
Dylan mondar-mandir di teras kediaman mewah Richard Raendra. Ia ragu untuk masuk ke dalam rumah mewah tersebut, meskipun sejak tadi beberapa orang bodyguard mempersilakannya untuk masuk dan memintanya untuk menunggu di ruang tamu.
Dylan terlalu takut, ia takut akan menghadapi kemarahan Richard. Biar bagaimana pun juga ia pernah menyakiti Tiffani, sudah pasti Richard akan melampiaskan amarah ke dirinya, apalagi sejak kejadian beberapa tahun yang lalu itu Dylan belum sekali pun bertemu lagi dengan Richard, yang berarti Richard belum sempat memakinya dan menghajarnya sejak saat itu. Saat ia tertangkap berselingkuh dengan sepupu Tiffani sendiri.
"Masuklah, Pak Dokter, kenapa Anda masih berdiri di sini?"
Dylan tersentak. Ia terkejut begitu mendengar suara Adam yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Adam terlihat berkeringat, seperti baru saja berlari mengelilingi halaman sebanyak seratus kali.
"Ah, tidak, terima kasih. Sebenarnya aku sedang terburu-buru sekarang. Ada beberapa pasien yang harus aku tangani, dan--"
"Sebentar saja. Ada seseorang yang ingin mengucapkan terimakasih kepada Anda." Adam berujar sembari tersenyum, agar Dylan berhenti gemetar karena merasa takut dan gugup. "Santai saja, kami tidak akan mengolah Anda menjadi barbeque."
Menyadari bahwa Adam memperhatikan tangannya yang gemetar, Dylan segera memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Ngomong-ngomong siapa yang ingin bertemu denganku, apakah ayah gadis tadi?" tanya Dylan, ia enggan menyebut nama Tiffani, apalagi ia yakin sekali jika Adam belum bekerja di rumah itu saat ia menjalin hubungan dengan Tiffani. Jadi akan lebih baik jika ia berpura-pura tidak mengenal Tiffani.
"Ah, bukan, sama sekali bukan. Kondisi Tuan Richard saat ini tidak memungkinkan untuk menemui Anda. Sebagai gantinya, calon suami Nona Tiffani yang akan menemui Anda."
Dahi Dylan berkerut mendengar ucapan Adam. "Calon suami?"
"Ya, calon suami. Sebenarnya Anda sudah bertemu dengannya tadi di rumah si penjahat, tapi saat itu dia belum mengucapkan ucapan terima kasih dengan pantas. Itulah sebabnya dia meminta Anda untuk datang ke sini, agar dia bisa mengucapkan rasa terima kasih dengan lebih pantas dan sopan," jelas Adam, lalu ia menyentuh lengan Dylan dan memaksa Dylan untuk masuk ke ruang tamu. "Ayo masuklah ke dalam. Lebih baik menunggu di dalam daripada berdiri di teras seperti ini."
"Ah, tidak usah. Biarkan aku di luar saja. Aku lebih nyaman di ...." Dylan menghentikan ucapannya, saat ia melihat seorang gadis yang paling tidak ingin ia temui berdiri di ujung lorong dengan kedua mata melotot dan tangan di pinggang. "Grace," desis Dylan.
Adam membungkuk hormat ke Gracella, lalu ia beralih menatap Dylan. "Anda kenal degan salah satu nona kami?" tanya Adam.
Dylan meneguk saliva, ia terlihat salah tingkah dan juga ketakutan setengah mati.
"Tentu kami saling kenal. Sudah lama aku ingin bertemu dengannya, dan luar biasa sekali aku bisa bertemu dengannya sekarang!" ucap Gracella, yang mulai melangkah menghampiri Dylan yang sekarang berdiri bagai patung di tengah ruang tamu.
Tidak lama kemudian Rama, Tiffani, Mona, Sela dan Damar telah berkumpul, di ruang tamu, bahkan Xavier juga ada di sana,sedang menonton kemarahan Gracella yang sebentar lagi pasti akan meledak.
"Astaga. Dylan!" Seru Mona.
Mendengar seruan Mona, Dylan langsung menatap ke arah Mona, tatapannya begitu memelas, seolah meminta pertolongan pada Mona.
"Kamu kenal dia?" tanya Sela.
Mona mengangguk. "Dia Mantan pacar Tiffani yang berselingkuh dengan Gracella."
Sela berjengit. "Jadi dia si pengkhianat! Wah menarik. Tapi kenapa wajah pria itu begitu? lihatlah, dia ketakutan," komentar Sela.
Ucapan Mona dan Sela yang lumayan keras membicarakan hubungan antara Dylan, Tiffani, dan Gracella tentu saja sampai di telinga Gracella. Dan senyum sinis seketika terukir di wajah Gracella yang cantik.
"Tentu saja dia terlihat ketakutan. Dia telah melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa kumaafkan!" seru Gracella, dan dalam satu gerakan cepat Gracella menendang area sensitif Dylan, dan menampar wajah Dylan dengan mengerahkan seluruh tenaganya yang ada.
Buk! Plak!
"Aarrgghh!!" Dylan berteriak kesakitan, tangannya yang gemetar kini berada di area sensitifnya, menjaga area itu agar tidak lagi mendapat serangan dari Gracella.
"Bagaimana rasanya, hah?! Dasar bedebah sialan!"
__ADS_1
Buk.
Lagi. Gracella mendaratkan tendangannya, kali ini telapak kaki gadis itu mendarat di wajah Dylan dengan keras, dan seketika Dylan ambruk.
Melihat Dylan yang tidak berdaya, Gracella segera merampas pistol yang ada di saku jas Adam, dan mengarahkan pistol itu ke wajah Dylan.
"Astaga, lakukan sesuatu," ujar Tiffani, sambil menarik lengan Rama. "Grace bisa membu-nuhnya."
Rama menatap Tiffani dengan mata menyipit. "Kamu mengkhawatirkannya?"
"Bukan begitu, tapi--"
"Aku cemburu, Tiffani. Kalau aku tahu dia mantanmu, aku tidak akan mungkin meminta si cinta pertamamu itu untuk datang ke sini." Rama memotong ucapan Tiffani dan mulai merajuk seperti seorang anak kecil.
Tiffani menendang tulang kering Rama dengan keras, hingga Rama meringis kesakitan. "Jangan kekanak-kanakan. Cepat tolong dia!" titah Tiffani dengan kesal, ia tidak percaya jika Rama masih sempat merasa cemburu di saat situasi sedang genting seperti sekarang. Sungguh tidak tepat!
Mendapat perintah yang begitu tegas dari Tiffani, Rama pun segera menghampiri Gracella dan merebut pistol dari tangan gadis itu dengan gerakan yang secepat kilat khas Rama yang terlihat begitu cool.
"Jangan ikut campur," desis Gracella.
"Percayalah aku pun lebih suka jika kamu menembaknya, tapi Tiffani melarang dan dengan tegas memintaku untuk menolong si pengkhianat itu," ujar Rama sambil menunjuk Dylan yang masih meringkuk dan merintih di lantai.
Gracella melirik Tiffani, kemudian ia kembali menendang tubuh Dylan. "Urus saja dia, yang penting jangan sampai aku melihat wajahnya lagi!" Setelah mengatakan itu, Gracella segera berlalu dari ruang tamu, ia melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Melihat Gracella yang pergi begitu saja, Xavier memutuskan untuk mengekor langkah Gracella.
"Menenangkan nonaku!" Xavier balas berteriak."
"Ah, dasar anak itu." Damar mendengkus kesal, dan bersiap untuk menyusul Xavier. Namun, Tiffani menahan tangan Damar.
"Biarkan saja dia, Om," titah Tiffani.
***
Tok, tok, tok.
"Aku Xavier, apa aku boleh masuk?"
Gracella yang sedang duduk di tepi ranjang, sontak menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Ia mengatur napas sebelum mempersilakan Xavier untuk masuk.
"Ya, masuklah."
Pintu berayun membuka, dan Xavier yang kekar juga tampan kini berada di dalam kamar Gracella.
"Seharusnya kamu tidak datang ke sini. Suasana hatiku sedang tidak baik, dan di saat seperti ini rasanya aku ingin melampiaskan amarahku kepada siapa saja yang aku temui," ujar Gracella, dengan dada yang naik turun karena berusaha untuk menetralisir emosinya.
"Dengan cara apa biasanya Anda melampiaskan kemarahan Anda?" tanya Xavier, sambil terus mendekat hingga tiba di samping ranjang Gracella.
Gracella diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Xavier.
__ADS_1
"Menendang, menjambak, mencakar dan--"
"Apa Anda sudah pernah merasakan bagaimana rasanya melampiaskan emosi dengan cara yang menyenangkan?" tanya Xavier, memotong ucapan Gracella.
Gracella tahu ke mana arah pembicaraan Xavier, ia bukanlah gadis polos yang tidak tahu niat terselubung seorang pria padanya. Gracella pun bangkit berdiri dan menghampiri Xavier. Begitu telah tiba di hadapan Xavier, Gracella memindai pria itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, dan lagi-lagi kedua matanya begitu terpesona pada wajah rupawan dan tindik yang membuat Xavier terlihat lebih menarik dari yang seharusnya.
"Bagaimana caranya?" tanya Gracella, yang dengan berani mengulurkan tangan untuk menyentuh tindik di bibir Xavier.
Xavier tersenyum. Senyum memikat yang sejak awal telah menarik perhatian Gracella.
"Bolehkah kulakukan?" bisik Xavier di telinga Gracella.
Gracella bergidik. "Lakukanlah," ujarnya.
Dan tanpa menunggu lebih lama, Xavier langsung mendorong tubuh ramping Gracella dengan kasar ke atas ranjang. Awalnya Gracella sangat terkejut, karena Xavier tidak memperlakukannya dengan lembut, tetapi selanjutnya Gracella sungguh menyukai setiap tindakan datang yang Xavier lakukan. Xavier begitu agresif. Setiap sentuhan dari bibir dan tangan Xavier membuat Gracella tergila-gila.
Xavier melu-mat, menggigit, dan menjambak rambut Gracella dengan penuh gairah. Namun, tidak sekali pun Xavier menyentuh area yang tidak seharusnya. Padahal saat ini Gracella sudah sangat kualahan, ia ingin sekali merasakan sentuhan Xavier di payu-dara dan juga area sensitifnya.
Setelah beberapa saat saling beradu bibir di atas ranjang, Xavier buru-buru bangkit berdiri dan menjauh dari Gracella. Napas Xavier terengah, begitu pula dengan napas Gracella. Gairah keduanya telah terpancing, dan mudah sekali untuk menyerah pada gairah tersebut. Namun, Xavier bukanlah tipe pria kurang ajar yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kenapa?" tanya Gracella, yang terlihat kecewa, karena Xavier menghentikan ciuman mereka dengan begitu mendadak.
Xavier tersenyum. Ia duduk di tepi ranjang dan merapikan rambut Gracella yang berantakan. "Sampai di sini saja, Nona, karena aku masih perjaka, dan aku hanya akan menyerahkan keperjakaannku saat malam pertama," ujar Xavier sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Gracella sebelum berlalu dari hadapan gadis itu.
"Perjaka apanya!" gerutu Gracella, saat Xavier sudah tidak ada lagi di dalam kamarnya.
***
Sementara itu di dalam ruang baca, Tiffani, Mona dan Sela sedang sibuk memelototi Dylan yang terlihat tidak berdaya dan kehabisan tenaga. Tiffani memang meminta Rama untuk menolong Dylan, tetapi Tiffani dengan tegas melarang Dylan dibawa ke kamar tamu untuk diobati, hingga akhirnya ruang baca adalah satu-satunya ruangan yang menurut Damar pantas dijadikan tempat untuk mengobati wajah Dylan yang terluka.
"Aku sama sekali tidak tahu kalau Gracella juga ada di sini, Tiffani, setahuku dia tinggal di Amsterdam sejak kejadian itu, dan sejak saat itu aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Aku sungguh menyesal, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan keinginan ayah dan ibuku," ujar Dylan, yang mulai mengoceh saat tidak ada seorang pun yang mengajaknya berbicara. Padahal selain Tiffani, di dalam ruangan itu juga Rama dan Damar.
Tiffani diam saja, alih-alih mengajukan pertanyaan atas ocehan Dylan yang tidak ia mengerti, Tiffani justru menatap Dylan dengan tatapan tajam dan sengit.
Dylan menghela napas, lalu kembali berkata. "Aku menyesal karena telah berbohong padanya. Aku menyesal karena harus mengugurkannya bayi kami bahkan tanpa sepengetahuannya. Aku terpaksa melakukannya, Tiffani. Aku terpaksa membawanya ke rumah sakit dan meminta dokter untuk melakukan abortus pada kandungan Gracella."
Deg!
Tiffani terkejut. ia tidak menyangka akan mendengar penjelasan yang seperti itu dari Dylan.
"Menggugurkan? Apa maksudmu, Dylan?" tanya Tiffani.
Dylan terlihat bingung. "Jadi kamu tidak tahu? Grace tidak cerita padamu?"
Tiffani menggeleng.
"Mati aku," desis Dylan.
Bersambung.
__ADS_1