My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
HARI PEMAKAMAN DAN TIGA TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

Kami sudah berusaha, adalah kalimat yang paling dibenci oleh Tiffani, apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang dokter yang menangani ayahnya yang sedang sekarat.


Tiffani maju selangkah menghampiri Dokter Steve yang terlihat putus asa dan terpukul, lalu Tiffani meremas kerah kemeja dokter melang itu dengan keras.


"Tiffani, apa yang kamu lakukan." Rama mendekat, dan berusaha menjauhkan tangan Tiffani dari kerah kemeja Dokter Steve. Namun, Tiffani tidak memedulikan reaksi Rama. Ia menyentak tangan Rama dari lengannya dengan kasar. Ia tidak bisa terima begitu saja ketidakmampuan Dokter Steve untuk menyelamatkan ayahnya.


"Berusaha! Sudah berusaha! Kalau Dokter sudah berusaha, kenapa ayahku tidak bisa diselamatkan!" Tiffani berteriak tepat di hadapan wajah Dokter Steve. "Jumlah kalian banyak di dalam sana, tapi menyelamatkan nyawa satu orang saja kalian tidak bisa. Lalu, apa gunanya kalian, hah?! Apa?!"


Tim dokter yang masih berada di dalam ruang gawat darurat segera keluar begitu mendengar keributan yang terjadi, begitu juga dengan para perawat yang membantu menangani Richard beberapa jam yang lalu.


Tiffani menatap mereka semua dengan tatapan nyalang. "Dasar tidak berguna!"seru Tiffani, lalu menerobos masuk ke dalam ruang gawat darurat.


"Maafkan istriku. Aku sungguh minta maaf. Aku yakin dia tidak bermaksud untuk bersikap demikiam," ujar Rama, pada Dokter Steve dan yang lainnya.


"Tidak apa-apa, Pak Rama. Tiffani sedang hancur saat ini. Sikapnya tidaklah salah," ujar Dokter Steve, sambil mengusap bulir di sudut matanya. "Ayahnya baru saja meninggal. Bagaimana bisa dia menerima kenyataan pahit yang begitu menyedihkan."


Rama mengangguk, lalu segera menyusul Tiffani. Gracella menyusul tidak lama kemudian, begitu juga dengan Xavier dan Damar. Sementara Sela, Mona,dan Adam menunggu di luar ruangan sembari menangis sesegukan.


***


Keesokan harinya upacara pemakaman pun diadakan di pemakaman keluarga. Sekeras apa pun Tiffani memohon agar Richard membuka mata, tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi. Kedua mata Richard tetap tertutup rapat, membuat Tiffani merasa sangat terpukul. Tiffani merasa hancur dan terpuruk. Ia seperti didorong ke dalam sebuah jarang yang gelap dan dalam, hingga ia tidak bisa melihat apa pun lagi dan merasakan apa pun selain kegelapan dan sesak yang tiada akhir.


Damar menyentuh bahu Tiffani dan meremasnya. "Pemakaman sudah selesai, istirahatlah," ujar Damar dengan lembut.


Pemakaman memang telah usai sejak beberapa waktu lalu, para pelayat telah meninggalkan pemakaman. Namun, Tiffani tetap berdiri di sana, di hadapan gundukan tanah kemerahan yang ditaburi bunga berwarna-warni.


"Pak Damar kembalilah ke rumah bersama dengan yang lain. Di rumah masih banyak tamu, aku rasa Gracella tidak akan mampu menangani semuanya sendirian, toh dia tidak mengenal teman-teman ayah mertua. Aku akan di sini sebentar bersama dengan Tiffani," ujar Rama.


Damar bergantian menatap Tiffani dan gundukan tanah di hadapannya, membuat setetes bulir kembali terjatuh dari kedua sudut mata Damar.


"Bawa dia kembali ke rumah dengan selamat, Rama," lirih Damar.


Rama mengangguk. "Pasti. Pasti."


Damar menepuk pundak Rama, kemudian ia segera melangkah pergi, menjauh dari gundukan kemerahan yang membuat dadanya sakit.


Sepeninggalan Damar dan para bodyguard, tubuh Tiffani yang sejak tadi tegak berdiri tiba-tiba saja merosot, ia meringkuk di atas gundukan tanah di mana beberapa saat yang lalu ayahnya dibaringkan jauh di dalam tanah tersebut.


"Kenapa harus sesakit ini. Kenapa sesakit ini! Ayah! Ayah!" Tiffani meraung, tangannya *******-***** tanah yang basah.


Rama membiarkan, ia tahu jika Tiffani butuh waktu untuk menerima semuanya, dan menangis seperti yang sekarang Tiffani lakukan adalah salah satu cara terbaik untuk menumpahkan segala kesedihan yang mendalam. Rama pernah mengalaminya, itulah sebabnya ia tahu bagaimana hancurnya hati Tiffani sekarang.

__ADS_1


Rama berlutut di samping Tiffani, lalu ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Menangislah. Menangislah jika hal itu dapat membuatmu lega, Sayang."


***


Tiga tahun kemudian ....


"Tes, tes, tes. Beruang di mana posisi?"


"Berhentilah memanggilku beruang, atau aku akan memakanmu!"


"Kamu terlihat seperti beruang semenjak menikah, bagaimana bisa aku tidak memanggilmu beruang."


"Ck, itu tandanya istriku memberiku makan dengan baik. Lagi pula, menjadi lebih tembam bukan dosa, 'kan?"


"Ya, memang bukan dosa, tapi jujur saja kamu menjadi lebih lamban, Adam, jika begini terus terpaksa aku akan memghapusmu dari daftar bodyguard yang turun langsung ke lapangan jika kita sedang menjalankan misi."


"Sudahlah, Rama, biarkan saja dia. Jika dia tidak mau diet setelah ini, kita bisa korbankan dia saat ada musuh mendekat!" Suara Xavier terdengar pada headset bluetooth yang terpasang di telinga Rama dan Adam.


Ucapan Xavier membuat bodyguard yang lain tertawa, dan tawa semua bodyguard itu terdengar dengan jelas di telinga Adam.


"Awas saja kalian semua. Setelah misi ini selesai, aku pasti akan menghajar kalian satu per satu. Aku belum kehilangan keahlian untuk meninju orang."


Dor!


Suara tembakan terdengar tepat di belakang Adam, dan satu orang pria tumbang tepat di belakang Adam juga.


"Astaga! Aku tidak dengar dia mendekat." Adam memekik, begitu melihat tubuh yang baru saja ambruk.


Rama menurunkan teropong yang sejak tadi menempel di matanya. "Kamu menjadi tidak peka juga sekarang. Beruntung aku melihat penyusup itu."


"Dan beruntung tembakanmu tidak pernah meleset, padahal jarak kalian lumayan jauh," ujar Xavier.


"Aku berbakat menjadi penembak runduk. Keren, bukan?" Rama menyombong.


Xavier hanya tertawa.


"Aku rasa sudah saatnya kita masuk ke dalam sana sebelum transaksi itu dilakukan. Mungkin kita bisa menangkap bos mereka sekalian," ujar Rama, lalu melanjutkan, "Teman-teman, siapkan senjata kalian. Jangan lengah, bergeraklah cepat, dan jangan putus komplikasi."


Semua bodyguard yang sejak beberapa waktu lalu mengintai sebuah bangunan kosong yang diperkirakan menjadi tempat penyimpanan barang curian mulai bergerak maju begitu mendengar perintah dari Rama.


Xavier memimpin satu kelompok bodyguard berpengalaman yang berjumlah sepuluh orang ke bagian belakang gudang. Sedangkan Rama menyerang melalui jalur utama, yaitu bagian depan dengan ditemani oleh sepuluh orang bodyguard utama, yaitu Rei, Mario, Andi, Anton, Willi, dan lima bodyguard lainnya.

__ADS_1


Sementara penyerangan dilakukan oleh Xavier dan Rama, Adamlah yang bertugas untuk menangani para istri yang tidak berhenti menelepon karena khawatir.


Tiffani dan Gracella memang tidak berhenti menelepon, padahal mereka berdua tahu bahwa misi kali ini sangatlah penting. Dua kontainer senjata api tiba-tiba menghilang dari gudang penyimpanan senjata milik Richard, dan hal itu tidak bisa dibiarkan. Usaha gelap yang dirintis oleh Richard selama ini bisa bangkrut jika gudang mereka terus kehilangan. Beberapa bulan yang lalu juga mereka kehilangan satu kontainer, dan sekarang dua kontainer. Itulah sebabnya Xavier dan Rama terjun langsung dalam misi kali ini, padahal mereka berdua adalah bos sekarang, mereka adalah pemilik sah bisnis-bisnis yang Richard tinggalkan.


Tenanglah, Nyonya Tiffani, Rama baik-baik saja. Anda tahu bagaimana hebatnya dia, dia tidak mungkin terluka. Tunggulah sebentar lagi ....


Ah, ya, Nyonya Gracella, Xavier sedang di TKP sekarang. Anda tidak usah khawatir, dia hebat, dia tidak mungkin terluka ....


Kalimat itu terus keluar dari bibir Adam setiap kali ponselnya berdering, dan kali ini entah sudah berapa kali Tiffani dan Gracella menelepon hanya untuk menanyakan bagaimana keadaan Rama dan Xavier.


***


Di kediaman Richard ....


Mona memeluk Tiffani dan Gracella dengan erat begitu Tiffani meletakkan ponselnya di atas meja, ia merasa bersyukur karena kedua temannya itu mau membantunya.


"Terima kasih. Setidaknya dia merasa bahwa dirinya berguna. Kalau tidak diberi tugas dan tidak dibuat repot, dia pasti akan uring-uringan, padahal kan dia memang tidak bisa melakukan apa pun sekarang," ujar Mona.


Tiffani tertawa. "Si beruang sangat menjunjung harga diri. Mana mau dia duduk diam kemudian diberi bayaran atas kegiatan duduknya itu sedangkan yang lain harus berkelahi mati-matian agar mendapat bayaran."


"Ya, itulah sebabnya aku memintamu untuk meneleponnya terus. Jika tidak begitu, dia akan merasa jika dirinya makan gaji buta. Ah, aku tidak menyadari sejak kapan tubuhnya jadi menggemaskan seperti itu." Mona menggerutu.


"Ajak dia diet, jika tidak tubuhnya akan terus membesar." Gracella menyahut dari tempatnya duduk. Gracella sejak tadi memang hanya diam, ia sibuk memikirkan sesuatu, sesuatu yang sejak awal muncul di dalam pikirannya langsung dibantah habis-habisan oleh Tiffani.


Tiffani bangkit berdiri dan menghampiri Gracella. "Apa yang kamu pikirkan? Kamu terlihat tegang. Istirahatlah, tidak baik bagi kandunganmu jika kamu stres, Grace."


Gracella menegakkan duduknya, ia menatap Tiffani lekat-lekat dan berkata, "Serius kamu tidak curiga padanya, Fan? Di gudang terjadi pencurian besar-besaran. Pelaku tidak mungkin orang lain. Aku yakin pasti dia pelakunya."


Tiffani berdecak. "Jangan membicarakan ini lagi, Grace."


"Kenapa tidak?!" Gracella berkeras.


"Karena ucapanmu itu sangat tidak masuk akal. Mana mungkin Pak Damar yang melakukan semua ini. Aku mengenal Pak Damar lebih baik daripada kamu mengenalnya--"


"Dan itu bukan jaminan!" Gracella memotong ucapan Tiffani.


"Iya aku tahu, tapi Pak Damar ... tidak mungkin, Grace."


"Apanya yang tidak mungkin, Nak Tiffani." Damar muncul di ambang pintu perpustakaan, di mana Tiffani dan Gracella sering berkumpul untuk membicarakan hal-hal penting bersama dengan Mona dan Sela.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2