My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
XAVIER


__ADS_3

Seorang pria yang baru saja tiba mengejutkan Tiffani dan juga kedua temannya yang sedang berada di halaman. Pria asing yang baru saja tiba sambil berteriak-teriak memanggil Richard itu memiliki ekspresi wajah yang kejam, mungkin karena ia sedang cemberut sekarang, di tambah lagi dengan alis dan bagian bawah bibirnya yang ditindik. Tubuhnya besar dan dipenuhi tato. Meski pun begitu, pria itu terlihat rupawan. Ya, rupawan dan liar, perpaduan yang pas sekali dia mata Mona yang memiliki selera agak berbeda dari wanita kebanyakan. Tidak heran jika sekarang Mona menatap pria itu tanpa berkedip.


Akan tetapi, Mona tidak terpana untuk waktu yang cukup lama, karena pria itu mengeluarkan kata-kata yang membuat Mona kesal di awal kehadirannya. Begitu juga dengan Sela, apalagi Tiffani. Seandainya Tiffani sedang memegang senjata api sekarang, ia pasti akan langsung mene-mbak kepala pria besar itu karena berteriak-teriak mengancam akan memb-unuh ayahnya.


Tiffani meregangkan tubuhnya, kemudian maju menghampiri pria asing yang sekarang sedang ditahan oleh beberapa bodyguard ayahnya.


"Apa katamu tadi? Siapa yang akan kamu bun-uh?" tanya Tiffani sambil melipat tangan di depan dada.


Si pria menyeringai. "Richard, memangnya siapa lagi ...."


Buk!


Tiffani tidak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk berbicara lebih banyak. Tangannya yang sudah gatal dan cukup terlatih untuk memberikan serangan mendadak langsung mendarat di wajah pria yang berdiri di hadapannya.


Si pria meringis sambil memegangi hidungnya. Ia tidak menyangka jika gadis secantik dan seanggun Tiffani akan meninjunya. Gerakan mendadak Tiffani sama sekali tidak terbaca, maka tidak heran jika tinju Tiffani tepat sasaran, si pria bahkan tidak berusaha untuk menghindar sama sekali. Lebih tepatnya tidak memiliki waktu yang pas untuk menghindar.


"Kamu pasti Tiffani Raendra,” ujar si pria sambil tersenyum miring begitu ia telah sadar dari keterkejutan.


Tiffani mengibaskan rambutnya ke belakang dengan angkuh. " Tidak penting siapa aku, sekarang juga keluar dari sini sebelum aku--"


"Kalau aku tidak mau, lalu kamu mau apa?" si Pria memotong ucapan Tiffani, sambil maju selangkah menghampiri Tiffani, memangkas jarak antara dirinya dan Tiffani.


Buk!


Dua buah tendangan mendarat tepat di dada pria itu. Tendangan itu berasal dari Sela dan Mona yang sekarang tengah berdiri di samping kanan dan kiri Tiffani.


"Sejak tadi aku sudah ingin menendangmu, Bang-sat," desis Sela.


Si pria asing kembali meringis, tetapi ia tidak terlihat marah. Ia malah tertawa, terlihat takjub sekali pada gadis-gadis yang ada di hadapannya.


"Wow." Kalimat itulah yang pertama kali terlontar dari si pria asing setelah mendapat dua serangan langsung. "Aku terkesan," imbuhnya, sambil menyeringai. "Maukah kalian bertiga menjadi kekasihku?"


Tifani mendorong pria itu, dan kemudian berujar, "Jangan banyak bicara basa-basi. Sekarang katakan padaku, siapa kamu, dari mana asalmu, dan ada keperluan apa kamu datang kemari? Jawab dengan benar jika tidak ingin semua gigimu rontok."


Si pria menahan pergelangan tangan Tiffani yang terus mendorongnya sambil berkata, "Aku tidak memiliki kepentingan apa pun denganmu walaupun kamu putri Richard. Aku tidak takut gigiku akan menjadi rontok karena tidak menjawab pertanyaanmu. Aku hanya berurusan dengan si tua bangka brengsek itu, panggil saja dia ... oh, tidak, biar aku saja yang datang padanya!" ujar si pria, kemudian segera berlari menuju teras.


Tiffani terkejut, karena pria itu tiba-tiba saja melarikan diri, bukan hanya Tiffani yang terkejut, tapi bodyguard lainnya pun sama terkejutnya seperti Tiffani.


"Ish, dasar pengacau sialan," desis Tiffani, kemudian segera berlari menyusul si pria asing bersama dengan Mona dan Sela, tetapi langkah Tiffani tiba-tiba terhenti saat ia tiba-tiba merasakan nyeri yang luar biasa menyerang perutnya.


Mona dan Sela yang menyadari Tiffani tidak ada lagi di sebelah mereka segera menghentikan langkah dan menghampiri Tiffani dengan cepat. Keduanya terlihat khawatir karena suara rintihan Tiffani terdengar begitu kesakitan. Untunglah di saat yang bersamaan Rama muncul di teras.


"Rama!" Mona berteriak, sambil melambai agar Rama menghampirinya. "Cepat kemari!"


Rama yang melihat Tiffani menunduk sambil memegangi perut di halaman bergegas menghampiri Tiffani.


"Ada apa, Tiffani?" tanya Rama, yang telah tiba di hadapan Tiffani. Rama terlihat khawatir, ia bahkan menyentuh perut Tiffani, seolah ia dapat menyembuhkan rasa sakit di perut gadis itu jika ia menyentuhnya.


"Jangan hiraukan aku, tangkap penjahat yang baru saja masuk. Dia akan menyerang ayahku, cepat!" seru Tiffani.


"Penjahat? Tidak ada penjahat, Tiffani."


"Ada, baru saja dia berlari masuk. Bodyguard yang lain sudah mengejarnya kurasa, tapi tetap saja kamu yang terbaik. Mungkin penjahat itu telah mengalahkan bodyguard yang ada di dalam. Hanya kamu harapanku sekarang. Tolong selamatkan ayahku, Rama, penjahat itu akan memb-unuh ayahku." Tiffani merengek.


Rama mengusap kedua pundak Tiffani agar Tiffani merasa lebih tenang. "Tenangkan dirimu, Tiffani. Tidak ada penjahat yang datang. Ayahmu akan baik-baik saja. Mana ada penjahat yang berani menyerang ayahmu di rumahnya sendiri. Bukankah melakukan penyerangan di sini sama saja dengan bu-nuh diri," ucap Rama.


Tiffani tahu bahwa yang dikatakan Rama ada benarnya, siapa yang berani menyerang Richard di dalam rumahnya sendiri. Jika sampai hal itu terjadi, si penyerang pun pasti tidak akan selamat. Namun, Tiffani yakin jika penjahat yang baru saja tiba adalah penjahat yang tangguh alias penjahat kelas kakap. Penjahat itu pasti tidak takut akan konsekuensi yang akan dihadapi setelah membu-nuh Richard.


"Rama, aku tidak mungkin salah. Tadi memang ada penjahat yang datang dan dia baru saja masuk ke dalam rumah. Kamu pasti berpapasan dengannya. Masa kamu tidak lihat?! Sekarang cepat masuk dan lindungi ayahku." Tiffani masih bersikeras.

__ADS_1


Rama terdiam, ia terlihat sedang mengingat siapa saja yang ia temui saat ia berjalan menuju teras tadi. Kemudian bayangan seorang pria yang penuh dengan tato muncul di dalam ingatannya. "Apa yang kamu maksud adalah Xavier?" tanya Rama pada Tiffani setelah beberapa saat.


Tiffani mengernyitkan dahi. "Xa ... Xa apa?" tanyanya.


"Xavier," jawab Rama.


Tiffani menegakkan tubuhnya, masih sambil meringis ia kembali bertanya. "Itu nama orang?"


Rama mengangguk. "Pria yang barusan masuk, yang lengannya penuh tato dan wajahnya ditindik adalah Xavier."


"Kenapa namanya ribet sekali, apa dia berasal dari planet lain?" celetuk Sela yang tidak tahan untuk tidak berkomentar.


Rama tertawa. "Masuklah dan tanya sendiri padanya apa dia itu alien atau bukan," ujar Rama, kemudian melanjutkan, "Dia keponakan Pak Damar, dan salah satu orang yang paling dipercaya oleh Tuan Richard setelah Pak Damar."


Tiffani menggeleng. "Tidak mungkin dia orang ayahku. Aku belum.pernah melihatnya, dan jelas-jelas dia mengancam akan membu-nuh ayahku barusan. Ayo, kita harus menolong ayahku! Tiffani menarik pergelangan tangan Rama agar Rama mengikutinya menuju kamar ayahnya.


Akan tetapi, Rama terus menghentikan Tiffani. Saat ini ia lebih khawatir pada keadaan Tiffani daripada keadaan Richard. "Tiffani, sudah aku katakan kalau dia adalah orang kepercayaan ayahmu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu sekarang. Kamu harus ikut denganku ke dokter Stella, kita harus memeriksakan kesehatanmu dan juga bayimu."


Tiffani menatap Rama dengan kesal. "Aku bisa ke sana nanti."


"Tapi kamu baru saja merasakan sakit, sebelum bertambah parah ada baiknya kalau kita langsung memeriksa," ujar Rama, yang terdengar masuk akal.


"Kenapa kamu ini cerewet sekali, Rama!" Tiffani mengomel, masih terus melangkah menuju teras.


"Aku tidak akan cerewet kalau kamu tidak keras kepala."


"Sudahlah, Rama, jangan mendebat Tiffani, wajar jika dia khawatir pada ayahnya." Mona yang mengekor langkah Tiffani pun memberi saran pada Rama.


"Tapi aku pun khawatir padanya," jawab Rama, tidak mau kalah.


Mona menempelkan jemari di bibir, meminta Rama untuk diam.


Sekarang Tiffani telah tiba di ruang tamu, ia menghentikan seorang pelayan yang kebetulan berada di ruang tamu juga. "Bi, di mana ayahku? Apa dia di kamarnya atau di ruang kerja?"


Si pelayan membungkuk hormat, kemudian menjawab, "Tuan ada di ruang makan, Nona."


Tiffani mengangguk. "Oke, terima kasih, Bi," ujarnya, lalu kembali menarik pergelangan tangan Rama menuju ruang makan dengan tergesa-gesa.


Namun, sebelum mulai menyusuri koridor menuju ruang makan Tiffani kembali menghentikan langkah, dan kali ini ia mendorong tubuh Rama hingga tubuh pria itu menabrak dinding yang ada di belakangnya.


"Ada apa?" tanya Rama dengan gugup, karena Tiffani mulai menggerayangi tubuhnya sekarang, bahkan Tiffani tidak segan-segan menyentuh bokongnya.


Melihat apa yang Tiffani lakukan Sela dan Mona berinisiatif untuk menutup mata mereka.


"Jangan sampai aku melihat adegan mesum. Aku masih anak-anak," ujar Sela.


Mona terkikik. "Aku tidak ingin melihat, karena aku takut aku akan ngiler."


Tiffani tidak menghiraukan ocehan kedua temannya, ia terus saja menggerayangi tubuh Rama.


"Tiffani, apa kamu sungguh ingin melakukannya di sini?" bisik Rama di telinga Tiffani.


Tiffani tidak menghiraukan bisikan Rama juga, ia terus saja menggerayangi tubuh Rama.


"Kita bisa melakukannya di kamar, tapi tentu bukan sekarang. Kita harus ke rumah sakit terlebih dahulu, dan kemudian menemui ayahmu. Aku tahu kalau kamu tidak menemui ayahmu sejak pagi, kamu pun bahkan menghindari ruang makan dan--"


"Dapat!" Seru Tiffani, membuat Rama menghentikan ucapannya.


Sela dan Mona membuka mata mereka untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Sela dan Mon menepuk dahinya sambil tertawa, sementara Rama membelalak begitu melihat benda apa yang sekarang ada di tangan Tiffani.


"Aku mencari ini, kenapa pikiran kalian semua kotor sekali. Parah!" seru Tiffani, sambil mengacungkan pistol milik Rama yang sekarang telah berpindah ke tangannya.


Rama mengusap rambutnya sambil tertawa. "Padahal aku sudah sangat senang tadi. Aku pikir kamu menginginkanku untuk ... ya, begitulah."


Tiffani menggelengkan kepala sambil berdecak. "Dasar mesum. Ayo, kita harus cepat." Tiffani segera melanjutkan langkah menyusuri koridor menuju ruang makan.


"Tapi kenapa kamu harus membawa pistol, Tiffani, apakah itu penting?" tanya Rama yang berjalan di sebelah Tiffani.


"Tentu penting. Aku akan mene-mbak pria itu begitu aku melihatnya."


Rama menghela napas dengan berat. "Sudah aku bilang kalau dia itu adalah orang ayahmu."


Tiffani tidak menghiraukan ucapan Rama, ia terus melangkah hingga akhirnya tiba di ruang makan. Begitu masuk ke ruang makan Tiffani langsung mengarahkan pistolnya ke arah meja makan.


"Lepaskan ayahku atau ...." Tiffani menggantungkan ucapannya, karena apa yang sedang terjadi di ruang makan tidaklah seperti apa yang ia bayangkan. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tiffani, bergantian memandang si pria asing dan juga ayahnya.


"Apa kamu tidak lihat kalau kami sedang makan," Si pria asing menjawab dengan begitu santai.


Tiffani tidak percaya pada apa yang ia lihat. Ia pikir saat tiba di ruang makan ayahnya sedang ditawan, atau mungkin bisa lebih buruk dari itu, tapi ternyata tidak. Ayahnya malah sedang asyik menyantap makanan dan mengobrol dengan pria yang mengancam keselamatan ayahnya beberapa saat lalu.


"Turunkan pistolmu, Tiffani. Kenapa kamu mengacungkan senjata ke arah kami," pinta Richard.


Mendengar ucapan Richard, Tiffani langsung menurunkan pistol yang ia pegang, ia tidak sadarjika tangannya sejak tadi masih mengarahkan pistol ke arah meja makan.


"Nah, sekarang duduklah bersama ayah, Tiffani, dan mari kita sarapan. Ayah belum sarapan sejak tadi karena menunggumu dan juga Gracella."


"Ayah belum makan?"


Richard menggeleng. "Padahal ayah lapar sekali."


Tiffani merasa bersalah, karena kebodohannyalah sang ayah belum menyantap sarapan sama sekali. Tiffani pun segera menghampiri meja makan, diikuti oleh Rama, Mona, dan juga Sela.


"Maafkan aku, Ayah," ujar Tiffani, yang kedua matanya kini mulai berkaca-kaca.


"Jangan menangis di depan makanan," ucap Rama dengan suara yang begitu lembut. "Akan aku buatkan roti lapis untukmu."


Tiffani mengangguk, kemudian ia kembali menatap Richard. "Ayah, siapa dia sebenarnya?" tanya Tiffani sambil menunjuk si pria asing yang terlihat begitu serius menyantap makanan, seperti tidak makan berbulan-bulan saja.


Richard tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Tiffani. Dari senyum yang mengembang di wajah Richard saja Tiffani dapat menebak kalau pria itu adalah orang yang spesial bagi Richard.


"Dia Xavier, salah satu orang yang paling kupercaya setelah Damar," jawab Richard.


"Orang kepercayaan Ayah, tapi aku belum pernah melihatnya sekali pun. Ini Aneh sekali," komentar Tiffani, sambil mendelik curiga ke Xavier . "Ayah sedang tidak berada di bawah ancaman, 'kan?"


"Heh, untuk apa aku mengancam si tua bangka ini. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengancamnya, sama sekali tidak membuatku untung jika aku melakukannya," ujar Xavier, mematahkan tebakan Tiffani yang asal-asalan.


Tiffani tidak suka dengan gaya bicara Xavier yang sok di hadapannya. Ia pun menggebrak meja makan yang ada di hadapannya, membuat segelas susu yang ada di atas meja menjadi tumpah.


"Beraninya kamu mengatai ayahku dengan sebutan tua bangka," desis Tiffani.


"Dia mamang sudah tua, mau disebut apalagi memangnya?!" tanya Xavier dengan nada mengejek, tidak lupa seringai menyebalkan tersungging di bibirnya.


Tiffani habis kesabaran, ia bangkit berdiri dan merebut sendok serta makanan Xavier. "Jangan makan lagi, X, aku sangat muak melihatmu. Sekarang cepat keluar dari sini dan jangan kembali lagi." Tiffani menarik kaos tanpa lengan yang menempel di tubuh Xavier, kemudian ia mendorong Xavier menjauh dari meja makan.


Tubuh Xavier limbung saat Tiffani mendadak mendorongnya, dan ia pun terjatuh tepat setelah tubuhnya menabrak tubuh Gracella yang baru saja masuk ke ruang makan.


"Wow," gumam Xavier.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2