My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Mereka Akan Mengerti


__ADS_3

"Aku tidak hanya gigih dalam hal pekerjaan, sekarang aku juga harus gigih untuk mendapatkanmu. Sampai dapat!" seru Brian.


"Sepertinya kau harus bersabar."


"Tentu."


Brian tidak akan memaksakan kehendaknya. Ia tahu bahwa semua ini terasa sangat cepat bagi Valerie. Terlebih wanita itu masih perlu beradaptasi dengan kehidupannya yang monoton dengan segudang pekerjaan.


Setelah saling menggoda, keduanya akhirnya menikmati semua makanan yang terhidang di atas meja.


"Di luar masih hujan deras dan angin kencang. Apa kau ingin beristirahat? Aku akan meminta seseorang membawa pakaian ganti untukmu," ujar Brian setelah mereka selesai makan.


"Baiklah." Valerie setuju. Apa lagi yang bisa mereka lakukan saat cuaca mendadak tidak bersahabat.


Waktu berlalu cepat saat mereka memutuskan untuk menonton acara televisi demi mengusir kebosanan. Cuaca di luar tidak kunjung membaik. Brain merasa bersalah karena membawa Valerie berkunjung tanpa melihat perkiraan cuaca terlebih dahulu.


Hari sudah sore dan malam akan segera datang. Meski mereka akan kembali pulang menaiki mobil, namun Brian tidak ingin mengambil resiko dengan berkendara saat hujan dan angin kencang seperti ini.


"Hujan belum juga berhenti, apa kau tidak keberatan jika kita menginap semalam saja di sini?" tawar Brian. Ia ragu, namun bagaimanapun ia harus mengutamakan keselamatan mereka.


Sejenak Valerie tampak berpikir. Ia memperhatikan jam yang tergantung di dinding, lalu mengalihkan pandangan pada jendela kaca berukuran besar yang menampakkan pemandangan hujan di luar villa.


"Baiklah." Valerie terpaksa harus setuju. Ia tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


"Maaf karena mengajakmu ke tempat ini sampai kita terjebak seperti ini," ucap Brian.


"Tidak perlu minta maaf, aku menyukai tempat ini."


"Syukurlah." Brian tersenyum senang, ia merangkul pundak Valerie dan kembali fokus pada layar televisi.


"Tapi, di mana aku akan tidur? Kita tidak akan ...." Valerie tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak keberatan jika kau bersedia tidur dalam satu kamar denganku," sela Brian.


"Hei!" Valerie mencubit pinggang laki-laki itu.


"Tidak, tidak. Ada tiga kamar di villa ini. Kau bisa tidur di manapun kau mau."


Selang beberapa saat, ponsel Valerie berdering nyaring. Rupanya si penelepon itu adalah Max. Namun saat Brian mengetahuinya, Brian melarang Valerie untuk menerima panggilan tersebut.


"Kenapa?" tanya Valerie tidak mengerti.


"Max pasti menanyakan keberadaan ku. Dengan menjawab telepon darinya, dia bisa melacak keberadaan kita dengan mudah," jelas Brian.


"Memangnya ada apa? Kenapa kita harus ...."


"Maafkan aku, Valerie." Brian meraih kedua tangan Valerie dan menatap matanya. "Bisakah hari ini saja kita menikmati waktu ini? Tanpa memikirkan masalah lain."

__ADS_1


"Jelaskan padaku, ada apa sebenarnya?" tanya Valerie. Ia benar-benar tidak mengerti.


"Aku akan meninggalkan perusahaan dan menyerahkan kembali kekuasaan pada Papa jika orang tuaku tetap memaksaku menikah dengan Elena. Aku tidak akan menikah dengan wanita manapun, aku hanya ingin menikah denganmu!" terang Brian.


"Haruskan kau melakukannya?"


"Aku tahu ini adalah keputusan yang sangat fatal, aku sudah bekerja keras membangun perusahaan, dan aku meninggalkannya begitu saja. Tapi, aku ingin orang tuaku mengerti, bahwa aku juga punya keinginan yang lebih penting dari jabatan."


Valerie terdiam. Sebesar itukah pengorbanan Brian untuknya?


"Valerie, jangan khawatir. Aku punya banyak aset pribadi dan aku bisa membangun perusahaan kecil milikku sendiri. Apa kau tidak keberatan jika aku bukanlah presiden direktur seperti yang kau lihat sebelumnya?"


"Itu sama sekali bukan masalah, tapi orang tuamu?"


"Aku tidak bermaksud menyakiti mereka atau menjadi anak durhaka. Aku hanya ingin mereka paham, bahwa keinginanku bersamamu lebih kuat dari ego mereka. Tidak bisakah mereka mengalah untukku, sekali saja?"


Valerie menghela napas panjang. Ia memeluk Brian, memeluk erat laki-laki itu.


Kini Valerie paham, bahwa apa yang terlihat belum tentu sama dengan apa yang terjadi. Brian adalah laki-laki tampan dan punya segalanya. Ia pewaris tunggal, namanya tercatat sebagai pengusaha muda yang sukses dan kaya.


Namun dibalik semua itu, Brian adalah laki-laki kesepian. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di bawah tekanan kedua orang tuanya. Keegoisan mereka, membuat Brian benar-benar terkekang.


"Aku yakin suatu saat mereka akan mengerti," bisik Valerie.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2