
Brian menatap Valerie. Ia ingin wanita itu memahaminya, bukan hanya kalimat yang terlontar dari mulutnya, melainkan pengorbananya.
Melihat jauh ke dalam mata kecoklatan laki-laki di hadapannya, Valerie bisa melihat dengan jelas kesungguhan Brian. Laki-laki itu sedang tidak main-main, jatuh cinta membuatnya menyerah pada rasa.
"Aku mencintaimu dengan hatiku. Lihatlah aku sebagai seorang laki-laki biasa, jangan pedulikan siapa aku sebenarnya. Jangan membandingkan sesuatu yang tidak perlu, aku hanya menginginkanmu, bukan hal lain," ujar Brian.
"Tapi bagaimana jika ...." Ucapan Valerie terhenti, Brian menempelkan jari telunjuknya di bibir wanita itu.
"Aku hanya perlu kau mencintaiku, itu saja. Lalu kita akan melalui semuanya bersama."
"Aku ...."
"Jangan katakan apapun saat ini. Pikirkan baik-baik," sela Brian.
Valerie mendesah resah. Kegigihan Brian membuat hatinya tergerak. Namun sekali lagi, bersama laki-laki itu tentu bisa menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.
Brian menggandeng Valerie mengelilingi rumah. Brian ingin Valerie paham, bahwa apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan hati wanita itu.
__ADS_1
Hingga pukul sepuluh siang, Brian dan Valerie baru tiba di kantor. Keduanya langsung ke ruangan dan mendapati Max sudah sibuk bekerja sendirian.
"Bagaimana? Apakah diskusi kalian lancar?" goda Max saat melihat Valerie duduk di sofa. Sementara Brian langsung menghadap layar laptop di meja kerjanya.
Valerie menyipitkan mata sambil menatap Max.
"Jangan melihatku seperti itu, kau menantiku!" seru Max.
"Bagaimana? Hmm? Apa kalian ...." Max membentuk kedua tangannya dengan lima jari mengerucut, lalu menggerakkan kedua tangannya seolah dua bibir yang saling berciuman.
"Apa kau ingin aku mematahkan pergelangan tanganmu?" tanya Valerie.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak mau masuk rumah sakit lagi," ujar Max dengan tersenyum aneh.
Valerie hanya mendesah, rupanya kini Max akan memiliki pekerjaan tambahan, yaitu menggoda dirinya.
Sepanjang hari, suasana ruangan Brian terasa lebih sepi. Valerie lebih banyak diam dan enggan banyak bicara seperti biasa, padahal ia biasanya akan banyak mengobrol bersama Max.
__ADS_1
Brian merasa bersalah karena membebani pikiran wanita itu. Namun bagaimanapun, ia ingin Valerie mengetahui perasaannya, karena ia tidak mau menyimpan beban hati ini sendirian.
Pukul empat sore, Brian telah menyelesaikan meeting bersama para petinggi perusahaan. Lenyapnya gosip tentang dirinya membuat saham perusahaan kembali naik dengan stabil.
Max sangat senang. Paling tidak, ada satu hal yang akan membuat Calvin merasa puas dan tidak terlalu memojokkan Brian lagi. Bagi Max, Brian adalah seorang saudara, ia selalu berharap Brian bisa hidup bahagia dengan pilihannya.
Setelah semua pekerjaan beres, Brian mengajak Valerie pulang ke rumahnya.
"Valerie," ucap Brian lembut. Kini mereka sedang duduk di dalam mobil. Brian menahan pergelangan tangan Valerie saat wanita itu hendak keluar.
"Ya?"
"Mulai besok, ambillah libur selama beberapa hari. Nikmati hari liburmu dan aku mohon, pikirkan jawaban untukku."
"Bukan hanya aku, seharusnya kau juga kembali memikirkan dengan matang keputusanmu. Pikirkan apa yang akan terjadi pada kedua orang tuamu," jawab Valerie.
"Tidak perlu, aku bahkan sudah yakin akan menikahimu, dengan atau tanpa restu mereka!" tegas Brian.
__ADS_1
"Menikah?" ulang Valerie. Brian adalah laki-laki yang tidak romantis, namun ia sangat to the point tanpa basa-basi, begitu pikir Valerie.
"Tidak penting kapan kau akan memberiku jawaban, tidak penting kapan kita akan menikah. Yang terpenting, kaulah yang akan menjadi mempelai wanitaku."