
Selepas pesta berakhir, kini Valerie tidak lagi kembali ke hotel tempat ia menginap sebelumnya. Sang kakek langsung memboyong cucunya itu untuk tinggal di rumahnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat Valerie tinggal selama ini.
Selain itu, Brian dan Max juga turut mengantar Valerie pulang ke rumahnya. Perasaan bahagia dan selalu ingin bersama membuat laki-laki itu enggan berjauhan dengan wanita yang baru saja resmi menjadi tunangannya.
"Kau akan sibuk beberapa hari terakhir?" tanya Brian.
"Hmm, ada banyak hal yang harus aku urus."
"Baiklah, aku akan bersabar sampai kita punya waktu luang bersama."
Karena kini Valerie bukan lagi seorang pelatih senam ataupun bodyguard presiden direktur tampan. Valerie akan memiliki banyak kesibukan terlebih di perusahaan. Seluruh tanggungjawab atas perusahaan yang dimiliki oleh Theo telah jatuh ke tangan Valerie, dan membuat wanita itu harus memulai karirnya serta bekerja keras untuk meneruskan bisnis yang selama ini telah digeluti oleh sang kakek dan mendiang orang tuanya.
Selepas mengantar Valerie pulang, Brian dan Max memutuskan untuk menepi ke sebuah kafe yang berada tidak jauh dari lokasi perumahan tempat Brian tinggal. Ia berhutang penjelasan pada Max, dan Max nampaknya tidak bisa menahan rasa penasarannya sampai besok pagi.
__ADS_1
Brian menjelaskan semuanya dengan gamblang, termasuk tentang sisa kenangan masa kecil Valerie dan bagaimana wanita itu diasingkan oleh sang kakek demi menyelamatkan nyawanya.
Max tidak percaya dengan apa yang ia dengar, namun begitulah kenyataannya.
"Kau akan menikahi Valerie, Bos? Kau benar-benar ...." Max mengacungkan dua jempol di depan Brian dengan mata berbinar. Tentu saja, pikiran Max tertuju pada kesuksesan yang akan mereka raih bersama jika menikah nantinya.
"Aku menikahinya bukan karena dia seorang pewaris. Aku benar-benar mencintainya, Max."
"Aku tahu, Bos. Tapi kali ini lebih wow lagi, kau dan Valerie, akan menjadi penguasa bisnis di negara ini!" decak kagum Max.
Kedudukan Valerie sebagai pemimpin perusahaan sekaligus pemilik perusahaan besar secara resmi, tidak sedikitpun membuat Brian tergiur. Laki-laki itu memiliki segalanya, bahkan dunia seakan berada dalam genggamannya. Bagi Brian, yang utama adalah bersama dengan cintanya, menapaki hidup bersama dalam suka dan duka.
...****************...
__ADS_1
Keesokan paginya, Brian datang ke kediaman kedua orang tuanya pagi-pagi sekali. Namun rumah itu nampak sepi tak berpenghuni. Seorang pelayan mengatakan pada Brian jika kedua orang tuanya sedang ada urusan dan pergi sejak satu jam yang lalu.
Sementara di rumahnya, Valerie dan Theo sedang sarapan pagi bersama. Setelah puluhan tahun terhalang jarak, kini pada akhirnya mereka bisa melakukan banyak aktifitas bersama seperti keluarga pada umumnya.
"Kakek akan ke kantor polisi pagi ini. Apa kau langsung ke kantor?" tanya Theo.
"Aku akan menemani Kakek," jawab Valerie.
"Kau punya banyak urusan di perusahaan, orang-orang sudah menanti pemimpin baru merek."
"Aku ingin bicara pada Paman dan juga Bibi, Kek. Aku ingin mengatakan sesuatu pada mereka."
"Baiklah kalau itu maumu, Cucuku." Theo tersenyum. Sebenarnya ia kurang setuju jika Valerie menemui paman dan bibinya. Karena Theo khawatir Valerie akan mengalami mimpi buruk seperti yang sudah-sudah. Menemui pembunuh kedua orang tuanya, tentu menjadi hal yang berat bagi Valerie. Namun sepertinya sang cucu benar-benar ingin menyampaikan perasaannya.
__ADS_1
🖤🖤🖤