
Ara terkejut mendengar apa yang baru saja si sopir taxi katakan. Ia sering mendengar istilah mafia, dan istilah itu bukanlah istilah yang baik untuk disematkan pada seseorang atau sekelompok orang.
Mafia di dalam pikiran Ara adalah sekumpulan penjahat yang suka menyiksa dan menindas orang yang lemah agar tujuan si mafia tercapai. Bahkan bagi Ara, mafia sama saja dengan psik-opat.
Ara bergidik membayangkan jika orang-orang yang kemarin ia tolong adalah sekumpulan psikopat.
"Pantas saja jika semua orang-orang itu memiliki senjata dan berurusan dengan sekumpulan penjahat pemilik gudang itu," gumam Ara, yang merasa menyesal karena telah menyelamatkan sekumpulan penjahat.
"Tapi bukankah yang menyerang mereka juga penjahat. Jadi, penjahat lawan penjahat, tidak ada bedanya, yang penting si penjahat yang kutolong ini bersedia untuk membantuku. Malah lebih bagus kalau aku bisa berteman degan penjahat-penjahat ini," gumam Ara lagi.
Si sopir yang sejak tadi memperhatikan Ara yang asyik mengoceh sendirian pun menepuk bahu Ara dan menanyakan apakah Ara jadi pergi ke alamat si mafia.
Ara mengangguk. "Ya, jadi. Ayo, kita berangkat." Ara kemudian melempar tasnya ke dalam taksi, lalu selanjutnya ia yang masuk ke dalam taksi tersebut.
Di dalam perjalanan, Ara yang memang memiliki rasa penasaran tinggi dan banyak bicara bertanya pada si sopir yang sedang menyetir sambil bersenandung pelan.
"Apa orang-orang yang tinggal di alamat ini adalah mafia yang jahat?" tanya Ara.
Si sopir mengangguk. "Ya, aku dengar, sih, begitu. Tapi, gosip kan tidak selamanya benar. Tuan besar di sana dulu suka sekali membantu orang-orang susah. Tapi, sekarang beliau sudah meninggal dunia, hanya tersisa anak dan menantunya."
"Jadi, anak dan menantunya ini semuanya jahat?" tanya Ara lagi.
Si sopir menggeleng. "Tidak. Mereka semua baik, sama seperti tuan besar yang lama. Keluarga Raendra terkenal sering melakukan acara-acara amal, menyumbangkan banyak uang untuk panti asuhan dan panti jompo."
Ara menggaruk kepalanya. Ia bingung kenapa orang-orang yang begitu baik malah mendapat julukan mafia. Terkesan berlawanan sekali dengan julukan yang tersemat.
"Kalau mereka semua terkenal baik hati dan suka berbagi, kenapa mereka disebut mafia? Bukankah mafia adalah orang-orang jahat yang suka mengintimidasi orang lain dan juga membunuh orang yang tidak bersalah?" Ara kembali bertanya. Ia kurang puas pada penjelasan si sopir.
Si sopir tertawa mendengar pertanyaan Ara.
"Ya, mereka memang baik, dan tidak pernah mengintimidasi masyarakat, tapi pekerjaan mereka semua sangat berbahaya. Putri Tuan Richard selalu pergi dengan dikawal oleh banyak bodyguard bersenjata, kemunculan mereka saja di tengah-tengah masyarakat mampu membuat orang lain merasa terintimidasi secara tidak langsung. Dan apa Anda tidak tahu, kalau mereka itu melakukan perdagangan narkoba besar-besaran dan juga senjata api ilegal, bahkan bahan peledak juga. Bukankah semua itu melanggar hukum dan merugikan banyak orang. Itulah sebabnya mereka disebut mafia."
Ara menutup mulut dengan kedua tangan sambil membelalak. Ia ngeri sekali membayangkan bahwa pria-pria tampan yang kemarin ia tolong adalah pria-pria yang bekerja pada seseorang yang merusak banyak masa depan.
"Bagaimana dengan polisi? Apa tidak ada polisi yang menangkap mereka semua? Kan mereka semua jelas-jelas telah melanggar hukum."
Si sopir kembali tertawa, kali ini bahkan lebih keras daripada sebelumnya.
"Polisi tidak ada yang bisa menye tuh mereka. Hal itu sudah mencari rahasia umum."
Setelah mendengar penjelasan dari si sopir, Ara berhenti bertanya. Ia takut jika ia mendengar lebih banyak, ia malah akan sibuk berspekulasi dan mengkotak-kotakan manusia berdasarkan golongan baik dan jahat. Jika itu terjadi, bisa-bisa ia melupakan misi utamanya.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit lamanya, akhirnya Ara tiba di tempat tujuan. Ia segera membayar dan mengucapkan terima kasih, dan kemudian keluar dari dalam taksi dengan kedua kakinya yang gemetar.
"Semoga Anda baik-baik saja," ucap si sopir taksi, kemudian segera beranjak pergi dari hadapan Ara.
Ara tidak menanggapi ucapan si sopir, karena sekarang ia sedang sibuk memandangi bangunan megah yang ada di hadapannya. Bangunan besar yang dikelilingi pagar beton itu adalah satu-satunya bangunan yang ada di lingkungan tersebut.
"Ini rumah atau gedung," ujar Ara.
Belum lagi ia melangkah menuju gerbang masuk yang begitu tinggi dan terlihat kokoh, ia merasa ponselnya bergetar. Ara pun segera meraih ponselnya di dalam saku jaket dan melihat sebuah pesan masuk yang datangnya dari Rama.
[Aku tahu kamu sudah di depan. Masuklah. ]
Ara terkejut, ia segera mendongak dan menjelajah setiap titik di sekitarnya dengan kedua matanya untuk mencari keberadaan Rama.
__ADS_1
"Luar biasa, dia bahkan tahu kalau aku sudah tiba. Apa aku sedang dimatai-matai sekarang," gumam Ara.
Ara menegakkan tubuhnya dan melangkah dengan tergesa-gesa menuju gerbang yang tertutup rapat.
Dua orang penjaga bersenjata yang berdiri di bagian luar gerbang langsung membuka gerbang untuk Ara, seolah kedatangan Ara telah diumumkan sebelumnya. Ara bahkan tidak mendapat berbagai macam pertanyaan, dan barang yang ia bawa tidak digeledah sama sekali.
"Masuklah, akan ada penjaga di dalam yang mengantar Anda untuk menemui tuan dan nyonya," ujar penjaga gerbang depan yang memiliki tubuh tegap dengan otot-otot menyembul bagai petinju kelas dunia.
"Tuan dan nyonya? Aku tidak ingin menemui tuan dan nyonya rumah ini. Aku hanya ingin menemui anak buah mereka yang kemarin, yang ...." Ara tidak menyelesaikan ucapannya, karena ia sadar jika si penjaga tidak lagi fokus pada dirinya.
Ara menghela napas panjang, dan langsung melangkah melewati gerbang yang terbuka. Dan benar saja, seorang penjaga yang berjaga di bagian dalam gerbang segera menghampiri Ara.
"Selamat datang. Mari ikuti aku," ujar penjaga itu.
Ara mengangguk, dan mengekor langkah si penjaga yang melangkah dengan cepat di depannya. Mereka melintasi halaman berumput yang sejuk dan asri, karena hampir di setiap sudut halaman terdapat pohon tabebuya berukuran besar yang pada setiap dahannya dipenuhi dengan kelopak bunga berwarna-warni, cantik sekali.
Ara berdecak-decak kagum saat ia melintasi sebuah bangunan yang terlihat seperti markas tentara di sisi kanan halaman, dan kemudian ditengah lahan yang begitu luas itulah berdiri sebuah bangunan bertingkat tiga yang menjulang, berwarna putih dengan jendela-jendela besar yang dibiarkan terbuka.
"Ini, sih, istana, bukannya rumah," ujar Ara.
Setibanya di teras, penjaga yang sejak tadi mengawalnya pun segera berbalik dan pergi, lalu seorang kepala pelayan menghampiri Ara.
"Selamat datang. Ikuti aku, Nona," ujar si pelayan dengan suara yang ramah.
Ara mengangguk dan kembali mengekor langkah orang asing menuju bagian dalam rumah yang begitu luas dan mewah. Ara bahkan harus bersusah payah mengendalikan rasa kagumnya, jika tidak, mungkin sekarang ini ia akan berlarian ke sana-kemari untuk menyentuh semua benda mengagumkan yang ada di sana.
Tidak lama kemudian Ara tiba di ruang keluarga yang ukurannya pun tidak kalah luas dari ruang utama. Di tengah ruangan terdapat sofa besar berbahan beledu yang lembut dan terlihat nyaman untuk diduduki. Di atas sofa itu juga Ara melihat seorang wanita yang luar biasa cantik sedang duduk sambil membaca majalah. Wanita itu adalah Tiffani, Tiffani Raendra yang terkenal akan kecantikannya.
"Nyonya, tamunya sudah tiba," ujar si pelayan.
"Hai," sapa Tiffani dengan ramah. Senyum ramah yang begitu manis di wajah Tiffani membuat ketegangan Ara menghilang.
Ara tidak lagi merasa ketakutan seperti sebelum ya, ia refleks membungkuk untuk memberi hormat. Pesona Tiffani yang terlihat seperti seorang ratu membuat Ara refleks melakukan hal itu.
"Selamat siang, Nyonya, aku Ara," ujar Ara dengan suara yang mendayu-dayu. "Maaf karena telah mengganggu hari Anda yang menyenangkan."
Tiffani tertawa. "Jangan lakukan itu. Santai saja. Kamu adalah tamuku, Mari kita berbicara santai," ucap Tiffani, lalu melanjutkan, "Kemari, dan duduklah."
Ara mengangguk dan segera menghampiri sofa. Begitu tiba di hadapan Tiffani, Ara menekuk lutut dan meletakkan bokongnya di atas karpet tebal buatan turki, karpet itu di letakan di bawah sofa.
”Apa yang kamu lakukan? Duduklah di atas, jangan di bawah!" seru Tiffani. Ia terkejut karena Ara bertingkah seperti seorang babu, padahal jika bukan karena wanita itu ia mungkin akan kehilangan Rama untuk selamanya.
"Tapi, aku tidak pantas untuk--"
"Tidak pantas untuk apa tepatnya? Duduklah di atas, di rumahku tidak ada yang duduk di bawah, bahkan pelayan pun akan duduk di sofa saat sedang berbicara denganku." Tiffani memotong perkataan Ara.
Ara segera bangkit berdiri dan duduk di sofa sesuai perintah Tiffani.
"Nah, begitu lebih baik," ujar Tiffani sambil tersenyum.
Ara ikut tersenyum, sulit sekali untuk tidak tertular pada senyum Tiffani yang begitu menawan.
"Maafkan kedatanganku, Nyonya, sebenarnya aku datang kemari bukan bermaksud untuk merepotkan Anda. Sebenarnya aku ingin bertemu dengan seseorang yang bekerja pada Anda. Dia adalah pria yang kemarin terikat di gudang. Dia tampan sekali, dan juga jago berkelahi, dengan dialah aku ingin bertemu," ujar Ara, menjelaskan maksud kedatangannya pada Tiffani agar Tiffani tidak menganggapnya sebagai tamu tak diundang.
Tiffani menyilangkan tangan di depan dada, kemudian ia berkata, "Kebetulan sekali pria tampan dan jago berkelahi yang kamu katakan itu adalah suamiku. Dia Rama, suamiku."
__ADS_1
Kedua mata bulat Ara seketika melotot. "Dia suami Anda?" tanyanya, dengan wajah merah padam karena merasa malu setengah mati.
"Iya, dia suamiku." Tiffani menjawab singkat sambil tersenyum, agar Ara tidak merasa canggung padanya.
Ara segera bangkit berdiri dan kemudian berlutut di hadapan Tiffani. Ia merasa bersalah sekali karena telah berani lancang pada Rama yang ternyata adalah seorang tuan besar.
"Maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu, sungguh, Nyonya," lirih Ara, lalu melanjutkan, "Aku akan pulang saja kalau begitu. Maafkan aku, sekali lagi aku mohon maafkan aku. Anggap saja aku tidak pernah datang ke sini, lupakan saja semuanya. Aku permisi, Nyonya," ucap Ara, yang bersiap untuk beranjak dari ruangan itu.
Akan tetapi, belum lagi niat Ara untuk pergi dari sana terlaksana, Rama tiba-tiba muncul di ambang pintu yang memisahkan antara lorong dan ruang keluarga. Xavier dan Gracella juga terlihat memasuki ruangan, keduanya berada tepat di belakang Rama.
"Kamu sudah datang," ujar Rama, begitu ia melihat Ara.
Ara meneguk salivanya dan kemudian ia berkata dengan susah payah, "Aku baru saja mau pergi, maafkan aku yang lancang ini, selamat tinggal," ujarnya, lalu melangkah melewati Rama sambil membungkuk.
Xavier menghalangi langkah Ara yang setengah berlari menuju lorong. "Katakan dulu apa maksud kedatanganmu, setelah itu barulah kamu boleh pergi."
Ara mendongak agar dapat menatap wajah Xavier. "Apa kamu seorang penjaga di sini?" tanyanya.
Xavier menggeleng. "Bukan, aku menantu di rumah ini. Aku dan Rama saudara ipar."
Kedua lutut Ara menjadi lemas. Ia benar-benar salah menduga.Ia pikir ia hanya berurusan dengan seorang bodyguard biasa, tapi ternyata ia malah berurusan dengan tuan besar mafia. Dua sekaligus malahan.
Tiffani tertawa melihat Ara yang sekarang sibuk memukuli keningnya sambil mengoceh tidak jelas.
"Bawa dia kemari dan minta dia untuk duduk kembali," pinta Tiffani pada Gracella.
Gracella menggangguk dan menyentuh lengan Ara, membuat Ara tersentak.
"Ayo," ajak Gracella.
Ara mengangguk dan segera kembali ke sofa, lalu duduk di sofa dengan tubuh yang sekaku patung.
"Nah, sekarang katakan pada kami, apa yang membuatmu jauh-jauh datang kemari?" tanya Rama, yang sekarang telah duduk di samping Tiffani dan melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Tiffani yabg ramping.
Ara menatap Rama, Xavier, Tiffani, dan Gracella secara bergantian. Lidahnya tiba-tiba saja kelu dan di saat bersamaan ia kehilangan rasa percaya diri. Keempat manusia yang duduk di hadapannya sangat rupawan, hingga ia merasa sangat buruk rupa saat ini.
"Katakan saja. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta, toh kamu telah menyelamatkan suamiku," ujar Tiffani dengan suara yang begitu lembut.
Ara yang sejak tadi hanya diam pun akhirnya mulai berbicara.
"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan pada kalian, tadinya aku hanya berpikir bahwa hanya orang kota yang bisa melawan orang kota, itulah sebabnya aku langsung meminta alamat kalian saat di gudang kemarin. Aku sama sekali tidak menyangka jika kalian ternyata seorang konglomerat," ujar ara.
"Kami bukan konglomerat. Kami hanya orang biasa, sama sepertimu," ujar Tiffani. "Bantuan seperti apa yang kamu inginkan? "
Ara menatap Tiffani sejenak, lalu ia berkata, "Apa kalian bisa membantuku agar aku bisa menemui seorang pengusaha kaya yang akan membangun hotel di distrik EL 33. Itu adalah distrik yang jauh dari pusat kota dan merupakan daerah wisata pantai."
Gracella tersentak, ia menatap Tiffani yang balas menatapnya, sedangkan Rama dan Xavier terlihat masih kebingungan.
"Distrik EL 33. Kenapa kamu ingin menemui pengusaha yang akan membangun hotel di sana?" tanya Gracella.
"Lahan di sana ... yang akan dibangun hotel di atasnya bukanlah lahan kosong. Ada sekolah di sana, dan rumah-rumah warga juga. lalu di sisi lainnya terdapat taman bermain juga. Gara-gara pengusaha kaya itu sekarang semua warga di sana jadi ketakutan. Ayah dan ibuku pun tinggal di sana, dan seminggu lalu mereka dipaksa pergi dari rumah mereka. Jika aku tidak bisa bertemu dengan pengusaha itu, aku tidak akan bisa menghentikan niatnya untuk merusak semua rumah warga dan juga sekolah."
Tiffani menyentuh dadanya yang seketika menjadi sesak. Ia tahu betul bahwa Distrik EL 33 adalah lokasi di mana hotel miliknya akan di bangun.
"Om Damar, " gumam Tiffani.
__ADS_1
Bersambung.