
Rama masih berada di Distrik EL 33, padahal malam telah beranjak semakin larut sekarang. Tenda-tenda telah didirikan, dan dapur umum pun telah mengepulkan asap dengan aroma yang menggugah selera.
Sela dan Mona melakukan tugasnya dengan baik, tidak ada satu pun warga yang terlihat kecewa dengan pengaturan tempat tinggal sementara mereka yang baru. Walaupun mereka semua sangat sedih, tetapi hidangan daging panggang dan berbagai macam makanan dan camilan yang melimpah membuat mereka melupakan kekecewaan mereka sejenak. Setidaknya mereka tidak kelaparan dan tidak kedinginan.
Rama menghampiri Ara yang sedang duduk bersama dengan ibu dan kakaknya.
"Ara, aku ingin bicara?" ujar Rama, begitu ia telah tiba di belakang Ara.
Kehadiran Rama di dekat Ara membuat Ibu Ara yang bernama Winarsih tersenyum hangat. Ia sangat menyukai Rama, dan sangat ingin jika Rama menjadi suami dari anaknya. Apalagi, sejak tadi Ara terus membicarakan Rama. Rama yang baik ... Rama yang perhatian ... dan Rama yang lainnya.
Tentu saja semua yang Ara ceritakan pada ibu dan kakaknya adalah bohong. Namun, Rama tidak mengetahui hal itu, toh sejak tadi Rama berusaha sebisa mungkin untuk menjauh dari Ara dan keluarganya. Firasat Rama tidak bagus setiap ia melihat Ara dan keluarganya. Jadi, bagaimana Rama bisa tahu apa saja yang telah Ara katakan pada ibu dan juga kakaknya.
"Duduk di sini, Nak Rama. Kita makan sama-sama," ujar Winarsih, menatap Rama dengan penuh harap.
Rama menggeleng sambil tersenyum. Ia berusaha menolak dengan halus agar Winarsih tidak kecewa dan juga tersinggung.
"Terimakasih, Bu, tapi aku perlu bicara dengan Ara sebentar saja,” ujar Rama.
Ara memasang tampang cemberut, kemudian ia bangkit berdiri dan berkata, "Kamu selalu begini. Selalu ingin berduaan kapan pun ada kesempatan."
Rama tercengang. Ia tidak tahu apa maksud Ara, tetapi ia tidak mengajukan pertanyaan apa pun karena Ara telah berlalu dari hadapannya dengan cepat menuju sudut tergelap yang ada di halaman sekolah.
"Apa yang barusan tadi? Kesan yang kamu tinggalkan di depan ibumu bisa membuat ibumu salah paham!" seru Rama, sambil menarik lengan Ara agar wanita itu berhenti melangkah.
Sekarang Ara dan Rama sedang berdiri tepat di tengah lapangan, mereka menjadi pusat perhatian para warga seperti saat Rama pertama kali tiba di Distrik itu.
Rama yang terlalu kesal tidak menyadari tindakannya. Ya, menarik lengan Ara di tengah lapangan memang bukan keputusan yang tepat. Sekarang mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
__ADS_1
Rama mengedarkan pandangan sambil mengumpat pelan, tetapi Ara justru terlihat senang.
"Aku mengatakan pada ibuku kalau kamu menyukaiku, dan berniat untuk melamarku dalam waktu dekat," ujar Ara tanpa basa-basi. "Ibuku sangat senang mendengarnya."
Rama menatap Ara dengan mata melotot sekarang, seperti sedang melihat hantu yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Kamu gila?!" desis Rama.
Ara memasang senyum paling manis di bibirnya yang tipis sebelum ia menanggapi ucapan Rama yang sedikit membuatnya terluka.
"Kamu harus bertanggung jawab, bukan? Kamu hanya punya satu pilihan, Rama, yaitu menikahiku agar aku tetap tutup mulut. Jika kamu tidak mau, aku akan menyebarkan video yang telah direkam oleh beberapa temanku saat para operator alat berat itu mendorong ayahku hingga ayahku meninggal dunia. Kamu pasti tahu apa yang selanjutnya akan terjadi jika sampai rekaman itu tersebar. Dan jangan lupa, aku pasti akan menyertakan caption yang tidak sederhana."
Rama terhuyung, kepalanya tiba-tiba saja pening, rasanya ada makhluk kecil yang sibuk menari-nari di dalam kepalnya dengan suara musik yang begitu berisik. Ia tidak habis pikir bagaiman bisa Ara meminta pertanggungjawaban yang demikian berat.
"Kamu boleh meminta uang sebanyak apa pun. Aku akan berikan, dan aku akan membangun semua rumah warga di sini seperti sedia kala." Rama mencoba untuk bernegoisasi.
"Apa kamu juga bisa menggantikan nyawa ayahku? Hem, maksudku membuat ayahku hidup kembali seperti sedia kala?" Ara bertanya, kali ini kedua matanya mulai berair.
"Kalau begitu nikahi aku, kecuali kamu bisa membuat ayahku hidup lagi, aku akan melepaskanmu tanpa syarat.
Rama mengusap wajahnya. "Itu tidak mungkin. Aku tidak akan menikah denganmu," ujar Rama, lalu berbalik pergi meninggalkan Ara yang masih memasang tampang licik di wajahnya yang cantik.
Ara berteriak. "Baiklah, kalau begitu jaga Tiffani dan Junior baik-baik. Aku bisa melakukan apa saja. Apa saja, Rama!" Setelah mengancam Rama dengan kalimat yang merupakan kelemahan terbesar Rama, Ara pun beranjak dari tempatnya berdiri.
"Sialan," gumam Rama.
***
__ADS_1
Xavier menyendiri di rumah pohon milik Tiffani yang telah lama tidak Tiffani kunjungi. Ia memang sedang menginginkan waktu untuk sendiri sekarang ini. Ia tidak ingin bertemu siapapun, bahkan bayangannya sekali pun. Ia malu, bagaimana bisa ia berhadapan dengan orang lain setelah ia mengetahui apa yang telah pamannya lakukan pada keluarga istrinya.
Damar berkhianat, bukan hanya membodohi Tiffani soal pembangunan hotel, Damar juga mencuri senjata api yang ada di gudang dan menjualnya dengan orang lain dengan harga yang terjun bebas.
Xavier mengembuskan napas dengan kasar, lalu membaringkan tubuhnya tepat saat pintu rumah pohon terbuka dan bayangan ramping memaksa masuk ke dalam rumah pohon, dan segera duduk di sebelahnya.
"Aku mencarimu ke mana-mana," ujar Gracella, suaranya terdengar muram, ia pasti kelelahan mencari keberadaan Xavier sejak beberapa jam lalu.
"Pergi sana. Aku sedang tidak ingin diganggu," pinta Xavier, menyenggol lutut Gracella dengan sikunya.
Gracella mendengkus, lalu mendaratkan cubitan di lengan Xavier yang berotot. "Jangan begitu. Jika aku pergi sungguhan, apa kamu rela, hah?"
Hening sejenak, kemudian terdengar suara berat Xavier yang menyerupai geraman. "Sebenarnya tidak, tapi saat aku menjadi tidak pantas untukmu, aku rasa saling melepas adalah pilihan yang tepat."
Gracella berdecak. "Jujur saja, aku tidak ingin menyandang status sebagai janda."
Xavier bangkit untuk duduk, kemudian ia menangkup wajah Gracella dan mendekatkan wajah cantik wanita itu ke wajahnya.
"Ada yang ingin kukatakan padamu, Grace, dan yang akan aku katakan ini adalah sesuatu yang sangat memalukan,” desis Xavier, napasnya yang hangat menyapu wajah Gracella hingga Gracella bergidik. " Pamanku ... dia ...."
Xavier tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena mendadak Gracella mendaratkan bibirnya di bibir Xavier dan terus melu-mat bibir pria itu dengan rakus. Xavier bahkan sampai kesulitan bernapas. Dan seketika itu juga gairah Xavier terbakar, membara dan menyala-nyala.
Xavier memeluk pinggang Gracella, memindahkan tubuh Gracella dengan begitu mudah ke atas pangkuannya dan melucuti pakaian wanita itu dengan kasar. Dress yang Gracella kenakan bahkan sampai sobek dibuatnya.
Selanjutnya Gracella dan Xavier terlibat dalam percintaan yang memabukkan hingga keduanya melupakan masalah mereka untuk sejenak.
Bagi Gracella, mencetak bayi adalah hal yang utama sekarang ini. Ia ingin menjadi seperti Tiffani, dan merasakan kebahagiaan yang Tiffani rasakan.
__ADS_1
Ya, di mata Gracella Tiffani memang memiliki kebahagiaan yang sempurna. Tanpa Gracella tahu jika badai besar sedang menghampiri kehidupan rumah tangga Tiffani dan juga bisnis yang Tiffani jalankan.
Bersambung.