My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
DAMAR TIDAK MUNGKIN BERKHIANAT


__ADS_3

Gracella terkejut ketika Damar muncul dan langsung melangkah masuk ke dalam perpustakaan tanpa diminta. Tatapannya yang tajam menjelajah ke seluruh ruangan, seperti sedang menilai kalau-kalau ada sesuatu yang berbahaya atau sesuatu yang mencurigakan di dalam ruangan tersebut. Dan tatapan tajam yang sangat mengganggu itu berhenti tepat di Gracella.


"Bukankah kamu sekarang harus beristirahat, Grace? Wanita hamil tidak boleh begadang terus-terusan. Tidak baik untuk kesehatan, dan kamu bisa terserang anemia. Xavier pasti akan sangat sedih kalau istrinya jatuh sakit," ujar Damar.


Gracella tersenyum seperti biasanya, ia memang pandai menyembunyikan perasannya yang sebenarnya. "Aku belum mengantuk, Om. Lagi pula, aku dan Tiffani, juga Mona sedang membicarakan sesuatu yang penting."


"Benarkah? Apa kalian sedang membicarakan aku, karena saat aku masuk tadi aku mendengar Tiffani menyebut namaku?" tanya Damar, bergantian menatap para wanita di hadapannya.


Tiffani tertawa. "Ya, memang. Apa Om tidak tahu kalau kami bertiga ... hem, berempat dengan Sela juga sebenarnya, sedang mencarikan jodoh untuk Om Damar. Kami sedang membahasnya barusan," ujar Tiffani berbohong.


Mona dan Gracella saling bertatapan, dan keduanya ikut tertawa bersama dengan Tiffani.


"Benar sekali, benar sekali," ucap Mona sambil terkikik geli.


Damar menatap ketiganya dengan curiga sebelum akhirnya ikut tertawa. "Apa-apaan kalian ini. Kenapa tiba-tiba ingin mencarikanku jodoh. Dasar anak-anak nakal," ujar Damar.


Tiffani mendekat dan menyentuh kedua bahu Damar, ia menatap Damar lekat-lekat, berusaha menilai apakah mungkin jika pria sebaik Damar yang telah lama menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya tega untuk menjadi seorang pengkhianat. Tentu tidak. Dipikirkan dari sisi mana pun, bagi Tiffani Damar tidak mungkin berkhianat.


"Kami mencarikan jodoh untuk Om, karena kami tahu kalau Om sangat kesepian. Seharusnya aku melakukan hal ini saat ayah masih hidup. Seharusnya aku mencarikan seorang wanita baik untuk ayah, yang dapat menemani masa tua ayah," ujar Tiffani setelah beberapa saat, kedua matanya kembali berkaca-kaca saat ia mengingat tentang Richard.


Damar mengusap air mata Tiffani yang menetes. "Ayahmu bahagia hanya dengan memilikimu dan Gracella. Dia tidak butuh orang lain untuk menemani masa tuanya, begitu pun denganku. Aku bahagia karena kalian menganggapku sebagai orang tua kalian sekarang, hal itu sudah cukup. Orang luar yang masuk ke dalam sebuah keluarga biasanya hanya akan menjadi pengganggu, dan aku tidak ingin kehidupan keluarga yang hangat ini diusik oleh orang lain yang baru hadir."


Tiffani memeluk Damar, dan rasanya ia sedang memeluk Richard sekarang. Tiffani sendiri tidak mengerti kenapa setiap melihat Damar, ia merasa seperti sedang melihat sosok Richard juga. Ia pernah mengatakan perasannya itu pada Gracella, dan Gracella mengatakan bahwa semua itu terjadi karena selama ini Damar selalu berada di samping Richard, jadi tidak mengherankan jika saat melihat Damar, seolah-olah sosok Richard pun hadir di sana.


"Sekarang kalian semua istirahatlah. Tidak baik kalian masih terjaga di jam segini," ujar Damar, menepuk punggung Tiffani dan segera keluar dari dalam perpustakaan sambil mengusap sudut matanya.


Sepeninggalan Damar, Gracella mendekat ke Tiffani.


"Sudahlah, hentikan tangisanmu. Dia bukan ayah kita,"ujar Gracella. Nada bicaranya dingin, membuat Tiffani tahu bahwa Gracella masih belum memercayai Damar.


Tiffani mengalihkan tatapannya dari pintu ke Gracella. "Tapi dia adalah orang kepercayaan ayah kita. Berhentilah mencurigainya, Grace."

__ADS_1


Gracella menggeleng. "Aku akan mencari bukti, jika memang aku salah, aku akan berhenti, tapi jika aku mendapatkan sedikit bukti saja, aku akan membuat dia mengaku."


Setelah mengatakan itu, Gracella segera keluar dari dalam perpustakaan, meninggalkan Tiffani dan Mona yang menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk.


"Gracella tidak mungkin menjadi begitu keras kepala jika dia tidak memiliki petunjuk. Aku rasa dia memang mengetahui sesuatu yang tidak ketahui, Fan. Bagaimana menurutmu?" Mona berpendapat, karena baginya memang tidak mungkin seseorang menuduh orang lain melakukan kejahatan jika tidak ada sesuatu yang orang tersebut ketahui.


Tiffani menggeleng. "Tetap saja sangat tidak masuk akal jika Om Damar yang memimpin semua aksi pencurian itu. Sangat, sangat tidak masuk akal." Tiffani masih tetap pada pemikirannya. "Gracella saja yang sensitif," tambahnya.


Mona menghela napas. "Ya, aku tahu. Istirahatlah kalau begitu, kita pikirkan semua hal membingungkan ini nanti saja. Ayo." Mona keluar dari perpustakaan sambil menuntun Tiffani.


***


Rama berhasil menjatuhkan sedikitnya lima orang pria bertubuh besar dengan tinjunya. Jika keadaan tidak terlalu mendesak, Rama memang lebih suka mengayunkan tinju daripada harus menembakkan peluru, dengan begitu barulah pertarungan bisa dikatakan adil, karena kebanyakan lawan-lawannya tidak memiliki senjata api seperti dirinya.


"Katakan, siapa pemimpin kalian?" tanya Rama, sambil memelintir lengan salah satu pria bertubuh besar hingga pria itu merintih kesakitan.


"Aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu!" jawab pria itu dengan suara yang gemetar menahan sakit.


"Argh! Kenapa kalian menekanku? Kalau aku bilang tidak tahu, ya, tidak tahu. Tanyakan saja pada yang lain, barangkali yang lain tahu."


Rama menegakkan tubuh pria besar itu, dan langsung mendaratkan tinju di wajahnya yang buruk rupa. "Aku tahu kalau kamu adalah mandor mereka semua. Kamulah yang bertanggung jawab di sini. Itulah sebabnya kami menekanmu. Sekarang katakan siapa pemimpin kalian, jika kamu tidak mengatakan apa pun, aku akan membakarmu hidup-hidup!" ancam Rama.


Pria besar itu bergidik, merasa ngeri membayangkan tubuhnya yang kepanasan dan terpanggang. Apalagi Rama mengeluarkan anacaman itu dengan ekspresi wajah yang menyeramkan, membuat si pria besar merasa kalau ancaman Rama bukanlah omong kosong belaka.


"Jangan lakukan itu. Aku sungguh tidak tahu. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya mendapat perintah dari Pak Dion, dan Pak Dion sepertinya mendapatkann perintah dari orang lain lagi, tapi aku tidak tahu siapa orang itu."


Rama dan Xavier saling berpandangan.


"Dion?" gumam Xavier.


"Berikan padaku alamat dan segala informasi tentang si Dion ini." Rama memerintah, lalu melepas cengkeraman tangannya dari pria besar.

__ADS_1


Mario yang berdiri di dekat Rama segera menghampiri si pria besar dan menyerahkan ponsel miliknya ke pria besar itu. "Catat semua yang kamu tahu di sini," pinta Mario.


Rama mengedarkan pandangan, memperhatikan semua kekacauan yang telah mereka buat. Para bodyguard dari pihak lawan berhamburan di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri, seperti dedaunan kering yang rapuh dan tak berdaya. Sedangkan bodyguard yang merupakan anak buah Rama tidak ada satu pun yang terluka. Mereka semua selamat dan terlihat bugar seperti saat mereka baru tiba di gudang tersembunyi tersebut.


"Rei, setelah ini ikat mereka semua dan telepon ke markas, minta beberapa tim untuk datang kemari dan bawa kembali semua senjata milik kita." Titah Rama, pada Rei.


Rei, yang sekarang merupakan salah satu bodyguard senior kepercayaan Rama mengangguk. "Aku akan segera meminta dua tim untuk datang kemari. Aku rasa jumlah segitu sudah cukup untuk mengawal barang kita agar tiba dengan selamat sampai ke tujuan."


Rama mengangguk. "Lakukan yang menurutmu baik," ujarnya, sambil mengacungkan ibu jari ke Rei.


"Siap, Tuan," ucap Rei dengan tegas.


Rama tertawa, kemudian melangkah menuju bagian luar gudang bersama dengan Xavier.


"Kita harus segera mencari tahu siapa itu Dion, dan untuk siapa dia bekerja," ucap Xavier saat mereka berdua telah tiba di luar gudang.


Rama merapatkan jaket yang ia kenakan, tubuhnya sedikit menggigil karena hawa dingin yang menerpa tubuhnya.


"Ya, aku setuju. Tapi, bisakah kita lakukan itu besok? Aku rasa aku harus pulang sekarang. Aku merindukan Tiffani," ujar Rama.


Xavier meninju bahu Rama begitu mendengar ucapan Rama. "Pulanglah, cuaca malam ini memang mendukung sekali untuk bercinta di ruang terbuka, balkon kamar misalnya."


Rama menggelengkan kepala mendengar perkataan Xavier. "Ckckck, dasar mesum, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu di saat seperti ini."


Xavier tertawa. "Sudahlah, jangan munafik. Gracella sendiri sangat suka bercinta di ruang terbuka, kami jarang melakukannya di dalam kamar, karena sinar rembulan dan embusan angin akan membuat tubuh telan-jang Gracella semakin terlihat menggairahkan, dan--"


"Tutup mulutmu. Dasar, Sialan!" Rama menendang tulang kering Xavier, lalu segera meninggalkan saudara iparnya itu secepat kilat.


Xavier tertawa melihat Rama yang berjalan dengan langkah cepat mendahuluinya. "Dia itu pria dewasa, tapi malu saat diajak berbicara tentang se-ks."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2