My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
ACCIDENTAL KISS


__ADS_3

Rama melangkah dengan cepat menuju tempat di mana mobil Damar terparkir. Ia kemudian membuka pintu mobil yang ternyata tidak terkunci, bahkan alarm pada mobil itu pun juga tidak diaktifkan.


"Untuk seseorang yang memiliki rahasia besar, tidak mengunci pintu mobil adalah hal yang sangat ceroboh," ucap Rama, saat akhirnya ia telah berada di dalam mobil Damar.


Rama menutup kembali pintu mobil dan mulai memeriksa semua barang yang ada di dalam mobil Damar, bahkan bagian sela-sela kursi pun ia periksa dengan seksama.


Rama menemukan beberapa berkas yang tidak ada hubungannya dengan hotel yang dimaksud oleh Gracella dan Tiffani, tetapi ia berhasil mendapatkan beberapa berkas yang sepertinya sangat penting. Rama kemudian memasukan berkas tersebut ke bagian dalam jaket yang ia kenakan, memutuskan untuk memeriksa berkas tersebut saat ia kembali ke kamar nanti.


Setelah memastikan berkas tersebut aman, Rama segera memeriksa mesin navigasi yang ada di dalam mobil untuk mengetahui ke mana saja Damar pagi hari ini dan juga beberapa hari belakangan.


Akan tetapi, belum lagi ia sempat memeriksa semua histori perjalanan Damar dan mengambil memori card dari kamera dashboard, pintu mobil mendadak terbuka, dan sebuah tangan kekar menarik Rama keluar dari dalam mobil dengan paksa.


Rama terkejut. Ia berontak dan segera menarik pistol yang ia simpan di balik jaket, lalu ia mengarahkan pistol itu ke seseorang yang sekarang sedang menahan sebelah tangannya.


"Tembaklah."


Rama bergeming, saat ia melihat siapa yang berani memaksanya keluar dari mobil Damar.


"Xavier," gumam Rama, sambil menurunkan pistol yang sekarang tengah menempel tepat di kening Xavier.


Xavier tersenyum miring, lalu mendorong Rama menjauh dari mobil.


"Aku sedikit kecewa," ujar Xavier, pada Rama. "Aku sudah menebak jika kamu akan melakukan ini, tapi jujur saja aku berharap tebakanku salah."


Rama menundukan wajah, menghela napas dan mengantongi pistolnya kembali.


"Jangan disimpan," ujar Xavier, sambil mengeluarkan pistolnya sendiri dan mengarahkan pistol itu ke wajah Rama.


Suasana kembali hening. Hanya suara gemeresik dedaunan kering yang dimainkan oleh angin di bawah kaki Rama dan Xavier yang mengisi udara di sekitar keduanya.


Xavier menatap Rama dengan tatapan yang begitu tajam, tatapan yang belum pernah sekali pun Rama lihat di kedua mata Xavier yang gelap. Sementara Rama pun melakukan hal yang sama. Ia menatap Xavier dengan tatapan sedih. Ia sungguh tidak ingin semua ini terjadi, tetapi Xavier memang sedang berada di posisi yang tidak ingin mendengar penjelasan apa pun. Bahkan penjelasan paling masuk akal sekali pun akan terdengar janggal di telinga Xavier.


Untuk saat ini Rama adalah seorang penjahat di mata Xavier. Seorang tuan yang tega menuduh pengikut setia yang telah mengabdi belasan tahun lamanya.


Keheningan dan ketegangan yang terjadi di antara Rama dan Xavier tertangkap oleh penglihatan seorang wanita yang saat ini sedang mencari udara segar di halaman depan. Wanita itu adalah Ara.

__ADS_1


Ara sedang sibuk merentangkan tangan, menarik dan menghembuskan napas berulang kali di bawah rindangnya pohon tabebuya saat ia tidak sengaja melihat Xavier yang menodongkan senjata ke Rama.


Ara gemetar dari ujung kepala hingga kaki. Ia ingin melarikan diri, masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci diri di dalam kamar. Namun, hati nuraninya bertentangan dengan pikirannya. Mana bisa ia melarikan diri begitu saja, meninggalkan Rama yanga baik hati dalam bahaya.


"Aku harus menolongnya," gumam Ara, sambil menegakkan tubuh dan berlari menghampiri Rama dan Xavier.


Waktu seolah berjalan lambat, Ara merasa jika Tuhan sedang mengatur gerakan slow-motion pada setiap anggota tubuhnya saat ia sedang berlari menghampiri Rama.


"Jangan tembak dia!!" teriak Ara, begitu jaraknya sudah semakin dekat ke Rama dan Xavier.


"Hiyaaa!!" teriak Ara lagi, sambil melompat dan mengarahkan kakinya ke Xavier, dan ....


Buk!


Tendangan Ara yang tidak seberapa mendarat di perut Xavier dengan hasil yang cukup mengecewakan. Bukannya menjatuhkan Xavier dengan tendangannya, justru Ara membuat dirinya sendiri terjatuh di atas tanah yang tertutup dedaunan kering.


"Argh!" rintinhnya, sambil mengelus bokongnya yang terasa amat sakit.


Rama segera berlutut untuk memeriksa keadaan ara yang masih meringkuk di atas tanah.


Ara berusaha untuk duduk dan menatap Rama dengan saksama. "Harusnya aku yang bertanya, apa Anda tidak apa-apa?" tanya Ara dengan khawatir.


"Apa yang membuatmu berpikir jika aku kenapa-kenapa?" tanya Rama.


Ara mendongak, mengalihkan pandangannya dari Rama ke Xavier yang terlihat kesal dan bosan.


"Dia akan menembak Anda tadi, entah apa yang terjadi andai saja aku tidak datang," jawab Ara.


Rama tertawa mendengar jawaban polos wanita di hadapannya itu. "Xavier tidak akan melakukan itu padaku. Dia tidak akan menembakku, tapi kuucapkan terima kasih karena telah mengkhawatirkanku."


Xavier mendengus kesal mendengar ocehan Rama. Ia kemudian mengantongi pistolnya, dan secara mendadak ia melayangkan tinju ke wajah Rama.


Ara memekik, sedangkan Rama hanya bisa merintih sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Aku sedang kesal sekali. Aku merasa harus meninjumu agar rasa kesalku sedikit berkurang," ujar Xavier, lalu segera beranjak pergi dari hadapan Rama dan Ara.

__ADS_1


Ara mendelik, tatapannya mengikuti sosok Xavier yang bergerak menjauh. Tinjunya yang mengepal ia layangkan di udara, seolah ia dapat membalas tindakan Xavier dari jarak sejauh itu.


"Kenapa dia kasar sekali. Dasar kejam," gumam ara, sambil merobek ujung kaos oblongnya yang memang telah sedikit sobek, dan langsung mengusap darah di bibir Rama. "Tahanlah, pasti akan sedikit perih."


Rama membiarkan Ara membersihkan lukanya. Tidak mungkin ia menjauh dari Ara yang refleks menyelamatkannya dan juga rela merobek kaos ketika melihat bibirnya terluka. Ia tidak tega menolak ketulusan seseorang.


"Terima kasih," ujar Rama, "Akan aku ganti kaosmu dengan yang baru.


Ara menunduk untuk melihat kosnya yang sekarag semakin terlihat seperti pakaian seorang gembel.


"Tidak perlu. Aku punya banyak di rumah."


Rama tersenyum dan segera membantu Ara untuk bangkit berdiri. Kini hanya tinggal mereka berdua di halaman.


"Apa dia marah karena aku?" tanya Ara, menunjuk wajahnya sendiri di hadapan Rama.


Rama menggeleng. "Tidak. Untuk apa dia marah karena kamu," jawab Rama, yang mulai melangkah menuju teras.


Ara mengekor langkah Rama sambil memainkan ujung kaosnya yang sobek.


"Aku rasa kehadiranku hanya membuat masalah di sini. Aku akan kembali besok pagi-pagi sekali, dan lupakan saja permintaanku tadi siang. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri tanpa harus membuat kalian semua kerepotan."


Rama menghela napas, ia lega mendengar ucapan Ara, tetapi di sisi lain ia pun merasa bersalah pada Ara dan juga keluarga Ara yang tinggal di Distrik EL 33, bukankah Ara mengatakan jika banyak orang yang akan kehilangan tempat tinggal di sana jika pembangunan hotel diteruskan.


Melihat Rama yang melamun, Ara segera menyentuh lengan rama untuk menarik perhatian Rama. "Jangan dipikirkan lagi. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku," ujar Ara, sambil menepuk-nepuk pundak Rama.


Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Ara segera mundur menjauh dari Rama, ia berniat pergi meninggalkan Rama. Namun, Ara yang ceroboh itu tidak melihat akar pohon yang mencuat dari dalam tanah, hingga tanpa di sengaja kaki Ara tersandung oleh akar pohon tersebut.


Ara menjerit saat menyadari beberapa saat lagi wajahnya akan menghantam tanah di bawahnya dengan keras, tetapi refleks Rama sangatlah baik, ia melompat dan memeluk pinggang Ara agar wanita itu tidak terjatuh. Namun, Ara yang meronta tak terkendali membuat Rama hilang keseimbangan. Detik berikutnya keduanya terjatuh dengan posisi yang sangat tidak terduga.


Cup!


Ara membelalak saat bibirnya dan bibir Rama bersentuhan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2