
Hening.
suasana terasa sangat mencekam begitu Tiffani mengatakan bahwa Rama berselingkuh. Tentu saja satu pun yang ada di dapur saat ini tidak ada yang percaya pada apa yang Tiffani katakan. Rama yang setia, yang begitu cinta mati pada Tiffani mana mungkin melakukan tindakan bodoh dan murahan seperti berselingkuh.
Akan tetapi, tangis Tiffani yang tiba-tiba saja meledak membuat ketiganya menjadi sedikit ragu pada kesetiaan Rama. Tiffani yang periang dan begitu tegar tidak mungkin menangis tanpa alasan, dan Tiffani yang begitu percaya pada Rama tidak mungkin meragukan kesetiaan Rama jika Tiffani tidak memiliki bukti yang kuat.
Gracella mendekat ke Tiffani hingga tidak ada jarak di antara mereka. Ia lalu memeluk saudara kembarnya itu dan mengusap punggung Tiffani agar Tiffani menjadi lebih tenang. Siapa lagi yang bisa membuat Tiffani menjadi lebih tenang jika sedang bermasalah dengan Rama selain dirinya, toh mereka sudah tidak memiliki ayah.
"Ada buktinya?" tanya Gracella tanpa berbasa-basi.
Tiffani mengangguk, lalu melepaskan pelukan Gracella dari tubuhnya agar ia dapat menyerahkan ponsel Rama, dan memperlihatkan pesan yang masuk di ponsel tersebut.
"Ini buktinya. Pesan ini masuk baru beberapa saat lalu. Kebetulan sekali Rama meninggalkan ponselnya di kamar. Sepertinya Tuhan sengaja ingin memperlihatkan semua ini padaku agar aku tahu kalau Rama mengkhianatiku. Andai Rama membawa ponsel itu seperti biasanya, aku pasti tidak akan pernah tahu." Tiffani berujar sambil sesenggukan.
Mona mengelus dagunya sambil berkata, "Tapi Rama kan memang selalu meninggalkan ponselnya di dalam kamar. Dia bukan tipe suami yang selalu mengantongi ponselnya ke sana-kemari. Dia mana mungkin berselingkuh, Tiffani."
Tiffani memelototi Mona, lalu ia kembali berkata, "Jadi kamu tidak percaya padaku? Kalau kamu tidak percaya padaku lihat saja sendiri isi pesannya. Wanita itu bahkan memanggil Rama dengan sebutan tampan."
Sela yang berdiri begitu dekat dengan Gracella dan ikut membaca pesan dari ponsel Rama pun menyahut, "Tapi suamimu kan memang tampan, Tiffani, dan aku rasa hanya wanita ini yang suka pada Rama. Apa kamu lupa kalau aku dan Gracella pun pernah terpesona pada sosok Rama. Aku rasa wanita ini pun sama. Dia hanya korban dari ketampanan Rama."
Penjelasan Sela terdengar masuk akal. Rama memag memberi efek demikian pada wanita mana pun yang baru pertama kali melihat Rama. Tidak ada wanita yang tidak terpesona pada Rama saat melihat Rama untuk yang pertama kali, dan tidak jarang beberapa wanita bertekad untuk mengejar Rama dan mendapatkan perhatian dari Rama.
"Agar tidak terjadi salah paham, bagaimana kalau kita labrak saja Rama," ujar Mona, memberi saran.
"Labrak? Kamu pikir kita ini anak sekolahan yang sedang berebut pacar? Ingat umur dong, Mon," gumam Sela.
Tiffani mengibaskan rambut panjangnya. "Aku setuju. Aku setuju untuk melabrak Rama. Ayo, kita labrak dia. Di mana dia sekarang?" tanya Tiffani.
"Di halaman belakang. Dia ada di sana sedang berlatih bersama Xavier," jawab Mona.
Setelah mendengar jawaban dari Mona, Tiffani segera melangkah menuju halaman belakang.
Sela dan Gracella hanya bisa menggeleng sambil menghela napas panjang sebelum akhirnya menyusul Tiffani dan Mona yang bertingkah seperti anak ABG.
"Yang benar saja. Bukankah lebih baik jika Tiffani dan Rama membicarakannya baik-baik berdua saja. Kita tidak perlu ikut campur seperti ini kan." Sela berkomentar, sambil terus mengekor langkah Tiffani.
Gracella berdecak. "Ini semua karena Mona memanasi Tiffani. Mereka berdua memang cocok sekali."
Tiffani terus melangkah hingga tiba di halaman belakang, dan begitu tiba di halaman belakang Tiffani langsung meletakkan tangan di pinggang dan berteriak memanggil Rama yang sedang terlibat pembicaraan serius dengan Xavier.
"Rama!" teriak Tiffani.
Rama dan Xavier yang mendengar teriakan Tiffani di kejauhan secara bersamaan menoleh ke asal suara.
Begitu melihat Tiffani di sisi lain halaman, Rama melambai sambil tersenyum dan melempar ciuman jauh ke Tiffani.
Melihat apa yang Rama lakukan, Xavier tertawa sambil berujar, "Aku rasa dia sedang marah. Kamu tidak perlu memberikannya ciuman jauh dan lambaian. Lihatlah wajahnya. Jelas sekali kalau dia sedang kesal sekarang."
Rama mengangguk. "Ya, sepertinya memang begitu. Entah karena hal apa lagi dia merajuk kali ini, tadi pagi masih baik-baik saja kok," ujar Rama, masih sambil melambai, sementara Tiffani mulai melangkah menghampirinya.
Setibanya di hadapan Rama, Tiffani langsung mendorong dada Rama dengan keras, membuat tubuh Rama limbung dan hampir saja pria itu terjatuh, tetapi Tiffani tidak peduli. Tiffani terus mendorong rama dengan keras
"Kenapa kamu jahat sekali padaku?! Kenapa, hah, kenapa?" teriak Tiffani, membuat Rama terkejut bukan main, karena tidak biasanya Tiffani kehilangan kendali seperti sekarang.
Rama memegangi dadanya dan menatap Tiffani penuh tanda tanya, lalu mengalihkan tatapannya ke Mona, Sela, dan Gracella yang berdiri di belakang Tiffani, berharap salah satu dari mereka dapat menjawab kebingungan yang Rama rasakan.
__ADS_1
"Jika sudah bosan padaku seharusnya kamu bilang saja. Aku pasti akan melepasmu dengan ikhlas," seru Tiffani lagi, yang semakin membuat Rama kebingungan.
"Apa maksudmu, Tiffani, kenapa tiba-tiba bicara seperti ini?" tanya Rama, sambil menyentuh kedua pipi Tiffani yang basah karena air mata.
Bukannya menjawab pertanyaannya Rama, Tiffani malah menangis sejadi-jadinya dan berusaha menjauhkan tangan Rama dari pipinya.
Gracella yang tidak sabar dengan drama kesedihan di hadapannya pun berinisiatif untuk mengatakan pada Rama apa yang tengah terjadi.
"Tiffani bilang pada kami semua kalau kamu itu menduakannya, Rama," ucap Gracella, singkat, padat, dan jelas.
Mendengar apa yang Gracella katakan, kedua mata Rama sontak membelalak lebar.
"Aku selingkuh maksudmu?" tanya Rama.
Gracella mengangguk, memberi penegasan.
Rama menghela napas panjang lalu beralih kembali menatap Tiffani.
"Astaga, Sayang, mana mungkin aku melakukan itu. Tidak ada alasan bagiku untuk mengkhianatimu, apalagi sampai mencintai wanita lain. Semua itu sangat tidak mungkin, dan--"
"Ini buktinya, Rama. Apa kamu bisa menjelaskan padaku maksud dari pesan itu, hah?" Tiffani menyerahkan ponsel Rama dengan kasar kepada pemiliknya.
Rama yang gesit segera menerima pemberian mendadak dari Tiffani itu sebelum ponselnya jatuh menyentuh tanah di bawahnya, dan berikutnya ia mulai membaca pesan yang terpampang di layar ponselnya. Dengan dahi mengernyit ia pun beralih menatap Xavier.
"Ada apa?" tanya Xavier, sambil menghampiri Rama dan ikut membaca pesan yang ada di ponsel Rama.
"Ini wanita yang kemarin sepertinya," ujar Rama.
Xavier mengangguk. "Ya, aku yakin itu dia. Dia sungguh-sungguh datang kemari. Menurutmu apa yang dia inginkan dari kita? Dia bahkan tidak ingin uang saat kamu akan memberinya uang."
Xavier kembali mengangguk. "Ya, cepatlah."
Tangis Tiffani terhenti saat ia melihat keseriusan Rama dan Xavier. Sekarang ia justru penasaran apa yang telah wanita itu lakukan sampai-sampai Rama dan Xavier menawari wanita itu uang. Bukan hanya Tiffani yang penasaran, Gracella pun ikut penasaran karena Xavier terlihat mengenal wanita itu juga.
Gracella yang tidak suka berbasa-basi segera mendekat ke Xavier dan Rama, lalu ia menepuk bahu kedua pria tersebut sambil berkata, "Kalian berdua tidak melakukan Threesome, 'kan?" tanya Gracella.
Rama dan Xavier terbentuk mendengar pertanyaan dari Gracella. Bukan hanya Rama dan Xavier yang terkejut, tetapi Tiffani juga.
"Astaga, Sayang, apa yang kamu katakan?! Jangan mengada-ngada," ujar Xavier, lalu meraup wajah mungil Gracella dan mendaratkan kecupan di bibir wanita itu.
Xavier memang seperti itu, ia tidak ragu untuk mencium Gracella di depan banyak orang. Sikapnya seperti seorang baji-ngan sejati yang tidak memedulikan sekitarnya jika ingin melakukan sesuatu. Tidak heran jika dulu Xavier merupakan bodyguard utama andalan Richard Raendra.
"Lalu siapa dia?" tanya Gracella lagi, setelah Xavier menjauhkan bibir dari bibirnya.
"Ceritanya panjang, tapi asal kamu dan Tiffani tahu saja agar kalian tidak terus-terusan salah paham. Wanita ini adalah wanita yang membantu kami saat kami berada di gudang tempat Rama ditahan. Wanita ini jugalah yang memberi tahu Adam di mana Rama ditahan. Kalian akan bertemu dengannya nanti, toh dia sudah dalam perjalanan kemari. Kalian bisa tanya sendiri jika tidak percaya." Xavier menjelaskan secara singkat pada sang istri dan juga Tiffani.
Rama yang baru saja mengirim pesan ke Ara, kini mendekat ke Tiffani dan memberikan pelukan hangat pada wanitanya itu. "Mana mungkin aku mengkhianatimu. Sama sekali tidak mungkin, Sayang. Dia bukan siapa-siapa. Kami baru bertemu dengannya kemarin di gudang, dan dia berhasil mengusir semua penjahat yang mengepung kami dengan cara konyol yang dia ciptakan."
Tiffani meneguk saliva, ia merasa malu sekali karena telah membuat kehebohan yang tidak penting.
"Maafkan aku, aku hanya--"
"Tidak masalah. Aku suka kalau kamu terus cemburu seperti ini." Rama memotong ucapan Tiffani.
"Nah, karena sekarang sudah tidak ada masalah bagaimana kalau kita masuk ke dalam dan makan siang. Sup iga yang kubuat sudah siap untuk disantap, kita bisa makan sambil menunggu wanita itu tiba di sini," ujar Sela.
__ADS_1
Xavier mengangangguk setuju. "Aku setuju. Aku lapar sekali. Apa pun yang harus kita bicarakan bisa kita bicarakan nanti," ujar Xavier, sambil menatap Rama, karena sebelum Tiffani datang ia memang sedang berbicara serius dengan Rama.
"Ayo kita masuk kalau begitu," ajak Rama, lalu melangkah lebih dulu menuju ke bangunan utama sambil menggandeng tangan Tiffani.
***
Damar mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju sebuah rumah mewah bergaya eropa yang terletak di atas perbukitan, jauh dari perkotaan.
Daerah itu sangat sejuk dan asri. Pepohonan tumbuh rapat, hingga jalanan menjadi sangat teduh, tidak seperti di tengah kota yang sangat panas. Tidak banyak rumah yang ada di daerah tersebut. Hanya beberapa rumah dengan pagar tinggi yang jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain pun sangat jauh.
Setibanya di tempat tujuan, Damar langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah dengan cepat menuju pos keamanan. Ia tidak repot-repot menunggu seorang sekuriti membukakan gerbang depan untuknya, karena ia tahu jika kedatangannya pasti akan ditolak.
"Katakan pada tuan kalian kalau Damar ingin bertemu," ujar Damar pada seorang sekuriti yang berjaga.
Sekuriti itu kemudian menghampiri Damar, lalu bertanya, "Apa Anda sudah membuat janji?"
Damar menggeleng. "Belum, tapi dia pasti akan memintaku untuk masuk jika kamu katakan padanya bahwa Damar datang dan ingin bertemu."
Si sekuriti menghela napas panjang. "Anda tidak bisa begitu saja datang dan meminta untuk bertemu dengan tuan muda, Pak. Anda harus membuat janji sebelumnya, itulah peraturan yang berlaku di sini. Lagi pula tuan sedang tidak ada di rumah saat ini. Maafkan aku, tapi Anda harus kembali. Aku hanya menjalankan tugas yang ...."
Damar habis kesabaran, ia mencekik leher si sekuriti sebelum sekuriti itu menyelesaikan ucapannya. "Aku tidak ada waktu, cepat panggil Dion sekarang juga!"
Baru saja Damar membentak sekuriti yang ada di hadapannya, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang utama, dan Damar mengenali mobil itu sebagai mobil Dion.
Damar melepas cekikannya di leher si sekuriti dan menatap pintu mobil yang perlahan terbuka.
"Hai, Pak Damar. Kenapa tidak mengabariku jika akan datang? Dan kenapa pula Anda menyakiti penjaga rumahku?" tanya Dion, yang baru saja keluar dari dalam mobil mewahnya.
Damar segera menghampiri Dion, dan tanpa berbasi-basi ia mengutarakan niatnya datang ke rumah pria tersebut.
"Jangan sakiti Tiffani. Apa pun yang terjadi, jangan sampai kamu melukainya. Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja jika kamu sampai berani membuatnya tergores sedikit saja."
Dion mengernyitkan dahi, kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Anda peduli padanya? Bukankah Anda mengkhianatinya?"
"Ya, aku mungkin mengkhianatinya dan mengacaukan bisnisnya, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menghancurkan hidupnya. Jadi, kuperingatkan padamu, Dion, jangan sekali pun kamu membuatnya terluka. Hal demikian juga berlaku pada Rama. Jangan sakiti Rama."
Setelah memberi peringatan pada Dion, Damar segera melenggang pergi dari hadapan Dion dan kembali melajukan mobil yang ia kendarai menuju perkotaan.
Dion menyeringai saat Damar tidak lagi ada di hadapannya. Ia terlihat tidak terima pada perlakuan Damar yang menurutnya sangat kurang ajar. Selama ini belum ada orang yang berani datang dan mengancamnya, tapi sekarang Damar yang tua itu berani melakukan hal selancang itu padanya.
"Sial," gumam Dion.
***
Bus yang membawa Ara ke ibu kota akhirnya tiba setelah menghabiskan waktu lebih kurang dua jam perjalanan. Suasana kota yang ramai berbanding terbalik dengan tempat asal Ara membuat wanita itu bingung dan juga lebih antusias daripada sebelumnya.
Ara yang sekarang telah berada di luar bus mulai melangkah menuju sebuah taksi yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hei, Pak, bisa antar aku ke alamat ini?" tanya Ara, menunjukan layar ponselnya pada seorang sopir taksi yang bersandar pada badan mobil berpelat kuning.
Si sopir yang terkejut segera menatap layar ponsel Ara, di mana terdapat sebuah alamat di sana.
"Wah, ini sih alamat si mafia yang terkenal itu," komentar si sopir.
Dahi Ara mengernyit. "Mafia?!"
__ADS_1
Bersambung.