My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
WANITA DI TANGAN PRIA YANG TEPAT


__ADS_3

"Gracella memang gila!" Itulah hal yang pertama kali Xavier pikirkan saat ia mendengar apa yang Richard katakan. Tidak pernah sekali pun terlintas di dalam pikiran Xavier bahwa ia akan dilamar oleh ayah dari seorang wanita. Bukankah sebagai seorang pria seharusnya ia yang melamar, bukan sebaliknya.


"Maaf, Tuan, tapi siapa yang Anda maksud?" tanya Xavier dengan gugup. Kedua tangannya bahkan terus menarik tepi celana yang ia kenakan untuk menutupi rasa gugup yang tidak bisa dikendalikan. Sungguh Xavier terlihat polos sekali sekarang, seperti seorang anak kecil yang menggemaskan.


Richard berusaha menahan senyum yang ingin mengembang di bibirnya. Melihat bodyguardnya yang gagah berubah menjadi pria polos yang pemalu memang terasa lucu sekali. Tidak biasanya Xavier terlihat demikian.


"Tentu saja Gracella, memangnya siapa lagi. Kamu pasti sudah mendengar bahwa Gracella adalah putriku juga, hanya saja sejak masih bayi ia tinggal bersama dengan saudara kembarku," ujar Richard, menjawab pertanyaan yang Xavier ajukan.


Xavier mengangguk. Ia memang sudah mendengar semuanya, termasuk kabar bahwa usia Richard tidak akan lama lagi. "Ya, Tuan, aku sudah mendengar semua itu. Tapi, melamar ... apa Anda tidak salah? Hem, maksudku mana mungkin aku yang hanya seorang bodyguard ini menikah dengan putri Anda."


Damar meninju punggung Xavier. "Jangan bicara begitu. Rama juga seorang bodyguard, dan dia akan menikah dengan Tiffani."


Richard mendelik ke Xavier. "Tidak masalah bagiku, yang terpenting adalah kebahagiaan putriku. Aku bukan tipe orang yang tergila-gila pada gelar dan kedudukan. Dengan kata lain, aku bukan orang yang akan memandang status sosial seseorang, Xavier, kecuali memang kamu tidak setuju dan menolak, aku bisa apa."


Xavier berlutut di hadapan Richard, dengan terbata-bata ia berkata, "Mana mungkin aku berani menolak apa yang Anda inginkan, Tuan. Aku akan mengabdi pada Anda selamanya. Aku berjanji."


Richard terlihat kecewa dengan apa yang Xavier katakan. Ia menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangan, menatap dinding yang dipenuhi lukisan-lukisan seniman terkenal dari berbagai macam negara seperti, Pierre Soulages, pelukis terkenal asal Prancis, dan Georg Baselitz, pelukis asal Jerman.


Melihat kekecewaan yang tergambar jelas di wajah Richard, membuat Xavier bertanya-tanya apakah ia salah bicara.


"Tuan, maaf, apa perkataanku salah?" Xavier memberanikan diri untuk bertanya.


Richard mengangguk, dan anggukan pria tua itu membuat jantung Xavier berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Aku tidak membutuhkan pengabdianmu, Xavier, karena pernikahan adalah hal yang sangat jauh berbeda dengan pekerjaan yang biasanya kamu lakukan untukku. Aku hargai janjimu untuk selalu mengabdi kepadaku, tapi kali ini yang aku butuhkan adalah cinta dan kasih sayang tulusmu untuk putriku, karena yang akan kamu nikahi adalah putriku, bukan aku," ucap Richard pada Xavier.


Xavier memejamkan mata, ia sadar sekarang jika ucapannya memang seribu persen salah.


"Tuan, maafkan aku. Aku--"

__ADS_1


"Apa kamu tidak menyukai Grace? Apa cinta putriku bertepuk sebelah tangan?" Richard kembali bertanya, memotong permohonan maaf yang Xavier ucapkan.


Xavier menggeleng dengan cepat. "Bukannya begitu, Tuan. Aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya, dan aku jatuh cinta padanya sejak saat itu. Hanya saja lamaran mendadak ini membuatku benar-benar terkejut. Lagi pula, bukankah seharusnya aku yang melamar Gracella, bukannya Anda. Itulah sebabnya aku jadi salah tingkah."


Richard diam sejenak, kemudian setelah beberapa saat ia pun tertawa terbahak-bahak. "Ah, benar juga. Seharusnya kamu yang melamar putriku. Kenapa jadi terbaik seperti ini."


Damar ikut tertawa, sementara Xavier mulai menggerutu. "Anda benar-benar merusak momen, Tuan."


Mendengar keluhan yang keluar dari bibir Xavier, Damar segera menendang tulang kering pria muda itu. "Lancang sekali. Beraninya kamu berkata seperti itu, Vier."


"Biarkan saja, biarkan saja. Aku yang salah. Pria sejati mana yang akan terima jika dilamar oleh ayah seorang gadis." Richard menghentikan Damar yang mulai mengomeli Xavier. Masih sambil tertawa, ia melirik Xavier. "Kalau begitu lamarlah putriku, dan aku akan menyiapkan pernikahan kalian. Kalian akan menikah dalam dua hari, begitu juga dengan Tiffani dan Rama."


"Secepat itu!" seru Xavier, yang kali ini terlihat lebih terkejut daripada sebelumnya.


Richard mengangguk. "Waktuku tidak banyak, Vier."


Tiffani menarik Rama dari satu manekin ke manekin yang lain yang terdapat di sebuah butik gaun pengantin milik desainer ternama di ibu kota. Membolak-balik katalog di dalam kamar bersama dengan saudari dan juga kedua temannya terasa amat membosankan bagi Tiffani, sehingga ia memaksa Rama ikut dengannya untuk datang langsung ke butik. Dengan begitu ia akan memiliki waktu untuk berduaan dengan Rama tanpa ada yang mengganggu.


Sekarang sudah dua jam berlalu, dan Tiffani belum memutuskan model gaun seperti apa yang ia inginkan. Dari deskripsi yang Tiffani jabarkan, jelas sekali jika gadis itu ingin mengenakan semua model gaun pengantin yang tersedia. Dan itu semua tentu tidak mungkin.


"Jadi, Sayangku, katakan padaku, model gaun mana yang kamu inginkan?" Rama bertanya dengan nada yang selembut mungkin. Ia tidak ingin jika calon pengantin wanitanya menjadi tersingung karena mengira jika ia tidak sabar menunggu Tiffani menentukan pilihan.


Tiffani menggigiti kuku jemarinya, sementara kedua matanya yang indah masih menjelajah, terlihat bingung karena harus memilih satu dari puluhan model gaun yang semua terlihat indah.


"Yang mana, ya?" Tiffani balik bertanya, sama seperti sebelumnya.


Rama mengatur napas. Ia harus lebih bersabar menghadapi Tiffani yang sedang kebingungan seperti sekarang. Jika ia salah bertindak dan membuat Tiffani marah bisa-bisa calon pengantinnya itu malah menodongkan senjata ke kepalanya, mengingat calon pengantinnya adalah putri dari seorang mafia terkenal, bukan wanita biasa.


"Bolehkah aku pilihkan?" tanya Rama.

__ADS_1


Tiffani mengangguk. "Tentu," jawab Tiffani sambil tersenyum.


Rama kemudian menggenggam tangan Tiffani dan menuntun gadis itu menuju sebuah manekin yang terdapat di tengah-tengah ruang pameran utama.


"Sejak awal aku sudah menyukai yang ini," ujar Rama.


Tiffani memandang gaun yang ada di hadapannya. Gaun indah berwarna putih cemerlang dengan model bell sleeve berpotongan leher rendah dan dilengkapi dengan veil transparan memang terlihat begitu elegan, walaupun bagi Tiffani gaun itu terlalu sederhana.


"Kamu memiliki kecantikan yang alami, Tiffani. Gaun yang sederhana akan membuatmu semakin bersinar, dan aku yakin sekali jika gaun ini akan sangat cocok untukmu," ujar Rama, lalu ia menambahkan, "Tapi, tentu saja keputusan ada di tanganmu, jika kamu ingin yang lain--"


"Aku pilih yang ini. Mana mungkin aku menolak apa nyang menjadi keinginanmu."


Rama tersenyum mendengar ucapan Tiffani yang begitu tulus. "Jangan memilih karena hanya aku ingin. Kamu juga harus suka dengan apa yang akan kamu kenakan."


"Ya, aku tahu. Tapi bagiku rasa sukamu lebih penting, toh aku ingin terlihat cantik dan sempurna di matamu, Rama. Lagi pula, gaun ini memang cantik sekali. Aku suka, sungguh." Tiffani berusaha meyakinkan Rama. "Aku akan mengatakan pada desainernya, setelah itu mari kita temui Xavier, bukankah hari ini dia akan melamar Gracella secara resmi."


Rama mengangguk. "Ah, iya, benar juga. Aku hampir melupakan hal itu."


Tiffani berdecak. " Bagaimana bisa kamu melupakannya, padahal Xavier uring-uringan sepanjang waktu karena dia merasa tidak terima Gracella melamarnya lebih dulu. Xavier merasa harga dirinya sebagai seorang pria macho tiba-tiba saja lenyap tak tersisa. Gracella lebih mendominasi dibanding Xavier."


Rama tertawa mendengar ucapan Tiffani. "Ya, begitulah jadinya jika berurusan dengan putri Richard Raendra. Bukankah kamu sama saja."


Tiffani menarik telinga Rama dengan keras. "Ish, jangan asal bicara, ya. Aku ini perempuan yang lemah lembut. Mana bisa aku lebih mendominasi."


Rama tersenyum. "Ya, ya, ya, Nona yang paling lemah lembut."


Tiffani mengulum senyum. Ia tahu jika yang dikatakan Rama adalah benar. Ia lebih mendominasi, tapi itu semua bukan karena dirinya adalah anak dari Richard, atau bukan juga karena dirinya adalah atasan Rama. Namun, itu semua karena Rama terlalu memanjakannya dan menyayanginya, sehingga Rama selalu mengalah dan membiarkannya bertindak sesuka hati. Ya, begitulah wanita jika berada di tangan pria yang tepat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2