
Rama akhirnya sadarkan diri setelah beberapa jam berada di ruang IGD, sekarang ia telah dipindahkan ke ruang rawat VVIP atas keinginan Richard. Pandangan Rama langsung mengedar ke seluruh ruangan begitu kedua matanya terbuka, dan ia sangat terkejut karena di dalam ruangan terlihat teman-temannya sedang berjaga, pistol mereka bahkan siaga di tangan dan wajah mereka semua terlihat serius.
"Ehem," Rama berdeham, berusaha menarik perhatian teman-temannya yang masih belum menyadari jika ia telah sadar.
Adam yang berdiri paling dekat dengan Rama langsung mengalihkan pandangan ke arah tempat Rama berbaring. Dan ia terlihat senang saat melihat Rama telah sadar.
"Hai, Berandal, bagaimana keadaanmu?" tanya Adam, sambil menghampiri Rama dan menepuk bahu Rama dengan keras.
Ucapan Adam itu menarik perhatian yang lainnya, dan mereka semua sontak mengalihkan pandangan ke Rama yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Rama sendiri langsung meringis dan memelototi Adam yang bertindak kasar padanya, padahal tubuhnya sangat sakit karna terluka di mana-mana saat ini.
"Bisakah kamu bersikap lebih lembut pada orang yang baru saja kembali dari pintu akhirat?" ucap Rama, pada Adam.
Adam tertawa, dan langsung duduk di tepi ranjang tempat Rama berbaring. "So, bagaimana keadaan akhirat? Apakah bagus untuk ditempati?"
"Apa jika aku katakan bagus, kamu bersedia untuk aku kirim ke sana?" Rama balas bertanya.
Adam mengelus dagunya, ekspresi wajahnya terlihat sok serius, membuat Rama dan yang lainnya kesal. Setelah beberapa saat, Adam pun menjawab, "Asal aku mendapatkan bidadari yang paling cantik di sana."
Mario menghampiri Adam dan mengetuk puncak kepala Adam dengan ujung senjata api miliknya, sehingga Adam merintih kesakitan.
"Jangan mengeluh. Masih bagus aku tidak menembakmu sekarang juga, bisa-bisanya kamu bercanda di saat seperti ini," ujar Mario, saat dilihatnya Adam ingin memprotes.
Rama kemudian teringat akan sesuatu hal yang sejak tadi ingin ia tanyakan. "Tiffani," ucap Rama, "Di mana dia? Bagaimana keadaannya?"
Mario menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Rama. "Nona masih dalam pencarian."
Deg.
Rama begitu terkejut mendengar jawaban Mario. Ia pikir ketika ia merasakan Tiffani tidak ada lagi di sebelahnya saat di mobil hal itu hanyalah sebuah halusinasi, karena saat itu ia sedang tidak sadar sepenuhnya. Ia pikir pergelangan tangan Tiffani yang menghilang dari genggamannya bukanlah kenyataan. Namun, ternyata ia salah.
"Apa maksudmu, Mario? Sedang dalam pencarian, memangnya ada apa?" tanya Rama, ia masih sulit mencerna ucapan Mario, dan jujur saja ia tidak ingin mencerna apa pun saat ini, terutama jika hal itu tentang Tiffani yang menghilang.
"Saat ambulans datang, hanya ada kamu di dalam mobil, Rama, tidak ada nona. Awalnya kami berpikir mungkin nona sudah tidak bersamamu sebelum kecelakaan, tetapi kami baru saja dapat kabar dari Mona yang mengatakan kalau semua kejadian kecelakaan itu terekam di kamera dashboard mobil yang kamu kemudikan, dan satu buah mobil lainnya yang terlibat kecelakaan. Lalu, dari rekaman itulah terlihat bahwa ada segerombolan pria yang membawa nona pergi dari dalam mobil sesaat setelah terjadinya kecelakaan." Mario menjelaskan.
Rama segera bangkit dari posisi berbaringnya, lalu menarik selang infus yang terpasang di punggung tangannya dengan kasar sebelum akhirnya ia menyentak selimutnya dan turun dari ranjang.
"Hentikan, Rama! Apa yang akan kamu lakukan?" Adam menahan tubuh Rama agar tetap di tempat, dan perlahan pendudukan Rama kembali di ranjang.
"Tenanglah, jangan bertindak gegabah."
"Aku harus mencari Tiffani. Aku akan mencarinya, Dam."
Adam menggeleng. "Tuan meminta kami untuk menjagamu di sini agar kamu tidak celaka, tapi kamu malah mau pergi begitu saja, Bukankah kamu tidak menghargai kekhawatiran tuan kalau begini caranya." Adam mengomel.
"Aku tidak bisa duduk diam saja di sini, Adam, aku sama sekali tidak bisa. Aku harus mencari Tiffani dan menyelamatkannya. Jadi, biarkan aku pergi." Rama kembali hendak turun dari ranjang, tapi Adam lagi-lagi menghalangi Rama.
"Tetaplah di sini Rama. Lihat kondisimu, mana bisa kamu pergi dengan kondisi yang seperti ini. Bisa-bisa kamu mati konyol menghadapi semua penjahat kelas kakap itu."
Rama tersentak. Ia menautkan alisnya dan bertanya pada Adam dengan hati-hati agar Adam bisa kelepasan bicara dan mengatakan padanya siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpanya dan juga Tiffani.
"Memangnya sudah diketahui siapa yang melakukan ini semua?" tanya Rama dengan tenang.
"Tentu sudah, si Xavier itu sangat hebat, tidak membutuhkan waktu seharian baginya untuk memeriksa dan menemukan semua informasi tentang dalang dari kejadian ini. Dan hal ini sangat mengejutkan kami semua, karena yang menculik nona adalah rekan bisnis tuan sendiri."
"Sungguh! Tapi bagaimana bisa. Maksudku, ada masalah apa orang itu dengan tuan sampai-sampai dia menculik Tiffani?" tanya Rama lagi.
"Itulah yang masih menjadi tanda tanya besar bagi kita semua," jawab Adam. "Jika aku jadi tuan, aku pasti akan menyiksa orang itu habis-habisan."
__ADS_1
Andi berdecak. "Jangan banyak bicara, aku dengar si Emanuel Adreson ini adalah salah satu mafia yang sangat berbahaya dan sangat berpengaruh. Tidak mudah mengalahkannya."
"Ya, dia memang sangat berpengaruh, karena dia itu merupakan bandar judi terbesar di kota ini, dan dia juga memiliki puluhan casino di Las Vegas." Rei menimpali
"Emanuel Adreson," gumam Rama, "Namanya terdengar tidak asing di telingaku, tapi aku lupa yang mana dia.
" Tentu saja tidak asing, aku rasa kamu pernah beberapa kali bertemu dengannya saat sedang mengawal nona atu tuan untuk mengadakan pertemuan bisnis." William menimpali.
"Aku dengar dia masih muda dan tampan. Apa mungkin dia tertarik pada nona kita, hingga dia nekat menculik nona kita." Anton mengemukakan pendapatnya.
"Itu masuk akal, siapa yang tidak akan tertarik begitu melihat Tiffani, eh maksudku nona," ucap Johan.
Ingatan Rama berputar-putar, kemudian mundur jauh ke belakang. Ia berusaha mencari potongan-potongan ingatan yang mungkin masih ada di dalam kepalanya tentang sosok Emanuel Adreson yang telah berani membawa Tiffani-nya pergi.
Dan setelah beberapa saat akhirnya Rama mendapatkan ingatan tentang sosok Emanuel. "Bukankah dia biasa disapa dengan sebutan El" tanya Rama pada teman-temannya.
Adam mengangguk. "Ya, dia biasa dipanggil dengan sebutan Tuan El."
Darah Rama seketika mendidih begitu ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu di Hotel Platinum saat ia mengawal Tiffani untuk melakukan pertemuan bisnis bersama dengan Damar dan Mona. Dan seketika itu juga Rama tahu apa motif di balik semua kejadian ini.Sudah sangat jelas jika Emanuel menginginkan Tiffani, toh sejak pertama bertemu dengan Tiffani di Hotel Platinum, Emanuel telah menyatakan ketertarikannya pada Tiffani secara terang-terangan.
"Maafkan aku, Teman-teman, tapi aku harus pergi," ucap Rama, yang dengan gerakan secepat kilat langsung turun dari atas ranjang dan merebut pistol Adam juga Mario yang berdiri di dekatnya.
Saat Rei mendekat dan berusaha menahan Rama, Rama mendorong tubuh Rei ke arah Mario dan Adam, agar Mario dan Adam tidak bisa menjangkaunya.
"Aku akan segera kembali!" seru Rama, setelah mengatakan itu Rama membuka pintu dan melesat dengan cepat dari hadapan teman-temannya.
"Ah, kenapa kalian diam saja?!" teriak Adam, pada rekan lainnya yang hanya diam tanpa melakukan apa pun saat Rama melarikan diri.
"Kita biarkan saja dia. Rama itu kuat, aku yakin dia bisa melawan Emanuel walaupun kondisinya sedang tidak memungkinkan seperti itu, apalagi ada Xavier bersama dengannya," ujar Rei.
Adam mendengkus kesal. lalu kemudian ia bangkit berdiri. "Kalau begitu kalian tetaplah di sini, aku akan susul dia," ujar Adam yang terlihat sangat kesal karena rekan-rekannya yang lain tidak ada yang bisa diajak untuk bekerja sama.
Adam berbalik saat ia merasakan sedang dibuntuti. "Apa yang kalian lakukan? Bukankah aku meminta kalian untuk tinggal."
Semua rekan Adam nyengir.
"Biarkan kami ikut. Ada pertarungan seru seperti ini mana mungkin kami diam saja," ujar Anton.
"Tapi--"
"Sudahlah, jangan pakai tapi-tapian, jumlah mereka itu banyak, setiap dari kita pasti akan sangat berguna nanti. Ayo!" Mario memimpin langkah mereka semua sekarang, membuat Adam mau tidak mau membiarkan rekan-rekannya untuk ikut ke dalam misi mendadak yang tidak terencana sama sekali.
***
Seorang dokter muda tiba di kediaman Emanuel Adreson. Dokter itu adalah Dylan Aditya, mantan kekasih Tiffani semasa SMA.
Dylan keluar dari dalam mobilnya dan langsung disambut oleh empat orang bodyguard bertubuh besar yang terlihat sangat menakutkan.
Salah satu dari keempat bodyguard itu kemudian berkata."Anda seorang dokter? Tunjukan tandan pengenal Anda."
Dylan menghela napas. "Jika meragukanku, seharusnya tidak memintaku datang ke sini."
"Pemeriksaan tanda mengenal merupakan aturan yang berlaku bagi siapa saja yang datang ke rumah ini, bukan hanya Anda Dok, jadi maafkan aku jika Anda merasa tidak nyaman. Aku hanya menjalankan tugas dan protokol yang berlaku di rumah ini." Si Bodyguard menjawab dengan tegas.
Dylan mengangkat kedua bahunya, dan mau tidak mau ia pun mengeluarkan tanda pengenal dari dalam dompetnya dan menyerahkan tanda pengenal tersebut pada bodyguard yang ada di hadapannya.
Si bodyguard memeriksa tanda pengenal Dylan dengan seksama, lalu ia menekan headset bluetooth yang ada di telinga, "Pak Tirta, dokternya sudah tiba. Dia adalah Dokter Dylan Aditya, dari rumah sakit Diamond," ujarnya pada seseorang yang ada di seberang panggilan.
Setelah hening selama beberapa saat akhirnya si bodyguard menyerahkan kembali tanda pengenal yang ia pegang ke Dylan.
__ADS_1
"Anda boleh masuk. Terima kasih atas kerjasamanya, akan ada pengawal di teras yang akan mengantar Anda menuju kamar pasien," ucap si bodyguard, lalu membungkuk sedikit di hadapan Dylan.
"Baiklah, terima kasih," ujar Dylan, yang agak kikuk karena ia belum pernah mendapat perlakuan seperti yang baru saja ia alami. Disambut seperti seorang narapidana, kemudian dihormati seperti seorang tuan besar. "Ah, ada-ada saja. Siapa sebenarnya yang tinggal di sini," gumam Dylan sambil berjalan menuju teras.
Dylan terus melangkah menyeberangi halaman yang luas, Ia memperhatikan ada banyak penjaga bersenjata di beberapa titik dan juga terdapat kamera CCTV di tiang-tiang lampu yang terpasang di sepanjang jalan setapak menuju teras.
Untuk sesaat ia merasa Dejavu. Ia pernah berada di situasi yang sama persis seperti sekarang, yaitu saat ia masih SMA dan ketika ia datang berkunjung ke rumah kekasihnya, yaitu Tiffani. Kediaman Tiffani juga dipenuhi oleh bodyguard bersenjata dan kamera CCTV, hingga membuat siapa oun yang datang ke sana akan merasa gugup. terpenjara, dan terintimidasi.
Dylan menggelengkan kepala, berusaha menjauhkan bayangan tentang Tiffani yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. Ia masih tidak nyaman jika mengingat gadis itu. Ia merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati Tiffani di rumah Tiffani sendiri, dan dengan sepupu Tiffani sendiri. Jika teringat akan semua kejadian itu, Dylan merasa sangat jijik pada dirinya yang begitu kejam pada Tiffani, dan ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi agar tidak kembali teringat pada kesalahan fatal yang telah ia lakukan.
Namun, semua itu telah berlalu, tidak patut untuk diingat kembali, apalagi saat ia akan menangani pasien seperti saat ini.
"Fokuslah, Dylan, fokuskan," ujar Dylan, pada dirinya sendiri, sambil terus melangkah menuju teras.
"Anda Dokter Dylan Aditya?" tanya seorang pria bertubuh besar dan berpakaian serba hitam yang ada di teras. Pria itu juga merupakan seorang bodyguard, sama seperti beberapa pria yang ia temui di depan tadi.
Dylan terkejut atas kemunculan pria itu. Sejak tadi ia melamun, hingga tidak menyadari jika ia telah tiba di teras.
"Ah, iya, benar. Aku Dokter Dylan," Jawab Dylan.
"Ikuti saya, Dok, Tuan telah menunggu Anda. Mari."
Dylan mengangguk dan segera mengekor langkah pria yang ada di hadapannya, Keduanya melangkah memasuki rumah dan langsung menuju elevator yang ada di sudut aula utama.
"Kamar tuan ada di lantai tiga," ujar si bodyguard pada Dylan.
Lagi-lagi Dylan hanya mengangguk sambil bergumam. Setelah beberapa saat keduanya pun tiba di lantai tiga.
Begitu pintu elevator terbuka, Dylan lagi-lagi disambut oleh pria yang berbeda yang menuntunnya menuju sebuah kamar.
"Dokter Dylan, mari ikuti saya."
Dylan mengangguk, dan mengekor langkah bodyguard yang berbeda dari bodyguard sebelumnya.
"Luar biasa. Siapa pun pemilik rumah ini, dia pasti orang yang sangat hebat," batin Dylan.
Tok, tok, tok.
Si bodyguard mengetuk, dan seketika pintu kamar terbuka.
"Dokter Dylan." Tirta yang merupakan asisten Emanuel menyapa Dylan sambil tersenyum.
"Ya, Pak, saya Dokter Dylan." Dylan menjawab degan kaku. Ia merasa sangat tidak nyaman sekarang, ia sendiri tidak tahu kenapa, tapi firasatnya tidak enak dan ia gugup setengah mati saat ini. Ia mulai menebak, apa jangan-jangan pasien yang harus ia obati adalah pasien yang mengalami tindak kekerasan dari si pemilik rumah.
"Aku Tirta, asisten pribadi Tuan Emanuel. Ayo ikuti aku," ujar Tirta lagi, lalu melangkah lebih jauh ke dalam kamar berukuran besar itu.
Dylan memperhatikan setiap detail yang ada di dalam kamar, terutama jalan keluar yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri seperti jendela dan bahkan angin-angin pun tidak luput dari perhatian Dylan. Dylan melakukan hal itu untuk berjaga-naga jikalau keadaan mendesak dan ternyata ia memang harus menyelamatkan diri. Namun, setelah beberapa saat memperhatikan setiap sudut kamar tersebut Dylan pun sadar jika ia tidak bisa melarikan diri seperti bayangannya. Ia sedang ada di lantai tiga saat ini, mana mungkin bisa melompat dari jendela, sedangkan di depan pintu kamar pun terdapat banyak bodyguard yang berjaga.
"Aku terjebak," batin Dylan lagi.
"Tuan El, aku membawa dokter yang Anda minta," ujar Tirta, begitu ia dan Dylan telah tiba di depan sebuah ranjang berukuran king size.
Dylan memperhatikan punggung seorang pria yang berdiri tepat di samping ranjang, sehingga Dylan tidak dapat menatap pasien yang berbaring di atas ranjang karena terhalang oleh tubuh Emanuel.
Detik berikutnya Emanuel berbalik agar dapat melihat dokter yang baru saja tiba. Setelah ia melihat Dylan, ia pun berkata, "Sadarkan dia bagaimana pun caranya, dan jangan sentuh dia sembarangan. Dia calon istriku."
Dylan mengangguk, lalu ia pun melangkah maju untuk memeriksa keadaan pasien yang ada di atas ranjang, dan ia sangat terkejut begitu melihat siapa pasien yang harus ia tangani.
"Astaga. Tiffani."
__ADS_1
Bersambung..