My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Memakainya


__ADS_3

Tidak terima dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Valerie, Elena berbalik dan menyusul Valerie. Ia menarik kasar lengan Valerie hingga membuat wanita itu berbalik dan menghempaskan dengan keras tangan Elena di lengannya.


"Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu? Apa kau masih belum tahu siapa aku?" tanya Elena sombong.


"Tidak peduli siapapun kau. Buktinya, kau bukan tandinganku!" seru Valerie. Bukan Valerie namanya jika hanya diam saat ia disakiti dan diperlakukan dengan tidak sopan oleh orang lain.


Tidak peduli siapapun lawan di hadapannya, Valerie tidak akan mengalah begitu saja saat harga dirinya diinjak-injak oleh orang tidak berperasaan.


Melihat pertengkaran Valerie dan Elena, teman-teman Elena merasa khawatir. Nyatanya, wanita yang menjadi target kekesalan Elena bukanlah wanita yang lemah dan mudah ditindas.


Di tempat gym itu, Elena dan Valerie menjadi pusat perhatian. Semua pengunjung yang mendengar dan menyaksikan pertengkaran mereka tidak berani melerai. Karena sejak awal, mereka tahu siapa Elena.


"Dengarkan aku, Jal*ng! Aku akan pastikan jika Brian tetap akan menikah denganku, apapun yang terjadi. Aku selalu bisa mendapatkan segalanya, bahkan hati seorang pria!" seru Elena.

__ADS_1


Valerie mengembangkan senyum di bibirnya. Kesombongan wanita itu benar-benar sangat tidak wajar. Ia begitu percaya diri meski sudah jelas Brian menolaknya mentah-mentah.


"Silahkan saja bermimpi," ucap Valerie dengan sedikit berbisik. Ia mengerlingkan sebelah matanya mengejek Elena.


"Kau!" Elena berteriak marah. Ia melayangkan sebelah tangan ke wajah Valerie, namun dengan cepat Valerie menahan pergelangan tangan wanita itu dan menghempaskannya kasar.


"Jangan sekali-kali berani menyentuhku jika tidak ingin aku mematahkan tanganmu!" hardik Valerie sambil meletakkan jari telunjuk tepat di wajah Elena. Ia sudah lebih dari sabar menghadapi sikap Elena. Jika terus dibiarkan, wanita itu akan semakin menjadi-jadi.


"Kau boleh sombong saat ini. Tapi lihat saja, suatu saat kesombonganmu itu akan menenggelamkan mu dalam kehidupan yang lebih sengsara!" seru Valerie.


Perasaan Valerie semakin kacau, ia semakin merasa kesal dan marah. Nyatanya tidak hanya pamannya saja yang sangat jahat, bahkan sepupunya pun sangat memuakkan. Wajar saja, buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya.


Selepas kepergian Elena, Valerie sudah merasa tidak mood dan kembali pulang menaiki taksi. Sekuat apapun Valerie berusaha untuk rela dan tidak menanam kebencian yang terlalu dalam pada keluarga pamannya, nyatanya ia tidak bisa. Terlebih, kini Elena bersikap sangat buruk padanya.

__ADS_1


Saat malam, Valerie gelisah. Ia tidak bisa memejamkan matanya, memikirkan tentang Brian, juga tentang Elena.


Saat Valerie masih kecil, ia dan Elena sering bermain bersama karena usia mereka sama dan hanya berbeda bulan lahir. Namun kenangan masa kecil itu hanya sebatas samar-samar, karena saat itu usia Valerie belum genap lima tahun. Wanita itu tidak menyangka, jika ia akan berhadapan dengan Elena dalam masalah seperti ini.


Sambil melamun, Valerie menatap sebuah bingkisan kecil yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidurnya.


Bingkisan kecil dengan tali pita berwarna merah muda itu manarik perhatiannya. Seketika, kalimat-kalimat tidak mengenakkan dari mulut Elena melintas di kepalanya.


Valerie bangkit, meraih bingkisan itu dan membukanya.


Wanita itu berdiri di depan cermin, mengaitkan kalung dengan liontin berlian mewah berbentuk angsa di lehernya.


Jantung Valerie berdebar kencang tatkala melihat wajah Brian berada di cermin di hadapannya.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2