
Gracella tidak dapat bergerak saat tubuh besar Xavier berada di atas tubuhnya. Sementara Xavier terperangah hingga tak sadar jika tubuhnya saat ini menjadi beban bagi tubuh Gracella yang ramping.
Wajar saja jika Xavier terpaku dan tidak segera bangkit berdiri begitu ia menatap Gracella. Gracella sangat cantik di matanya, memang tidak secantik Tiffani, tapi tetap saja Gracella cantik dan terlihat sangat feminin.
"Maaf, bisakah Anda berdiri? Aku merasa sangat tidak nyaman," ujar Gracella, pada Xavier yang masih berada di atas tubuhnya.
Xavier tersentak, dan kemudian ia sadar jika posisi mereka saat ini memang sangat tidak nyaman.
"Ah, maaf," ucap Xavier, lalu perlahan bangkit berdiri dan kemudian ia mengulurkan tangan ke Gracella. "Biar aku bantu. Apa kamu tidak apa-apa?"
Gracella tersenyum, dan menerima uluran tangan Xavier agar ia bisa bangkit berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih," ujar Gracella, sembari menundukkan sedikit wajahnya.
Xavier kembali terperangah, karena bukannya memarahinya yang telah menabrak tubuh Gracella, Gracella malah bersikap biasa saja dan tetap sopan padanya seolah tidak ada kejadian tidak menyenangkan yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Kamu satu-satunya wanita sejati di rumah ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya yang aku tabrak dan yang aku buat jatuh adalah salah satu dari tiga gadis itu. Pasti akau sudah babak belur dihajar oleh mereka sekarang," ucap Xavier, sembari menunjuk Tiffani, Mona, dan Sela yang masih duduk di hadapan meja makan dan menonton apa yang tengah terjadi .
Gracella kembali tersenyum. "Aku tahu Anda tidak sengaja."
Xavier menjentikkan jemari di hadapan Gracella. "Benar sekali, aku memang tidak sengaja. Semoga kamu benar-benar tidak apa-apa."
"Ya, aku sungguh tidak apa-apa," ujar Gracella, lalu segera melangkah menuju meja makan, diikuti oleh Xavier yang kemudian menarik satu buah kursi untuk Gracella.
Garecella terkejut karena ternyata Xavier mengikutinya hingga ke meja makan, pria itu bahkan menyiapkan kursi yang akan ia duduki.
"Anda tidak perlu seperti ini, aku bisa melakukannya sendiri, Tuan ...."
"Xavier, namaku Xavier. Kamu tidak perlu berbicara formal padaku, dan tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan, karena aku hanya seorang bodyguard, dan jika tidak keberatan ...." Xavier menggantungkan ucapannya, dan beralih menatap Richard untuk berbicara pada pria itu.
"Apa?" tanya Richard, yang membalas tatapan Xavier.
"Aku ingin jadi bodyguardnya," ucap Xavier lagi.
Richard tersenyum, lalu meletakkan sendok dan garpu di tangannya. "Aku tidak dapat memutuskan hal itu untuk Gracella, apalagi dia sudah memiliki bodyguard. Semua terserah padanya."
Gracella diam saja, ia mengambil dua lembar roti tawar dan mengoles roti tawar gandum tersebut dengan selai kacang, lalu ia mengambil dua lembar lagi untuk menutupi bagian atas roti yang telah ia oles dengan selai. Gracella melakukannya dengan perlahan, seolah ia memiliki dunia sendiri dan tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk Richard dan Tiffani.
Setelah dua buah roti lapis itu siap disantap, ia pun mendongak agar dapat menatap Xavier yang berdiri tepat di sebelah kursinya.
"Duduklah, temani aku makan," pinta Gracella.
Xavier terkejut, dan merasa senang karena Gracella terlihat ingin menjalin hubungan dengannya. Entah itu hubungan pertemanan, atau hanya hubungan antara seorang majikan dan pelayan, apa pun itu Xavier merasa sangat senang.
"Dengan senang hati," ucap Xavier, lalu kemudian ia duduk tepat di samping Gracella.
"Kamu tidak alergi dengan kacang, 'kan?" Gracella memberikan satu roti lapis miliknya ke Xavier.
Xavier menggeleng sambil menerima roti dari tangan Gracella. "Tidak, aku tidak alergi dengan apa pun."
"Bagus, kalau begitu selamat makan," ujar Gracella, lalu kemudian ia beralih memandang Rama yang duduk di seberangnya bersama dengan Tiffani dan Richard. "Rama," ujar Gracella.
__ADS_1
"Ya, Grace. Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Rama sambil bangkit berdiri.
"Ah, tidak, tidak, duduk saja, Rama. Aku hanya ingin mengatakan kalau mulai sekarang Xavier adalah bodyguardku. Aku mengatakan di depan banyak orang agar tidak ada yang salah paham lagi dan menganggap kalau aku ingin merebutmu dari Tiffani. Namun, tidak dapat dipungkiri kalau aku memang menyukaimu dan aku rasa aku butuh waktu untuk menyingkirkan rasa ini. Jadi, Tiffani jaga lah Rama dengan baik sebelum aku berpikir untuk benar-benar merebutnya darimu, karena jika aku telah meniatkan apa yang kuinginkan, aku tidak akan setengah-setengah. Dia pasti akan jadi milikku untuk selamanya," ujar Gracella panjang lebar, lalu kembali melanjutkan makannya.
Richard dan rama sama-sama menghela napas dengan berat begitu Gracella selesai berbicara. Bagi keduanya, apa yang baru saja Gracella ucapkan bukanlah bentuk dari dimulainya genjetan senjata, justru dengan mengatakan semua itu Tiffani akan semakin membenci Gracella, dan akibatnya api permusuhan di antara keduanya tidak akan pernah padam sampai kapan pun.
***
Tiffani terus memelototi Rama sejak Gracella secara terang-terangan mengakui ketertarikannya pada Rama di ruang makan pagi tadi. Saat pertama kali mendengar perkataan Gracella, tentu saja Tiffani merasa sangat kesal, ingin rasanya ia menghampiri Gracella dan membungkam mulut Gracella dengan setumpuk roti yang diberi bubuk chilli saat itu juga. Namun, tidak mungkin ia melakukan hal itu di depan ayahnya, karena ia tidak ingin jika ayahnya menjadi kecewa atas sikapnya. Toh ayahnya ingin agar ia dan Gracella menjadi akur, maka ia bertekad akan berbaikan dengan Gracella apa pun yang terjadi.
Sekarang, beberapa jam telah berlalu, Tiffani juga Rama sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, tetapi rasa kesal di dada Tiffani tidak kunjung menghilang. Ia malah semakin merasa cemburu karena memiliki saingan secantik Gracella, dan parahnya lagi saingannya itu adalah saudaranya sendiri. Sungguh sebuah ironi.
"Kamu pasti senang sekali, 'kan? Kamu pasti berbunga-bunga karena Gracella benar-benar menyukaimu. Dia bahkan terang-terangan mengatakan akan merebutmu dariku," ucap Tiffani, pada Rama yang sedang menyetir saat ini.
Rama melirik Tiffani yang duduk di sebelahnya. "Kamu cemburu?" tanya Rama.
"Bukannya menjawab pertanyaanku, kamu malah mengajukan pertanyaan padaku. Apa begitu sulit menjawab pertanyaan yang aku ajukan, hah?"
Rama tersenyum mendengar omelan Tiffani, walaupun sedang mengomel, tapi di telinga Rama suara Tiffani terdengar seperti lantunan melodi yang begitu indah untuk didengar.
"Di dalam sebuah percintaan tidak ada kasus rebut-merebut, Tiffani, karena setiap objek yang terlibat di dalamnya adalah manusia. Dan manusia yang memilih untuk pergi dari kekasihnya hanya demi wanita lain pasti melakukannya secara sadar, bukannya direbut seperti istilah yang sering terdengar, karena sepasang kekasih adalah manusia bernyawa yang berakal bukannya benda mati yang mudah dipindahkan ke mana saja. Dan apa menurutmu aku terlihat seperti manusia yang akan meninggalkan kekasihku hanya demi wanita lain?" tanya Rama, sambil meraih tangan Tiffani dan mengecup punggung tangan gadis itu berulang kali. "Aku cinta mati padamu, mana bisa aku pergi darimu, bahkan jika kamu membuangku, aku pasti akan kembali. Lalu, jika kamu kembali membuangku lagi, aku pasti akan kembali lagi, dan lagi. Begitu seterusnya sampai kamu merasa bosan dan kemudian memutuskan untuk membuangku ke dalam kawah gunung berapi."
Darah Tiffani berdesir begitu ia mendengar apa yang baru saja Rama katakan. Ucapan Rama sangat menyentuh hati Tiffani, membuatnya ingin menangis karena terharu. Ia senang karena Rama mencintainya dengan begitu tulus dan tanpa pamrih.
"Aku tidak akan membuangmu ke dalam kawah gunung berapi," ujar Tiffani sambil tersenyum.
Rama membalas senyuman Tiffani. "Terima kasih, aku senang mende ...."
Sebuah benturan hebat yang begitu keras terjadi pada mobil yang sedang Rama kemudikan. Rama kehilangan kendali akibat benturan itu, membuat mobil berputar sebelum akhirnya menabrak mobil lain yang berada tepat di samping mobil Rama, dan kemudian menabrak pembatas jalan.
"Argh!" rintih Rama. Kepala Rama terasa amat sakit akibat benturan yang ia alami. Bumi seperti berputar dengan cepat, membuatnya tidak dapat memfokuskan diri untuk melihat bagaimana keadaan Tiffani yang kini tidak lagi bersuara.
Rama meraba-raba tempat duduk Tiffani, dan ia begitu lega karena dapat merasakan tangan Tiffani yang masih ada di sebelahnya, itu berarti tubuh Tiffani tidak terlempar keluar dari dalam mobil, karena ia ingat betul Tiffani menolak mengenakan safety belt sebelum mereka berangkat.
"Tiffani," gumam Rama, sambil meremas telapak tangan Tiffani, ia sungguh berharap Tiffani merespon dan menjawab seruanya. Namun, beberapa saat kemudian Rama merasakan tangan Tiffani mulai terlepas dari genggamannya, dan kemudian Rama tidak lagi dapat merasakan tangannya yang menggenggam tangan Tiffani.
"Tidak. Tiffani, Tiffani!"
Rama panik, ia tahu jika Tiffani saat ini tidak ada di sebelahnya. Ia berusaha untuk bergerak, tetapi usahanya itu semakin memperburuk keadaannya. Telinganya berdengung, kepalanya semakin berdenyut, pandangannya semakin kabur, dan akhirnya segalanya menjadi gelap dan hening.
***
Sebuah mimpi buruk terjadi hari ini, dan Tiffani sama sekali tidak pernah menyangka akan mengalami semua kejadian mengerikan seperti yang sekarang ia alami.
Tabrakan, atau lebih tepatnya mobil yang sedang Tiffani tumpangi ditabrak oleh sebuah truk pengangkut barang.
Tiffani dapat merasakan saat tubuhnya dipaksa keluar dari dalam mobil yang mulai berasap pada bagian mesinnya. Sebelum tangan-tangan asing itu menjangkau tubuhnya dan memisahkan dirinya dari Rama, ia dapat mendengar gumaman Rama yang memanggilnnya, ia juga dapat merasakan tangan hangat Rama yang menggenggam tangannya, ia pun dapat melihat walaupun tidak terlalu jelas bagaimana wajah Rama yang berdarah karena terkena serpihan kaca mobil yang pecah.
Tiffani ingin menyentuh Rama, tapi kemudian seseorang menyentuh pinggangnya, menarik tangannya dari genggaman Rama dan kemudian menggendongnya menuju sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari lokasi kecelakaan.
Tiffani berontak, ia tidak ingin meninggalkan Rama, tetapi kondisinya yang juga terluka membuat perlawanannya tidak maksimal. Hal terakhir yang Tiffani dengar sebelum akhirnya jatuh pingsan adalah, "Kita biarkan saja bodyguardnya terbakar bersama dengan mobilnya, yang terpenting bagi kita adalah putri si Raendra ini. Bos meminta kita untuk membawanya hidup-hidup"
__ADS_1
***
Richard duduk di ruang kerjanya bersama dengan Xavier dan juga Damar. Sesekali Damar menarik telinga Xavier dengan keras, karena ia kesal pada keponakannya yang keras kepala itu.
"Sudah aku katakan jangan datang kemari. Bagaimana bisa kamu meninggalkan gudang begitu saja, padahal gudang yang kamu jaga adalah pusat segala aktivitas bisnis Tuan. Kalau sampai terjadi kekacauan di sana, aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu, Vier!" omel Damar.
Xavier menutup telinganya dengan tangan begitu Damar mulai mengomel, karena sudah sejak tadi Damar hanya mengatakan hal yang itu-itu saja, hingga membuatnya bosan setengah mati.
Melihat tingkah keponakannya itu Damar segera mendaratkan pukulan berulang kali di punggung Xavier. " Menyesal sekali aku sudah membesarkanmu dan memberimu yang banyak sejak kamu kecil, kalau ternyata tubuh besarmu ini hanya kamu gunakan untuk melawanku. Dasar anak nakal."
Xavier meringis, tetapi ia tidak sekali pun melawan tindakan Damar, karena ia sangat menghormati Damar. Damar sudah seperti ayah baginya, mana mungkin ia berani melawan Damar walaupun tubuhnya lebih besar dan kuat dari Damar.
Setelah beberapa saat memukuli Xavier, Damar akhirnya kelelahan, tangannya juga sakit. Ia pun menjauh dari Xavier dan kembali duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Richard.
"Kamu berkeringat, padahal kamu hanya memukulinya sebentar," komentar Richard.
Damar mengusap keringat yang membasahi wajahnya dengan tisu sambil mendelik kesal ke Xavier. "Tubuhnya keras sekali, entah apa yang dia makan selama ini, aku pun bingung."
Richard tertawa. "Dia jagoan kita, wajar jika tubuhnya keras."
Xavier kemudian menatap Richard dengan tajam, kalian ini ia terlihat serius.
"Aku tidak akan datang ke sini jika aku tidak mendengar kabar tentang penyakit yang Anda derita, Tuan, aku bahkan mendengar kalau Anda tidak memiliki waktu yang lama lagi. Bukankah Anda sangat kejam karena tidak mengatakan semua ini padaku. Apa Anda memang tidak berniat untuk mengucapkan selamat tinggal padaku? Padahal selama ini aku sudah menganggap Anda seperti orang tuaku sendiri. Menurut Anda apa yang akan terjadi pada seorang anak yang tiba-tiba saja mendengar kabar kematian orang tuanya?"
Richard tersenyum, senyumnya telihat tulus dan sekaligus terlihat sangat sedih. "Maafkan aku, aku sama sekali tidak berpikir jika aku adalah sosok yang penting bagimu, Vier."
Xavier mendengkus kesal. "Itulah kesalahan yang berulang kali Anda lakukan. Anda selalu memberi dan memberi, tanpa menyadari jika semua itu membuat Anda menjadi sosok yang penting bagi orang-orang yang mendapatkan perhatian dari Anda. Aku yakin sekali, bukan hanya aku yang akan merasa kehilangan saat Anda telah tiada. Pasti ada banyak sekali orang yang sayang pada Anda, Tuan."
Richard mengangguk. "Ya, aku menyadari itu sekarang. Maafkan aku karena telah membuatmu marah dan kecewa, aku sungguh minta maaf."
"Jangan katakan itu, Tuan, justru akulah yang minta maaf karena datang mendadak dan mengataimu tua bangka juga segala macamnya. Aku terlalu emosi saat itu karena harus mengetahui kenyataan yang begitu mengerikan dari orang lain bukan dari mulut Anda sendiri."
Richard kembali tertawa. "Jangan katakan hal itu lagi jika kamu ada di hadapan Tiffani, bisa-bisa Tiffani akan memasukanmu ke dalam gudang dan mengurungmu di sana selama satu bulan tanpa makan dan minum. Asal tahu saja, Putriku itu sangat kejam."
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu menghentikan pembicaraan antara Richard dan Xavier.
Damar bangkit dari duduknya dan segera melangkah menuju pintu.
"Ada apa, Mona?" tanya Damar, begitu pintu terbuka dan ia melihat Mona berdiri di depan ruang kerja Richard dengan wajah yang pucat pasi.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Damar lagi.
Mona mengangguk. "Tiffani dan Rama ... mereka kecelakaan saat sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," ucap Mona dengan suara yang gemetar.
"Apa?!" Damar terkejut.
"Dan ... Tiffani ... dia, Rama, maksudku hanya ada Rama saat ambulans datang. Tiffani tidak ada."
Bersambung.
__ADS_1