My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Kau Ragu?


__ADS_3

Lagi-lagi Valerie terdiam dan terpaku. Tujuan Brian tidak hanya sekadar menjalin hubungan asmara dengannya, melainkan langsung pada intinya, yaitu sebuah pernikahan.


Namun bagi Valerie, menikah bukan perihal mudah. Ia masih punya banyak hal yang harus diselesaikan. Terlebih, ia harus mengurus masa lalunya dan mendapatkan kembali apa yang telah di rebut oleh pembunuh kedua orang tuanya.


"Apa kau meragukanku? Adakah sesuatu yang membuatmu ragu atas cintaku?" tanya Brian.


"Tidak ada," jawab Valerie lirih.


Melihat begitu besar pengorbanan Brian hingga ia rela menentang perjodohan dan keinginan kedua orang tuanya, Valerie yakin laki-laki itu tidak sedang main-main.


Valerie merasa bimbang, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Pulanglah dan beristirahat. Kau bisa libur beberapa hari kedepan. Pikirkan baik-baik," ucap Brian.


Valerie mengangguk, ia keluar dari mobil dan mengambil motor miliknya.


Perasaan gundah gulana menyelimuti hati wanita itu. Satu-satunya tempat terbaik untuk merenung adalah tempat di mana kedua orang tuanya berbaring selamanya.


Valerie memacu motornya dengan kecepatan sedang. Ia menuju sebuah tempat pemakaman mewah yang di huni oleh kedua orang tuanya.


Valerie membawa dua buket bunga mawar merah, itu adalah bunga kesukaan ibunya. Ia duduk di samping makam dan meletakkan bunga itu di sisi batu nisan.

__ADS_1


"Ma, beberapa waktu terakhir aku sangat sibuk. Maaf jika aku tidak datang untuk menjenguk," ucap Valerie lirih.


"Aku merindukan kalian." Setetes air mata meluncur di pipinya.


"Ma, Pa. Aku tidak bisa memahami perasaanku sendiri. Aku bahagia saat dia menolak wanita lain, aku sedih saat ia dalam masalah. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana," keluh Valerie.


Wanita itu kesulitan mengartikan hatinya. Apakah kebahagiaan itu bisa diartikan menjadi sebuah kata cinta? Atau kebanggaan semata?


Apakah Valerie hanya bahagia karena ia bangga pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa meluluhkan Brian dan membuat laki-laki itu bertekuk lutut di hadapannya.


Apakah kesedihan itu bisa diartikan sebagai rasa cinta? Atau hanya kepedulian semata?


"Jantungku berdebar saat melihatnya tersenyum menatapku. Apa aku sedang jatuh cinta?"


Valerie memejamkan kedua matanya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. Ada debaran aneh di dalam dadanya. Setiap waktu yang ia habiskan bersama Brian, selalu membuatnya merasa nyaman.


Namun lagi-lagi, Valerie berusaha keras menolak tentang perasaan apa yang ia rasakan.


...****************...


Berada di pusara kedua orang tuanya selama beberapa menit, membuat Valerie merasa tenang. Ia memutuskan pulang sebelum hari semakin malam.

__ADS_1


Sesampainya di rumah kos, Valerie melihat setumpuk dokumen di depan pintu kamarnya. Itu adalah dokumen yang dikirim oleh Theo seperti permintaan Valerie.


Ia meminta semua salinan dokumen rahasia tentang perusahaan milik ayahnya. Banyak hal yang harus Valerie tahu sebelum mengambil alih perusahaan itu dari tangan si pencuri.


Waktu libur yang diberikan Brian akan membuat Valerie sibuk dengan banyak hal, termasuk rencana pembalasan atas apa yang telah pamannya lakukan di masa lalu.


Saat sedang sibuk mempelajari berlembar-lembar kertas di tangannya, dering ponsel Valerie membuat wanita itu menghentikan aktivitasnya. Ia melihat nama Noah di layar ponsel.


"Ya, Noah," jawab Valerie.


"Kau sibuk?" tanya Noah dari sebrang telepon.


"Tidak, ada apa?"


"Aku ada di depan rumah kosmu. Bisakah kita makan malam bersama?" pinta Noah.


Valerie merasa ragu, namun saat ia keluar kamar dan membuka tirai di ruang tamu, ia melihat mobil Noah sudah terparkir di dekat halamannya.


Jika menolak, Noah pasti akan kecewa lagi. Laki-laki itu sudah terlanjur datang, Valerie merasa segan jika membuat kedatangannya sia-sia.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2