My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
Penolakan Keras


__ADS_3

Brian sangat menyayangi kedua orang tuanya, ia mencintai mereka dengan sepenuh hati. Laki-laki itu telah merelakan masa muda yang seharusnya bisa ia gunakan untuk bersenang-senang demi menjadi sosok orang yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.


Brian adalah anak tunggal dari sepasang suami istri yang dikaruniai kesuksesan dan kekayaan luar biasa. Hal itu tidak membuat hidup Brian menjadi lebih mudah karena bisa mendapatkan segalanya dengan sekali ucap.


Namun apa yang terjadi justru membuat Brian menderita dan tertekan. Ia dituntut untuk bekerja keras di usia muda. Belajar dan terus belajar demi bisa menjadi penerus yang tangguh untuk orang tuanya.


Brian seakan menjadi boneka, manusia yang dikendalikan untuk menuruti segala keinginan orang tuanya demi mempertahankan kesuksesan mereka.


Tidak hanya satu kali, Brian berteriak di ujung anak tangga sambil memanggil mama dan papanya, hingga dua orang paruh baya itu terkejut mendapati sikap tidak biasa putra semata wayang mereka.


"Ada apa ini, Brian?" Calvin mengernyitkan dahi. Ia berdiri di ujung anak tangga teratas sambil memperhatikan putranya.


Di belakangnya, Rossa pun menyusul Calvin. Ia menuruni anak tangga perlahan mendekati Brian.


"Ada apa, Sayang? Kenapa datang dan berteriak?" tanya Rossa.

__ADS_1


"Apa kalian masih akan tetap melanjutkan perjodohanku dan Elena?" tanya Brian.


Calvin dan Rossa saling pandang, Rossa mendekati Brian dan mengusap lembut pundak putra semata wayangnya.


"Mari bicarakan ini baik-baik, duduklah," pinta Rossa. Calvin pun menuruni anak tangga dan berjalan melewati Brian. Ia duduk di kursi ruang tamu.


"Ma, bukankah sudah kukatakan jika aku tidak bisa melakukan ini? Apa saja yang kalian inginkan pasti aku lakukan, asal jangan perjodohan!" seru Brian.


"Duduk!" seru Calvin.


"Elena, wanita itu dengan tidak sopan ya datang ke kantor dan masuk ke dalam ruanganku tanpa izin. Apakah seperti itu menantu yang kalian harapkan?" tanya Brian.


"Wajar saja dia melakukan itu. Sebentar lagi kalian akan bertunangan dan menikah. Dia berhak datang kapan saja karena dia calon istrimu!" tegas Calvin.


"Tidak bagiku, Pa. Aku tidak akan menikahi wanita sepertinya! Aku bahkan mengusirnya dari ruanganku," jelas Brian.

__ADS_1


"Brian, bagaimana bisa kau mengusirnya?" tanya Rossa. Wanita paruh baya itu terkejut, wajahnya mendadak pucat.


"Apa kau tidak tahu siapa dia? Bagaimana bisa kau memperlakukan anak seorang pewaris besar seperti itu? Apa kau sudah gila?" hardik Calvin. Ia benar-benar tidak menduga bahwa Brian akan bersikap seperti itu pada Elena.


"Siapapun dia aku tidak peduli, Pa. Aku akan mengusir siapa saja yang tidak seharusnya ada di dalam wilayah kekuasaanku!"


"Brian!" bentak Calvin. Ia berdiri dari kursi dengan wajah merah padam, kedua tangannya mengepal erat. Ia benar-benar marah dan murka.


"Aku akan menikahi wanita pilihanku, bukan wanita pilihan kalian," ujar Brian. "Memaksaku menikahi Elena hanya akan mempermalukan keluarganya dan keluarga kita. Karena aku, tidak akan pernah setuju."


"Apa kau sudah gila? Kau akan menikahi wanita yang bekerja sebagai bawahanmu? Mau jadi apa keluarga kita? Memalukan!" seru Calvin.


"Menikah adalah pilihanku, kalian tidak berhak ikut campur!"


"Brian, dengarkan Papamu, Sayang," ucap Rossa lembut. Ia khawatir pertengkaran ini akan semakin memanas dan Calvin hilang kendali. Terlebih, selama ini Brian tidak pernah bersikap seperti ini, anak laki-lakinya bahkan tidak pernah membantah perintah orang tuanya apalagi menolaknya.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2