anda harus sehat. Tiffani membutuhkan Anda, dia akan hancur tanpa Anda. Dia akan hancur, Tuan. Hatinya pasti akan hancur saat Anda tidak ada lagi di dunia ini." Rama jatuh berlutut dengan kedua tangan yang menutupi wajah tepat di hadapan Richard.
Melihat bagaimana kesedihan yang Rama rasakan, Damar dan Adam pun ikut menangis. Namun, tidak dengan Richard.
Richard bangkit berdiri dan menarik lengan Rama dengan kasar agar Rama berdiri juga.
"Bangunlah, Rama, bangunlah. Ada apa denganmu, hah? kenapa kamu menjadi seperti ini. Kamu sungguh membuatku kecewa. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini, Rama. Jika kamu saja selemah ini, lalu siapa yang akan mendampingi Tiffani? Siapa yang akan mendampingi Tiffani untuk melewati masa-masa sulit tanpa diriku. Aku mengandalkanmu, Rama. Aku sungguh mengandalkanmu. Kuatlah, tegarlah demi Tiffani dan demi diriku." Richard mengguncang tubuh Rama dengan kuat, agar Rama menghentikan tangisannya.
Setelah puas mengomeli Rama, Richard melepaskan tanganya dari lengan Rama dan kemudian melangkah menuju pagar pembatas. Richard mengusap air matanya sambil menghela napas, kemudian ia mendongak menatap langit yang cerah.
"Bagaimana kemajuan usaha kita? Apa Tiffani merasa cemburu?" tanya Richard, yang langsung mengalihkan pembicaraan.
Rama tidak menjawab, hanya suara cairan dari hidungnya saja yang terdengar membelah udara siang itu di balkon.
"Damar, pukul si cengeng itu agar tangisanya berhenti!" titah Richard.
Damar tidak langsung melakukan apa yang Richard perintahkan, ia hanya berdiri bagai patung sambil menatap Rama dan Richard bergantian.
"Cepat!" Richard kembali memberi perintah, kali ini ia sambil berteriak hingga membuat Damar refleks menghampiri Rama dan mendaratkan tinju dengan kuat di wajah Rama.
Buk!
__ADS_1
Rama jatuh tersungkur, dan suara isaknya terdengar semakin keras di telinga Richard.
Richard mengusap wajahnya, kemudian kembali memberi perintah. "Lagi!"
Buk!
"Bantu Damar, Adam. Lakukan sampai dia berhenti menangis."
Dua puluh menit kemudian di kamar Adam dan Rama ....
"Seharusnya kamu diam saat tuan memintamu untuk diam!" Damar mengomel sambil menutulkan kapas yang telah diberi obat merah di luka yang ada di wajah Rama. "Bagaimana bisa kamu menangis seperti anak kecil."
"Aah, pelan-pelan, Pak Damar," rintih Rama.
"Jangan cengeng. Kamu ini mengecewakan sekali! Wajar saja jika tuan marah padamu. Kamu adalah satu-satunya harapan tuan untuk melindungi Tiffani, tapi kamu malah cengeng seperti ini. Apa yang bisa diharapkan dari pria sepertimu." Damar menekan kapas dengan kuat di wajah Rama, hingga Rama berteriak kesakitan.
"Aaah, Pak Damar, sakit sekali."
"Biar saja, biar saja kamu kesakitan."
Melihat Rama yang semakin tersiksa, Adam segera mengambil alih. Ia menggeser tubuh Damar dengan tubuhnya, lalu segera meraih kapas dan betadine dari tangan Damar untuk mengobati luka di wajah Rama.
"Serahkan padaku," ujar Adam, yang kemudian menatap Rama dengan khawatir. "Padahal kita memiliki misi penting besok, tapi kamu malah babak belur begini," ujar Adam.
"Kamu juga yang membuatku babak belur."
"Perintahnya seperti itu, mau bagaimana lagi." Adam membela diri. "Setelah ini kamu harus istirahat, Rama, jangan sampai misi besok menjadi gagal hanya karena luka-luka ini." Adam sengaja mengeraskan suaranya agar Damar ikut mendengar dan akhirnya penasaran.
"Luka-luka ini tidak akan membuatku sakit, apalagi sampai merusak rencana kita besok. Aku pastikan Darren akan mati besok."
Mendengar nama Darren disebut, Damar segera mendekat ke Rama dan Adam. Ia lalu bertanya, "Darren. Apa maksud kalian Darren Adiguna?" tanya Damar.
"Tidak akan kuberitahu," ujar Rama, yang masih kesal pada Damar.
Damar mencubit pinggang Rama dengan keras, hingga lagi-lagi Rama merintih kesakitan.
"Aah, kenapa Anda ini hobi sekali melakukan kekerasan, Pak Damar?!" protes Rama.
"Aku ini asisten pribadi seorang mafia terkenal, jadi sangat wajar kalau aku melakukan kekerasan yang sudah lama menjadi kebiasaanku. Jangan banyak protes." Damar memelototi Rama, kemudian ia pun beralih menatap Adam. "Sekarang katakan padaku, ada apa?"
Adam yang lebih memilih untuk tidak memulai keributan dengan Damar pun langsung menjawab, "Darren meminta nona untuk melakukan tes DNA besok. Darren tidak percaya jika anak yang sedang nona kandung sekarang adalah anaknya. Dia bahkan mengatakan kalau nona bisa saja telah tidur dengan beberapa pria, jadi tidak ada jaminan kalau anak yang nona kandung adalah anaknya."
Wajah Damar seketika menjadi merah padam begitu mendengar ucapan Adam.
"Bang-sat! Serius dia mengatakan hal seperti itu pada Tiffani?"
Adam dan Rama mengangguk.
"Sialan!" desis Damar, lalu ia menatap Adam. "Kita tidak bisa menunggu sampai besok. Bersiaplah malam ini. Malam ini kita serang rumahnya, dan besok saatnya kita mempermalukannya."
Adam tersenyum begitu mendengar perintah dari Damar. "Aku tahu kalau Anda pasti memiliki rencana yang bagus."
"Tentu, karena orang seperti Darren tidak akan berhenti sebelum dirinya dan juga keluarganya malu setengah mati. Dan tugas kita adalah membuatnya malu, agar dia berhenti bertingkah tidak masuk akal."
Adam dan Rama mengangguk.
"Siapkan tim, pekerjaan kita banyak nanti malam." Damar berteriak, lalu segera keluar dari kamar Adam dan Rama.
"Ah, aku penasaran apa rencana Pak Damar," gumam Adam.
Bersambung.
__ADS_1