My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
WANITA PENUH TEKAD


__ADS_3

Tiffani menatap ketiga wanita yang sedang bergumul di atas rerumputan dengan tatapan tidak percaya.Ia yang baru saja tiba dari supermarket bersama dengan Rama sengaja meminta Rama untuk menghentikan mobil saat ia melihat kerumunan penjaga yang saling bertepuk tangan, dan bersorak seolah sedang menonton pertunjukan topeng monyet yang sangat menghibur. Dan ketika mobil berhenti, kemudian ia telah berada di luar mobil, betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang tersaji di hadapannya.


Mona, Sela, dan Ara saling jambak, saling pukul, dan saling tendang. Seperti petarung profesional yang kehilangan akal sehat. Bagaimana mungkin ketiganya membuat keributan di tengah halaman dan disaksikan oleh belasan pasang mata. Apa tidak malu?


Sekarang Mona, Sela, dan Ara berdiri bagai patung di hadapan Rama dan Tiffani dengan rambut yang berantakan dan pakaian yang kusut juga kotor. Ketiganya tidak ada yang bicara, hanya sesekali saling mendelik dan menyenggol. Kentara sekali jika ketiganya masih ingin saling jambak dan saling hajar.


Tiffani menghela napas panjang sambil menggeleng. Ketiga wanita dewasa di hadapannya saat ini terlihat seperti anak kecil.


"Masuklah ke rumah dan bersihkan diri kalian, setelah itu temui aku. Aku ingin bicara. Aku ingin tahu apa yang membuat kalian bertiga melakukan semua tindakan memalukan ini," ujar Tiffani, memberi perintah.


Sela dan Mona menganguk patuh, tapi tidak dengan Ara. Ara menggeleng, ekspresi wajahnya terlihat keras, ia tidak mau diperintah begitu saja oleh Tiffani.


"Aku tidak akan masuk. Mari kita bicara di sini saja. Aku akan langsung saja kalau begitu, kedatanganku ke sini adalah untuk ... argh!"


Mona dan Sela menendang tulang kering Ara tepat waktu sebelum Ara mulai mengutarakan niat gilanya di depan Tiffani dan di depan semua orang. Tiffani meringis dan menatap kedua temannya dengan kesal, tetapi Rama justru terlihat lega, karena Rama pun tahu apa yang akan Ara katakan di depan semua orang.


"Kenapa kalian menendangnya?" tanya Tiffani, yang masih terlihat kesal. Ia tidak suka pada tindakan Sela dan Mona yang melakukan kekerasan secara terang-terangan tanpa alasan yang tepat. Apalagi melakukan kekerasan pada Ara, seseorang yang telah menderita karena Damar dan juga karena dirinya.


"Masih bagus kami menendangnya, daripada kami menembaknya .... ah, ngomong-ngomong masalah tembak, aku kan punya pistol di mobilku, seharusnya aku gunakan sejak tadi," ujar Sela, sambil melirik Ara yang masih sibuk menggosok-gosok kakinya.


"Ya, kenapa kamu bisa lupa. Padahal kamu kan penembak jitu, sekali tembak ... dor, headshot, dan mati," ujar Mona, ikut menakut-nakuti Ara.


"Ya, bahkan setelah kepalanya tertembak, aku masih akan menembak bagian yang lain juga." Sela menimpali ucapan Mona.


Ara yang mendengar semua ucapan Mona dan Sela pun bergidik ngeri membayangkan bagaimana ia mati dengan cara yang begitu mengenaskan di tangan seorang mafia wanita yang begitu sadis.


Melihat Ara yang ketakutan, Tiffani segera menarik lengan Ara agar wanita itu tidak lagi berada di tengah-tengah antara Sela dan Mona.


"Aku tidak tahu kalian bertiga ada masalah apa, tapi berhentilah menakuti-nakutinya," ujar Tiffani pada Mona dan Sela, kemudian ia menatap Ara yang telah berada di sampingnya, "Ayo, kamu semobil denganku saja. Tidak usah pedulikan mereka," ujar Tiffani, sambil menggiring Ara ke mobilnya.


Melihat Tiffani membawa Ara ke dalam mobil, Rama hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia membatin semoga Ara tidak mengatakan hal aneh yang membuat Tiffani menjadi sedih dan marah.


Tidak membutuhkan waktu lama agar dapat tiba di bangunan utama. Toh jarak antara lokasi Mona berkelahi tidak terlalu jauh dari bangunan utama. Setelah mobil yang dikendarai Rama terparkir di halaman parkir, Sela dan Mona pun tiba. Sela memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Tiffani agar ia dapat terus mengawasi Ara.


Sela keluar dari dalam mobil sambil memegangi pistolnya, ia bahkan sengaja memutar-mutar pistol itu dengan jemarinya agar Ara melihat apa yang dipegangnya dengan lebih jelas. Dan usahanya itu tidak sia-sia. Ara yang sudah berada di luar mobil sejak tadi terus memperhatikan pistol di tangan Sela dengan ngeri. Ia ketakutan, dan rasa takutnya itu membuat Sela merasa puas.


Mereka kemudian melangkah bersama-sama menuju teras. Kecuali Rama, Rama berjalan menuju markas untuk menemui Adam dan bodyguard lainnya.


Dalam perjalanan menuju bagian dalam rumah, Sela asyik bercerita dengan Mona, suaranya sengaja ia keraskan agar Ara mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Aku bisa menambak kapan saja bahkan dari jarak yang jauh sekali pun. Kamu ingat saat aku menembak seorang wanita di pantai beberapa bulan lalu. Jarak kami jauh, tapi karena wanita itu terus menggoda Johan, langsung saja kutembak. Aku rasa dia langsung mati saat itu. Aku malas memeriksanya, toh tidak ada yang melihat kalau aku yang menembak. Jadi biar sajalah," oceh Sela dengan riang, seolah menghilangkan nyawa seseorang bukanlah sesuatu nyang patut untuk disesali.


Mona yang tahu bahwa cerita yang Sela ucapkan adalah cerita bohong, ikut ambil andil.


"Ya, aku ingat. Jarakmu dengan wanita itu sangat jauh, tapi pelurumu mengenai target tepat sasaran. Sama sekali tidak meleset. Good job," puji Mona, sambil mengacungkan ibu jarinya ke Sela.


Sela membungkuk anggun sambil tersenyum, berterima kasih pada pujian yang Mona ucapkan.


Tiffani tertawa melihat tingkah Sela. Walaupun ia belum pernah mendengar tentang tindakan Sela itu sebelumnya, ia tidak ingin ketinggalan untuk berkomentar. "Tapi, tembakanmu pernah melesat sekali, Sel, saat kamu berusaha menembakku di kampus dulu, tembakanmu tidak mengenaiku. Aku masih hidup dan sehat sampai sekarang."


Sela terseyum, ia senang karena Tiffani kembali membahas masalah itu, dengan begitu obrolan mereka akan terkesan natural sekarang.


"Ck, saat itu aku gagal karena Rama berusaha melindungimu," ucap Sela, sambil memasang ekspresi bersalah. "Coba saja Rama tidak melindungimu, aku yakin tembakanku pun aku tepat sasaran saat itu."


"Dia pernah mencoba menembak Anda?" tanya Ara, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Ia terkejut sekali, bagaimana bisa Sela yang merupakan teman Tiffani berusaha untuk menghilangkan nyawa Tiffani.


Tiffani mengangguk. "Kami dulu musuh. Sejak SMA sampai kuliah aku dan Sela tidak pernah akur. Puncaknya saat Sela berusaha membun-uhku dengan cara menembakku saat kami sedang di kampus. Beruntung sekali saat itu Rama yang masih bekerja sebagai bodyguardku melindungiku dengan baik, aku memang tidak tertembak, tapi peluru itu malah bersarang di lengan Rama. Jika ingat kejadian itu ingin rasanya aku memakan Sela dan menelannya hidup-hidup," ujar Tiffani, mengenang masa-masa di mana ia masih menyimpan rasa sukanya pada Rama untuk dirinya sendiri.


Sela menggaruk tengkuknya sambil nyengir. "Maafkan aku. Aku pun menyesal setengah mati saat itu karena Rama yang tertembak, bukannya kamu."


Tiffani melotot, sementara Mona tertawa terbahak-bahak.


Sementara Tiffani masih sibuk mencubiti Sela, Mona mendekat ke Ara dan berbisik di telinga wanita itu, "Coba saja kamu berani mengatakan hal yang tidak-tidak pada Tiffani, saat itu juga aku akan meminta Sela untuk menembakmu. Kamu sudah mendengar sendiri tadi apa katanya. Tiffani saja pernah dia coba bu-nuh, apalagi kamu."


Tubuh Ara gemetar, dengan sudah payah ia menatap kedua mata Mona. "Kamu mengancamku?"


Mona tersenyum sinis sambil mengangguk. "Ya, aku benar-benar mengancammu, dan aku tidak pernah main-main dengan ancamanku. Oh, ya, perlu kukatakan padamu kalau aku pun akan mengirim beberapa orang bodyguard ke distrik tempatmu tinggal."


"Untuk apa?" tanya Ara, yang merasa tidak nyaman sekarang.


"Untuk mengawasi ibu dan kakakmu. Kalau kamu bertingkah di sini, mereka di sana akan menanggung akibatnya. Jadi, Berhati-hatilah dengan ucapanmu, dan jadilah anak yang baik selama kamu memutuskan untuk berada di sini."


"Wanita jahat," desis Ara.


Mona mengangkat kedua bahunya. "Siapa yang duluan?" Setelah mengatakan itu, Mona segera melenggang pergi dari hadapan Ara, meninggalkan Ara yang berdiri diam bagai patung dengan perasaan campur aduk, ia kesal, marah dan sedih. Kedatangannya ke kediaman Tiffani adalah untuk menghancurkan kehidupan wanita itu, tapi sekarang malah dirinya yang akan hancur jika dirinya salah bicara.


"Dasar komplotan mafia biadab," desis Ara, dengan kedua tangan yang mengepal.


***

__ADS_1


Mona tidak bermain-main dengan ancamannya. Siang itu juga sepuluh orang bodyguard bersenjata berdatangan ke Distrik EL 33. Bodyguar-bodyguard itu adalah kiriman Mona. Mona memang memiliki wewenang untuk melakukan hal itu; memberi perintah pada bodyguard-bodyguard yang bekerja di bawah kekuasan Tiffani.


Akan tetapi, meskipun Mona mengancam Ara dan mengatakan pada Ara bahwa bodyguard yang ia kirim bertugas untuk mengawasi kakak dan ibu Ara, sebenarnya bukan itu tugas bodyguard-bodyguard yang dikirim ke Distrik EL 33. Bodyguard yang ditugaskan di sana secara khusus bertugas untuk menjaga para warga yang kehilangan tempat tinggal, dan juga menangkap basah Damar, barangkali damar muncul dan mencoba untuk mengacau di sana. Mona hanya menggunakan kesempatan tersebut untuk menakut-nakuti Ara agar Ara tetap menjaga mulutnya di hadapan Tiffani.


Axel, salah satu bodyguard yang bukan merupakan bodyguard tim utama memimpin rekan-rekannya dalam misi penjagaan dan penangkapan kali ini. Ia melangkah dengan mantap menghampiri sekumpulan warga yang terlihat ketakutan tetapi siaga. Setelah berada di hadapan salah satu warga yang merupakan kepala desa setempat, Axel mengeluarkan kartu anggotanya sebagai salah satu anggota bodyguard Tiffani Raendra.


Si kepala desa tentu saja tidak mengenal siapa itu Tiffani Raendra, tapi tetap saja si kepala desa mengangguk, berpura-pura mengerti.


"Aku Axel, aku ditugaskan untuk menjaga tempat ini dan menangkap siapa saja yang berusaha untuk mengusik kalian. Jika ada orang yang terlihat mencurigakan, atau salah satu dari kalian ada yang melihat operator alat berat yang kemarin mengobrak-abrik lokasi ini segera beritahu aku. Aku akan menangkapnya dan membawanya pergi dari sini secepat mungkin," ujar Axel dengan cepat, setelah mengatakan apa yang perlu ia katakan, Axel membungkuk dan beranjak dari hadapan para warga.


Warga yang berkerumun hanya menatap Axel dengan mulut terbuka lebar dan mata melotot. Axel bagai robot, tidak ada senyum di wajahnya, sikapnya dan tatapan matanya sangat dingin. Membuat warga yang melihatnya tidak bisa mengatakan apa pun selain mengangguk. Terlebih lagi Axel memegang pistol di tangannya. Keberadaan senjata api itu sudah cukup menambah ketegangan warga.


Meski begitu, kehadiran Axel dan rekan-rekannya membuat suasana menjadi sedikit ceria, karena para gadis sekarang sibuk berbisik-bisik. Mereka senang sekali karena setelah sekian lama hidup di pinggiran kota dengan pemandangan yang itu-itu saja, dan jumlah pemuda yang itu-itu juga, sekarang mereka dapat melihat pria-pria tampan dengan penampilan yang mengagumkan; berjas hitam, rambut hitam dan dicukur rapi, kulit bersih, badan tegap, dan memegang senjata juga mengenakan headset bluetooth di telinga. Secara keseluruhan penampilan para bodyguard sangatlah keren bagi gadis-gadis yang ada di EL 33.


Damar yang juga berada di Distrik EL 33, sekarang tengah mengeluh di dalam mobilnya. Kedatangannya ke distrik tentu saja untuk melakukan negosiasi dengan kepala desa setempat agar rencana pembangunan hotel tidak terhambat. Namun, begitu ia melihat Exel, Damar menjadi sadar jika Tiffani pasti sudah mengetahui apa yang sedang terjadi di EL 33. Jika tidak, tidak mungkin Tiffani mengirim bodyguard untuk berjaga.


"Argh, sialan!!"


***


Di kediaman Tiffani keadaan tidak lagi tegang seperti sebelumnya. Sela dan Mona pun yakin jika mereka berdua telah berhasil membungkam mulut Ara, walaupun mereka berdua tahu jika keadaan itu hanya akan berlaku sementara. Keduanya masih dapat melihat kilat licik dan serakah di kedua mata Ara.


Gracella pun sudah mengetahui apa yang terjadi. Sela langsung mengatakan semuanya pada Gracella begitu mereka berpapasan di halaman belakang saat Gracella dan Xavier baru saja kembali dari rumah pohon dengan tampang yang acak-acakan.


Gracella begitu gusar saat mengetahui niat Ara yang ingin menjadi istri kedua Rama. "Dasar ****** bangsat!" itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Gracella. Semetara Xavier hanya bersiul pelan sambil mengatakan kalau Rama memang memiliki efek yang luar biasa di mata para wanita, terutama wanita yang baru saja melihat Rama. Jika dirinya pun seorang wanita, ia pasti akan langsung naksir Rama begitu melihat Rama saat kali pertama.


Dan komentar Xavier itu mendapat tatapan melotot dari Gracella dan Sela. Xavier nyengir dan mencubit pipi Gracella dengan gemas. "Kan itu hanya perumpamaan, nyatanya aku adalah pria, dan aku lebih suka kamu daripada Rama."


Sekarang Gracella sedang duduk di ruang keluarga, bersisian dengan Sela dan Mona. Ketiga wanita itu menatap Ara yang duduk di salah satu sofa tepat di hadapan mereka.


Ara sendiri terlihat salah tingkah. Ia bingung harus melakukan apa. Nyalinya tiba-tiba saja menciut begitu ia harus berhadapan langsung dengan ketiga wanita yang merupakan saudara dan juga teman Tiffani yang semuanya adalah mafia, setidaknya begitulah bagi Ara pikirkan tentang Sela, Gracella, dan Mona.


"Lihat saja, kalau sampai dia berani macam-macam, aku sendiri yang akan memotong-motong lehernya," gumam Gracella dengan gemas.


Sela dan Mona mengangguk setuju.


Ara yang mendengar ucapan Gracella berusaha untuk tidak gemetar. Ia menatap ke sembarang arah agar tidak harus menatap ketiga wanita di hadapannya. Meskipun merasa takut, tetapi tekadnya tidak berkurang sedikit pun untuk meminta Rama menjadi suaminya.


Tidak lama kemudian Rama memasuki ruangan bersama dengan Tiffani, dan di saat itulah Ara bangkit berdiri sambil berteriak. "Nikahi aku. Bukankah kamu sudah pernah menciumku!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2