
Kedua mata sepasang kekasih itu saling bertatapan mesra. Brian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Valerie, sementara Valerie mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.
Brian terdiam, seketika seluruh tubuhnya terasa panas dan berkeringat. Ada sesuatu yang mendesak di balik handuk yang menempel di pinggangnya. Brain menelan ludah, ia merasa napasnya semakin memburu cepat.
Perlahan, Brian mendekatkan wajahnya. Sebelah tangannya naik dan berakhir di belakang tengkuk leher Valerie. Mereka memejamkan mata saat kedua bibir saling bersentuhan.
Perlahan tapi pasti, kecupan itu beralih dari lembut dan pelan menjadi cepat dan intens. Brian semakin tidak terkendali, kedua tangannya menahan tubuh Valerie dan membuat tubuh mereka semakin menempel.
Dengan jelas, Valerie bisa merasakan sebuah desakan yang menonjol kuat di bagian bawah tubuhnya. Seketika, Valerie mulai menghindar. Ia sedikit demi sedikit mengendurkan pelukannya dan menarik bibirnya.
Valerie tersenyum, ia mengusap wajah Brian dengan lembut.
__ADS_1
"Kau harus bersabar," bisik Valerie. Ia tidak mau Brian menginginkannya terlalu jauh. Meski Valerie begitu mencintai laki-laki di hadapannya. Ia tidak akan mau merelakan tubuhnya untuk hubungan yang belum pasti kemana arah tujuannya.
Valerie paham, Brian adalah laki-laki yang tegas dan secara terang-terangan telah memintanya melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun saat ini, semuanya tidak boleh terjadi.
"Maafkan aku, aku ...." Brian menggelengkan kepala pelan. Ia merasa bersalah, ia hampir lepas kendali. Wajar saja, ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya mencium seorang wanita dan merasakan seluruh syaraf ditubuhnya menegang. Ini menjadi hal baru bagi Brian.
"Tidak apa-apa, kita bisa melakukan sesuatu sewajarnya. Tapi jangan membawaku terlalu jauh," pinta Valerie sambil tersenyum.
"Hmm, tentu." Brian tersenyum samar, ia menarik Valerie dalam dekapan tubuhnya.
Valerie bersyukur, ia menemukan laki-laki yang bisa mencintainya dengan tulus tanpa mempedulikan asal usulnya serta latar belakangnya. Meskipun Valerie sebenarnya bukan wanita biasa namun Valerie bahagia saat ia diterima dalam keadaan tidak punya apa-apa.
__ADS_1
Malam ini, mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton film, lalu beristirahat di kamar yang berbeda.
Keesokan paginya, Brian membawa Valerie kembali ke kota. Meskipun Brian masih berniat mengajak Valerie menetap di villa lebih lama, namun laki-laki itu merasa tidak akan tahan terus bermalam bersama Valerie tanpa menyentuhnya. Hal itu membuat batinnya tersiksa.
Saat keduanya sampai di rumah kos Valerie, mereka sudah disambut oleh hal tak terduga. Calvin dan Max sudah berada di sana bersama Rossa, menyambut kedatangan sepasang kekasih yang baru saja tiba.
"Tetap berada di sini, jangan keluar. Aku akan mengurus orang tuaku," pinta Brian. Ia menggenggam tangan Valerie, memintanya untuk menurut. Brian tidak mau, kedua orang tuanya menyakiti Valerie meskipun dengan perkataan yang tidak pantas.
Valerie mengangguk, ia tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga Brian.
"Ma, Pa. Ada apa kalian datang ke sini sepagi ini?" tanya Brian tenang. Sementara Max yang berdiri di belakang Calvin, menggelengkan kepala pelan dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Tanpa peringatan, Calvin melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Brian.
🖤🖤🖤