My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Mengambil Tindakan


__ADS_3

Sebuah kalimat yang sangat menyakitkan bagi Elena. Secara terang-terangan Brian telah menghinanya, dan hal itu membuat Elena merasa sangat kesal dan marah.


"Aku akan mengadukan sikap burukmu ini pada paman. Kau sama sekali tidak menghargai kedatanganku dan malah menghinaku," keluh Elena.


"Aku bersikap seperti yang seharusnya. Sekarang kau bisa keluar dari ruangan ku. Tinggalkan kantorku!" seru Brian mengusir.


Elena berdiri dari sofa sambil menghentakkan kakinya. Wanita itu menatap Brian dengan tatapan tajam, namun Brian mengabaikannya.


"Sekarang kau mengusirku?" tanya Elena.


"Bukankah sudah jelas? Aku berhak meminta siapapun pergi dari wilayah kekuasaanku!"


"Kau! Keterlaluan!" berang Elena. Ia tidak menyangka jika Brian akan memperlakukannya dengan buruk. Padahal tujuan utamanya datang menemui Brian adalah untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun nyatanya Brian memang seperti yang orang-orang katakan, dingin dan tidak berperasaan.


Elena bergegas pergi dari hadapan Brian, namun saat sampai di dekat pintu, ia menoleh, memperhatikan Valerie dengan seksama.


Valerie balik menatap Elena. Ia merasa cemas, apakah Elena akan mengenalinya?

__ADS_1


"Sebaiknya kita tidak akan pernah bertemu," ucap Elena pada Valerie sebelum wanita itu hilang dibalik pintu kaca.


Valerie menghembuskan napas berat. Ia tidak menyangka jika dunia ini terasa sempit sekali. Ia bahkan harus berurusan dengan sepupunya sendiri, juga masuk dalam ke perangkap pesona laki-laki yang berhubungan erat dengan keluarganya.


"Abaikan saja dia. Dia bukan tandinganmu," ujar Max dengan sedikit berbisik. Ia paham Valerie pasti merasa sakit hati dengan Elena, wanita itu bermulut pedas. Namun bagaimanapun, Max mengerti jika Valerie selalu menjaga sikapnya


Valerie mengangkat bahu. "Aku tidak peduli," ucapnya acuh.


Di sofa, Brian masih duduk sambil menatap kosong dinding kaca yang menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit.


Melihat Brian hanya diam, Max dan Valerie pun tidak ingin mengganggu. Mereka paham jika ada sesuatu yang sedang mengusik pikiran laki-laki itu.


Selang beberapa menit, Brian bangkit dari sofa dan mendekati Valerie yang sedang membantu Max merapikan dokumen.


"Valerie, hari ini kau akan membantu Max menghadiri rapat dan mengurus pekerjaan. Aku harus pergi," pamit Brian.


"Baiklah." Valerie mengangguk. Ia ingin bertanya ke mana Brian akan pergi setelah mengusir Elena. Namun Valerie tidak memiliki keberanian sebanyak itu.

__ADS_1


"Max, jaga Valerie," pamit Brian pada Max.


"Baik, Bos!" seru Max.


Brian keluar dari ruangan sendirian. Pertama kali dalam beberapa bulan terakhir, ia pergi tanpa ditemani oleh Valerie. Bukan tanpa alasan, namun ia pergi untuk tujuan tertentu, dan ia tidak ingin Valerie terlibat dalam masalah yang akan ia hadapi.


Menelepon seorang sopir, Brian memutuskan untuk mendatangi kedua orang tuanya di kediaman mereka. Kini Brian tidak bisa tinggal diam, ia harus bersikap tegas demi masa depannya sendiri. Karena Elena, bukanlah wanita pilihannya.


Selang lima belas menit, Brian telah sampai di halaman sebuah rumah besar dan mewah. Rumah seluas istana ini adalah kediaman orang tuanya yang sudah terkenal sebagai konglomerat yang sukses dan kaya raya.


Di depan pintu utama, Brian sudah di sambut oleh beberapa pelayan. Laki-laki itu menerobos masuk tanpa permisi ke dalam rumah dengan langkah cepat. Ia sama sekali tidak mengindahkan sapaan para pelayan yang menyambutnya dengan ramah.


"Pa, Ma!" Brian berteriak di ujung anak tangga. Ia bahkan enggan bertanya pada pelayan.


Tidak biasanya Brian bersikap kasar saat datang tiba-tiba, hal itu membuat pelayan di rumah itu menjadi khawatir dan ketakutan. Apa yang akan terjadi?


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2