My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Finally


__ADS_3

Ikhlas dan rela setelah mengalami hal buruk berturut-turut hingga nasib kurang beruntung yang di alami Valerie tentu menjadi nilai plus wanita itu.


Brian merasa sangat bahagia bisa berdampingan dengan wanita sehebat Valerie. Dibalik semua keburukan dan kemalangan yang menimpa nasibnya, Valerie tetap menjadi wanita yang kuat dan tegar. Brian tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Valerie, hidup sederhana dan menyembunyikan diri selama ini padahal ia adalah seorang pewaris perusahaan ternama.


Malam ini, para tamu undangan sudah tidak sabar untuk menanti acara puncaknya, yaitu pertunangan Valerie dan Brian.


"Apakah kita akan bertunangan tanpa cincin?" tanya Valerie. Nyatanya ada satu hal yang ia lupakan, yaitu sesuatu yang seharusnya ada di momen istimewa seperti ini.


Brian terdiam, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Laki-laki itu terlihat cemas seperti sedang menunggu seseorang.


"Ada apa?" tanya Valerie lagi.


"Kurir pengantar barang akan segera sampai," jawab Brian. Ia tersenyum sambil melingkarkan lengannya di pinggang Valerie. Sementara wanita itu tidak mengerti, kurir pengantar barang apa?

__ADS_1


Belum sempat Valerie mempertanyakan rasa penasarannya, terlihat seseorang berjalan cepat dengan napas terengah-engah menghampiri mereka.


Ia adalah Max, orang yang dimaksud sebagai kurir pengantar barang oleh Brian.


"Max, kau kenapa?" tanya Valerie. Laki-laki yang baru saja datang itu langsung mencari kursi untuk duduk dan meneguk segelas wine sebelum menjawab pertanyaan Valerie. Max terlihat sangat tergesa-gesa hingga ia kesulitan bernapas.


"Hah, ini!" Max mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil dari saku jasnya. Ia menyerahkan kotak itu pada Brian. Sementara ia masih mengatur napas yang ngos-ngosan.


"Terima kasih, Max. Hanya kau yang bisa aku andalkan," ucap Brian.


Brian tersenyum bahagia, ia membuka kotak kecil yang baru saja ia terima dari Max dan memperlihatkannya pada Valerie.


"Cincin?" Valerie melotot. "Jadi, Max datang untuk mengantar cincin ini?" tanyanya. Ia melihat sepasang cincin pertunangan berwarna putih. Satu cincin polos dan satu cincin dengan mata berlian bening yang tampak berwarna pelangi saat terpapar cahaya.

__ADS_1


"Hmm, kau kira untuk apa aku berlarian ke toko perhiasan dan hampir kehabisan napas agar sampai ke tempat ini dengan cepat?" sela Max. "Aku harap aku tidak salah memilih ukuran," lanjutnya.


Brian merasa bersalah, ia segera memeluk Max dan menepuk pelan punggung teman baiknya.


"Terima kasih atas semua yang kau lakukan untukku, Max. Kau adalah satu-satunya orang yang selalu bisa aku andalkan," puji Brian. Bahkan di saat-saat genting dan mendadak sekalipun, Max tidak pernah mengecewakannya.


Valerie terharu melihat dua laki-laki yang sedang berpelukan di hadapannya. Siapa saja pasti mengira jika Brian dan Max memiliki hubungan khusus, karena kedekatan mereka dan rasa sayang satu sama lain terlihat sangat jelas dan lebih dari sekadar atasan dan sekretaris.


Tidak berselang lama, Theo memanggil Brian dan Valerie. Ia meminta sepasang kekasih itu naik ke atas panggung bersama. Di tempatnya, Max seperti orang yang baru saja datang dari kutub utara dan terlempar ke kutub selatan tanpa penjelasan. Ia kebingungan, dan tidak mengerti tentang apa yang ada di hadapannya saat ini. Brian datang untuk menghadiri undangan keluarga Elena tapi malah bertunangan dengan Valerie? Benar-benar hal yang sulit dicerna.


"Malam ini, secara resmi, saya memberikan restu untuk hubungan cucu saya, Valerie Cameron bersama kekasihnya, Brian Carlos," ucap Theo dengan mikrofon.


Tepuk tangan meriah saling bersahutan, sementara Max masih kebingungan.

__ADS_1


Di atas panggung, disaksikan oleh seluruh tamu undangan serta awak media dan para wartawan, Valerie dan Brian bertukar cincin. Brian mencium kedua punggung tangan Valerie dan memeluknya. Kini, satu langkah awal telah tercapai, dan kisah cinta yang baru akan segera di mulai.


🖤🖤🖤


__ADS_2