
Rama mendengkus kesal, ia tidak percaya pada apa yang Gracella katakan. Rama sungguh berpikir jika wanita yang merupakan saudara iparnya itu sedang bercanda padanya dan juga pada Xavier a saat ini. Memang ia pun sekarang tengah mencurigai Damar atas hilangnya senjata-senjata yang ada di gudang, tetapi ia memiliki sedikit bukti atas kecurigaannya itu, sedangkan Gracella ... apakah wanita itu memiliki bukti atas tuduhannya pada Damar.
Sementara Xavier pun memiliki pemikiran yang sama dengan Rama. Ia merasa jika saat ini Gracella sedang bercanda padanya. Ia tidak pernah mendengar sedikit pun tentang pembangunan hotel yang sedang Tiffani jalankan. Padahal biasanya Tiffani selalu berunding jika akan membuka bisnis baru, toh Tiffani bukan orang yang serakah. Tiffani selalu menganggap jika apa yang Richard tinggalkan untuknya, adalah milik Gracella juga, sehingga setiap Tiffani mengambil langkah baru dalam dunia bisnis, Tiffani selalu melibatkan Gracella.
"Jangan bercanda, Sayang," ujar Xavier.
Rama mengangguk. "Kalian berdua sedang mengerjai kami, ya?" tanya Rama pada Tiffani dengan suara yang begitu lembut. Tidak lupa ia menyentuh rambut panjang wanita itu dan membelainya dengan penuh kasih.
Bukannya menjawab pertanyaan Rama, Tiffani malah menangis. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan mulai menangis tersedu-sedu.
"Kami sama sekali tidak bercanda. Pembangunan hotel itu sendiri dipimpin oleh Om Damar sejak awal, dan Tiffani belum sekali pun datang langsung ke area pembangunan selain hanya lewat sekilas beberapa minggu lalu," ujar Gracella.
"Jadi menurutmu Om Damar yang bersalah?" gumam Xavier.
Gracella mengangguk tanpa keraguan. "Dia mengkhianati kita semua.
Mendengar apa yang baru saja Gracella katakan, Xavier lantas tertawa terbahak-bahak.
"Yang benar saja, Gracella Sayang. Om Damar itu pamanku. Mana mungkin dia berkhianat. Lagi pula, Om Damar adalah orang kepercayaan ayahmu selama belasan tahun, rasanya tidak masuk akal kalau dia kemudian berkhianat. Lagi pula, jika memang benar Tiffani sedang membangun hotel, kenapa tidak membicarakannya pada aku dan Rama. Di lihat dari kebingungan di wajah Rama, sepertinya Rama pun tidak tahu-menahu tentang pembangunan hotel yang kamu maksud."
Setelah mengutarakan pendapatnya, Xavier segera beranjak dari hadapan Rama, Tiffani, dan Gracella. Ia melangkah begitu cepat menuju pintu tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Dia pasti marah," komentar Tiffani. "seharusnya kita tidak membicarakan semua ini di hadapannya. Bagaimana pun juga Om Damar adalah pamannya."
"Dia tidak mungkin marah, aku rasa dia hanya merasa tidak nyaman saat ini. Wajar jika Xavier merasa demikian jika dalam satu hari ada dua orang yang mencurigai pamannya untuk alasan yang berbeda," ucap Rama, masih memandang ke arah pintu, di mana baru saja punggung Xavier menghilang.
"Apa maksudmu?" tanya Gracella. "Memangnya siapa lagi yang mencurigai Om Damar selain aku, dan untuk alasan apa?"
Rama mengacungkan tangan. "Aku."
Tiffani menyentuh pundak Rama agar pria itu memandang ke arahnya. "Apa yang terjadi. Ada apa?" tanya dengan penasaran.
"Saat aku ditahan di gudang. Penjahat-penjahat di sana membicarakan om Damar. Mereka mengatakan kalau Om Damar adalah pemasok yang menjual senjata-senjata itu ke Tuan mereka. Aku memang belum memiliki cukup bukti untuk itu, tapi setidaknya aku memiliki petunjuk untuk menyelidiki apakah benar-benar Om Damar yang menjual senjata-senjata itu tuan mereka." Rama menjelaskan secerah singkat pada Tiffani dan Gracella yang mendengarkan dengan sesksama.
Setelah mengatakan itu, Rama mengusap wajah Tiffani yang sekarang bersimbah air mata. "Jangan menangis lagi, semuanya akan membaik."
"Aku sama sekali tidak menyangka jika Om Damar tega melakukan semua ini pada kita. Saat meminta persetujuan pembangunan hotel pun Om Damar tidak mengizinkanku untuk memeriksa lahan. Om Damar bilang semua aman, tapi ternyata di sana ada sekolah dan pemukiman warga, bahkan ada taman bermain juga. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar merasa bersalah. Andai saja Ara tidak datang dan mengatakan semuanya, aku pasti akan menjadi orang yang jahat sekali," lirih Tiffani.
Tiffani memang merasa amat terpuruk sekarang. Menyadari bahwa tanda tangannya di selembar kertas telah menyulitkan banyak orang membuatnya merasa luar biasa malu dan terluka.
"Aku akan minta maaf pada Ara, dan aku juga akan mengganti semua kerugian yang telah orang tuanya alami," ujar Tiffani, sambil berusaha untuk bangkit dari atas ranjang.
Akan tetapi, Gracella menahan Tiffani agar wanita itu tetap berada di tempatnya.
"Itu tidak perlu, Tiffani. Jika kamu melakukan itu, belum tentu Ara akan memaafkan. Aku merasa jika dia itu bukan wanita polos seperti yang terlihat," gumam Gracella.
"Kenapa kamu merasa seperti itu? Dia terlihat baik, kok."
Gracella menghela napas panjang. "Jangan mudah menilai orang, Tiffani."
"Kamu saja yang mudah mencurigai orang." Rama menimpali.
Gracella mendelik ke Rama, kemudian ia bangkit berdiri, "Pokoknya kita rahasiakan dulu semua ini dari Ara, dan juga jangan tunjukkan pada Om Damar kalau kita sudah tahu kebohongan yang Om Damar mainkan. Kita atasi semuanya pelan-pelan tanpa menimbulkan keributan. Lagi pula, aku dan Sela sudah menyelidiki tentang hilangnya senjata di gudang. Johan banyak membantu kami saat penyelidikan, dan memang Om Damar adalah pelakunya."
__ADS_1
Tiffani tersentak, tiba-tiba saja tubuhnya gemetar. Jika Damar yang begitu setia saja bisa berkhianat, bagaimana dengan orang lain yang bekerja di bawahnya.
Tiffani panik, ketakutan yang berlebihan tiba-tiba menguasai dirinya.
Melihat reaksi Tiffani, Rama segera membaringkan Tiffani dan meminta pada Gracella untuk tidak membicarakan tentang Damar untuk sementara.
"Tiffani mudah trauma. Sejak dulu dia mudah sekali ketakutan," bisik Rama pada Gracella.
Gracella mengangguk."Maafkan aku. Aku keluar dulu kalau begitu. Temani saja Tiffani sampai keadaannya sedikit lebih baik"
"Baiklah. Kita bicarakan lagi nanti."
***
Xavier Mengetuk pintu kamar tamu yang ada di hadapannya. dan tidak lama kemudian pintu terbuka, memperlihatkan sosok Ara yang sepertinya telah tertidur beberapa saat lalu.
"Aku boleh masuk?" tanya Xavier.
Ara menatap sekeliling, lalu mengangguk dan mempersilakan Xavier untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Tentang pengusaha yang kamu maksud itu. Apa kamu tahu nama perusahaannya?" tanya Xavier, tanpa berbasa-basi.
Ara menguap sebelum menjawab pertanyaan Xavier. "Tidak. Aku tidak tahu. Tidak ada spanduk proyek yang mengatasnamakan nama perusahaan yang terpasang di distrik."
Xavier mengusap wajahnya dengan kasar. "Kalau begitu tanya pada ibumu atau pada siapa saja yang tinggal di distrik itu. Cari tahu apa nama perusahannya agar kami tidak menuduh sembarang orang hanya demi membantumu!" Xavier membentak Ara, membuat wanita bertubuh mungil itu seketika terlonjak kaget.
"Aku sudah pernah menanyakan hal itu pada ayahku, tapi ayahku pun tidak tahu." Ara menjawab dengan suara yang gemetar.
Xavier mendekat ke Ara, kemudian ia menyentuh pipi wanita itu dan menekannya dengan keras. "Jangan bermain-main denganku. Tidak mungkin mereka tidak tahu, lagi pula orang tuamu dan semua orang yang ada di sana pasti telah mendapatkan ganti rugi dari perusahaan. Sebuah perusahaan besar tidak mungkin membangun hotel di atas tanah berpenduduk jika sebelumnya telah diadakan kesepakatan ganti rugi."
"Kenapa Anda tiba-tiba marah seperti ini? Apa Anda sudah tahu siapa pengusaha yang ada di balik pembangunan hotel itu?" Ara kembali memberanikan diri untuk bertanya. "Apakah salah satu kenalan Anda? Itukah sebabnya Anda jadi marah padaku?"
Xavier tertawa. "Tidak, tidak. Aku hanya berpikir jika orang-orang seperti kalian mungkin saja memanfaatkan kebaikan orang seperti kami. Bisa saja sebelumnya keluargamu dan orang-orang di sana telah mendapatkan ganti rugi, dan uang ganti rugi itu sudah habis sekarang, itulah sebabnya kamu datang pada kami dan berusaha untuk memeras pengusaha itu agar kembali memberi yang pada penduduk yang ada di sana."
Ara menggeleng. "Bagaimana bisa Anda berpikir demikian. Untuk apa kami melakukan itu. Aku dan juga semua orang yang ada di sana tidak mungkin melakukan hal demikian."
"Untuk uang tentu saja. Rasanya tidak masuk akal jika penguasa itu mendapat izin membangun hotel jika tidak ada kesepakatan sebelumnya."
Ara mengangguk. Ia tahu jika perkataan Xavier ada benarnya. Tidak mungkin hotel dibangun di atas tanah milik seseorang jika tanah tersebut belum dialihkan.
"Sebenarnya tanah itu adalah tanah hibah dari seseorang untuk warga yang telah mendirikan bangunan di sana berpuluh tahun lalu. Saat si pemilik tanah meninggal dunia, anaknya berusaha menjual tanah tersebut pada seorang pengusaha dari kota, dan--"
"Nah, di situlah inti permasalahannya. Kalian tidak punya hak jika tanah tersebut telah dibeli secara hukum oleh si pengusaha. Kenapa masih datang dan malah merepotkan kami atas kesalahanmu sendiri." Xavier kembali membentak Ara.
Ara yang begitu terkejut sekarang bersandar pada dinding. Tubuhnya gemetar dan lututnya terasa begitu lemas. Ia belum pernah dibentak oleh seorang pria yang memiliki tubuh sebesar Xavier, apalagi ia dapat melihat pistol di saku celana Xavier, membuatnya merasa sangat terintimidasi dan ingin pingsan.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka tepat waktu, tepat saat Ara ingin berlari dan menjauh dari hadapan Xavier.
"Tuan Rama," gumam Ara saat ia melihat Rama berdiri di ambang pintu sambil menatap lurus ke arahnya dan juga Xavier. Saking leganya, Ara sontak berlari dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Rama. "Tolong aku," lirihnya sambil menangis.
Rama refleks membalas pelukan Ara agar wanita itu tidak lagi merasa ketakutan. Apalagi Rama dapat merasakan tubuh Ara yang gemetar di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ada apa ini, Vier?" tanya Rama.
Xavier menghampiri Rama dan langsung berkata, "Pengusaha itu tidak salah. Tanah itu adalah tanah hibah dan sudah dibeli sebelumnya oleh pihak yang akan membangun hotel. Jangan sudutkan siapa pun yang ada di balik pembangunan hotel itu. Dia saja yang melebih-lebihkan dan tidak tahu aturan."
Setelah berkata demikian, Xavier segera keluar dari kamar. Ia bahkan menabrak bahu Rama dengan keras, membuat tubuh Ara yang masih menempel pada Rama hampir saja terjatuh. Ara mengeratkan pelukannya di pinggang Rama agar ia tidak terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rama.
Ara mengangguk. "Sepertinya aku tidak apa-apa," gumam Ara, sambil menjauh dari Rama dan segera mengusap air matanya. "Beruntung sekali Anda datang tepat waktu. Apa Anda mendengar suara teriakannya, itulah sebabnya Anda datang ke sini?" tanya Ara pada Rama.
Rama menggeleng. "Tidak. Aku tidak mendengar suara teriakan Xavier, aku hanya ingin melihat keadaanmu dan memastikan apakah kamu merasa nyaman atau tidak. Itulah sebabnya aku datang ke kamarmu."
Ara dapat merasakan panas pada kedua pipinya. Ia senang karena Rama memperhatikannya.
"Maafkan dia. Belakangan ini kami memiliki banyak masalah. Dia jadi sedikit sensitif. Terlepas dari kejadian barusan, sebenarnya dia adalah orang yang baik." Rama membela Xavier.
Ara kembali mengangguk. "Ya, tidak masalah sama sekali."
Rama tersenyum dan berkata, "Istirahatlah dulu. Aku akan keluar." Rama kemudian membuka pintu dan bersiap untuk meninggalkan kamar itu. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar Ara memanggilnya.
"Tuan Rama, terima kasih," ujar Ara.
"Tidak masalah," jawab Rama, lalu segera keluar dari kamar.
Setelah Rama tidak lagi ada di dalam kamar, Ara segera menyentuh dadanya. Ia dapat merasakan debar yang terlalu cepat di sana. Ia tahu jika debar itu bukan karena rasa takut akan kemarahan Xavier beberapa waktu lalu, tetapi debar itu disebabkan oleh kehadiran Rama di dekatnya. Rama yang begitu baik hati, perhatian, dan memesona. Rama yang sejak awal telah menarik perhatiannya dan mem uangnya berdebar tak keruan.
"Ya, Tuhan, apa yang kupikirkan," gumam Ara, memukuli kepalanya yang kini dipenuhi oleh bayangan wajah dan senyum Rama.
***
Matahari sudah semakin rendah sekarang, membuat langit berubah menjadi kemerahan dan dipenuhi tutul-tutul biru gelap.
Damar menghentikan mobilnya di halaman depan kediaman Tiffani, dan segera keluar dari dalam mobil. Tubuh tuanya lelah, hingga ia tidak ingin beranjak ke mana pun selain langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai dasar.
Damar berpapasan dengan Rama begitu ia tiba di ruang tamu. Rama yang melihat Damar segera membungkuk sedikit dan menyapa pria itu dengan ramah.
"Om," ucap Rama.
Damar mengangguk sekilas sambil menepuk pundak Rama, tetapi ia tidak menghentikan langkah apalagi mengobrol panjang lebar dengan Rama.
Rama memperhatikan Damar hingga pria itu tidak lagi terlihat.
"Aku langsung ke mobilnya. Awasi saja kamarnya dan kabari aku jika dia keluar dari dalam kamar,” ucap Rama, sambil menekan headset bluetooth di telinganya.
" Ini mengerikan," ujar seseorang yang Rama ajak bicara, orang itu adalah Adam. "Bagaimana bisa kita mengintai Pak Damar yang sudah seperti orang tua Tiffani."
Rama kembali menekan headset di telinganya."Ini namanya mengintai musuh di dalam rumah sendiri."
"Semoga kecurigaanmu tidak terbukti, Rama. Jujur saja aku tidak ingin jika terjadi keributan di rumah ini, apalagi keributan dengan Pak Damar." Adam kembali berujar. "Dan bagaimana dengan Xavier, aku melihatnya marah-marah sejak tadi?"
"Aku tidak akan membawa Xavier ikut serta dalam misi kali ini, jadi jangan katakan apa pun padanya."
Adam diam saja. Hanya suara deru napasnya yang terdengar memenuhi gendang telinga Rama.
__ADS_1
"Baiklah. Misi dimulai," ucap Rama lagi, yang sekarang telah tiba di teras.
Bersambung.