
Theo menyadari sesuatu yang telah terjadi pada Noah dan Valerie, karena selama ini Theo selalu mengawasi setiap gerak gerik Valerie termasuk orang-orang yang dekat dengannya demi memastikan keselamatan sang cucu.
"Kalian bisa bicara bersama terlebih dahulu, Kakek ingin menemui kepala penyidik," ucap Theo. Ia paham ada sesuatu yang ingin Noah bicarakan pada cucunya.
Selepas kepergian Theo, Noah mengajak Valerie duduk di samping kantor polisi. Di sana ada sebuah taman kecil dengan bangku memanjang sebagai tempat berteduh.
"Jadi, kau dan Brian bertunangan?" tanya Noah.
"Kau sudah tahu?"
"Ya, berita tentang kalian sudah menyebar di mana-mana. Jadi, benar dugaanku rupanya," lirih Noah.
"Maafkan aku, Noah."
"Tidak, Valerie. Aku baik-baik saja. Kau tahu Brian lebih unggul dalam segala hal dibandingkan aku, aku paham kenapa kau memilihnya."
"Ini bukan tentang siapa yang lebih unggul atau siapa yang lebih baik. Ini murni karena perasaanku, Noah. Jangan pernah berpikir bahwa aku bersama Brian karena dia memiliki sesuatu yang tidak kau miliki. Aku mencintainya," jelas Valerie.
__ADS_1
Pengakuan itu bagai sambaran petir bagi Noah. Ia melihat jelas Valerie bertukar cincin dengan Brian melalui media sosial, namun tidak semenyakitkan mendengar kenyataan itu dari mulut Valerie sendiri.
"Aku mengerti." Noah mengangguk pelan. Setidaknya, Valerie mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.
"Jadi, kau adalah cucu Tuan Theo Cameron yang telah dikabarkan meninggal puluhan tahun lalu?"
"Hmm."
"Itu berita yang sangat mengejutkan. Tapi aku senang, karena kau telah melewati semua proses ini dan sekarang hidupmu berakhir sangat baik."
"Itulah gunanya teman." Noah tersenyum hangat. Ada rasa kecewa, sedih, juga patah hati. Namun ia tidak mau merusak hubungan baiknya bersama Brian atau Valerie hanya karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Mungkin aku hanya kurang beruntung," lirih Noah lagi.
"Tidak, suatu saat kau pun akan mendapatkan wanita yang baik, seperti yang kau harapkan," jawab Valerie.
Obrolan cukup serius dari hati ke hati ini membuat Noah dan Valerie merasa lega. Keduanya akhirnya bisa melanjutkan pertemanan mereka tanpa ada rasa saling tidak enak hati di antara keduanya.
__ADS_1
Setelah mengobrol, Noah mengajak Valerie masuk. Ada dua orang yang harus Valerie temui pagi ini.
Di dalam ruangan kepala penyidik, Valerie melihat sang kakek tengah mengobrol, lalu Valerie turut duduk di sampingnya dan mendengarkan.
"Kami melakukan interogasi pada dua tersangka utama selama hampir lima jam. Sekarang, kami telah mengambil kesimpulan bahwa otak dibalik rencana pembunuhan itu adalah Saudari Delia, yang tak lain adalah istri Saudara Damian."
"Bibi?" tanya Valerie lirih.
"Ya, Nona. Berdasarkan keterangan yang kami terima dari kedua pihak, Saudari Delia merasa iri dengan orang tua anda, lalu dia terus mendesak sang suami agar melakukan segala cara untuk mengambil alih posisi orang tua anda sebagai pewaris utama."
"Jadi, kami simpulkan bahwa Saudari Delia adalah tersangka otak di balik pembunuhan berencana itu, sementara sang suami adalah tersangka yang menjalankan aksinya."
Valerie terdiam, dadanya terasa nyeri. Menyakitkan sekali mendengar kenyataan pahit bahwa orang yang telah menghancurkan kehidupannya adalah keluarganya sendiri.
"Saya ingin mereka di hukum seberat-beratnya, Pak. Saya ingin mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat berdasarkan ketentuan hukum yang ada!" seru Valerie tegas.
🖤🖤🖤
__ADS_1