
Valerie hanya diam. Dalam hati wanita itu ingin memaki, meneriaki, bahkan ingin menendang wajah keriput laki-laki di hadapannya. Namun, Valerie berusaha menahan diri sekuat mungkin.
"Cukup, Pa!" sentak Brian. Ia tidak lagi bisa menahan diri.
"Jika kau tidak ingin wanita ini terluka, tinggalkan dia dan nikahi Elena!" seru Calvin.
Valerie menggenggam erat tangan Brian. Sejujurnya Valerie sangat sakit hati pada sikap dan ucapan Calvin, namun bagaimanapun ia tidak mungkin meminta Brian untuk durhaka dan mengabaikan mereka begitu saja.
Valerie menatap Brian, berusaha memberi isyarat agar pertengkaran ini segera diakhiri. Karena bagaimanapun, rumah ini bukanlah rumah Valerie, ada penghuni lain dan ada pemiliknya yang harus dihormati.
"Max, bawa Papa dan Mama pulang. Aku akan menyusul," perintah Brian.
"Baik, Bos." Max mengangguk. Ia merangkul pundak Rossa dan meminta wanita paruh baya itu meninggalkan tempat ini.
"Mari, Bibi. Kita pulang, Kakak akan menyusul," ucap Max lembut.
__ADS_1
"Paman, ayo!" ucapnya sambil menatap Calvin.
"Pastikan dia juga akan pulang!" ujar Calvin.
"Baik, Paman. Aku akan memastikan dia pulang secepat mungkin."
Dengan bujuk rayu Max, Calvin dan Rossa akhirnya meninggalkan rumah kos Valerie. Brian begitu merasa bersalah atas sikap orang tuanya serta telah membuat keributan di tempat ini.
Namun sepertinya pemilik rumah kos Valerie tidak bisa mentolerir kejadian tersebut. Pemilik rumah itu dengan terpaksa meminta Valerie mengemasi barang-barangnya dan pergi dari sana hari itu juga.
"Pulanglah, aku akan baik-baik saja. Kau harus menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin, jangan turuti kemarahan yang ada di sini, itu hanya akan membuat semuanya semakin rumit," ujar Valerie sambil meletakkan telapak tangannya di dada Brian.
"Aku akan membantumu berkemas. Kau harus mendapatkan tempat tinggal terlebih dahulu."
"Aku bisa melakukannya sendiri, pergilah." Valerie tidak bermaksud mengusir laki-laki itu, namun ia khawatir jika kedua orang tua Brian akan semakin murka.
__ADS_1
"Aku mohon, semua ini terjadi karena kesalahanku. Aku harus memastikanmu aman terlebih dahulu," tutur Brian.
Semua yang Valerie alami hari ini disebabkan oleh kedua orang tua Brian. Dan laki-laki itu tidak mungkin lepas tanggung jawab serta membiarkan Valerie menyelesaikan masalahnya seorang diri. Dengan sedikit paksaan, Brian akhirnya bisa membujuk Valerie dan membantu wanita itu mengemas pakaian serta barang pribadinya.
Setelah semua beres, Brian mengantar Valerie ke sebuah hotel bintang lima yang terletak tidak jauh dari perusahaannya. Brian memesan kamar VIP dengan pelayanan terbaik untuk Valerie. Hal ini ia lakukan demi menebus kesalahan orang tuanya.
"Maafkan aku, maafkan orang tuaku," ucap Brian. Ia memeluk Valerie dengan erat. Rasa cintanya semakin teruji saat hubungan mereka benar-benar ditentang oleh dunia.
"Terima kasih untuk semua ini. Sekarang pulanglah, selesaikan semuanya," pinta Valerie.
"Aku mencintaimu, Valerie. Apapun yang terjadi, aku hanya mencintaimu," bisik Brian.
"Aku tahu, aku pun mencintaimu." Valerie tersenyum tipis. Di tengah segala masalah yang mereka hadapi, saling menguatkan adalah jalan satu-satunya agar semuanya segera teratasi.
Setelah memastikan Valerie memiliki tempat beristirahat yang aman dan nyaman, Brian akhirnya bisa bernapas dengan lega. Laki-laki itu segera meninggalkan hotel dan memacu cepat mobilnya menuju kediaman orang tuanya.
__ADS_1
🖤🖤🖤