
Adam turun dari mobil yang dikendarai Xavier begitu mereka tiba di halaman sebuah gedung berbentuk prisma yang keseluruhannya terbuat dari kaca.
Setelah berada di luar mobil dan memastikan semua bodyguard lainnya telah berada di luar mobil dengan senjata siaga di tangan masing-masing, Adam melangkah menuju bagian belakang mobil, membuka pintu bagian belakang dan mempersilakan Tiffani untuk keluar dari dalam mobil.
"Semua aman, Nyonya," ujar Adam.
Tiffani mengangguk, lalu meraih sebuah pistol yang letaknya tersembunyi di bawah kursi yang ia duduki dan segera memasukan pistol itu ke dalam tas tangannya sebelum ia melangkah keluar dan bergabung bersama tim bodyguard lainnya.
Setelah pintu belakang mobil kembali tertutup, Xavier segera keluar menyusul Tiffani.
"Aku yang memimpin langkah," ujar Xavier, pada Adam dan Tiffani, kemudian ia bersiul sekali, dan seketika bodyguard yang lain langsung membentuk formasi sedemikian rupa agar Tiffani berada di tengah-tengah mereka semua.
Tidak lama kemudian Gracella muncul dari arah belakang, dan ia langsung menyenggol lengan Tiffani. "Rileks," ujarnya sambil tersenyum.
Tiffani membalas senyuman Gracella. "Aku senang kamu ada di sini."
"Ya, ini untuk pertama kalinya bagiku, dan aku akan melakukan yang terbaik." Gracella meyakinkan Tiffani.
Suasana begitu menegangkan bagi Tiffani. Ketidakhadiran Rama memang membawa perbedaan besar bagi Tiffani. Ia merasa lebih takut, merasa lebih terancam hingga di titik ia merasa jika hari ini adalah hari terakhirnya menginjakan kaki di muka bumi.
Tiffani menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar, ia sadar jika pikirannya terlalu berlebihan saat ini. Bagaimana bisa ia memikirkan hal buruk seperti itu sementara ada belasan bodyguard yang mengelilinginya saat ini. Bahkan Xavier pun berada tepat di hadapannya, bukankah selain Rama, Xavier adalah bodyguard andalan ayahnya dulu sekali, dan Gracella juga ada untuk mendukungnya. Apa lagi yang perlu ia khawatirkan coba?
"Kita masuk," ujian Xavier.
Suara bas Xavier mengejutkan Tiffani. Ia pun mengangguk, menegakkan tubuhnya agar terlihat lebih berwibawa, dan menyunggingkan senyum tipis agar ketegangan yang tengah ia rasakan tidak terlihat dengan jelas.
Langkah Xavier begitu pasti. Suara sepatunya terdengar hingga ke telinga Tiffani yang tiba-tiba saja menjadi lebih sensitif dari biasanya. Xavier terlihat tenang, dengan pistol di tangan ia berlagak seperti seorang pem-bunuh berpengalaman, hingga tidak heran jika semua penjaga dari pihak Andrew yang berdiri di sekitar gedung memberi hormat saat Xavier melewati mereka.
Setelah menit yang panjang, akhirnya rombongan Tiffani tiba di pintu masuk gedung. Seorang penjaga yang bertampang paling menakutkan daripada penjaga yang tersebar di halaman menyambut kedatangan Tiffani.
"Selamat datang, Nyonya Raendra. Tuan menunggu Anda di dalam," ucap si penjaga sambil membungkuk kepalanya sedikit.
Tiffani tersenyum. "Syukurlah aku belum terlambat," ujar Tiffani dengan suara setenang permukaan air di danau saat musim dingin.
Xavier kembali melangkah ketika Tiffani menyudahi basa-basinya.
Bagian dalam gedung terasa sangat dingin. Bukan karena suhu ruangan yang disetel hingga suhu minus derajat. Hanya saja kesenyapan begitu terasa, dan hampir di setiap setengah meter seorang penjaga berdiri lengkap dengan senjata dan rompi anti peluru. Pemandangan itulah yang membuat bagian dalam gedung terasa sangat dingin dan mencekam.
Tiffani berusaha menahan gemetar di kedua kalinya, tetapi percuma saja, kedua lututnya semakin lemas dan gemetar saat ia tiba di depan pintu yang tetutup dan pada daun pintu yang tertutup itu terlihat papan pemberitahuan yang bertuliskan VVIP.
"Hanya dua orang yang boleh masuk," gumam Tiffani, yang sudah sering menghadapi situasi seperti ini. Biasanya seberapa banyak pun ia membawa bodyguard, yang diizinkan masuk untuk bertemu tokoh utama hanya ia dan Rama, sedangkan yang lain hanya boleh menunggu di luar ruangan.
Gracella menyenggol lengan Tiffani dengan lengannya. "Dua adalah majikan dan bodyguard. Jika majikannya dua, maka tiga tidak masalah menurutku." Gracella mengutarakan pendapatnya yang masuk akal.
Tiffani mengangguk. "Ya, aku rasa demikian," ujarnya.
"Kalau begitu aku adalah bodyguardmu sekarang." Xavier menimpali, sambil melirik sang istri yang terlihat cantik dan elegan dalam setelan kantor berwarna hitam sama seperti yang Tiffani kenakan.
Gracella tersenyum malu-malu mendengar nada suara Xavier yang terdengar tidak suka. Bagaimana pun juga Gracella tahu jika Xavier tidak suka berpura-pura tidak memiliki hubungan spesial dengannya. Xavier adalah tipe pria yang tidak suka jika wanitanya dilirik oleh pria lain, bahkan saat mereka dalam misi sekali pun.
"Ini hanya sementara. Rama dan Tiffani pun sering melakukannya. Tetap tenang dan profesional lah, Xavier," ujar Gracella.
Xavier menghela napas panjang. "Baiklah. Perintah dilaksanakan."
Detik berikutnya Xavier mengetuk pintu yang ada di hadapannya, dan pintu langsung berayun membuka, memperlihatkan ruangan di baliknya yang luar biasa luas juga berlangit-langit tinggi, ruangan itu dilengkapi dengan meja berbentuk bundar di tengahnya.
Dua orang pria berjas hitam menghampiri Xavier, lalu mereka memeriksa siapa saja yang ada di belakang Xavier.
"Hanya dua orang yang bisa masuk," ujar salah seorang pria dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah.
"Mereka berdua adalah Nyonya Tiffani Raendra, dan Gracella Raendra. Aku adalah pengawal yang bertugas." Xavier menjawab degan tidak kalah tegasnya.
Si pria berjas hitam mengangguk, dan langsung menyingkir, mempersilakan Xavier masuk bersama dengan Tiffani dan Gracella. Meskipun pria penjaga itu sangat tegas pada peraturan, tetapi ia sadar jika ia tidak mungkin melarang seorang nyonya masuk untuk menemui tuannya.
__ADS_1
"Wah, wah, wah, mimpi apa diriku semalam hingga aku dihampiri oleh dua bidadari sekaligus." Andrew berseru sambil bertepuk tangan saat melihat Tiffani dan Gracella melangkah bersamaan menuju meja tempatnya menunggu.
Gracella dan Tiffani tersenyum. Berusaha terlihat setenang mungkin.
"Sayang sekali kursiya kurang satu," ujar Gracella, saat ia dan Tiffani telah tiba di hadapan Andrew.
Andrew, pria yang berperawakan tinggi besar dan wajah yang menyeramkan serta alis tebal kini tersenyum lebar. Ia menepuk kedua pahanya untuk menanggapi komentar dari bibir Gracella.
"Aku bisa memangku tubuh indahmu itu jika kamu tidak keberatan," ujar Andrew, sambil mengedipkan sebelah matanya yang sipit tetapi liar.
Xavier berdiri dengan gelisah di belakang Gracella dan Tiffani, ia tidak tahan ingin menonjok wajah jelek Andrew yang telah berani menggoda istrinya.
Namun, Xavier tidak perlu melakukan hal itu, karena Gracella bukanlah wanita bodoh yang polos. Ia bisa menguasai situasi sebaik Tiffani, apalagi sebelum tinggal bersama dengan Richard dan Tiffani, Gracella menjalani Kehidupan yang cukup liar di luar negeri.
"Tidak perlu, Tuan, aku selalu bisa duduk di atas meja jika Anda tidak keberatan," jawab Gracella, sambil terus menatap langsung ke dalam mata Andrew.
Andrew tertawa. "Aku suka gaya Anda, sungguh suka sekali. Betapa beruntungnya Richard memiliki dua putri seperti kalian."
Tiffani mengembuskannya napas sekali lagi, lalu segera menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan nyaman di atas kursi itu.
"Mari kita langsung saja. Aku rasa Anda tidak punya banyak waktu," ujar Tiffani, sambil mengulurkan tangannya ke Andrew. "Aku perlu membaca ulag perjanjian. Aku takut ada yang berubah mendadak jika aku tidak membacanya dengan teliti."
Andrew menaikkan sebelah alisnya, dan langsung melambaikan tangan ke arah salah seorang penjaganya.
"Aku tahu kalau Anda benar-benar profesional," komentar Andrew, kemudian melanjutkan, "Aku akan mengirim beberapa ratus kilo malam ini ke pelabuhan, dan selanjutnya tiga hari setelahnya aku akan mengatur pengiriman selanjutnya," ujar Andrew, sementara seorang penjaga menyerahkan berkas ke Tiffani.
Tiffani membaca dengan teliti sebelum mengambil keputusan apakah ia akan menyetujui ucapan Andrew.
"Itu terlalu banyak," ujar Tiffani.
"Selama ini selalu dengan jumlah yang sama, dan ayahmu tidak pernah protes." Andrew menjawab dengan nada tidak suka.
"Ayahku dan aku berbeda," ucap Tiffani lagi. "Kalau begitu jangan lakukan pengiriman setelah pengiriman pertama jika Anda ingin melakukan pengiriman pertama dengan jumlah yang telah Anda tentukan."
"Kenapa tidak?"
Andrew hilang kesabaran. Ia mungkin menyukai wajah Tiffani yag cantik, tetapi ia tidak suka pada sifat Tiffani yang keras kepala.
"Aku tidak akan mengubah apa pun. Apalagi jumlah pengiriman!" teriak Andrew, sambil menggebrak meja di hadapannya.
Tiffani masih terlihat santai, begitu juga dengan Gracella. Sementara Xavier mulai waspada karena kedua pria penjaga yang tadi membukakan pintu untuk mereka mulai bergerak menghampiri Tiffani dan Gracella.
"Kita harus membuat kesepakatan ulang untuk transaksi kita selanjutnya. Aku tidak akan membeli dengan jumlah yang sama seperti yang sebelumnya ayahku dan Pak Damar lakukan, bayangkan berapa banyak generasi muda di negaraku yang akan rusak karena serbuk tidak berguna itu!" ucap Tiffani, sambil mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam tas tangannya. "Tunggu sebentar," ujarnya, saat sudut matanya menangkap bibir Andrew yang terbuka, bersiap untu berdebat dengannya.
Satu pesan masuk dari Mona terpampang jelas di layar benda pipih yang ada di tangan Tiffani. Tiffanu me-klik layar benda pipih itu dan seketika jantungnya seperti hendak melompat keluar saat ia membaca pesan yang baru saja Mona kirimkan.
[Ini gawat. Ayah Ara meninggal. Salah seorang pekerja yang bertugas merobohkan rumah Ara dan rumah warga di EL 33, mendorong ayah Ara hingga ayah Ara terjatuh dan meninggal seketika. Apa yang harus kita lakukan sekarang?]
***
Rama menginjak pedal gas semakin dalam begitu ia membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Pesan yang berasal dari Mona itu terus terngiang di dalam ingatannya, seolah Mona menyampaikan pesan itu secara langsung padanya hingga membuatnya merinding saat mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir wanita itu.
Ayah Ara meninggal ... pekerja mendorongnya ... Ayah Ara meninggal ... dia meninggal seketika!
Rama memukul kemudi di hadapannya dengan gemas, ia meraung, menyalahkan diri sendiri yang lamban dalam menyelesaikan permasalahan yang nyata-nyata telah ditimbulkan oleh Damar. Ia terlalu banyak mempertimbangkan ini dan itu. Mempertimbangkan perasaan Xavier, perasaan Damar, padahal di saat yabg bersamaan Damar tidak sekali pun melambatkan langkah.
Rama merasa terpuruk sekarang. Ia membiarkan kesalahan yang Damar perbuat, dan sekarang hasil dari pembiaran yang ia lakukan itu malah membuat satu orang kehilangan nyawa.
"Apa yang harus aku katakan pada Ara sekarang?" gumam Rama, masih terus memukuli roda kemudi di hadapannya.
Cit!
Rama menghentikan mobilnya mendadak, saat seekor anjing menyeberang jalan. Ia mengatur napas untuk mengurangi keterkejutan yang masih terasa di dada. Sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, Rama memutuskan untuk menghubungi Adam.
__ADS_1
"Ya, Rama." Suara Adam terdengar pada dering pertama, seolah pria itu memegangi ponsel sejak tadi untuk menanti panggilan darinya.
"Bagaimaa keadaan di sana? Semua lancar? Apa istriku baik-baik saja?" tanya Rama. Ia ingin sekali mendengar suara Tiffani sekarang, tetapi karena Tiffani pasti sedang sangat sibuk sekarang, ia pun menelepon Adam untuk menanyakan keadaan Tiffani alih-alih meghubungi Tiffani secara langsung.
"Tiffani menunda kerjasama. Kami sedang dalam perjalanan sekarang," ujar Adam dari seberang panggilan.
"Apa yang terjadi? Kenapa Tiffani menunda kesepakatan?" tanya Rama dengan bingung, karena Tiffani bukanlah tipe seseorang yang akan menunda sebuah pekerjaan. Bagi Tiffani, lebih cepat selesai, lebih baik.
"Aku tidak tahu. Kami terpisah mobil sekarang. Tiffani bersama dengan Gracella dan Xavier di mobil utama. Tiffani tiba-tiba saja keluar dari ruangan sambil menangis dan mengatakan pada kami semua agar pergi dari gedung pertemuan."
Rama menghela napas panjang. "Kalau begitu dia juga sudah tahu sekarang. Aku yakin sebentar lagi kami akan bertemu."
"Sudah tahu apa maksudmu? Apa Tiffani menuju ke EL 33 sekarang?" tanya Adam, yang merasa penasaran juga sejak tadi.
Hening sejenak. Rama tiba-tiba saja merasa kesulitan bicara. Lidahnya sangat kelu.
"Ada apa, Rama? Katakan padaku," ujar ada lagi, dari seberang panggilan.
"Ayah Ara meninggal. Dari informasi yang kudengar salah seorang pekerja mendorong Ayah Ara." Rama menjawab pertanyaan Adam dengan suara tercekat. "Tiffani pasti merasa bersalah sekali, Dam."
"Tenanglah. Berkendaralah dengan fokus, Rama, sampai ketemu di EL 33. Aku akan meghubungi Mona sebentar lagi dan menanyakan padanya bagaimana keadaan Ara."
Rama hanya mengangguk dan segera memutuskan panggilan.
***
Distrik EL 33 ....
Ara tiba lebih dulu bersama dengan Mona dan Sela. Seharusnya Rama bisa tiba lebih cepat seandainya saja pria itu tidak berulang kali menghentikan mobilnya di jalan-jalan yang sepi.
Kini Ara tengah berlari menuju salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh di distrik tersebut. Ara sempat menghentikan larinya saat ia melewati rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Ia membungkuk, menarik selembar syal usang dari balik reruntuhan papan. Syal tua berwarna cokelat itu adalah milik ayahnya.
"Ini rumahmu?" tanya Sela, suaranya gemetar. Ia sakit hati melihat apa yang sekarang tengah terjadi di desa tempat Ara dibesarkan.
Ara mengangguk lemah, lalu kembali melanjutkan langkah menuju bangunan sekolah di mana terlihat orang-orang berkerumun.
Mona dan Sela mengekor di belakang Ara hingga mereka tiba di bangunan sekolah itu.
Seorang pria tua dibaringkan di atas meja yang telah dirapatkan menjadi empat susun hingga ukuran meja itu menjadi lebih lebar dari ukuran seharusnya.
Ara menghampiri pria tua yang tubuhnya sudah mulai membiru itu, dan segera merangkul sambil menangis sejadi-jadinya.
"Ayah, Ayah, bangun, Ayah, bangun." Ara mengguncang tubuh pria tua, tetapi tidak terjadi apa-apa. Tubuh itu tetap bergeming, seolah tidak peduli pada tangis seorang Ara yang sedang terluka.
Semua orang yang ada di sana membiarkan. Tidak ada satu orang pun yang dapat menghibur hati seseorang yang sedang kehilangan, hingga membiarkan adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan.
Lima belas menit berlalu, dan Ara masih mendekap erat tubuh pria tua yang sudah tidak bernyawa, sementara Mona dan Sela sibuk menatap ke segala arah, berusaha mencari keberadaan Damar di sana. Namun, bukannya melihat Damar, mereka malah melihat Rama yang sedang melangkah menuju bangunan sekolah di mana mereka sedang berada.
"Itu Rama," gumam Mona.
Sela mengangguk.
Dan beberapa saat kemudian Rama tiba di hadapan Mona dan Sela.
"Ini buruk sekali, Rama," gumam Sela. "Ayahnya benar-benar meninggal dan rumahnya hancur."
Rama menepuk lengan Mona dan Sela, lalu ia menghampiri Ara yang masih menangis sesegukan di tengah-tengah kerumunan.
Kehadiran Rama mengundang desas-desus. Penampilan Rama dan wajah Rama yang rupawan tentu saja menjadi pusat perhatian. Semua warga yang ada di sana mulai bertanya-tanya tentang siapkah Rama.
"Ara," gumam Rama, saat ia telah berada di samping Ara.
Mendengar suara Rama, Ara menghentikan tangisnya. Ia mendongak agar dapat menatap wajah Rama.
__ADS_1
"Kalian harus bertanggung jawab," desis Ara, dengan suara yang begitu pelan, hingga hanya ia dan Rama yang bisa mendengarnya. "Kalian harus bertanggung jawab."
Bersambung.