
Damar menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di depan pagar rumah mewah milik Richard Raendra. Ia sengaja tidak langsung masuk ke dalam area rumah, karena ia perlu mengistirahatkan otaknya sejenak dari kekacauan yang telah ia buat. Mungkin saat ini segalanya masih terkendali, baik Rama atau pun Xavier belum mendengar kabar tentang hilangnya satu kontainer senjata api dari gudang yang berada di tepi laut, karena memang jarak dari rumah ke gudang tersebut sangat jauh dan komunikasi dari gudang tersebut ke kota tidak terlalu lancar.
Damar menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Ada sedikit rasa sesak di dalam dadanya setelah ia melakukan semua kejahatan pada bisnis mendiang Richard. Ia tahu jika ia bersalah, ia pun merasa tidak nyaman melakukan semua kejahatan ini. Namun, ia sadar betul kalau ia pun harus mempersiapkan kehidupan masa tua yang tenang dan menyenangkan. Dan mengabdi pada keluarga Richard Raendra saja tidak membuatnya memiliki tabungan yang cukup untuk mencapai keinginannya tersebut.
Damar sebenarnya cukup kecewa saat mengetahui bahwa ia tidak mendapatkan sedikit pun bagian dari peninggalan Richard setelah Richard meninggal. Padahal jika ditarik ulur ke belakang, peran Damar sangat penting dalam setiap bisnis yang dijalankan oleh Richard. Hampir setiap kesepakatan bisnis dan segala macamnya, Damarlah yang menangani, tapi sekarang ia justru hanya bisa gigit jari.
Damar mulai berpikir jika Richard yang bijaksana saja tidak memperhatikan kesejahteraannya, bagaimana dengan Tiffani yang kekanakan itu. Bisa-bisa dirinya hidup dalam kemelaratan jika tubuhnya tidak lagi kuat untuk melayani dan bekerja di kerajaan bisnis keluarga Raendra.
Pikiran-pikiran itulah yang selama beberapa bulan terakhir terus menghantui Damar, apalagi setelah ia mengalami nyeri di bagian dada dan dokter mengatakan bahwa ada masalah kecil di jantungnya.
Damar menghela napas panjang, lalu kembali menegakkan duduknya dan membunyikan klakson agar sekuriti yang berjaga di bagian dalam mengetahui kedatangannya.
Pagar terbuka tidak lama setelah Damar membunyikan klakson, dan seorang pria muda dengan tubuh berisi membungkuk hormat pada Damar.
"Di mana yang lain? Kenapa tidak ada yang berjaga di depan?" tanya Damar pada sekuriti yang berjaga.
"Sedang ke toilet, Pak," jawab si sekuriti.
Damar mengangguk, dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju area parkir di halaman.
Junior yang sedang bermain di teras bersama dengan seorang pengasuh langsung berlari menghampiri mobil Damar yang baru saja berhenti. Putra kecil pemegang tahta tertinggi di kediaman Richard itu melompat-lompat kegirangan di samping pintu mobil Damar. Damar bahkan harus membuka pintu mobil secara perlahan agar tidak mengenai Junior.
"Kakek!" teriak Junior, begitu Damar keluar dari dalam mobil.
(Visual Damar)
Damar sendiri langsung meraih Junior ke dalam pelukannya dan menggendong Junior menuju teras.
"Junior sudah sarapan?" tanya Damar, sambil mencubit hidung mancung Junior yang menggemaskan.
Junior mengangguk. "Sekarang kan sudah siang. Junior sudah sarapan," jawabnya, dengan suara cadel khas anak kecil yang terdengar lucu.
Baru saja Damar tiba di teras, Rama dan Tiffani muncul dari ruang tamu. Keduanya menghampiri Damar, dan Tiffani dengan meminta Ju ior dari gendongan Damar.
"Kakek kan baru pulang, masih lelah, jadi Junior jangan minta gendong dulu," ujar Tiffani, menasehati Junior dengan lembut.
Junior hanya nyengir, dan segera menyandarkan kepalanya di bahu Tiffani.
"Biar saja, Tiffani, namanya juga anak-anak. Lagi pula, aku senang Junior selalu berlarian menghampiriku saat aku datang. Siapa coba yang tidak senang jika setiap tiba di rumah selalu disambut oleh pangeran kecil yang tampan," ujar Damar.
Tiffani tersenyum mendengar pujian yang Damar beri untuk putra kesayangannya.
"Dia memang pangeran kecilku yang tampan sekali," ujarnya, sambil mengecup pipi Junior dengan gemas, lalu kembali memandang Damar dan berkata, "Masuklah dan istirahatlah, Om, aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Om Damar. Om Damar pasti lelah sekali setelah melakukan perjalanan jauh."
Setelah mengatakan itu, Tiffani segera melenggang pergi meninggalkan Damar dan Rama di teras.
Rama yang sejak tadi hanya diam saja sambil menatap Damar dengan penuh penilaian tidak bergerak dari tempatnya berdiri bahkan ketika sang istri pergi menuju dapur. Ia hanya menatap Damar tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Merasa ditatap oleh Rama dengan tatapan yang tidak biasa, Damar menjadi salah tingkah. Pria tua itu berdeham, lalu berusaha untuk mencari kalimat yang bisa memecah keheningan yang tengah menyelimuti dirinya dan juga Rama.
"Apa yang terjadi pada keningmu, Rama?" tanya Damar, saat ia melihat perban yang menempel di kening Rama.
Rama refleks menyentuh keningnya. "Apa Om tidak tahu kalau terjadi insiden kemarin?" Bukannya menjawab pertanyaan Damar, Rama malah balik bertanya, dan pertanyaan Rama membuat Damar kebingungan.
"Aku tidak mendengar apa pun. Memangnya ada apa?" tanya Damar lagi.
"Tiffani hampir saja tewas. Seseorang berusaha untuk menembak Tiffani saat Tiffani berada di dalam ruangannya di kantor, dan aku diculik selama beberapa jam."
__ADS_1
Wajah Damar menegang begitu ia mendengar apa yang Rama katakan. Keterkejutan dan kemarahan di wajah Damar itu terlihat alami, membuat pikiran buruk Rama tentang Damar seketika memudar. Tadinya Rama berpikir bahwa semua yang terjadi padanya dan Tiffani adalah rencana Damar, tetapi melihat ekspresi Damar sekarang rasanya tidak mungkin jika Damar adalah dalang di balik semuanya. Damar tidak mungkin mencoba untuk membunuh Tiffani, apa pun alasannya hal itu sama sekali tidak mungkin.
"Om tidak tahu?" tanya Rama, berusaha untuk memastikan apakah benar Damar tidak tahu apa pun.
Damar kembali menggeleng. "Aku sama sekali tidak tahu karena tidak ada yang memberi kabar padaku. Bagaimana bisankalian semua diam saja padahal Tiffani hampir mati. Astaga! Cepat cari tahu siapa pelakunya dan--"
"Pelakunya adalah Dion. Dia adalah tersangka utama yang telah berani mencoba membunuh istriku, dan dia jugalah tertangkap yang mencuri senjata kita dari gudang, tapi bukan hanya dia tersangka utamanya, ada satu orang lagi, dan aku sedang berusaha mencari tahu siap orang yang telah membantu Dion. Aku dan Xavier sedang menyelidikinya." Rama memotong ucapan Damar.
Wajahnya Damar yang tadinya berwarna kemerahan karena amarah kini berubah menjadi pucat pasi. Ia bahkan tidak dapat berkata-kata lagi. Saat nama Dion terlontar dari bibir Rama, saat itu juga Damar merasa seperti ada yang melemparnya dengan batu besar. Ia terkejut, ia marah, dan ia sakit hati karena Dion telah bertindak gegabah dan hampir saja membuat Tiffani celaka.
"Dion," gumam Damar.
Rama mengangguk. Kedua matanya menyipit curiga. "Apa Om kenal dia? Dia masih muda dan tampan. Dia juga terlihat sangat berkuasa. Aku rasa dia adalah salah satu pesaing bisnis Ayah Richard."
Damar menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak kenal dia," ucapnya, lalu segera masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa.
"Om tidak kenal, tapi kenapa om gugup sekali," ujar Rama yang masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap kepergian Damar.
***
Ara, wanita berusia 30-an yang bekerja sebagai pengantar makanan cepat saji sebuah restoran di pinggiran kota saat ini sedang berdiri di halte bus. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu bus tujuan Jakarta tiba. Ia terlihat serius mengetik pesan untuk dikirimkan pada pria tampan yang kemarin telah ia selamatkan dengan sepenuhnya hati, yaitu Rama.
Ara bukannya ingin menggoda Rama, ia hanya ingin mengabari Rama bahwa ia akan datang ke kediaman pria itu untuk membicarakan sesuatu. Ya, meminta pembalasan budi yang setimpal. Walaupun meminta balasan atas kebaikan yang telah ia lakukan terdengar sangat konyol dan tidak tahu malu, tapi bagi Ara apa yang akan ia minta pada Rama tidaklah sebanding dengan pertolongan yang ia berikan. Lagi pula, tidak ada waktu untuk merasa malu saat ini. Tidak, di saat nasib keluarganya berada di ujung tanduk.
[Hai, tampan, masih ingat padaku?]
[Aku Ara, yang kemarin bertemu denganmu di gudang.]
[Aku ingin bertemu!]
Ara kemudian menekan tombol send, menunggu hingga pesan yang ia kirim mendapat centang dua sebelum ia memasukan ponselnya kembali ke dalam saku jaket yang ia kenakan.
***
Rama sedang berada di halaman belakang saat ini bersama dengan Xavier. Keduanya melakukan latihan bela diri bersama seperti biasanya, setelah sebelumnya kedua menantu di keluarga dermawan itu menyelesaikan olahraga lari mengelilingi halaman belakang yang luas.
Xavier sedikit cemberut karena ia sangat ingin melakukan latihan tembak, tapi Rama malah memaksanya untuk berlatih tinju. Keduanya memang memiliki selera yang berbeda dalam hal olahrga, bahkan ketika melawan musuh-musuh pun keduanya memiliki cara yang berbeda. Rama lebih suka meninju dan menendang, walaupun sebenarnya ia adalah penembak yang baik, sedangkan Xavier lebih suka menembaki musuh-musuhnya, bagi Xavier mengayunkan tinju dan kaki hanya membuang-buang tenaga dan membuat waktu banyak tersita.
(Xavier 👇)
"Jadi, langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya? Tidak mungkin kan kita diam saja setelah si Dion itu secara terang-terangan mengibarkan bendera perang," ujar Xavier, sambil mengayunkan lengannya yang kekar ke wajah Rama.
Rama dengan gesit menghindar, dan ganti melayangkan tinjunya ke dada Xavier, tetapi Xavier pun berhasil lolos dari kepalan tangan Rama yang kuat.
"Kita susun rencana nanti sore, dan setelahnya mari kita lakukan penyerangan besar-besaran. Lagi pula, ada yang belum kuceritakan padamu, Vier."
Xavier memutar, menunduk sambil menjulurkan kakinya yang jenjang ke dada Rama, berusaha menjatuhkan Rama dengan tendangan mautnya, tetapi kali ini pun Xavier gagal, karena Rama mundur dengan gerakan secepat kilat.
"Memangnya apa yang belum kamu beritahu padaku?" tanya Xavier.
"Bagaimana jika aku katakan kalau Om Damar yang menjual senjata-senjata kita ke Dion," ucap Rama, sambil membalas tendangan yang baru saja Xavier berikan untuknya, dan ....
(Rama 👇)
Buk!
__ADS_1
Kena!
Xavier terlalu terkejut mendengar penuturan Rama, hingga ia kehilangan fokus dan tendangan Rama berhasil mengenainya.
"Argh ... apa maksudmu? Apa yang membuatmu menarik kesimpulan seperti itu?"
***
Tiffani meregangkan tubuhnya saat ia telah selesai memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya di dalam kamar. Sambil menghela napas panjang Tiffani melepas kaca mata, lalu bangkit berdiri menuju lemari pendingin mini yang ia letakkan di sudut kamar.
Segelas air dingin tandas dalam waktu sekejap. "Ah, lenganya," gumam Tiffani saat rasa hausnya telah hilang dan digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari tenggorokan menuju ke perutnya.
Tiffani kembali meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri hingga bunyi krak terdengar dari sekitar tulang punggung Tiffani.
"Ah, lega sekali," gumamnya lagi, kemudian kembali melangkah menuju meja kerjanya, dan di saat itulah ia mendengar getaran di sekitar meja rias yang ia lewati.
Tiffani mendekat ke meja rias, dan mendapati ponsel Rama tergeletak begitu saja di atas meja rias.
"Kenapa dia meninggalkan ponselnya di sini." Kembali Tiffani bergumam seorang diri, kali ini sambil meraih ponsel Rama, dan memeriksa pesan yang baru saja masuk.
[Aku sudah di jalan menuju kota. Sekarang berikan alamatmu. Share lokasi saja. Tolong kirimkan secepatnya, ya, kamu pasti tidak ingin jika wanita seimut diriku terlantar di kota besar, 'kan?]
Tiffani meremas ponsel Rama begitu membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya suaminya. Ia pun kemudian berinisiatif untuk membaca pesan lainnya dari nomor yang sama, dan kemarahannya bertambah begitu ia melihat tiga pesan lainnya.
[Hai, tampan, masih ingat padaku?]
[Aku Ara, yang kemarin bertemu denganmu di gudang.]
[Aku ingin bertemu!]
"Siapa dia ini? Berani-beraninya dia mengirim pesan pada suamiku dan mengajak untuk bertemu. Dasar gatal," desis Tiffani, kemudian segera melangkah tergesa-gesa keluar dari dalam kamar.
Di dapur, Sela dan Gracella sedang menghabiskan siang yang cerah di dalam kepulan asap sup iga kesukaan hampir semua penghuni rumah. Tidak ada yang tidak menyukai sup iga buatan Sela, itulah sebabnya di hari yang menurut mereka istimewa ini karena Rama telah berhasil selamat dari maut, Sela berinisiatif membuatkan sup iga untuk semua orang, dan Gracella dengan senang hati turut membantu. Hanya Mona yang tidak melakukan apa pun, wanita itu hanya sibuk bermain game sambil cekikikan seorang diri.
"Tidak membantu, sama dengan tidak ikut makan!" seru Sela, dari balik asap yang mengecup.
Mona hanya melirik temannya itu sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
"Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya jika dia sedang asyik main game," komentar Gracella sambil menggeleng.
Sela mengangguk setuju. "Ditambah lagi dia itu kesayangan Tiffani. Walaupun aku bilang padanya agar jangan ikuti makan masakanmu, tetap saja dia akan makan kalau Tiffani bilang, Mona ...."
"Mona! Mona! Di mana kamu?"
Suara teriakan Tiffani yang datang dari kejauhan menghentikan pembicaraan antara Sela dan Gracella. Mona yang masih asyik bermain game saja langsung meletakan ponselnya di atas meja dan bangkit berdiri untuk mencari keberadaan Tiffani.
"Aku di sini, Fan, di dapur!" Mona balas berteriak, memberitahukan keberadaannya pada Tiffani.
tidak lama kemudian Tiffani muncul di ambang pintu dapur, wajahnya yang cantik terlihat merah, dan kedua matanya berair. Sela dan Gracella yang sejak tadi berdiri di depan meja komplotan segera menghampiri Tiffani.
"Ada apa ini?" tanya Gracella dengan khawatir.
"Rama ...." Tiffani menggantung ucapannya, dan mulai meremas ujung gaunnya.
"Ya, ada apa dengan Rama?" Gracella kembali bertanya.
"Rama selingkuh."
Bersambung.
__ADS_1