My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Koki & Suami


__ADS_3

Brian menatap mata Valerie penuh harap, sementara Valerie tidak bisa memberikan jawaban saat ini. Masih banyak hal yang tidak diketahui oleh Brian tentang dirinya. Valerie bahkan belum mengungkap jati dirinya. Mana mungkin ia bisa menerima lamaran seorang laki-laki saat laki-laki itu tidak tahu apa-apa tentang siapa dirinya yang sesungguhnya.


Melihat Valerie hanya diam membisu, Brian tersenyum samar.


"Aku pasti membuatmu bingung. Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya mengutarakan keinginanku. Terlepas kapanpun kau siap, aku akan sabar menunggu," ujar laki-laki itu.


"Kita belum lama saling mengenal, akan terlalu cepat jika kau memutuskan untuk menikahiku tanpa mengenal lebih jauh tentangku," terang Valerie.


"Aku hanya perlu tahu bahwa kau mencintaiku. Hal itu saja sudah cukup bagiku."


"Apa cinta saja cukup?"


"Apa lagi yang aku butuhkan? Memilikimu adalah hal terbesar dalam hidupku."


Valerie tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya dan memeluk pinggang laki-laki tampan di hadapannya.


Saat keduanya berpelukan, terdengar suara pintu yang diketuk. Brian segera keluar dan kembali dengan membawa sekantong sayuran serta daging dan beberapa macam bumbu dapur.


"Kita akan memasak makan siang sendiri?" tanya Valerie.


"Siapa bilang kita yang akan memasaknya. Aku sendiri yang akan memasaknya," jawab Brian.

__ADS_1


"Kau?"


"Hmm, aku. Kenapa? Kau tidak percaya jika aku bisa memasak?" Brian balik bertanya.


"Baiklah, aku akan melihatnya." Valerie tersenyum menggoda.


Brian merangkul pinggang wanita itu dan mengajaknya berjalan memasuki dapur. Brian meminta Valerie duduk, sementara ia mulai menata semua bahan dapur di atas meja.


Valerie diam dan mengamati Brian dengan teliti. Laki-laki itu mulai menggulung lengan kemejanya, ia mencuci semua bahan makanan yang akan ia gunakan.


Dalam hati, Valerie tidak pernah berhenti memuji Brian. Selain pandai dalam berbisnis, rupanya ia juga terampil dalam hal memasak. Meski belum tahu bagaimana jadinya nanti, namun Brian tampak begitu meyakinkan.


Brian memotong sayuran dengan cepat, ia bahkan bisa melakukannya dengan mata memandang Valerie. Laki-laki itu seakan unjuk kemampuan, dan Valerie mengaguminya.


"Bahkan jika jariku terpotong, pasti tidak akan terasa sakit saat kau ada di dekatku," jawab Brian.


"Dasar!" decak Valerie. Sejak kapan laki-laki itu pandai membual?


Brian memasak dengan sangat cepat, ia nampak seperti sudah terbiasa berada di dapur. Sementara Valerie hanya bisa menatap iri.


"Kau tahu, aku bahkan tidak bisa memasak," keluh Valerie.

__ADS_1


"Benarkah? Tidak apa-apa. Aku bersedia memasak untukmu setiap hari."


"Benarkah?"


"Hmm, tentu. Saat kita menikah nanti, kau hanya perlu duduk manis menungguku, dan aku akan menyiapkan makanan terbaik untukmu."


"Sepertinya menyenangkan," ujar Valerie. "Sejak kapan dia seromantis ini?" Ia bertanya dalam hati.


Dengan segala peralatan memasak yang lengkap, Brian bisa menyelesaikan masakannya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.


Valerie membantunya menyiapkan makanan di atas meja makan. Keduanya duduk berhadapan dan saling pandang.


"Cicipilah," pinta Brian.


"Semuanya terlihat enak," ucap Valerie. Ia mulai memotong daging dan mencicipinya.


"Bagaimana? Apa aku sudah layak menjadi seorang suami?"


"Hmm, ini enak. Kau layak menjadi koki."


"Mengapa aku harus menjadi koki jika aku bisa menjadi suamimu? Aku bisa memasak untukmu setiap hari," goda Brian.

__ADS_1


"Kau gigih sekali," ucap Valerie. Ia menatap Brian dengan senyum samar.


🖤🖤🖤


__ADS_2