
Rama tidak bisa menolerir apa yang baru saja terjadi. Hampir saja, hampir saja ia kehilangan Tiffani, seseorang yang paling berharga baginya di dunia ini. Andai saja gerakannya tidak cepat, mungkin sekarang Tiffani telah berpindah ke dunia lain. Namun, untunglah hal buruk itu tidak terjadi. Setelah berhasil menyelamatkan Tiffani dari maut, sekarang Rama memiliki dua pekerjaan lain, yaitu mengantar Tiffani kembali ke rumah dengan selamat, dan menangkap pelaku yang telah berani mencelakai Tiffani.
Rama merangkak ke kolong meja kerja bersama dengan Tiffani yang masih terlihat sangat terkejut dan ketakutan, lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya untuk menghubungi Rei yang berada di markas. Ia sadar jika ia tidak bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus, ia membutuhkan timnya saat ini.
"Halo, Rei, datanglah ke kantor sekarang dengan tim utama. Bawa senjata kalian dan pakailah rompi anti peluru. Bergegaslah, jangan pakai lelet! Misi kalian kali ini adalah melindungi Tiffani dan membawa Tiffani kembali ke rumah dengan selamat." Rama berkata dengan cepat, lalu ia memutuskan panggilan, dan kembali fokus ke Tiffani. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Rama.
Tiffani mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Bagus, memang seharusnya seperti itu. Kamu adalah Alika Tiffani Raendra, putri dari Richard Raendra, dan istri dari Rama. Kamu wanita yang luar biasa kuat dan pemberani dengan latar belakang yang luar biasa hebat. Bisakah aku meninggalkanmu di sini, Tiffani?"
Tiffani memeluk pinggang Rama dengan erat sekarang. Ia tidak ingin Rama meninggalkannya.
"Kamu memujiku hanya untuk pergi meninggalkanku? Tidak tahukan kamu kalau aku sangat ketakutan sekarang, Rama? Jantungku bahkan hampir copot rasanya," ucap Tiffani.
Rama menggeleng. "Aku tidak ingin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini, Tiffani, tapi aku harus. Aku harus menangkap siapa pun yang ada di seberang sana. Aku harus menangkap orang yang telah berani menembakkan peluru ke arahmu."
"Lupakan saja, dia pasti sudah pergi sekarang." Tiffani berujar dengan yakin. "Tidak mungkin dia menunggu di sana setelah dia gagal menyelesaikan tugasnya, memangnya dia bodoh dan sengaja berdiam diri hanya untuk ditangkap."
Rama membelai puncak kepala Tiffani sembari berkata, "Kemungkinan itu memang ada, tapi kemungkinan jika dia masih ada di gedung itu juga tidak mustahil. Sementara kita mengobrol di sini bisa saja dia pergi. Kita tidak bisa membuang waktu. Tunggulah di sini, bodyguard akan segera datang dan melindungimu. Untuk sementara pegang ini, jangan ragu untuk menembak siapa pun yang datang dan mencoba untuk menyerangmu." Rama menyerahkan senjata apinya ke Tiffani, dan ia segera keluar dari bawah kolong meja.
"Rama, kalau aku pegang ini, lalu apa yang akan kamu gunakan, hah?" Tiffani meneriaki Rama sebelum Rama mencapai pintu.
Mendengar teriakan Tiffani, Rama berhenti dan menoleh untuk menatap sang istri. "Aku bisa meninju seratus orang sekaligus, jangan khawatir, dan doakan saja aku," jawab Rama, lalu segera keluar dari dalam ruangan.
Tiffani mendengkus kesal mendengar jawaban Rama. "Dasar pembual. Kenapa dia sombong sekali. Bodoh, bodoh, bodoh!" jerit Tiffani. Ia terlihat frustrasi sekali, karena ia tidak pernah menyangka jika serangan yang begitu mendadak akan menimpanya dan juga Rama.
***
Rei berkendara dengan kecepatan penuh menuju kantor Tiffani. Ia membawa serta tim utama seperti perintah Rama. Bahkan Adam nyang sudah tidak terlalu cekatan pun turut serta untuk melindungi Tiffani.
Rombongan Rei terdiri dari dua mobil, yang masing-masing mobil berisi empat orang bodyguard bertubuh tinggi dan tegap.
Setelah beberapa saat berkendara akhirnya Rei tiba di gedung perkantoran milik Tiffani. Rei langsung turun dari dalam mobil, disusul oleh bodyguard lainnya.
"Kami utusan Pak Rama," ujar Rei, sambil menunjukan kartu identitas pada petugas sekuriti yang berjaga di pintu masuk utama.
__ADS_1
Kartu identitas yang dimiliki bodyguard utama berwarna gold, dengan tulisan-tulisan timbul yang berbunyi VIP. Siapa pun yang memiliki kartu identitas tersebut akan mendapat akses dengan mudah dalam hal apa pun, termasuk keluar-masuk kantor Tiffani kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
"Masuklah," ujar si sekuriti tanpa banyak bertanya.
Kehadiran delapan orang pria bertubuh besar, tegap, dan berwajah tampan yang semuanya mengenakan jas berwarna hitam menarik perhatian semua karyawan yang ada di gedung tersebut. Selama ini kebanyakan dari karyawan bertanya-tanya tentang apa sebenarnya yang dikerjakan oleh keluarga Raendra sampai harus memiliki bodyguard yang jumlahnya sangat banyak. Apalagi bodyguard -bodyguard itu sering datang ke kantor dan langsung menuju ke ruangan Tiffani, tidak jarang juga mereka hanya berkliling, sambil bicara melalui headseat bluetooth satu sama lain yang membuat mereka semua terlihat begitu keren sekaligus sangat misterius.
Setibanya di ruangan Tiffani, Rei yang memimpin tim langsung mengetuk pintu kaca yang ada di hadapannya.
"Nyonya. Ini aku Rei!" seru Rei dari luar ruangan.
Mendengar suara Rei, Tiffani segera keluar dari bawah kolong meja dan berlari menuju pintu.
"Syukurlah kalian datang," ujar Tiffani.
"Anda baik-baik saja?" tanya Rei.
Tiffani mengangguk. "Ada penembak runduk yang menyerangku dan juga Rama. Rama di sana sekarang. Di gedung itu. Cepatlah kalian ke sana, aku tidak ingin jika sesuatu terjadi padanya."
Rei terlihat cemas, tetapi ia tidak langsung menuruti perintah dari Tiffani, karena perintah dari dari Rama jelas mengatakan kalau ia dan juga tim harus melindungi Tiffani dan membawa Tiffani kembali ke rumah dengan selamat.
"Cepat, Rei! Apalagi yang kalian tunggu, hah?" Tiffani berteriak di hadapan Rei dan bodyguard lainnya,
Adam dan bodyguard lainnya mengangguk setuju.
Tiffani memelototi Mario. "Siapa bosnya di sini? Aku bosnya, dan hanya perintahkulah yang wajib kalian dengarkan. Sekarang juga pergilah ke gedung itu. Rama di sana seorang diri, dan dia tidak membawa senjata. Dia memberikan pistolnya padaku sebelum dia pergi, lihat ini. Lihat!" Tiffani memperlihatkan senjata api di tangannya ke setiap bodyguard yang berdiri di hadapannya saat ini.
Akan tetapi, Rei, Mario, dan yang lainnya bergeming. Tidak ada satu pun di antara mereka yang pergi untuk menyelamatkan Rama.
Melihat tidak ada pergerakan yang terjadi, Tiffani marah besar, ia mendorong tubuh Rei dan Mario, lalu segera berlari menuju elevator.
"Nyonya, Anda mau ke mana?" Rei berteriak, lalu segera menyusul Tiffani bersama dengan bodyguard lainnya.
"Diam di sana, dan jangan ikuti aku, atau kalian semua akan kutembak!" ancam Tiffani, sambil menodongkan senjata apinya ke Rei.
Rei merentangkan tangan, meminta anggota timnya untuk berhenti mengejar Tiffani. Setelah Tiffani masuk ke dalam elevator dan elevator mulai meluncur turun barulah Rei mulai memberi perintah pada anggota timnya.
__ADS_1
"Gunakan tangga darurat. Kita tidak boleh kehilangan Nyonya." Rei menunjuk tangga darurat yang ada di sisi lain gedung.
Para anggota tim mengangguk, dan segera berlari menuju tangga darurat, menapaki anak tangga dua-dua sekaligus agar mereka bisa lebih dulu tiba di lantai dasar sebelum Tiffani.
"Aku bisa kurus kalau begini," keluh Adam.
Andi menoleh ke arah Adam yang ada di sebelahnya. "Bagus untukmu, agar tubuhmu tidak sebesar babon," komentarnya.
"Ish, dasar!" Adam meninju punggung Andi, yang langsung dibalas oleh Andi dengan cepat.
"Berhentilah kalian berdua. Bisa-bisanya kalian bertengkar di saat kita sedang menjalankan misi." Anton membentak Adam dan Andi yang masih saling tinju.
Sementara itu di dalam elevator, Tiffani sangat gelisah. Ia mondar-mandir dengan tidak sabaran, menanti elevator tiba di lantai dasar.
"Semoga aku tidak terlambat. Semoga saja, semoga saja, semoga saja," gumam Tiffani.
Ting!
Pintu elevator terbuka, dan Tiffani segera berlari keluar dari dalam elevator dengan tangan yang masih menggenggam senjata api milik Rama.
Pemandangan Tiffani yang berlari melintasi lobi dengan membawa senjata api tentu saja menjadi perhatian para karyawan yang ada di sana. Namun, Tiffani yang sedang kalut tidak menyadari bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian saat ini.
"Tiffani. Apa yang kamu lakukan!"
Sela mendadak muncul di pintu masuk dan langsung menghampiri Tiffani. dengan cepat Sela merebut senjata api di tangani Tiffani dan memasukan senjata itu ke dalam tas tangannya.
"Kamu menakuti semua orang," ujar Sela.
Tiffani terlihat bingung pada awalnya, ia tidak mengerti apa maksud ucapan Sela. Namun, beberapa saat kemudian ia menyadari apa maksud Sela.
"Aku lupa," desis Tiffani.
Sela berdecak. "Ada masalah apa?" tanya Sela.
Belum lagi Tiffani menjawab pertanyaan Sela, Rei dan bodyguard lainnya tiba di lobi dan langsung menghampiri Tiffani. Seketika sebuah ide muncul di dalam kepala Tiffani.
__ADS_1
"Aku akan pulang dengan Sela dan Johan," ujar Tiffani, saat ia melihat Johan sedang berdiri di luar gedung. "Aku akan aman bersama dengan mereka berdua. Sementara kalian semua kuperintahkan untuk menyusul Rama. Lakukanlah sekarang!"
Bersambung.